Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKBP-21. Apakah Move On?


__ADS_3

Bisma berjalan gontai memasuki rumahnya. Di sana tampak Puspa yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati acara televisi. Wanita itu tersenyum sinis saat melihat suami di atas kertasnya terlihat begitu lesu.


" Tampaknya terjadi hal yang buruk," ucap Puspa basa-basi.


Bisma acuh, dia tidak menanggapi sedikitpun apa yang dikatakan oleh Puspa. Dia terus berjalan menuju kamarnya. Puspa yang diacuhkan oleh Bisma mendadak kesal. Ia merasa tidak dihargai.


" Sialah, aku bicara padamu!"


" Ooh, ku pikir kau bicara dengan angin. Tapi maaf ya aku sedang tidak mood berbicara denganmu."


Bisma menjawab teriakan Puspa tanpa sedikit pun menoleh ke arah wanita itu. Bisma sungguh dalam mood yang begitu buruk. Bisa menangis sepuasnya tadi nyatanya tidak membuat dia merasa lega sekarang. Terlebih melihat Puspa, semakin membuat suasana hatinya bertambah buruk.


" Kau mengacuhkan ku?"


" Hahahah, hei sejak kapan kita jadi saling peduli urusan satu sama lain. Tck, dari pada kau mengacau di rumah lebih baik kau pergi ke tempat kekasihmu itu. Bukankah kau selalu bermain dengannya?"


Deg


Puspa seketika terkejut dengan ucapan Bisma. Dia memang memberitahu Bisma kalau dia punya kekasih, tapi dia tidak pernah memberitahu bahwa dia sering bermain dengan Jiwa.


" A-apa yang kau katakan hah!"


" Tidak ada, sudahlah Pus jangan pura-pura mengajak bicara. Aku yakin kau sangat tertekan bukan saat memulai bicara padaku."


Semakin menganga saja mulut Puspa mendengar pernyataan Bisma. Selama ini yang Puspa tahu Bisma adalah pria yang lembut kini dia melihat Bisma sebagai pria yang begitu acuh. Bahkan Bisma dengan terang-terangan membanting pintu kamarnya hingga membuat Puspa terlonjak kaget.


Brakkk


" Sialan, dasar pria sialan. Brengsek kau!!"


Puspa memaki dengan kasar. Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar mengambil coat dan kunci mobil lalu pergi dari rumah.


Bisma menghela nafasnya yang ia rasa begitu sesak di dadanya. Ia pun akhirnya kembali keluar dari kamar saat merasa Puspa sudah benar-benar pergi. 


Bisma melihat ke sekeliling rumah. Pandangannya menyapu setiap sudut bangunan rumah minimalis tersebut. Rumah yang sudah ia tempati selama hampir 9 bulan itu tidak ada perubahan sama sekali. Masih persis sama saat pertama kali ia datang dan tempati.

__ADS_1


Bisma berjalan pelan mengitari ruangan demi ruangan. Rasa sesak dalam dadanya semakin terasa saat menyadari bahwa rumah itu begitu sunyi.


" Andaikan semuanya berjalan dengan normal. Mungkin aku sangat senang bisa pulang ke rumah. Haaah, percuma juga disesali. Ayo selesaikan semuanya dengan cepat. Hanya tinggal 3 bulan lagi bukan? Aku yakin bisa melewatinya."


Bisma kembali masuk ke kamarnya. Ia yang tadinya ingin pulang ke rumah Sekar tidak jadi. Ia yakin pasti sang kakak akan banyak memberinya petuah atau kata lain omelan. Jadi Bisma memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Besok dia akan melakukan hal-hal yang tidak bisa ia lakukan saat bekerja. 


" Anggap saja ini liburan ye kan," ucap Bisma sambil merebahkan tubuhnya.


🍀🍀🍀


Di rumah sakit Gauri menjadi gelisah memikirkan tentang Bisma. Entah apa yang merasuki gadis itu tapi saat ini pikiran Gauri di penuhi oleh Bisma.


Gauri merasa ikut sedih saat Bisma di skors. Gadis itu membuang nafasnya kasar. Samsul yang terbangun di tengah malam menatap heran melihat Gauri yang belum juga tidur juga.


" Kok belum tidur Ri?"


" Eh babe, babe napa bangun. Apa merasa sesuatu atau pengen apa gitu?"


Samsul menggeleng pelan, dia tidak menginginkan apapun. Gauri pun mendekat ke arah sang ayah untuk memeriksa keadaan Samsul meyakinkan bahwa Samsul terbangun bukan karena merasakan sakit.


" Nggak mikirin ape-ape sih. Cuman, aye bingung aje. Orang sebaik Dokter Bisma ada yang tega memfitnah gitu."


Gauri kemudian menceritakan semua yang terjadi hari itu di rumah sakit mengenai Bisma. Samsul mendengarkan secara seksama setiap cerita yang keluar dari sang putri. Sejak putus dari Halim, Gauri tidak pernah membicarakan pria lain sedetail itu dan seantusias itu.


" Jadi gitu be ceritanya. Kan kasian Dokter Bisma."


" Uri demen ama ntu dokter?"


" Eh, babe apa-an sih. Aye cuma kasihan aja sama Dokter Bisma. Dia tuh dokter baik, kok ada yang tega buat memfitnah begitu."


Samsul hanya tersenyum kecil tanpa menanggapi penolakan Gauri terhadap apa yang ia katakan. Menjadi ayah Gauri tentu Samsul sangat mengenal sang putri. Meskipun Gauri mengatakan tidak tertarik dengan dokter itu tapi melihat dan mendengar cara Gauri membicarakan pria itu sudah cukup membuat Samsul tahu perasaan sang putri.


" Babe nggak percaya yang Uri omongin."


" Percaya, babe percaya kok."

__ADS_1


" Haish, babe bohong. Ya udah babe tidur lagi gih masih malem. Babe butuh banyak istirahat."


Samsul mengangguk, Gauri pun kembali ke bed sebelah yang memang disediakan untuk keluarga pasien yang menunggu. Gauri terlihat bersungut-sungut saat sang ayah seakan meragukan apa yang ia katakan.


Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun matanya belum juga terserang kantuk sehingga masih terbuka dengan lebar.


" Ape iye aye demen ama Dokter Bisma. Tapi ngomong-ngomong ntu dokter udah ada pawangnya belum ye. Kalau belum mah gass aja lah sebelum diambil orang hahaha."


Gauri terkekeh, ia geli sendiri terhadap apa yang ada dalam pikirannya. Akhirnya gadis itu mengakui bahwa dia memiliki perasaan terhadap dokter tersebut. Ada hal yang sesuatu yang hilang saat mengetahui bahwa dokter yang bagi nya telah menyelamatkan sang ayah itu di skors.


" Tapi apa nggak terlalu cepat. Ya kali baru sekitar seminggu ketemu aye udah demen. Apakah aye beneran move on kali ini."


Gauri bermonolog lagi. Ia bingung dengan perasaannya hingga ia memilih untuk memejamkan mata dan mengarungi dunia mimpi.


*


*


*


Suma yang masih berada di ruangannya mencoba untuk mencari kemana perginya wanita itu. Tadi ia mencari hingga ke alamat yang Rieta tinggalkan tapi ternyata itu fiktif.


Suma sungguh frustasi. Tidak adanya Bisma di rumah sakit pasti akan membuat rumah sakit menjadi kacau. Tadi saja Braja sudah mengirim beberapa pasien tidak mampu ke rumah sakit pemerintah dengan alasan di sana tidak bisa merawat mereka lagi. Sungguh sebuah hal yang membuat Suma geram.


" Sepertinya aku harus melakukannya. Aku tidak bisa membiarkan disini semakin kacau. Maafkan aku bos, aku akan melanggar apa yang sudah kau katakan."


Suma langsung menghubungi Dika. Hanya tuan muda tersebut yang bisa menghandle rumah sakit dari sikap sembarangan Braja dan juga Kuswan. Jika ada Dika mereka tidak akan berani macam-macam. 


Dika memiliki sikap yang lebih tegas dibanding Bisma. Dan Dika berani untuk mengambil sikap.


" Halo tuan muda, maaf jika mengganggu liburan Anda. Tapi keadaan rumah sakit sedang tidak baik. Apakah Anda bisa kembali secepatnya?"


" Ya, baiklah. Aku akan segera kembali. Tunggu lah."


TBC

__ADS_1


__ADS_2