
"Sayang aku ingin makan di luar," ujar Valenesh saat makanan sudah terhidang di depan mata.
"Tidak boleh, bahaya Vale."
Valenesh cemberut. "Kalau di sini bahaya kenapa kau mengajakku tinggal di sini? Apa aku harus terkurung di dalam kamar setiap hari?"
Henritz terdiam mendengar protes Valenesh. Kalau saja Ansel tidak sedang berada di negerinya, tidak mungkin Henritz akan melarang.
"Hen, tolong jelaskan kenapa di luar sangat berbahaya?"
Tidak ingin Valenesh curiga kalau Ansel juga berada di tempat itu Henritz lalu menggeleng.
"Tidak ada apa-apa sih Sayang, aku hanya khawatir cuaca di luar tidak cocok dengan tubuhmu apalagi kau juga sedang hamil."
"Tapi aku ingin sekali menikmati makanan sambil melihat pemandangan di luar istana. Aku pikir ini bukan hanya keinginanku, tetapi juga putra kita."
Rengekan Valenesh membuat Henritz pasrah.
"Yasudah kalau begitu kita keluar sekarang biar makanan ini mereka yang bawa!" Henritz menunjuk pelayan istana.
"Baik pangeran akan kami bawa keluar."
"Hmm, lakukan secepatnya!"
"Baik Pangeran."
Henritz menuntun Valenesh keluar dari istana dan membawa wanitanya itu ke taman belakang.
"Lumayan indah," ucap Valenesh yang melihat-lihat bunga di taman begitu bermekaran. Namun, karena warnanya sedikit gelap menyesuaikan tempat, taman ini terlihat seperti lukisan di mata Valenesh.
"Makanannya sudah siap Pangeran." Seorang pelayan melapor pada Henritz.
"Terima kasih, kamu bisa kembali."
Pelayan itu membungkuk dan pamit pergi.
"Ayo sayang kita ke kursi panjang itu!"
Valenesh mengangguk dan mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan.
"Duduk dan santaplah makanan yang memang khusus disiapkan untukmu ini!" Henritz duduk di hadapan Valenesh dan menatap wajah sang istri yang tidak pernah membuat dirinya bosan.
"Kau tidak makan juga Sayang?" Valenesh balik menatap wajah Henritz. Prianya, yang tidak akan pernah lekang cintanya dalam hati.
Henritz menggeleng. "Mau melihat kamu makan saja. Di sini stok makanan untukku masih tersedia."
__ADS_1
Maksud Henritz adalah darah yang sudah disiapkan oleh pelayan untuknya. Berbeda dengan makanan untuk Valenesh yang bahkan tidak ada stoknya. Namun, untuk hari ini Valenesh sudah memerintah beberapa suruhannya untuk membeli makanan Valenesh dari alam manusia.
Kali ini Valenesh yang mengangguk lalu fokus menyantap makanannya.
Saat sedang menemani istrinya makan seorang pengawal kerajaan berjalan mendekat ke arah Henritz.
"Maaf Pangeran menganggu kalian berdua, tapi saya harus menyampaikan perintah para Menteri agar Pangeran menghadiri rapat istana sekarang juga."
"Sekarang juga?"
Pengawal kerajaan itu mengangguk.
"Sekali lagi mohon maaf jika terpaksa saya lancang menganggu waktu Pangeran dan permaisuri.
"Rapat sekarang juga? Ada apa ini kenapa begitu mendesak?"
"Maaf Pangeran, sudah lama jabatan raja dalam kerajaan ini kosong dan itu sangatlah tidak baik. Para menteri mendengar para musuh sudah memantau kerajaan ini. Jika mereka bisa lolos masuk ke negeri ini sementara tidak ada yang memegang tampuk kerajaan, kami akan seperti ayam Yang kehilangan induk. Kami butuh seorang raja yang bisa mengayomi dan melindungi rakyat kami."
"Maksudmu ini ada kaitannya dengan pengangkatan raja?" Valenesh menyimpulkan dari kalimat panjang yang disampaikan pria di sampingnya.
"Benar, kata menteri hari ini akan diputuskan siapa yang akan naik dan memegang jabatan sebagai raja. Apakah pangeran Henritz sebagai pangeran pertama dari permaisuri Rivanna, ataukah Terex sebagai putra kedua atau bahkan Zorro yang lahir dari permaisuri lainnya."
"Hah!" Henritz mendesah kasar.
"Apakah pangeran Zorro sudah diberitahu?"
"Yasudah kalau begitu biar aku saja yang menghubungi Zorro. kau pergilah dan katakan pada para menteri bahwa sebentar lagi saya akan ke sana!"
"Baik pangeran kalau begitu saya permisi dulu!"
"Ya."
"Lihat Sayang! Papamu sebentar lagi akan menjadi raja," ucap Valenesh sambil mengusap perutnya seolah dia berbicara dengan putra dalam kandungannya itu. Valenesh tersenyum senang.
"Apakah ini sangat penting untukmu Vale? Rasanya aku tidak pantas menjadi raja." Henritz merasa sangat rendah diri.
"Siapa bilang kamu tidak pantas Sayang? kau adalah pemimpin yang hebat. kalau bukan kamu siapa lagi yang akan maju menjadi raja sementara Zorro sudah dipastikan tidak akan mau."
"Mungkin kalau Zorro tidak mau karena memang sebelumnya sudah mengatakan padaku tidak akan pernah memegang jabatan itu. Apalagi istrinya adalah Kekey yang tidak betah tinggal di istana, tapi siapa tahu Terex berambisi."
"Aku pikir dia kurang pengalaman dan juga jiwa pemimpinnya masih tidak ada. Namun, bagaimana baiknya nantilah yang penting terbaik buat istana. Kalau aku sih tidak masalah kamu menjadi raja atau tidak aku tetap akan mendukung."
"Terima kasih istriku, aku memang tidak salah mencintai dan memilihmu sebagai istri."
"Semua sudah takdir Hen, tapi aku bahagia menjalani takdir ini. Aku harap sampai aku menutup mata kau tetap akan ada di sisiku."
__ADS_1
"Semoga ya Sayang. Sebentar aku hubungi Zorro dulu." Henritz berdiri dan melangkah sedikit menjauh dengan Valenesh.
Dengan kekuatan telepati dia menghubungi Zorro.
Di alam manusia Zorro tampak tiduran sambil memeluk tubuh Kekey.
Telinganya sedikit berdengung sehingga dia langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Kekey dan duduk di tepi ranjang.
"Ada apa Sayang?" tanya Kekey melihat sikap Zorro yang tiba-tiba.
"Sepertinya Henritz ingin menghubungiku."
Kekey mengernyit dalam hati berpikir bagaimana mungkin Zorro bisa tahu bahwa Henritz ingin menghubungi dirinya.
Kekey meraih ponsel dan memberikan pada Zorro.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk menghubungi Henritz."
"Tidak usah Sayang," tolak Zorro, beberapa saat kemudian langsung terlibat percakapan dengan Henritz.
"Oh God mereka berbicara pakai jaringan apa sih?" Kekey terbelalak melihat Zorro berbicara dengan Henritz jarak jauh tanpa menggunakan alat bantu.
"Enak ya tanpa mikirin ada pulsa atau sinyal." Kekey terkekeh.
Sesaat kemudian.
"Sayang aku mau ke alam vampir karena malam ini ada pengangkatan raja. Kamu mau ikut atau nggak? Sekarang juga akan akan ikut rapat."
"Jemput aku nanti malam saja setelah acara pengukuhan. Awas ya jangan mau jadi raja karena aku tidak ingin jadi permaisuri yang harus tinggal di sana terus-menerus!" Sebelum pergi Zorro sudah mendapatkan ancaman terlebih dahulu dari sang istri.
"Tenang saja aku juga tidak berminat kok."
"Sip kalau begitu." Kekey menunjukkan dua jari jempol tangannya. Setelahnya melepas kepergian Zorro ke tempat asalnya.
Rapat dimulai dan Henritz terpaksa meninggalkan Valenesh seorang diri. Sebenarnya Henritz menugaskan beberapa pengawal kerajaan untuk menjaga istrinya, tetapi Valenesh yang merasa risih diawasi terus-menerus meminta mereka untuk meninggalkannya.
Disaat Valenesh berjalan-jalan di sekitar istana ada suara pria yang menyapa.
"Hai Nona Valenesh apa kabar?"
Valenesh yang familiar dengan suara tersebut langsung menoleh.
"Tuan Ansel?!" Valenesh tampak syok melihat keberadaan lelaki itu di istana milik Henritz.
__ADS_1
Bersambung.