KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 21. Pria Misterius


__ADS_3

"Kau mendukungku, kan Drew?" Kini Valenesh beralih bertanya pada Andrew.


"Tentu saja Val aku mendukungmu. Bukankah Henritz memang tidak ada pekerjaan? Berbeda denganku yang sering sibuk sehingga jarang bisa meluangkan waktu untuk clubmu itu."


"Tidak apa-apa Drew, bagaimanapun tanpamu aku belum tentu bisa sampai pada tahap ini. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu yang telah membantuku mencari club untuk dibeli dan mengelolanya selama ini."


Andrew hanya mengangguk mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Valenesh.


"Sudahlah untuk saat ini kamu tidak perlu memikirkan club milikmu itu lagi. Pikirkan saja kesehatanmu dulu, biar saya dan Hendriz yang mengurusnya. Kekey juga mau membantu, kan?"


"Oh kalau itu pasti, jika mampu dan sempat apa sih yang tidak aku lakukan untuk sahabat terbaikku ini."


"Kalian memang sahabatku yang paling baik," ujar Valenesh dengan suara yang masih lemah.


"Bagaimana mungkin kami tidak akan membantumu Val, sementara biaya sekolahku dan Andrew dulu ditanggung oleh kedua orang tuamu," ujar Kekey disertai anggukan dari Andrew.


"Kedua orang tuaku dan aku sendiri ikhlas, jadi kalian tidak perlu membalasnya," lirih Valenesh.


"Kamu mungkin tidak mengharap imbalan, tapi bagi kami itu adalah hutang budi seumur hidup kami dan yang namanya hutang mana bisa dibayar. Jadi, kami ingin baik-baikin kamu saja." Kekey terkekeh dan Andrew hanya menggelengkan kepala mendengar pernyataan Kekey.


"Oh ya, Hen bagaimana ceritanya kamu bertemu tabib tadi?" tanya Andrew penasaran sebab serbuk yang dibawa oleh Henritz benar-benar ajaib.


"Semalam saat aku menitipkan Valenesh pada kalian ternyata aku melihat ada 2 penyusup yang masuk ke rumah ini. Sepertinya mereka mengintai keadaan kami. Aku mengejarnya hingga sampai perbatasan kota. Mereka masuk ke dalam sebuah rumah dengan cat tembok yang serba hitam.


Saat aku masuk ke dalam rumah itu ternyata aku tidak menemukan kedua orang tadi malah bertemu pria dengan tubuh kekar dan tegap yang duduk membelakangiku pada sebuah kursi goyang.


Pria itu tidak mau menoleh ketika aku ajak berbicara dan menanyakan keberadaan kedua orang tadi. Dia bilang dirinya buta dan tidak bisa melihat apa-apa. Namun, dari suara derap langkah kaki, pria itu bisa menyimpulkan bahwa memang tadi ada orang yang masuk ke dalam rumahnya dan pergi ke arah belakang rumahnya. Yaitu arah menuju pegunungan Elfantrus yang terkenal mengerikan itu." Henritz menghentikan sebentar ceritanya dan mengambil nafas.


"Kau tidak memeriksa orang yang mengaku buta itu?" tanya Kekey. Bagaimana mungkin Henritz percaya begitu saja dengan ucapan orang yang tidak dikenalnya dan bahkan seperti mencurigakan menurut dugaan Kekey.


"Kau yakin pria yang duduk itu bukan orang yang kamu kejar? Apakah kamu tidak pernah berpikir jika pria itu berakting menjadi orang lain?" Ternyata pemikiran Kekey dan Andrew sama. Sama-sama mencurigai pria yang diajak bicara Henritz itu.


"Tidak, aku tahu bukan pria itu yang dikejarku. Bau tubuh mereka berdua sudah kuhafal. Mereka adalah dua pria yang menyerangku dan Valenesh saat pulang dari pertandingan perdana liga domestik waktu itu," terang Henritz begitu mantap.


"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu Hen jika kau tidak melihat pasti wajah mereka?" Valenesh bertanya masih dengan suara lirih. Wanita itu masih terlihat lemah.


"Dari aroma darahnya yang berbau busuk."

__ADS_1


Jawaban Henritz sontak saja membuat Kekey terkejut.


"Kau bisa mencium aroma darah makhluk hidup?" tanya Kekey penasaran.


Valenesh menatap tajam Henritz seolah-olah ingin menyampaikan jangan sampai berbicara yang membuat Kekey curiga bahwa dirinya adalah seorang vampir.


"Ah maksudku orang itu mengeluarkan bau yang tidak sedap," ralat Henritz agar Kekey tidak bertanya dan menuduh dirinya macam-macam.


"Oh," ucap Kekey dan Andrew hanya terlihat diam saja.


Dalam sekejap suasana menjadi senyap karena keempat orang yang berbicara tadi larut dalam pikiran masing-masing.


"Kira-kira siapa ya, orang yang duduk di rumah itu?" tanya Andrew memecah suasana.


"Aku tidak tahu sebab karena takut aku kehilangan jejak jika masih memeriksa pria itu."


"Sayang sekali Hen," ujar Andrew.


"Ya aku pun juga merasa demikian karena setelah aku ingat-ingat sepertinya aku tahu dengan pemilik suara itu."


"Hen! Kau mengenalnya?" tanya Valenesh kaget.


"Sepertinya aku penasaran, kenapa aku yakin ya bahwa pria itu juga terlibat dalam pemberian racun terhadap Valenesh. Jangan-jangan pria itu yang bersekongkol dengan dengan dua pria yang kabur itu dan sekarang mereka merencanakan untuk membunuh Valenesh atau malah dirimu Hen," tebak Andrew.


"Drew jangan membuatku khawatir! Aku tahu intuisimu itu kuat. Semoga kali ini dugaanmu salah."


"Semoga saja Val, tapi kau tahu kan aku adalah orang yang tidak akan berhenti jika penasaran dengan sesuatu? Ayo Hen kita selidiki pria itu!"


"Vale apakah kau tak apa jika aku tinggal?"


Valenesh mengangguk.


"Kekey bisakah aku menjaga Valenesh kembali?"


"Bisa Hen, kau dan Andrew pergilah! Aku tidak ada jadwal kuliah hari ini, jadi tidak akan kemana-mana."


"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu!"

__ADS_1


"Pergilah!"


Henritz langsung membawa Andrew ke rumah yang dia ceritakan tadi dan di sana Henritz kaget saat mendapati kedua pria yang dikejarnya semalam sedang berdiskusi dengan pria pemilik rumah.


"Jika serbuk racun itu tidak bisa membunuh wanita itu maka kita harus mengutus manusia lain untuk mencuri kalung tersebut agar kalian bisa membunuhnya."


"Mereka benar-benar ingin membunuh Valenesh?" tanya Henritz hampir tidak percaya.


"Benar, kan dugaanku?" ujar Andrew.


"Tuan ada yang menguping pembicaraan kita," lapor salah satu pria pada bos-nya yang senantiasa duduk di atas kursi goyang itu.


Pria misterius itu langsung melemparkan sesuatu sehingga dalam rumah itu berkabut.


Wusss.


Ketiga orang dalam rumah itu menghilang seketika.


"Hen mereka bukan manusia." Andrew terlihat syok mengetahui kenyataannya.


"Mereka memang bukan manusia biasa, tapi manusia serigala." Henritz memberikan kesimpulannya.


"Gawat, kalau begitu nyawa Valenesh benar-benar berada dalam keadaan terancam. Kau harus benar-benar menjaganya Hen."


"Itu pasti Drew, tapi apakah di dunia ini Valenesh punya musuh?"


"Tidak ada Hen, kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Kau dengar sendiri kan apa yang pria itu katakan tadi. Mereka akan memanfaatkan manusia untuk melemahkan Valenesh sehingga mereka bisa membunuhnya."


"Kau benar Hen, sepertinya kalung yang dipakai Valenesh memiliki kekuatan."


Henritz mengangguk.


"Kita kembali sekarang, aku tidak mau Valenesh berada dalam keadaan bahaya, bisa saja kan mereka bertiga tadi menghilang dan muncul di rumah Vale?"


"Kau benar, mari kita kembali!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2