Keblinger Kharisma Pria Beristri

Keblinger Kharisma Pria Beristri
KKBP-20. Menangislah lalu Bangkitlah


__ADS_3

Braja tersenyum puas dengan apa yang ia sudah lakukan. Langah pertamanya berhasil. Braja kemudian menemui Rieta dan memberi sejumlah uang untuk wanita itu. Braja juga meminta Rieta untuk pergi sejauh mungkin dari kota J. Ia tidak ingin melihat wajah wanita itu.


“ Pergilah, dan jangan kembali. 300 juta kurasa cukup untuk membuatmu hidup di tempat yang baru,”


“ Baik tuan. Terimakasih.”


Rieta segara meninggalkan tempat tersebut. Bahkan ia sudah mempersiapkan ibunya untuk pergi dari rumah kontrakan yang sudah hampir jatuh tempo sewanya.


“ Baiklah bu, mari kita pergi dari sini. Aku akan membawa ibu berobat.”


Rieta memapah sang ibu untuk masuk ke dalam taksi online yang dia pesan. Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajah wanita itu. 


“ Kita mau kemana nak?’”


“ Kita akan kembali ke kampung halaman ibu. Kita akan hidup di sana.”


Ibu Rieta hanya tersenyum dan mengangguk. Ia yang merasa hidupnya tidak lama lagi merasa sangat senang jika bisa menghembuskan nafas terakhirnya di kampung halaman.


Di sisi lain, Braja tengah berada disebuah restoran. Ia disana tengah menunggu seseorang sambil menikmati wine yang berada di tangannya.


“ Wohooo tampaknya kau sedang senang bang.”


Seorang wanita yang baru keluar dari dalam restoran tersebut langsung duduk di depan Braja. keduanya saling melempar senyum dan tertawa puas,


“ Tck, jangan bermain terus Pus. Awas nanti ketahuan.”


“ Tidak akan. Aku bermain cantik kok.”


Ya, wanita tersebut adalah Puspa dan restoran tempat Braja tengah minum wine itu adalah Soul Restourant  milik Jiwa. Braja tentu tahu bagaimana hubungan Puspa dan Jiwa. Tapi dia diam saja dan tidak pernah sekalipun mengusik hal tersebut. Karena tujuan keduanya sama yakni sama-sama menghancurkan Bisma. Entah apa yang membuat Puspa begitu membenci Bisma. Tapi yang jelas, wanita itu menganggap Bisma merupakan penghambat dari keinginannya hidup bersama dengan Jiwa, sang kekasih.

__ADS_1


“ Lalu, apakah sukses besar?”


“ Tentu saja.”


Braja kemudian menceritakan apa yang terjadi siang tadi di rumah sakit. Setelah kejadian yang terjadi di lobi membuat dewan direksi dan dewan komite memanggil Bisma untuk menanyakan kebenaran yang terjadi. Bisma tentu dengan lantang mengatakan bahwa itu adalah fitnah dan rekayasa. Akan tetapi rupanya mereka tidak serta merta percaya. Bisma diminta membuktikannya.


Selama Bisma membuktikan bahwa apa yang menimpanya adalah fitnah maka untuk sementara Bisma tidak boleh melakukan tindakan medis di rumah sakit. Dengan kata lain Bisma di skors. Skors itu berlangsung selama Bisma bisa menemukan bukti yang valid bawa apa yang dituduhkan wanita itu tidak benar.


“ Hmmm. Cukup baik. Tapi sepertinya masih kurang. Kalau dia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah bagaimana?”


“ Itu urusan nanti. Untuk saat ini paling tidak semua berjalan sesuai dengan rencana ku,”


Puspa mengangguk mengerti. keduanya kemudian bersulang sebagai tanda keberhasilan mereka.


“ Sebentar lagi kau akan hancur Bisma,” gumam Puspa lirih di sela-sela kegiatannya menenggak wine.


*


*


*


“ Laah, kalian bikin kaget saja. Ada apa hmm?”


“ Dokter Bisma apakah benar dokter di skors. Terus kita bagaimana?”


Rupanya dua orang tersebut adalah Bayu dan Arga. Selain Dika kedua dokter residen itu memang dekat dengan Bisma. Bisma lalu meminta keduanya duduk di sebelahnya. Layaknya seorang mentor, Bisma mengacak rambut kedua juniornya tersebut.


“ Tck. Kalian ya nggak gimana-gimana. tetaplah terus belajar. Banyak dokter yang hebat juga disini. Jangan hanya belajar dariku.”

__ADS_1


Kedua pemuda itu menunduk lesu. Selama berada di RSMH hanya Bisma dan Dika yang benar-benar menjadi mentor yang baik. Masih ada sih beberapa juga seperti dokter Lisa, Dokter Andre dan lainnya. Tapi banyak juga yang hanya memarahi mereka dan meminta mereka untuk melakukan banyak hal tanpa membimbing. Beruntung dokter-dokter yang baik itu selalu mau menjelaskan saat mereka bertanya.


" Lalu kapan dokter akan kembali?"


" Doakan secepatnya. Aku akan kembali secepatnya. Doakan semoga urusan ini segera berakhir."


Arga dan Bayu mengangguk, dalam diri mereka sungguh menyayangkan. Rumah sakit sebagus ini di dalamnya penuh dengan intrik. Rumah sakit yang seharusnya adalah tempat dimana banyak orang menggantungkan keselamatan hidupnya harus menjadi korban politik dan korban dari hausnya orang-orang serakah terhadap kekayaan.


Arga dan Bayu harus segera kembali masuk. Panggilan darurat ruang IGD sudah masuk ke ponsel mereka. Seperti itulah kegiatan mereka setiap hari. 


Bisma kembali termenung sendiri. Cita-cita nya menjadikan Rumah Sakit Mitra Harapan menjadi pusat penangan trauma dan mitra bagi harapan para orang mencari kesembuhan atas penyakitnya tampaknya harus terganjal. Memang tidaklah mudah mewujudkan apa yang menjadi cita-cita nya itu. Banyak oknum yang lebih money oriented di tempat yang ia pijaki saat ini.


" Dok!"


Sebuah sapaan yang membuat Bisma langsung menengadahkan kepalanya yang ia tundukkan sedari tadi. Ia pun kemudian tersenyum memberitahukan bahwa dia baik-baik saja.


" Jangan seakan-akan semua baik-baik saja. Jika memang tidak baik maka katakan tidak baik. Jika memang berat maka katakan berat. Anda bukanlah ironman yang mampu menahan runtuhnya gedung ini dengan kedua tangan. Anda juga bukanlah Aladin yang memiliki lampu ajaib yang bisa mengabulkan  semua permintaan."


Bisma sungguh terkejut dengan setiap apa yang terucap di bibir gadis itu. Gadis yang selalu ia anggap bocah setiap mereka berbicara rupanya punya pemikiran yang luar biasa menurutnya.


" Apakah aku boleh menangis Gauri?"


Gauri menganggukkan kepala.Rupanya orang yang menyapa dan berbicara panjang itu adalah Gauri. Peristiwa tadi pagi itu tentu membuat semua orang yang berada di rumah sakit itu tahu. Dan kabar di skors nya Bisma Gauri ketahui saat ia hendak menuju ke mushola. Ia mendengar pembicaraan beberapa dokter yang juga berjalan ke arah sana.


Dan benar saja, Bisma menangis di sana. Gauri menepuk punggung lebar nan tegap pria itu dengan pelan. Sesekali Gauri mengusapnya dengan lembut.


Bisma benar-benar melupakannya. Ia menangis bukan karena skors atau kejadian tadi pagi. Bisma menangis karena merasa begitu sulit menjaga amanah ayahnya yang telah tiada. RSMH adalah rumah sakit yang dibangun oleh sang ayah yang merupakan dokter hebat pada masanya.


Ayah dari Bisma dan Sekar itu memiliki cita-cita menjadikan RSMH sebagai rumah sakit yang bisa membantu siapa saja yang datang kepada mereka. Tapi tampaknya semuanya itu benar-benar sulit untuk diraih selama masih ada politik dari orang-orang serakah itu.

__ADS_1


" Menangis lah sepuasnya dokter. Tapi setelah itu bangkit berdirilah. Masih banyak yang mengharapkan mu untuk berada disini. Masih banyak yang membutuhkan tanganmu untuk menyembuhkan rasa sakit mereka."


TBC


__ADS_2