
"Sudah duduk dulu Henritz! Ya ampun kenapa kau bisa berdiri seimbang di dalam ruang yang bergerak memutar seperti ini," ucap Valenesh lalu terkekeh.
"Tentu saja, aku kan bukan manusia." Untuk pertama kalinya Henritz bisa mengakui dirinya bukan manusia dengan bangga di depan Valenesh padahal sebelumnya dia sangat takut untuk mengungkap identitasnya sendiri.
"Ya sudah duduk! Kita nikmati permainan Bianglala ini."
Henritz mengangguk dan langsung duduk di sebelah Valenesh.
Valenesh memandang ke arah depan dimana sorot lampu-lampu kota begitu berwarna dalam pandangan mata sedangkan Henritz tidak ingin memandang apapun kecuali wajah Valenesh yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.
Angin menerpa, membuat rambut lurus Valenesh yang tergerai indah sedikit berantakan. Namun, menambah aura kecantikan wanita itu dalam pandangan Henritz. Pria itu terlihat tersenyum dan kebetulan Valenesh melihat senyum manis Henritz.
"Ada yang lucu?" tanya Valenesh dan segera merapikan rambutnya.
"Nggak ada, hanya suka saja melihat wajahmu yang cantik."
"Jangan ngegombal! Udah ada ratusan pria yang mencoba gombalin aku tapi tidak mempan," ujar Valenesh sambil tersenyum lalu mengarahkan pandangannya kembali ke arah lampu yang berkelap-kelip itu.
"What! Ratusan pria?" tanya Henritz kaget.
Valenesh hanya mengangguk tanpa mengalihkan
pandangannya.
"Pasti kriteriamu tinggi sekali ya?" Henritz jadi ragu dirinya akan diterima oleh Valenesh nanti jika meminta Valenesh menjadi wanitanya. Manusia saja ditolak apalagi dirinya yang hanya seorang vampir.
"Nggak juga," jawab Valenesh santai.
"Terus kenapa dari ratusan pria itu tidak ada yang keterima?" tanya Henritz penasaran.
"Apa tidak ada satupun yang tampan?" tanyanya lebih lanjut.
"Malah kesemuanya tampan sih kalau menurutku."
"Jadi kurang apanya?"
"Kurang tulus."
Henritz tampak mengernyit kemudian tertawa.
"Kok malah tertawa sih?" protes Valenesh.
"Ya jelaslah mereka tidak menyukaimu karena tulus, pasti karena kecantikan kamu."
"Itu sih masih bisa dimaklumi," ujar Valenesh sambil menatap wajah Henritz.
"Terus?"
"Karena harta Henritz, mereka berlomba-lomba untuk bisa mendapatkanku karena sebenarnya aku anak orang kaya."
"Oh harta ya? Kenapa dimana-mana selalu harta dan tahta yang jadi rebutan?" Tatapan Henritz tiba-tiba sayu saat mengingat dirinya harus terlempar ke dunia manusia karena saudaranya yang gila harta dan jabatan.
"Memang di dunia vampir juga begitu?" tanya Valenesh penasaran, tak disangkanya Henritz mengangguk.
"Kau tahu kenapa aku berada di alam manusia?"
__ADS_1
Tentu saja Valenesh tidak dapat menjawab pertanyaan Henritz. Wanita itu terlihat menggeleng lemah.
"Karena aku difitnah, difitnah oleh saudara sendiri demi jabatan." Mata Henritz tampak berkaca-kaca kala mengingat dirinya dikeroyok lalu dilempar begitu saja tanpa ada sedikit belas kasihan.
"Sorry jika aku mengingatkan dirimu akan sebuah peristiwa menyedihkan," ujar Valenesh yang bisa merasakan perasaan Henritz saat ini. Dengan melihat tatapan mata Henritz saat ini Valenesh dapat menebak hati pria itu sangat terluka.
"Nggak apa-apa, lupakan masa lalu dan kita bersenang-senang sekarang."
"Nona sudah tiba waktunya Nona turun. Kalau Nona ingin bermain kembali harus bayar karcis lagi."
"Bagaimana Henritz?"
"Turun! Kita coba permainan yang lain saja."
"Kalau begitu kami turun saja. Thank you, Sir."
Valenesh dan Henritz turun lalu melangkah pergi dengan bergandengan tangan.
"Loh bukankah Nona itu tadi naiknya sendirian ya? Kenapa turunnya malah berdua? Apa aku saja yang lupa ya?" Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Main itu yuk!" Valenesh menunjuk komedi putar yang berada tidak jauh dari stand makanan.
"Boleh," ujar Henritz lalu keduanya naik permainan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Valenesh dan Henritz masih menjelajahi permainan dan kuliner yang ada di sana.
"Sekarang kita mau naik apa lagi?"
"Udah capek, mending kita lihat yang ramai itu." Valenesh menunjuk ke sebuah stand yang dikerumuni oleh banyak muda-mudi.
"Boleh yuk!" Henritz menggenggam tangan Valenesh dan membawanya ke sebuah stand yang ternyata adalah stand permainan lempar bola.
"Pengen boneka? Kan tinggal beli aja. Tuh di sana banyak yang jual, bagus-bagus lagi."
"Ayolah Hen, bukan hadiahnya yang saya inginkan, tapi perjuangannya dan uji ketangkasannya, kayaknya seru."
"Oh begitu ya!"
Valenesh mengangguk dan masuk ke dalam kerumunan orang-orang.
"Eh Bu Valenesh, silahkan duluan Bu!" Ternyata pasangan di sana banyak karyawan Valenesh, baik karyawan hotel maupun perusahaan milik ayahnya.
"Terima kasih." Akhirnya Valenesh tidak perlu antri.
Tiga kali Valenesh melempar bola, tapi tidak berhasil juga.
"Hei dengarkan semuanya! Kalau kali ini saya bisa dapat hadiah kalian akan saya kasih masing-masing 100 $."
"Wah semoga Bu Velenesh berhasil kali ini."
Valenesh mengangguk dan ternyata kali ini dia berhasil mendapatkan sebuah boneka lumba-lumba yang besar.
"Ye, akhirnya Bu Valenesh berhasil." Sorak-sorai pengunjung stand lempar bola pun terdengar riuh. Sesuai janjinya Valenesh membagi uang kepada para pengunjung di stand tersebut.
"Tapi aku kan ngincar yang itu bukan boneka ini! Ini buat kalian yang berhasil menangkap saja!" Valenesh melempar boneka di tangannya dan hal ini menjadi rebutan para pengunjung.
__ADS_1
"Kamu ingin topi yang itu? tanya Hendritz memastikan.
"Tentu saja kau lihat sendiri di topi itu ada gambar salah satu anggota boy band favoritku. Itu loh yang mirip kamu."
Henritz mengangguk walaupun posisinya berdiri saat ini tidak memungkinkan melihat gambar yang dimaksud oleh Valenesh.
"Kali ini biar saya saja yang lempar bolanya!"
Valenesh mengangguk dan menyerahkan bola ke tangan
Henritz lalu Henritz melemparnya dan ternyata berhasil.
"Ingat ya Mas harus berhasil tiga kali secara berturut-turut baru mendapatkan topi ini," ujar penjaga stand.
"Wah mbaknya curang nih masa harus begitu peraturannya?" protes Henritz.
"Iya dong Mas topi itu dari tadi jadi incaran para cewek-cewek sebab limited edition," ucap wanita penjaga stand sambil terkekeh.
"Kenapa kamu nggak foto aja aku Val, lalu foto itu kamu taruh di topi," saran Henritz. Bukankah Wajahku katamu mirip dengan pria ...."
"Wah kau adalah ... ya sudah deh boleh ambil topinya asal aku diizinkan berfoto sebentar," ujar penjaga stand.
"Boleh saja." Apapun akan Henritz lakukan demi membuat Valenesh bahagia.
Wanita itu memberikan topi pada Valenesh dan berfoto dengan Henritz.
"Wah aku baru sadar bahwa Bu Valenesh membawa artis favoritku." Orang-orang pada heboh.
Akhirnya banyak dari mereka yang meminta berfoto dengan Hendritz.
"Sudah, sudah! Sudah malam kita harus pergi sekarang." Valenesh langsung menarik tangan Henritz dari kerumunan para wanita yang bersikap genit padanya.
"Kenapa sih wajahmu merah seperti itu?" tanya Henritz melihat dari tadi Valenesh bermuka masam dan menggerutu.
"Kesal aku Hen, mereka main nempel saja sama kamu, rasanya aku ingin meminta mereka berhenti saja dari pekerjaannya."
"Lebih baik kita pulang sekarang!" Henritz tahu Valenesh sangat kesal, jadi jalan satu-satunya Henritz harus membawa Valenesh pulang.
***
Semenjak kehadiran Henritz kehidupan Valenesh menjadi berwarna. Valenesh sangat bahagia karena Henritz begitu perhatian padanya. Valenesh pun senantiasa mempersilahkan Henritz mengisap daranya langsung ketika pria itu membutuhkan.
Hingga suatu hari ketika Valenesh pulang dari rumah sakit dan saat itu Hendritz sedang tidak ada di rumah, Valenesh teringat akan kelinci miliknya yang sudah lama tidak terlihat.
"Rabb! Rabb!" Demikian Valenesh memanggil hewan yang imut itu.
Namun, kelinci kesayangannya tidak datang pada Valenesh seperti biasa.
"Kemana sih dia? Apa karena saya sudah lama tidak mengurusnya sehingga dia tidak menurut lagi padaku?"
Valenesh langsung memutuskan untuk mencari kelincinya itu di berbagai sudut rumah. Namun, satu jam mencari, Valenesh tidak menemukan kelinci piaraannya itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengecek melalui CCTV, karena tidak mungkin dia mengecek ke seluruh rumah miliknya yang besar itu dalam waktu yang singkat.
Namun, alangkah kagetnya saat Valenesh melihat Henritz telah mengisap darah kelincinya hingga hewan itu meregang nyawa.
"Hendritz, ah! Kenapa kamu melakukan hal itu kepada kelinciku?" Valenesh menangis tersedu-sedu karena telah kehilangan kelinci kesayangan untuk selamanya.
__ADS_1
Sudah dua kali Valenesh dikecewakan oleh Henritz dan saat ini, wanita ini benar-benar kesal. Oleh karena itu Valenesh memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa memberitahukan kepada Henritz terlebih dahulu.
Bersambung.