KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 33. Rodex Yang Sebenarnya


__ADS_3

Namun, tubuh Valenesh tidak bergeming. Wajah pucat pasi dan tubuhnya sedingin es saat disentuh.


"Tidak mungkin kau benar-benar telah tiada Val?" Andrew menggeleng, masih tidak percaya.


"Vale kau tidak boleh pergi!" Henritz mengusap wajah Valenesh lalu mencium pipinya beberapa kali kemudian beranjak ke hidung mancung nan putih itu. "Vale kumohon bangunlah!"


"Sudah Tuan Henritz! Nona Valenesh sudah tiada." Dokter masih berusaha membuat pria itu menyadari kenyataan.


"Dokter untuk apa masih di sini? Pergilah! Dasar tidak berguna!"


Brak!


Henritz membuang apa saja yang ada di sisinya.


"Sekali lagi mengatakan Vale-ku mati maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu!" Henritz menunjuk ke arah dokter membuat dokter tersebut salah tingkah.


"Baik kalau begitu saya permisi, tapi kalau kalian butuh saya lagi bisa langsung hubungi melalui nomor telepon."


"Pergilah, aku tidak membutuhkanmu!" sentak Henritz. Pria ini sangat kesal pada dokter yang hanya bisa bicara saja tanpa ada jasa sama sekali.


"Banyak omong!" teriak Henritz lagi.


Melihat Henritz murka dokter tersebut segera berlari keluar ruangan dan berbicara para satpam.


"Sampai kapanpun kamu tidak boleh mati." Henritz semakin mengeratkan pelukannya.


Hingga malam hari Henritz masih tidak bergerak dari tubuh Valenesh begitupun dengan Andrew yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Tuan Andrew, Tuan Henritz, saya bawakan makan malam untuk kalian berdua. Sebaiknya kalian makan agar tidak ikut sakit seperti Nona Valenesh." Sengaja pak satpam mengatakan Valenesh sakit bukan mati karena takut mendapat ancaman seperti dokter tadi.


Mendengar pak satpam mengatakan Valenesh sakit Henritz menoleh.


"Apa pak satpam bilang, Valenesh-ku sakit?" tanya Henritz sambil menatap mata pak satpam membuat pria itu mendadak gugup.


"Iya Tuan, seperti sebelumnya dimana Nona Valenesh sakit dalam kurun waktu yang lama, tetapi saya yakin saat Tuan Henritz menemukan obat yang cocok lagi maka Nona Valenesh akan sembuh kembali." Sebenarnya pak satpam merasa berdosa karena telah berbohong dan memunculkan harapan di hati Henritz, tapi untuk saat ini hal itu sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat Henritz kembali.


"Benar kata pak satpam, tidak lama lagi dia akan bangun dari tidurnya." Henritz sedikit tersenyum karena seolah mendapat secercah harapan dibalik perkataan pak satpam.


"Maka dari itu makanlah agar kalian bisa fokus menjaga Nona Valenesh!" Pak satpam menyodorkan makanan ke hadapan Henritz. Namun, pria itu enggan menerima karena merasa tidak membutuhkan.


"Ayolah Tuan Andrew, semangat," ucap pak satpam ketika melihat Andrew tidak ada reflek sama sekali. Tidak seperti Henritz, Andrew tidak percaya jika Valenesh bisa bangkit lagi dari kematiannya.


Melihat Andrew sepertinya lebih terpuruk, Henritz lalu mengambil makanan dari tangan pak satpam lalu diberikannya pada Andrew.


"Makanlah agar kamu punya tenaga saat aku ajak mencari obat untuk Vale."


Andrew mengangguk lalu menerima makanan dari tangan Henritz sebab tidak ingin menambah beban kesedihan di hati Henritz.


"Makanlah Drew, manusia butuh makan untuk mendapatkan tenaga!"


Terpaksa Andrew menyumpit mie tiaw dan memakannya walaupun sebenarnya selera makannya saat ini benar-benar sudah tidak ada. Makanan yang masuk mulut terasa hambar begitu saja. Namun, demi membuat Henritz senang dia tetap mengunyahnya.

__ADS_1


***


Di alam vampir, Kekey tidak mengindahkan peringatan dari Zorro. Meskipun pria itu melarang Kekey keluar dari kastil yang ditempatinya dan memperlihatkan keberadaan pada para vampir di istana, Kekey tetep nekat keluar saat Zorro tidak ada.


"Kemana sih Henritz? Masih betah saja di dalam atau jangan-jangan sudah keluar dan saat mencari keberadaanku tidak ketemu. Dasar! Ini gara-gara vampir zero itu!" umpat Kekey.


Sengaja dia menyebut Zorro dengan panggilan Zero karena menganggap pria vampir itu nol atau tidak punya otak karena telah tega menahan dirinya.


Seharusnya Kekey sudah pergi bersama Henritz sedari siang jika Zorro tidak membawa dan menahan dirinya di kastil belakang istana.


"Pasti masih di kamar permaisuri kejam itu," tebak Kekey sambil berjalan mengendap-endap dan beberapa kali celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.


"Nona mau kemana?" sapa seorang pelayan membuat mata Kekey terbelalak karena ada yang memergoki aksinya.


"Maaf aku mencari Henritz." Kekey langsung memukul mulutnya sendiri yang suka keceplosan.


"Pangeran Henritz, apa dia berada di sini sekarang?" Sepertinya pelayanan itu ramah dan sekali lagi anggota tubuh Kekey yang keceplosan menjawab. Yang tadinya mulut sekarang kepalanya yang mengangguk.


"Mati aku," batinnya.


"Kau siapanya Henritz?"


"Emm ... emm–"


"Kamu tenang saja aku adalah pelayan pangeran Henritz sejak kecil." Pelayan tersebut tersenyum ramah.


"Oh ya?" Kekey sama sekali tidak menyangka.


"Maaf apakah bibi melihat pangeran Henritz?"


Sayangnya pelayan itu menggeleng.


"Sudah dari dulu pangeran Henritz pergi dari istana dan tidak kembali."


"Berarti bibi tidak bertemu dengannya tadi. Henritz tadi ke sini Bi, tapi saat saya meminta untuk diantar ke alam manusia dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Katanya tadi dia ingin ke kamar pangeran Rodex."


"Tidak ada, saya baru saja dari sana."


"Masa sih Bik, bolehkah saya memastikan sendiri?"


"Jangan Nona, bahaya!" cegah pelayan itu.


"Baiklah kalau begitu saya akan ke kamar pangeran Zorro saja." Kekey melenggang pergi.


"Hei Nona, ngapain ke sana?"


"Dia yang menculik saya dari alam manusia jadi saya akan meminta pertanggung jawaban dia agar mengembalikan ke tempat asalku."


"Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati jangan sampai ketahuan Pangeran Rodex dan permaisuri Sharon!"


"Baik Bik." Kekey melangkah ke depan pintu kamar Rodex.

__ADS_1


"Ibu, apa ada kabar dari Ansel?"


Sharon tersenyum pada putranya.


"Kau tenanglah, jangan terburu-buru Rodex."


"Tapi ibu, apakah ibu tidak khawatir Ansel berkhianat pada kita?"


"Aku percaya padanya. Dia tidak akan mengkhianati keluarga kita." Sharon terlihat tenang, tidak gelisah seperti Rodex.


"Apa jaminannya ibu bisa berkata seperti itu?"


"Menurutmu apakah ada seorang pria yang bisa mengkhianati putranya sendiri?"


"Teka-teki apa ini Ibu?"


"Kamu jawablah sesuai dengan keyakinanmu sendiri!"


"Kalau seorang anak saja bisa tega pada ayahnya mengapa seorang ayah tidak bisa? Di zaman sekarang apa ya tidak mungkin Ibu?"


"Apa maksud mereka?" Kekey menguping sambil berpikir. Untung saja di depan kamar Rodex tidak ada yang menjaga. Tentunya itu bisa terjadi karena Sharon sudah yakin seluruh penghuni di istana patuh dan menurut padanya. Selain itu keduanya butuh privasi untuk berbicara berdua. Kalau ada yang menjaga di depan pintu khawatir pembicaraan mereka didengar oleh penjaga.


"Kau salah Rodex, tidak ada anak yang tega pada orang tuanya," ucap Sharon.


"Maksud Ibu? Apakah Ibu lupa dengan yang sudah kita lakukan pada ayah?"


"Ibu tidak lupa, makanya Ibu sangat percaya pada Ansel."


Rodex mengernyit, tidak paham arah pembicaraan sang ibu.


Di luar Kekey melompat kaget saat ada yang menepuk bahunya.


"Apa yang kamu lakukan di sini Kekey?" bisik Zorro lalu meniup telinga Kekey.


"Kau–"


Belum sempat Kekey melanjutkan ucapannya ada suara lagi dari dalam.


"Karena sebenarnya Ansel itu adalah ...."


"Sttt!" Kekey memberi kode pada Zorro agar diam.


Mendengar Kekey sangat tertarik dengan pembicaraan Sharon dan Rodex di dalam, Zorro pun ikut kepo. Dia lalu menguping pembicaraan keduanya.


"Ansel adalah ayah kandungmu dan kamu tidak berkhianat pada ayahmu Fanhouzan karena dia hanya ayah bayanganmu. Jadi, sebenarnya Ansel membunuh Fanhouzan demi kau, putraku, dan kita tidak salah membocorkan kelemahan Fanhouzan pada ayahmu sendiri."


Sontak saja kedua orang yang mengintip itu kaget. Kekey sampai menganga lebar sedangkan Zorro terlihat mengepalkan tangan. Pria itu siap menghantam kedua orang yang ada di dalam kamar.


"Zorro tahan!" cegah Kekey.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2