
"Sayang aku mengantuk." Valenesh merengek seperti anak kecil.
"Yasudah tidur saja Sayang," ucap Henritz sambil membenarkan posisi Valenesh.
"Tapi aku rindu ibu," ucap Valenesh lagi dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Benar kata dokter kandungan tadi, bahwa orang hamil mudah cengeng," ucap Henritz dengan suara lirih.
"Terus kalau begitu apa yang bisa aku lakukan? Bukankah ibumu sudah tiada?" Henritz bingung menghadapi keinginan aneh Valenesh yang satu ini.
Henritz berpikir, bisa-bisa Valenesh akan menangis seharian karena Henritz tidak bisa mewujudkan permintaan sang istri. Andai saja dia punya kekuatan membangkitkan manusia yang sudah mati Henritz pasti akan melakukannya untuk Valenesh.
"Biasanya kalau aku rindu ibu aku akan tidur di kamarnya."
"Hah." Hendritz menghembuskan nafas lega, ternyata semudah itu mewujudkan keinginan Valenesh. Dia pikir sang istri akan meminta dirinya untuk mempertemukan pada sang ibu yang sudah tiada.
"Kalau begitu kita tidur di sana saja." Henritz lalu menggendong tubuh Valenesh dan membawa keluar kamar.
"Yang mana kamarnya?" tanya Henritz sambil terus menggendong tubuh sang istri.
"Yang di sana!" seru Valenesh sambil menunjuk kamar yang berada di lantai 2 rumahnya.
"Oh baiklah kita akan ke sana." Henritz langsung menuruni tangga dan membawa Valenesh ke depan kamar orang tuanya.
"Yang inikah kamarnya?" tanya Henritz memastikan. Lebih dari setahun Henritz tinggal di rumah Valenesh tapi dia tidak pernah melihat ke kamar lain kecuali kamar dia sendiri, kamar Valenesh maupun ruangan yang dijadikan ruang rawat Valenesh selama ini.
Selama Valenesh sakit, Kekey lah yang menangani perawatan kebersihan rumah tersebut dan meminta orang untuk membersikan sedangkan Henritz tidak ikut mengawasi.
"Sebentar Vale aku cek kebersihan kamarnya," ucap Henritz sambil menurunkan tubuh Valenesh di depan pintu.
"Sudah bersih Hen, kemarin saat kau pergi melihat kerajaanmu, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk membersihkan seluruh ruangan di rumah ini."
__ADS_1
"Biarkan aku memastikan dulu Vale, aku tidak mau kamu dan anak kita tidur di tempat yang banyak debunya. Nanti kamu bisa batuk-batuk yang menyebabkan anak kita juga tertekan di dalam perutmu. Biar kubersihkan dulu."
Henritz masuk ke dalam kamar sedangkan Valenesh hanya menatap punggung Henritz yang berlalu sambil menggeleng. Namun, bagaimana pun Valenesh senang dengan setiap perhatian yang diberikan Henritz meskipun kadang sedikit berlebihan.
Henritz melangkah ke arah ranjang lalu membersihkan ranjang tersebut. Namun, saat dia mendongak dia membeku melihat foto kedua orang tua Valenesh yang terpampang jelas di dinding sebelah ranjang.
"Dia–"
Untuk beberapa menit tidak ada pergerakan dari tubuh Henritz.
"Pria itu–"
Pikiran Henritz melayang pada beberapa tahun silam dimana dia masih remaja.
Saat itu Henritz sedang latihan memanah dan Fanhouzan sedang bertengkar dengan seorang pria dan menuduh pria itu ingin menculik istri pertamanya. Ibu kandung dari Henritz dan Terex.
Sebenarnya Tommy datang ke istana vampir untuk meminta bantuan dari Fanhouzan membantu memburu vampir yang selama ini menganggu keluarganya. Namun, Sharon mengadu domba keduanya dengan mengatakan Tommy akan merebut kembali Revanna dari tangan Fanhouzan sedangkan pada Tommy, Sharon mengatakan Fanhouzan lah yang menyuruh beberapa vampir untuk menganggu keluarganya.
Keduanya melakukan pertarungan sengit dan saat itu anak panah Henritz tidak sengaja menusuk ke dalam jantung Tommy hingga lelaki itu ambruk seketika.
"Maafkan aku Vale, aku tidak sengaja membunuh ayahmu." Henritz meneteskan air mata.
Valenesh yang merasa Henritz lama di dalam akhirnya memutuskan untuk ikut masuk.
Wanita itu mengernyitkan dahi melihat Henritz masih berdiri mematung sambil melihat ke arah foto kedua orang tua Valenesh yang terpampang di hadapannya.
"Iya mereka adalah orang tuaku Hen," ucap Valenes sambil tersenyum lalu melangkah ke arah Henritz yang membelakangi dirinya.
Henritz segera mengusap air matanya lalu menoleh. "Mereka cantik dan tampan ya? Pantas saja putrinya begitu cantik seperti dirimu." Henritz langsung mendekap tubuh erat Valenesh seolah takut kehilangan.
"Hen bayi kita," ucap Valenesh sambil melepaskan pelukan Henritz yang sangat erat karena takut menekan kandungannya.
__ADS_1
"Biarkan begini dulu Vale." Henritz tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
Valenesh menatap wajah Henritz.
"Kau menangis Hen? Ada apa? Apa ada yang kau khawatirkan?" Walaupun Henritz sudah mengusap air mata, tetapi jejak kesedihan masih tergambar jelas di wajah tampannya.
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu."
"Saya rasa lebih dari itu," tebak Valenesh.
"Vale!"
"Hmm?"
"Jika aku melakukan kesalahan apakah kau bisa memaafkanku?" Henritz menatap mata Valenesh penuh harap.
Valenesh menangkup wajah Henritz lalu balas menatap mata pria itu.
"Tergantung kesalahanmu. Kalau kamu sampai selingkuh aku tidak akan pernah bisa memaafkan," cetus Valenesh.
"Nyatanya ini lebih buruk dari hanya sekedar perselingkuhan Vale, kenapa aku yakin kau tidak akan bisa memaafkanku?" Tentu saja Henritz hanya bicara dalam hati karena takut Valenesh akan curiga dan berakhir pada perpisahan keduanya.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku Hen?" tanya Valenesh penuh selidik. Dia merasa dari tadi Henritz tidak lepas dari memandang foto kedua orang tuanya.
"Ah tidak ada Vale," bohong Henritz. Dia belum siap jujur dan kehilangan.
"Aku melihat kamu sedari tadi memandang ke arah foto kedua orang tuaku, apa kau mengenalnya?"
"Tidak Sayang, melihat mereka berdua aku jadi mengingat kedua orang tuaku. Kita sama-sama tidak punya kedua orang tua."
"Iya Sayang kita senasib. Aku hanya berharap kita berdua bisa mendampingi anak-anak kita nanti sampai mereka menikah."
__ADS_1
"Aamiin," ucap Henritz penuh harap.
Bersambung.