KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 37. Kewarasan


__ADS_3

"Iya Pangeran Zorro, tadi aku bertemu ayah dan beliau langsung mengembalikan kekuatanku karena telah berhasil menghukum ibunda Sharon dan pangeran Rodex."


"Mereka telah berhasil ditangkap? Pangeran Henritz bisakah kamu mempertemukanku pada ayahanda?"


"Iya mereka berdua sudah dibekukan di dalam peti dan mohon maaf saya tidak bisa mempertemukanmu dengan ayahanda karena pertemuanku saja tadi adalah sebuah ketidaksengajaan yang tidak mungkin bisa diulang. Sekarang bagaimana keadaan bibi?"


"Saat ini bibi sedang diolesi dengan ramuan di leher dan tabib sedang membebat kain di lehernya. Tabib meminta agar bibi istirahat total dan tidak bergerak dulu selama dalam masa penyembuhan."


"Katakan pada tabib sembuhkan bibi demi diriku dan aku akan meminta beberapa pengawal untuk menyusulmu ke sana dan menjaga bibi agar tidak ada yang mencoba untuk membunuhnya. Mungkin Rodex dan ibunda Sharon sudah ada dalam peti, tapi bukan tidak mungkin ada diantara kita yang memihak kepada mereka berdua dengan diam-diam saja."


"Iya kamu benar Pangeran."


"Saya minta setelah pengawal pilihan sampai ke sana, kau pulanglah dan pegang kerajaan dulu!"


"Pangeran Henritz, saya tidak bisa memegang kerajaan ini. Saya–"


"Ayolah pangeran Zorro, kau tahu gadisku Valenesh sedang sekarat di sana. Tidak mungkin aku meninggalkannya, kan? Aku yakin kok kamu bisa memegang tampuk kerajaan. Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa menemuiku di alam manusia. Namun, kamu jangan khawatir saya akan sering-sering menghubungimu lewat kemampuan telepati."


Zorro di sana tidak menjawab.


"Ayolah jika kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan? Aku serba salah pangeran Zorro. Bertahan di sini takut ada apa-apa dengan Valenesh, meninggalkan tempat ini tanpa kesanggupanmu seolah aku menelantarkan rakyatku dan melalaikan kewajiban sebagai pengganti raja."


Zorro masih diam. Terbayang dalam benaknya Kekey yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Baiklah pangeran Henritz, tapi ada satu permintaanku. Apakah kamu bisa menyanggupi?"


"Apa itu? Kalau aku bisa pasti aku lakukan."


"Jaga Kekey untukku dan jangan biarkan pria manapun mendekati dia."


"Apa?!" Henritz heran bercampur kaget.


"Tolonglah maka aku akan berusaha menjaga kerajaan ini."


"Jangan bilang kamu juga menyukai wanita dari bangsa manusia!"


"Kenapa memangnya? Kalau kau boleh mengapa aku tidak? Lagipula ayahanda dulu juga sempat menjalani hubungan dengan seseorang wanita dari bangsa manusia." Zorro berbicara dengan enteng.


"Akan jadi apa kerajaan ini kalau semua anak ayah menikahi manusia? Bisa-bisa kerajaan ini bukan lagi kerajaan vampir melainkan kerajaan setengah manusia dan setengah vampir," gumam Henritz dijawab kekehan dari Zorro.


"Tenang masih ada Terex, tapi tugas kita masih berat. Kita harus meyakinkan dia dengan apa yang sudah terjadi dan agar dia tidak diam-diam membuka peti yang berisi Ibu Sharon dan pangeran Rodex itu."

__ADS_1


"Kalau itu tugasmu."


"Apa! Tugasku?"


"Iya tugasmu jika ingin aku bantu untuk mendapatkan hati Kekey. Kau tahu saat ini Kekey sangat dekat dengan Andrew dan jika dibiarkan begitu saja mereka bisa saja memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Lagipula Kekey tidak suka berjodoh dengan vampir. Namun, nanti aku akan baik-baikin kamu deh biar dia suka dan bersimpati padamu," rayu Henritz.


"Baiklah, deal kalau begitu."


"Yasudah saya mau ke pengawal dulu dan ingin memerintah supaya menggantikanmu menjaga bibi."


"Baik."


Setelah menyudahi bicaranya, Henritz berjalan ke singgasana lalu mengutus beberapa pengawal untuk menemui Zorro.


Setelah Zorro kembali ke istana barulah Henritz kembali ke alam manusia.


Sampai di rumah Valenesh sudah ada Kekey yang menangis di tepian ranjang.


"Aku tidak ikhlas kamu pergi Val. Mengapa kau tinggalkan aku secepat ini? Bawa aku pergi saja bersamamu, hiks, hiks, hiks." Valenesh terisak.


"Hen kau menemukan obatnya, kan? Valenesh belum mati, kan?" Kekey langsung mendongak mendengar suara langkah mendekat.


"Belum, tapi Valeneshku belum mati dan tidak akan mati. Dia sudah berjanji akan menikah denganku."


Di mata Andrew dan pak satpam, Kekey dan Henritz terlihat konyol dan gila.


"Kita keluar saja Pak!" ajak Andrew pada pak satpam. Kalau lama-lama berada di samping keduanya bisa-bisa Andrew ikut tidak waras.


"Bagaimana ini Tuan Andrew? Tuan Henritz tidak mengizinkan kita melakukan penguburan Nona Valenesh. Apakah kita tetap akan membiarkan mayat Nona Valenesh tidak terurus begitu saja?"


"Entahlah Pak, rasanya sulit jika Henritz masih menganggap Valenesh masih hidup dan sekarang bertambah Kekey lagi yang menganggap demikian."


"Terus kita akan berbuat apa?"


"Tunggulah satu atau dua hari, barangkali mereka bisa sadar dan mengambil kesimpulan sendiri."


"Saya hanya tidak mau sampai tubuh Nona Valenesh membusuk dan dia akan menjadi omongan orang-orang. Kasihan dia."


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa Pak kecuali hanya berdoa yang terbaik untuk semuanya."


"Iya Tuan Andrew sepertinya kita hanya bisa melakukan demikian, sebab Tuan Henritz keras kepala."

__ADS_1


"Andrew!" Saat sedang serius mengobrol dengan pak satpam, Henritz memanggil Andrew.


"Iya Hen?"


"Tolong panggilkan dokter yang profesional untuk merawat Vale!"


Andrew menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk.


"Antar aku Pak, sepertinya aku tidak punya tenaga untuk kemana-mana!"


Pak satpam menatap Henritz untuk meminta persetujuan. Henritz mengangguk dan pak satpam akhirnya pergi dengan Andrew.


****


Satu jam kemudian akhirnya Andrew kembali dengan seorang suster dan perawat.


"Bukankah Nona Valenesh sudah tiada?" Dokter heran sebab dirinya dipanggil saat nyawa Valenesh sudah pergi.


"Ssst! Sudah lakukan saja apa ya diperintahkan Tuan Henritz kalau dokter ingin selamat," saran Andrew.


"Dokter saya pikir Valenesh butuh oksigen," ujar Henritz.


"Baiklah." Dokter itu mengangguk dan memasang selang oksigen yang sudah Henritz sediakan sebelumnya.


"Tuh, kan benar Valenesh masih hidup?" Henritz tersenyum senang sebab setelah dipasangi selang oksigen, Valenesh seperti orang mengorok dan itu tandanya menurut Henritz, Valenesh masih bernafas.


Andrew mengernyit dan langsung berbisik di telinga dokter. "Apa benar Valenesh masih hidup?"


"Tidak Tuan, itu hanya mengandalkan alat saja, jika dilepas lagi maka Nona Valenesh tidak bisa bernafas." Dokter itu juga menjawab dengan berbisik di telinga Andrew.


Andrew hanya mengangguk lalu menghela nafas.


"Entah sampai kapan drama ini akan berakhir dan Henritz berserta Kekey menyadari kegilaannya?"


"Dokter pasang semua alat ini!" perintah Kekey dengan menunjukan beberapa alat medis yang ada di ruangan itu. Seperti monitor yang mengontrol detak jantung dan infus. Kekey yakin setelah dirawat seperti kemarin-kemarin Valenesh akan terbangun lagi dari tidur panjangnya.


"Iya Dok lakukan apa yang harus dilakukan, lakukanlah! Saya berjanji akan memberikan seratus keping emas jika Valenesh berhasil sadar dari komanya."


Imbalan yang menggiurkan, tetapi tidak membuat dokter bersemangat karena dia tidak mungkin membangkitkan orang yang sudah mati.


"Tidak perlu Tuan Henritz, sebagai dokter saya hanya ingin agar pasien sembuh, tidak lebih."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2