KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 16. Henritz Vs Manusia Serigala


__ADS_3

"Aku harus menyelidikinya," tekad Henritz.


Pria itu langsung menghilang dan muncul di dunia vampir kembali. Dari sana dia berkelana mencari manusia Serigala terutama wanita Serigala yang pernah ditemuinya dulu sehingga sampai dituduh berkhianat dan membocorkan rahasia ayahnya oleh Sharon dan Rodex, juga saudaranya yang lain.


"Dimana Amber kok nggak kelihatan di sini? Biasanya wanita itu berkeliaran di sini saat siang-siang seperti sekarang," ujar Henritz sambil mencari keberadaan Amber dibalik batang kayu besar tempat biasa Amber berteduh.


"Ckk, lebih baik aku selidiki langsung ke istana manusia Serigala."


Henritz langsung melakukan teleportasi, sayang tubuhnya terpental pada titik tertentu dan tidak bisa menembus wilayah manusia Serigala lagi seperti dulu.


Tubuh Henritz kini hanya bisa berpindah dari tempatnya semula berdiri ke perbatasan antara wilayah vampir dan manusia serigala.


"Ada apa ini? Mengapa aku merasa ada keanehan pada tubuhku?"


Penasaran Henritz melakukan teleportasi lagi. Namun seperti ada dinding yang tidak bisa ditembus oleh tubuhnya sehingga tubuhnya terpental untuk yang kedua kalinya.


"Sepertinya tempat ini sudah disegel sehingga tubuhku tidak bisa menembus dinding gaib ini. Bagaimana caranya agar aku bisa menghancurkan sekat yang tidak terlihat ini?" Henritz tampak berpikir. Namunz sekeras apapun dia berpikir tidak menemukan jawabannya juga.


"Ah lebih baik aku kembali ke rumah sakit dan menyelidiki apa yang terjadi di sana. Siapa tahu manusia Serigala yang melakukan pencurian kantong darah masih berkeliaran di sana."


Henritz berpindah dari perbatasan wilayah vampir dan manusia serigala kembali ke rumah sakit. Sampai di dalam dia berjalan-jalan di seluruh lorong-lorong rumah sakit.


Tak ada kejanggalan yang terlihat di sana, semua berjalan normal seperti semula. Hanya saja saat melintasi sebuah ruangan Henritz merasa penasaran dengan orang yang ada di dalamnya. Ada sekelebat bayangannya yang terlihat seperti manusia berbulu.


"Dia kah yang aku cari?" Perlahan Henritz melangkah ke arah pintu. Tangan terulur untuk menarik handle pintu agar sedikit lebih terbuka.


Menyadari ada yang mengintip, pria yang ada dalam ruangann buru-buru membuka pintu sebelum Henritz yang membukanya terlebih dahulu.


"Maaf Anda mencari siapa?"


Tentu saja Henritz tersentak kaget sebab tadinya berpikir orang yang ada di dalam tadi tidak melihat keberadaan dirinya karena posisi yang membelakangi Henritz.


Terlebih-lebih pria yang menyapanya saat ini tidak seperti yang terlihat dalam bayangannya. Tidak ada bulu sedikitpun di tubuh pria itu.


"Maaf saya mencari korban kecelakaan yang baru masuk tadi pagi, kira-kira ada di kamar nomor berapa ya?"


Pria yang ditanyai mengernyit. "Oh, korban kecelakaan tadi pagi?"


Henritz mengangguk.


"Sebentar!" Pria itu tampak berjalan ke meja kerjanya lalu menelpon seseorang. Tidak membutuhkan waktu lama seorang suster datang ke ruangan itu.


"Ada apa Dok?"


"Dokter?" batin Henritz.


"Tolong antar pria ini ke ruangan korban kecelakaan yang masuk ke rumah sakit pagi ini!" perintah pria dalam ruangan itu.


"Baik Dok, tapi tadi pagi korban kecelakaan yang masuk rumah sakit ini ada dua orang. Korban yang manakah? Yang pria atau wanita?"

__ADS_1


"Tanyakan saja langsung pada dia! Saya sedang sibuk sekarang!" ujar pria itu lalu duduk di kursinya.


"Bak, mari saya antar!" ajak suster tersebut pada Henritz dan Henritz langsung mengangguk serta mengikuti langkah suster.


"Maaf Sus, pria yang ada dalam ruangan tadi siapa ya?" tanya Henritz sebab sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya.


"Tuan ini tidak melihat nama yang tercantum di pintu?"


Henritz menggeleng.


"Beliau adalah direktur rumah sakit sekaligus dokter di sini."


"Oh, kalau boleh tahu namanya?"


"Dokter Ansel Bale Sp. KG. Beliau adalah pemilik rumah sakit ini."


"Oh, terima kasih infonya Sus."


"Sama-sama. Oh ya, pasien yang Tuan cari korban kecelakaan yang mana ya?"


"Hei!" Henritz mengangkat tangannya dan melambaikan pada seorang pria yang tampak menjawab dengan senyuman padahal dia sama sekali tidak mengenal Hentritz.


"Sepertinya Suster tidak perlu repot-repot mengantar saya lagi, itu saya sudah melihat keluarga saya."


"Baiklah kalau begitu saya pamit saja. Semoga Tuan mendapatkan kabar baik."


"Terima kasih Sus, doa yang sama untuk suster juga."


Sementara Henritz sibuk dengan penyelidikan, Valenesh sibuk dengan club sepakbola miliknya yang sebentar lagi akan menghadapi pertandingan pertama Liga Domestik melawan Real United sehingga dirinya jarang berada di rumah.


Henritz muncul di rumah Valenesh dan mencari keberadaan wanita itu. Pria itu ingin menanyakan tentang Ansel yang sedikit banyak Valenesh pasti mengetahuinya. Namun, prediksi Henritz yang menyangka Valenesh sedang ada di rumah saat ini melesat. Rumah dalam keadaan sepi.


"Ah lebih baik aku istirahat di kamar saja," batin Henritz lalu berjalan ke arah kamar. Sampai di sana dia menunggu Valenesh pulang sambil berbaring.


Malam menjelang Valenesh pun belum kembali membuat hati Henritz ketar-ketir sehingga dia langsung menemui pak satpam di luar dan menanyakan keberadaan Valenesh.


"Nona Valenesh malam ini sedang menyaksikan pertandingan perdana Starpool melawan Real United."


"Sekarang?" tanya Henritz memastikan.


"Iya Tuan."


"Berikan aku alamatnya!"


Pak satpam mengangguk dan langsung memberitahukan alamat stadion tempat pertandingan berlangsung.


Henritz berjalan keluar dari pekarangan rumah Valenesh dan menaiki taksi sebab dia memiliki kelemahan tidak bisa berteleportasi jika tidak pernah menginjakkan kaki di tempat itu sebab tidak bisa membayangkan tempatnya seperti apa. Bisa-bisa dia akan sampai ke tempat lain.


"Vale!" teriak Henritz saat melihat Valenesh duduk dengan di suatu tempat. Henritz melangkah ke arah Valenesh dengan melewati para penonton.

__ADS_1


"Hei, kau kemana saja? Aku pikir kau benar-benar akan pergi. Maafkan aku tadi pagi emosi sehingga menuduhmu tanpa alasan. Duduklah!"


Henritz tersenyum sambil mengangguk. Pria itupun duduk di samping Valenesh.


"Tidak apa-apa, aku tahu tadi pagi kau tidak bisa berpikir jernih makanya aku menghilang sebentar."


"Kau jahat! Kupikir kamu benar-benar akan meninggalkanku," ucap Valenesh manja.


"Lebih jahat mana denganmu yang menuduhku sembarangan?" goda Henritz.


"Ah Hen, maafkan aku," ujar Valenesh lalu menunduk.


"Bercanda Vale, mana mungkin juga aku meninggalkanmu? Aku kan tidak bisa hidup tanpamu."


"Terima kasih sudah memilihku."


"Terima kasih?" tanya Henritz tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Valenesh.


"Membuatku menjadi orang yang dibutuhkan," jawab Valenesh.


"Terima kasih juga telah memenuhi kebutuhanku, termasuk kebutuhan akan cinta."


Keduanya saling pandang dan akhirnya tersenyum bersama.


"Oh ya bagaimana club milikmu? Sepertinya seru ya sedari tadi?"


"Sudah skor 2:1, jadi saya merasa sedikit lebih tenang."


"Syukurlah, semoga meraih kemenangan pertama."


"Terima kasih."


"Oh ya Vale, ada yang ingin saya bicara."


"Tentang?"


"Tentang direktur di ...."


Belum sempat Henritz menyelesaikan kalimatnya, dia melihat ada dua orang pria yang menelusup ke dalam tribun penonton dan hendak mengeluarkan taring. Kedua pria itu hendak memangsa kedua penonton yang sedang fokus menatap pertandingan.


"Hen?" Valenesh menatap ke arah Henritz menatap saat ini.


Valenesh tersentak kaget. "Hen mereka–"


"Kau diamlah di sini! Saya akan menyelamatkan penonton itu."


Valenesh tidak menjawab karena masih syok sedangkan Henritz berlari cepat ke arah kedua pria jahat itu.


"Aaaaa!" Orang-orang berteriak sebab sadar diantara mereka ada dua pria dengan tubuh berbulu lebat hampir menggigit penonton yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Minggir!" perintah Henritz lalu menyerang dua manusia serigala itu sehingga terjadilah pertarungan sengit membuat tribun penonton terlihat kacau sebab orang-orang berteriak-teriak ketakutan sambi berlari tak tentu arah.


Bersambung.


__ADS_2