Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKBP-23. Ungkapan


__ADS_3

Bisma tidak peduli tentang Puspa yang tidak pulang semalaman. Terlihat dia sudah bersiap akan pergi. Dengan menggunakan pakaian casual Bisma rupanya ingin sejenak melakukan healing. Satu hal yang tidak pernah dilakukan beberapa tahun ini. Terlebih saat sang keponakan sudah memiliki anak, sungguh tidak ada yang bisa diajak untuk naik gunung lagi.


Sedangkan Andra satu-satunya bujang di kedimana Dwilaga itu sungguh tidak bisa diharapkan. Kesibukannya sebagai seorang traveler dan selebgram tak ubahnya seperti selebriti yang kemana saja  digilai fans. 


Bisma memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak merefreshkan pikiran. Bukannya tidak peduli dengan masalah yang menimpanya tapi dia saat ini memang butuh waktu sendiri. Waktu untuk bisa kembali berpikir jernih.


" Aku akan mengurus semuanya saat kembali."


Bisma masuk ke dalam mobil setelah meminta ART yang setiap pagi datang untuk pulang kembali. Bahkan Bisma meminta ART tersebut untuk tidak datang selama seminggu ke depan. Ia akan membiarkan rumah seperti apa adanya saat ini.


Brummm


Bisma menyalakan mobilnya dna menekan tuas gas nya dalam-dalam. Ia bersenandung kecil sambil tangannya fokus di setir kemudi.


Ponselnya berdering, tapi ia enggan mengangkatnya. Pria itu melihat jalanan dengan perasaan senang. Ia merasa kali ini berkendara tanpa berpikir mengenai pasien-pasiennya. 


Ponselnya berdering lagi, ia melirik sekilas. Dilihatnya nama di layar ponsel tersebut dan membuatnya tersenyum. Ia pun menjawab panggilan telepon itu sambil mengarahkan mobilnya di tempat ia akan bertemu dengan si penelpon.


Ckiiiit


Bisma sampai juga di coffee shop samping rumah sakit. Warung kopi yang berada tidak jauh dari rumah sakit miliknya itu memang buka 24 jam. Ia kembali tersenyum saat melihat seseorang duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


" Hei bocah, apakah sudah menunggu lama?"


" Baru saja saya datang dok. Sekitar 5 menit yang lalu. Dokter mau pesan apa biar sekalian saya pesankan."


" Sudah duduk saja, biar aku yang pesan. Kamu mau apa Gauri?"

__ADS_1


Gauri yang tadinya sudah berdiri dan hendak menuju ke tempat memesan kopi tersebut pun urung. Ia kembali duduk lagi. Rupanya yang menelpon Bisma dan mengajak bertemu adalah Gauri. Bisma sendiri tidak tahu mengapa Gauri ingin menemuinya, bahkan di luar gedung rumah sakit.


" Ini americano dingin milikmu," ucap Bisma sambil memberikan pesanan Gauri lalu duduk di depan gadis itu. Gauri tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Keduanya menikmati kopi mereka masing-masing. Bisma memilih hot cappucino untuk dinikmati pagi itu.


" Oh iya ada apa mengajak bertemu? Apa ayahmu baik-baik saja?"


" Alhamdulillah babe baik-baik saja dok. Kata Dokter Dika kesehatan babe berkembang cukup baik."


Bisma tentu terkejut mendengar nama sang keponakan disebut. Yang dia tahu Dika masih liburan di daerah timur negara ini. Mengapa tiba-tiba sudah ada di rumah sakit. 


Ini pasti ulah Suma, dasar orang itu. Sudah dibilang jangan ngasih tau Dika malah udah gercep aja manggil dia. Hadeeeh.


Bisma bergumam dalam hati merutuki sang asisten. Di seberang sana Suma yang sedang memakan bubur ayam tiba-tiba batuk karena tersedak.


" Kayaknya ada yang maki-maki gue deh," ucap Suma di sela-sela batuknya. Pria itu bahkan sampai memukul-mukul dada nya untuk menghilangkan rasa sesaknya.


" Ekheem, lalu bocah, ada apa kau mengajakku bertemu hmm?"


" Dok, a-aku menyukaimu."


Uhuk …


Bisma hampir saja menyemburkan cappucino panas yang baru saja mendarat di mulutnya mendengar pernyataan Gauri. Bagaimana bisa bocah di depannya itu menyatakan perasaan kepadanya dengan terang-terangan. Mata Bisma membulat sempurna melihat wajah Gauri yang tampak serius. Ia melihat ke dalam mata gadis yang sering dipanggil bocah itu. Tidak ada keraguan dan kebohongan di sana. Gadis itu sungguh-sungguh dengan perasaannya.


" Ri, jangan bercanda."


" No, i'm serious. Saya tidak pernah main-main dengan hati saya dok."

__ADS_1


" Tapi Ri, saya sudah menikah."


" He??? Elah, napa sih orang ganteng dah ada pawangnya."


Lagi, Bisma dibuat terkejut dengan reaksi Gauri saat mendengar jawaban Bisma. Gadis itu terlihat tidak terkejut sama sekali tapi ia terlihat kesal. Gauri bahkan langsung meminum habis americano dingin miliknya yang tadi masih ¾ gelas.


" Kamu nggak kaget saya bilang udah nikah?"


" Kaget sih nggak dok. Saya sudah menduga itu. Ya masa di umur dokter yang segini mana ganteng pula, belum punya gandengan. Baiklah dok, paling tidak saya sudah lega karena menyampaikan rasa hati saya. Elaah baru ge aye mau move on, udah patah hati bae."


Kalimat Gauri yang terakhir tentu ia ucapkan dengan sangat pelan. Ia terlihat membuang nafasnya dengan kasar. Sedangkan Bisma, pria itu sedikit termenung. Hubungannya dengan Puspa yang hanya sebuah kamuflase itu yang membuatnya tidak bebas berhubungan dengan lawan jenis. Terlebih status suami yang masih melekat dalam dirinya membuat Bisma harus menjaga jarak agar tidak terhadap wanita yang sekiranya dekat dengannya.


" Kalau saya duda kamu mau tidak?"


" Woohoo dokter jangan aneh-aneh ya. Jangan karena saya bilang suka dengan dokter terus dokter mau cerai. Saya nggak mau disebut pelakor nanti."


Bisma seketika tertawa terbahak saat mendengar ucapan panjang Gauri. Tapi kemudian ia terdiam. Apa yang diucapkan Gauri memang benar adanya.


Andai saja, posisiku saat ini masih sendiri maka tanpa ragu aku akan menerima ungkapan cintamu itu bocah.


Bisma bermonolog dalam hati. Bagaimanapun ia juga harus hati-hati saat ini. Ia tidak boleh membuat celah barang sedikit pun yang bisa membuat musuhnya semakin menjatuhkannya. Bukan hanya untuk nya tapi juga untuk Gauri. Ia khawatir jika ada yang tahu tentang apa yang Gauri katakan tadi akan membuat gadis itu kesulitan. Bisma tentu tidak ingin melibatkan siapapun dalam peperangan nya di rumah sakit maupun di rumah tangganya.


Ia ingin lepas dari Puspa sepenuhnya dengan predikat bersih. Dia tidak ingin nanti tuduhan perselingkuhan menghampirinya. Bukan mau egois tapi tentu saja dia tidak mau Puspa yang melakukan hal busuk itu tapi orang lain yang kena. Terlebih Gauri tidaklah tahu menahu tentang urusan rumah tangga nya. 


Bayangkan saja jika salah satu pesaingnya tahu pembicaraannya dengan Gauri, pasti akan dijadikan senjata yang tajam. Jika perceraian terjadi, nanti Gauri akan dianggap sebagai orang ketiga. Bisma yang tahu Puspa begitu licik tentu tahu bahwa wanita itu akan memutarbalikkan fakta. Pasti dia akan bersikap seolah-olah menjadi wanita yang tersakiti karena orang ketiga.


Bisma tentu tidak mau itu. Ia saat ini harus menjaga jarak dengan Gauri. Itu yang terbaik untuk semuanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2