
"Oke-oke aku nurut saja, pinter banget nih cincin ya? Sangat pro dengan pemilik asalnya," ucap Henritz lalu terkekeh.
Valenesh masih terlihat senyum-senyum sendiri.
"Ya sudah ya Vale aku sama Andrew pergi dulu, do'akan saja sukses."
"Itu sudah pasti Hen, good job bekerja di bawah sinar matahari!" Valenesh menyemangati kekasihnya.
"Terima kasih ini pasti akan seru karena pertama kalinya. Andai saja bisa pergi bersamamu."
"Sabar Hen suatu saat kita akan pergi bersama. Jogging di pagi hari akan sangat menyenangkan apalagi bersama pasangan."
"Rasanya tak sabar menunggu hal itu Vale."
"Tunggu sampai keadaanku pulih benar. Sekarang pergilah jangan sampai anak-anak menunggumu lama."
"Oke siap, aku telepon Kekey dulu."
Valenesh mengangguk dan Henritz langsung menelpon Kekey agar kembali ke dalam rumah dan menjaga Valenesh kembali.
"Kau bawalah handphoneku itu Hen, mulai sekarang kau pasti membutuhkannya biar aku beli yang baru saja."
"Tapi Vale–"
"Pergilah! Itu Kekey sudah kemari."
"Oke Val kami pamit," ucap Andrew dijawab anggukan oleh Valenesh.
"Yuk Hen!" ajak Andrew dan mereka berdua pun pergi bersama menggunakan mobil Andrew.
Sepeninggal Andrew dan Henritz, Kekey langsung berkata. "Sebaiknya mulai sekarang kau belikan Henritz mobil saja agar kalau mau kemana-mana mudah."
"Henritz tidak butuh mobil karena kecepatannya melebihi kecepatan mobil, ups." Valenesh langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Maksud kamu apa sih Val? Kenapa kamu dan Andrew aneh sih dari tadi?"
"Ah nggak maksudku, aku hanya berhalusinasi," sahut Valenesh lalu terkekeh.
"Tidur saja sana siapa tahu dengan beristirahat otakmu yang geser kembali ke tempatnya."
"Sepertinya kau benar, otakku mulai oleng akibat penyakitku. Berapa lama aku koma ya Key?"
"Berbulan-bulan pokoknya." Kekey malas mengingat.
"Ya udah aku tidur dulu, tubuhku rasanya masih lemas sekali, bahkan kakiku seolah tidak bisa digerakkan."
"Semoga kau baik-baik saja Vale. Mungkin serbuk penawar racun yang kau minum belum bereaksi sepenuhnya. Bagaimana kalau kamu minum lagi?"
"Memang masih ada Key?"
__ADS_1
"Iya itu dia!" Kekey menunjuk pada sebuah batang bambu yang berlubang di tengahnya.
"Boleh."
"Baiklah aku campur dengan air dulu."
Valenesh mengangguk dan Kekey segera mengambil satu gelas air lalu memasukkan satu sendok teh serbuk tersebut ke dalamnya kemudian mengaduk-aduk.
"Minumlah!" Kekey menyodorkan gelas berisi serbuk ramuan bercampur air itu ke hadapan Valenesh.
"Tunggu Key, saya akan mencoba untuk duduk." Dengan susah payah Valenesh berusaha untuk bangkit tetapi seluruh tubuhnya terasa kaku.
"Ah sakit sekali Key, kenapa tubuhku kaku tidak bisa digerakkan seperti ini?" Valenesh terlihat syok.
"Sabar Val mungkin dengan minum ini kamu bisa sembuh."
"Tapi aku susah minum kalau tidak bisa duduk, argh!" Valenesh kembali ke posisi semula, berbaring dengan perasaan kecewa.
"Aku ambilkan sedotan dulu," ujar Kekey kemudian melangkah pergi. Beberapa saat kemudian kembali dengan sedotan di tangannya.
"Ayo minum Val, habiskan biar bisa benar-benar sehat."
Valenesh mengangguk lalu meraih sedotan yang ada di tangan Kekey dan menyeruput ramuan yang dipegang oleh Kekey.
"Untung saja tanganku masih bisa bergerak Key, kalau tidak tubuhku cacat semua," ucap Valenesh dengan tatapan sedih.
"Tenanglah! Habiskan dulu semua ini!"
Sesudah meminum ramuan itu, tubuh Valenesh terlihat mengeluarkan cahaya.
Kekey kaget melihatnya sebab cahaya itu terlihat berwarna-warni seperti pelangi. Namun, bukannya aura dingin yang keluar, ruangan malah berubah panas seketika.
Tubuh Valenes kepanasan hingga mengeluarkan keringat secara berlebihan, sedangkan Kekey tampak berlari keluar saking tidak kuatnya menahan suhu ruangan itu yang seolah-olah panasnya berkisar sampai 100° Celcius.
"Maafkan aku Val." Kekey memandang ke dalam dari luar pintu dengan penuh rasa bersalah. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Valenesh dia tidak akan hanya kehilangan sahabat baiknya melainkan juga akan terkena amarah Andrew dan Henritz.
Namun, mau bagaimana lagi? Kekey benar-benar tidak bisa menahan rasa panas itu. Kalau dia tetap bersikukuh untuk bertahan di dalam kamar, sudah dipastikan kulitnya akan melepuh.
"Oh Tuhan selamatkan sahabatku." Kekey meneteskan air mata. Gadis itu panik ketika melihat tubuh Valenesh sampai mengeluarkan asap.
Kekey mencoba masuk kembali, dia berkometmen pada dirinya sendiri untuk membawa keluar juga tubuh Valenesh dari kamar tersebut apapun yang terjadi. Kalaupun harus mati dia rela asalkan sahabatnya itu bisa selamat.
Wusssh, bruk.
Tubuh Kekey terpental keluar dan membentur lantai.
"Au," ringisnya lalu berusaha untuk bangkit kembali.
Di dalam kamar tubuh Valenesh terguncang hebat sambil terus mengeluarkan asap putih yang mengepul di udara.
__ADS_1
"Oh God, kuatkan aku!" doanya dalam hati.
"Jika aku harus mati izinkanlah sku bertemu Henritz lagi untuk terakhir kalinya. Aku ingin menutup mata setelah puas memandang wajahnya," lanjutnya.
Asap putih terkumpul menjadi satu kemudian berjalan keluar melewati atas kepala Kekey.
Beberapa saat kemudian.
Sruuuuut ... Dar!
Terdengar letusan di udara dan kini suhu udara dalam kamar mendadak turun drastis hingga minus derajat.
"Kekey ambilkan aku selimut!" teriak Valenesh sambil bersedekap dada dengan tubuh yang gemetar kedinginan.
Kekey yang syok begitu panik hingga berjalan seperti suster ngesot di atas lantai dan sesekali merangkak sebab takut gumpalan awan tadi melewati kepalanya kembali.
"Kekey cepatlah aku tidak tahan!"
"Baik Val!" Akhirnya Kekey bangkit dan berlari ke arah kamar Valenesh. Beberapa saat kemudian kembali dengan selimut di tangannya.
"Cepat selimuti aku Key!" perintah Valenesh dengan tubuh yang gemetar kedinginan dan Kekey pun langsung menutup tubuh Valenesh dengan selimut di tangannya.
"Bukankah cuacanya tidak begitu dingin ya? Kenapa kau malah kedinginan?" tanya Kekey lalu menyentuh tubuh Valenesh di atas selimutnya. Saking bingungnya sampai Kekey memeluk tubuh Valenesh dengan erat.
"Maafkan aku Val, ini gara-gara aku yang sok tahu memberikan ramuan itu. Aku hanya meniru Henritz tadi sebab dia berhasil saat memberikan ramuan itu, tapi kenapa di tanganku malah gagal?"
Valenesh tidak menjawab, tetapi berangsur-angsur suhu tubuhnya kembali normal.
"Lepaskan aku Key, aku tidak bisa bernafas kau peluk seperti ini!"
"Eh, kamu sudah tidak apa-apa?"
"Aku sudah merasa nyaman."
"Syukurlah Val, kau hampir membuatku jantungan saja, hah!"
Bersamaan dengan itu pak satpam mengetuk pintu dan membawa tamu masuk ke dalam menemui Valenesh.
"Val apa kabar kamu!" sapa seorang wanita berjalan menghampiri Valenesh yang terbaring di atas ranjang.
"Anne! Tumben kau menemuiku?"
"Baru sadar kali dia bahwa punya teman kamu Val." Kekey sama sekali tidak respect pada Anne karena selama Valenesh sakit tidak sekalipun wanita itu menjenguk Valenesh.
"Dan kamu juga Dokter Ansel kenapa datang kemari!" protes Kekey pada Ansel yang matanya tampak melihat-lihat ke berbagai arah.
"Kekey seharusnya kamu menghormati tamu!" protes Ansel.
"Sayangnya anda adalah tamu yang tidak diundang, lebih baik kalian pergi saja!" usir Kekey tidak suka melihat mata yang tidak fokus ke satu arah. Ansel seperti mengawasi rumah Valenesh.
__ADS_1
"Mencurigakan," batin Kekey.
Bersambung.