KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 13. Persiapan Liga Domestik


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Vale kau mau kemana lagi?" tanya Henritz saat Valenesh terlihat bersiap-siap. Pria itu tahu malam ini Valenesh tidak ada jadwal piket di rumah sakit.


"Mau menyaksikan latihan persiapan liga domestik, mau ikut?"


"Hmm, ikut deh daripada aku sepi sendirian di rumah."


"Oke boleh, yuk!"


Henritz mengangguk dan langsung mengikuti Valenesh keluar rumah.


"Kamu yang nyetir ya," ucap Valenesh saat tiba di samping mobil.


"Kita pakai teleportasi aja ya!" tawar Henritz.


"Hmm, bagaimana ya? Jangan deh nanti teman-teman malah mencurigaimu. Mau ku ajari menyetir?"


"Boleh saja."


Valenesh mengangguk lalu mempersilahkan Henritz duduk di kursi kemudi. Setelahnya dia pun masuk dan duduk di samping Henritz.


"Oke bagaimana ini?" tanya Henritz sambil memegang setir.


"Hidupkan mesin, tekan kopling, masukkan persneling, injak gas!" perintah Valenesh.


"Baiklah. Begini, kan?"


"Oke benar, kau ternyata cerdas," ucap Valenesh sambil tersenyum.


"Sekarang tinggal injak gas!"


Weeeeng!


"Hen!" teriak Valenesh sebab Henritz menekan gas dengan kuat serta melepas kopling secara mendadak sehingga membuat mobil melaju dengan kencang di jalanan. Laju mobil yang begitu cepat membuatnya seakan-akan terbang.


"Hen awas ada manusia di depan!" teriak Valenesh dengan heboh, takut-takut Henritz menabrak orang.


Henritz segera memutar setir.


"Vale bagaimana ini?" Henritz panik sebab di depan mobil ada mobil lainnya yang melintas sedangkan Valenesh nampak syok karena tidak siap dengan semuanya.


"Putar setir lagi Hen!"

__ADS_1


Henritz pun melakukan yang diperintahkan Valenesh.


"Lepas gas dan tekan rem!" perintah Valenesh lagi setelah mereka terlepas dari mobil di depan tadi.


"Yang mana Vale?" Henritz tidak bisa berpikir karena terlalu panik. Akhirnya dengan sigap Valenesh mengambil alih semuanya.


Ckiit!


Mobil berhenti mendadak.


"Hah, akhirnya." Valenesh langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


Wanita itu tampak ngos-ngosan seperti dikejar hantu.


"Maaf, kau tidak apa-apa Vale?" tanya Henritz khawatir.


"Tanyakan saja jantungku, apakah masih aman di tempatnya," sahut Valenesh sambil berusaha menetralkan hembusan nafasnya.


"Memangnya jantungmu copot?" tanya Henritz sambil melihat di sekeliling Valenesh seolah mencari keberadaan jantung yang disebut oleh Valenesh itu.


"Kau cari apa Hen?" tanya Valenesh dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Jantungmu."


"Loh salahku dimana?" tanya Henritz mendengar Valenesh protes.


"Katanya harus memastikan jantungmu ada di tempatnya," ujar Henritz dengan ekspresi sok bodohnya.


"Ah sudahlah, untung aku tidak jantungan. Kalau tidak, kau akan bingung mencari donor darimana. Pindah posisi!"


Keduanya pun pindah posisi dan sekarang Valenesh yang mengambil alih setir mobil.


Henritz menyandarkan tubuh dan memejamkan mata sebentar.


"Maaf kalau aku terlalu keras padamu," ucap Valenesh karena dia tadi sudah berteriak-teriak pada Henritz.


Henritz hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Kau tidak marah 'kan padaku?" tanya Valenesh lagi.


"Marah? Untuk apa marah? Kamu berteriak-teriak dari tadi karena tidak ingin kita berdua celaka, bukan?"


"Terima kasih kalau kau mengerti," ucap Valenesh.

__ADS_1


"Aku akan berusaha mengerti dirimu," ujar Henritz membuat Valenesh langsung menatap wajah Henritz kemudian cekikikan.


"Seharusnya kau yang marah padaku karena tidak hanya hampir membuat kita saja yang celaka, bahkan aku hampir menabrak dua manusia." Henritz berkata dengan begitu serius.


"Untuk apa marah pada vampir yang tidak sengaja? Sudahlah lupakan saja dan kamu jangan menyerah ya, lain kali harus mau belajar menyetir lagi."


Henritz hanya mengangguk walaupun dalam hati dia ragu.


Sepanjang perjalanan kemudian tidak ada yang bicara.


Valenesh turun dari mobil dan langsung menyapa beberapa orang yang menyambutnya di pinggir lapangan.


"Bagaimana?" tanya Valenesh pada seorang pria yang menjabat tangannya.


"Bu Valenesh lihat saja sendiri, kalau menurut saya performa pemainnya sih bagus, hanya saja kekompakannya masih harus ditingkatkan."


"Oke."


"Kalau begitu Bu Valenesh silahkan duduk dan menyaksikan dulu. Kalau nanti ada yang perlu disampaikan bolehlah nanti sampaikan langsung pada para pemain."


"Baik."


"Kalau begitu saya permisi ke sana dulu ya Bu."


"Iya, terima kasih."


Pria itu mengangguk sedangkan Valenesh mengajak Henritz untuk duduk di suatu sudut lapangan sambil melihat jalannya latihan.


Sepanjang menyaksikan jalannya latihan Henritz terlihat heboh. Sepertinya pria itu tertarik untuk ikut.


"Mau ikut? Nanti aku akan minta pelatih untuk mengajarimu," ujar Valenesh melihat Henritz begitu antusias.


"Tidak Vale, bukannya menang aku malah membuat tim kalah nantinya."


Valenesh hanya mengangguk. Hanya orang-orang berbakat-lah yang bisa mengikuti lomba.


"Padahal aku juga suka bola. Sejak kecil aku selalu latihan dengan ayah, tapi ya sudahlah aku takut jika nanti terhalang dengan kesensitifanku terhadap cahaya matahari apabila sesi latihan selanjutnya ataupun lomba akan diadakan siang hari," batin Henritz.


Selesai latihan Valenesh langsung berbincang-bincang dengan para pemain termasuk memberikan nasehat-nasehat dan motivasinya terkait sepakbola.


"Pokoknya apapun yang terjadi, ingat harus bisa mengontrol emosi masing-masing," pungkas Valenesh mengakhiri percakapannya dan semua pemain mengangguk setuju.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2