KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 63. Akhir Kisah


__ADS_3

Di depan istana kerajaannya, Raja Lord mondar-mandir menanti kedatangan anak buahnya yang tak kunjung kembali.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya? Lebih baik aku menyusul mereka," ucapnya lalu secepat kilat terbang menuju istana vampir. Sampai di sana dia kaget melihat bulu-bulu serigala bertaburan.


Raja Lord memunguti beberapa bulu itu dan menciumnya. "****, ini benar-benar bulu kedua anak buah kesayanganku," geram Raja Lord lalu mengubah diri menjadi burung hitam yang menyusup ke dalam istana.


"Dimana Valenesh? Anak itu tidak boleh terlahir ke dunia. Kalaupun terlanjur lahir, anak itu tidak boleh dibiarkan hidup."


Tiba-tiba angin kencang seperti badai kini mengguncang dunia vampir.


"Semoga tidak terjadi ada apa-apanya dengan permaisuri Valenesh, saya dengar dia sedang dalam proses melahirkan di dunianya," ucap seorang pelayan pada pelayan yang lainnya.


"Benar sekali, semoga angin kencang ini bukalah pertanda buruk," timpal pelayan yang diajak bicara.


"Jadi Valenesh akan melahirkan di alam manusia?" gumam Raja Lord.


"Burung apa itu, kenapa bisa bersuara?" Salah satu dari pelayan itu menunjuk burung hitam yang bertengger di atas dahan yang dekat dengan tempat mereka duduk.


Bles.


Seketika Raja Lord menghilang membuat keduanya menjadi kaget.


"Kita harus melapor pada Pangeran Zorro dan pangeran Terex, takut-takut burung tadi adalah jelmaan manusia serigala yang dikirim sebagai mata-mata."


"Oke ayo!" Keduanya pun bergegas mendatangi Zorro.


Namun sayangnya Raja Lord sudah sampai di alam manusia.


"Di sini udara begitu nyaman dan senyap. Berarti Valenesh benar-benar memang akan melahirkan.


Di ruang operasi, Valenesh tampak gelisah setelah dibaringkan.


"Vale, tenang Sayang! Sebentar lagi kau akan segera melahirkan dan terbebas dari rasa sakit ini," ucap Henritz menenangkan Valenesh sambil mengusap keringat di kening wanita itu.


"Iya, Sayang. Maafkan aku yang akhir-akhir ini menjadi cengeng. Aku sangat merepotkanmu," ucap Valenesh sambil meringis.


"Tidak Sayang, aku tidak repot. Maafkan aku yang sudah membuatmu sesakit ini."


Valenesh hanya menggeleng, rasa sakitnya membuat dia tidak ingin bicara banyak.


"Ikuti prosedur dokter ya, agar cepat dioperasi."


Kali ini Valenesh mengangguk. Henritz mengecup kening istrinya lalu menyerahkan penanganan Valenesh seutuhnya pada dokter. Pria itu terlihat keluar dari ruang operasi.


Dokter mendekati Valenesh dan memberikan penyuluhan sebelum dilakukan tindakan operasi.


"Aku tidak kuat dok! Aku tidak kuat? Sayang jangan tinggalkan aku!" teriak Valenesh membuat Henritz kembali masuk ke dalam.


"Jangan pergi kemana-mana Tuan, temani istri Anda!"


"Baik dok."


"Hen bayinya serasa ingin keluar. Arrrhg!" Valenesh berteriak histeris.

__ADS_1


"Vale!" Henritz panik melihat Valenesh menutup mata, ia sampai mengabaikan putranya yang menangis.


"Oeeek, oeekk."


"Astaga putra Anda sudah lahir tanpa operasi Tuan," ucap dokter sambil meraih bayi merah dengan bobot yang besar itu.


"Vale jangan tinggalkan aku!" Henritz menepuk-nepuk pipi Valenesh dengan mata berkaca-kaca.


"Oeeek, oeeek!" Tangisan putranya semakin kencang." Tiba-tiba angin kencang berhembus membiayai orang-orang yang berada di luar menjadi panik karena menyangka akan ada badai.


"Apakah Valenesh sudah melahirkan?" tanya Ansel.


"Iya Nyonya Valenesh sudah melahirkan dan bayinya akan aku mandikan," ucap suster yang keluar dari ruang operasi dengan membawa bayi dalam gendongan.


"Oeek, oeek!"


"Kenapa bayinya menangis terus?" tanya Kekey bingung.


"Apa tidak sebaiknya diberikan ASI dulu oleh ibunya Sus?" lanjut Kekey.


"Maaf ibunya pingsan belum sadar."


Mendengar perkataan suster Kekey langsung masuk ke dalam karena khawatir dengan keadaan Valenesh sedangkan Ansel mengikuti suster hingga bayi itu selesai dimandikan.


"Bayiku mana?" tanya Valenesh setelah sadar dari pingsannya.


Henritz hanya menggeleng, terlalu fokus pada Valenesh membuatnya melalaikan tentang keberadaan bayinya.


"Bayiku sedang dibersihkan oleh suster," jawab dokter dan Kekey secara bersamaan.


"Benarkah keadaan bayinya baik-baik saja?"


"Iya, itu dia."


"Oeek, oeeek!" Bayinya masih terus menangis.


"Sepertinya bayi ini butuh ASI Nyonya," ujar suster sambil mendekat ke arah Valenesh.


"Baik Sus, mana bayiku!"


Suster memberikan bayi itu ke tangan Valenesh dan Valenesh mencoba menyusuinya, namun bayi itu menolak dan terus saja menangis.


"Kenapa kira-kira ya Sayang?" tanya Henritz ikut bingung.


"Nggak tahu Sayang, aku juga tidak paham," sahut Valenesh. Ia terlihat gusar.


"Kenapa ada burung di dalam rumah sakit?" tunjuk Kekey ke arah pintu dan saat itu Ansel menyadari sesuatu.


"Maaf aku melupakan ini," ucap Ansel lalu melepas kalung yang melingkar di lehernya dan memberikan kepada Henritz.


"Pasangkan pada putramu, dan cepatlah sebelum burung itu berbuat jahat pada putramu!"


Segera Henritz mengambil kalung yang disodorkan oleh Ansel dan dengan cekatan langsung memasangkan ke leher putranya dibantu oleh Valenesh dan Kekey.

__ADS_1


"Wah ternyata dia benar-benar bisa diam Ansel," ucap Henritz antusias.


"Sepertinya kau tidak suka jika milikmu masih berada di tangan orang lain," ucap Henritz lalu mengecup putranya.


"Sayang ibu sayang kamu meskipun kau lebih mirip ayahmu," ucap Valenesh lalu mengecup ubun-ubun putra kecil yang kini berada di pangkuannya.


Tiba-tiba kalung yang berada di leher Valenesh dan juga leher putranya sama-sama mengeluarkan cahaya. Cahaya itu bersatu dan akhirnya berbelok menuju burung yang mengawasi ruang operasi dari luar.


Kaaak!


Suara seperti burung elang terdengar memekakkan telinga membuat Valenesh reflek menutup telinga putranya.


"Apa itu?" tunjuk Kekey ke arah luar dimana terlihat 2 cahaya berbeda saling beradu.


Brrrr!


Sekelebat bayangan terlihat timbul tenggelam.


"Sepertinya itu cahaya musuh," tebak Ansel.


Benar saja saat itu Raja Lord menampakkan diri sebelum akhirnya dirinya meledak dan menyebarkan bulu-bulu hingga masuk ke dalam ruangan operasi.


"Ansel!" Valenesh terperanjat.


"Raja Henritz, sebaiknya kau pungut bulu-bulu itu dan kau kubur baik-baik. Saya hanya takut bulu itu bersatu dan kembali menjadi Raja Lord kembali."


Mendengar perkataan Ansel, buru-buru Henritz memungut bulu-bulu itu.


"Apa perlu aku bantu?" tanya Kekey menawarkan diri.


"Jangan Key, bulu itu tidak boleh disentuh oleh kita yang tidak memiliki cincin ajaib seperti yang terpasang di jari Hendritz."


"Kau tahu dari mana sih Ansel?" protes Kekey.


"Lama di alam manusia serigala tidak kusia-siakan begitu saja Key, di sana aku suka mencuri informasi yang rakyatnya bicarakan tentang raja mereka. Mereka bilang jika ada yang menyentuh bulu-bulu itu sementara kita tidak mempunyai kekuatan, roh dari Raja Lord akan menyusup kepada tubuh kita."


"Good job Ansel, terima kasih atas bantuannya," ucap Henritz lalu pamit keluar untuk mengubur bulu-bulu di tangannya.


"Akhirnya semua yang menjadi penghalang kebahagiaan kita sudah lenyap," ucap Henritz lalu memeluk Valenesh dan putranya.


"Tunggu, tunggu dulu! Kok aku baru sadar kalau putra kalian sudah tumbuh gigi taring?" tanya Kekey melihat dua gigi taring sudah tumbuh di bagian kanan dan kiri mulut dari putra mereka.


"Itu resiko kalau kita menikah dengan vampir Key, kemungkinan besar mereka akan mewarisi gen ayahnya," jelas Valenesh membuat Kekey hanya bisa menelan ludah.


"Kalau mau punya anak yang biasa aja, nikah aja sama aku," goda Ansel membuat seisi ruangan tertawa kecuali dokter dan suster yang nampak kaget.


"Jadi Tuan ini vampir?"


"Tenang dok aku tidak akan menggigit kalian," ucap Henritz membuat seisi ruangan tertawa kembali tak terkecuali dokter dan suster.


"Kalau vampirnya tampan seperti Tuan Henritz, aku pun mau menikah dengan vampir," ujar suster sambil cengengesan.


************TAMAT***********

__ADS_1


__ADS_2