
"Henritz terus saja menuntun Valenesh keluar dari ruangan tersebut.
"Apa ada sesuatu?" tanya Valenesh melihat ekspresi Henritz yang nampak khawatir.
"Tidak ada apa-apa. Yuk kita ke atas." Akhirnya karena tidak melihat apa-apa di ruangan tersebut. Henritz langsung membawa Valenesh ke dalam kamar mereka.
"Wah ternyata ranjangmu nyaman juga Hen," ucap Valenesh sambil tersenyum senang.
"Beristirahatlah sebentar, saya akan menemui bibi untuk menyiapkan keperluanmu di sini!"
Valenesh mengangguk lalu merebahkan tubuhnya sedangkan Henritz langsung melangkah ke luar kamar.
Sampai di luar Henritz memerintahkan beberapa penjaga di luar agar mengawasi ruangan bawah di kerajaan itu.
"Aku curiga ada penyusup yang masuk ke dalam. Kalian berjaga-jagalah di sana dan tangkap penyusup itu kalau benar-benar ada!"
"Baik Pangeran."
"Oh ya satu lagi jangan membuat istriku curiga kalau ada penyusup yang masuk ke dalam istana ini sebab dalam keadaan hamil dia tidak boleh banyak pikiran!"
"Baik Pangeran."
"Pergilah!"
Mereka membungkuk, memberikan hormat lalu pergi meninggalkan Henritz.
Henritz menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya pergi menemui pengasuhnya sedari kecil. Dia meminta bibi tersebut menyiapkan segala kebutuhan Valenesh selama tinggal di istana vampir dan menyuruh wanita itu untuk meminta tolong vampir lainnya yang juga bekerja di istana tersebut.
"Baik Pangeran," ucap sang bibi kemudian disambut anggukan dan senyuman dari Henritz.
__ADS_1
"Bibi bisa kembali!"
"Baik pangeran, kalau begitu saya pamit, permisi!"
Bibi tersebut pun meninggal Henritz yang seolah tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri.
"Hah semoga semuanya baik-baik saja dan yang aku lihat tadi hanyalah bayangan semu. Aku tidak mau di hari pertama Valenesh tinggal di istana terjadi kekacauan di sini sehingga Valenesh menjadi tidak betah," batin Henritz
Pria itu lalu berbalik dan melangkah ke arah kamarnya kembali untuk menemani sang istri sebab takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Valenesh. Dalam pikiran Henritz sekelebat bayangan tadi mungkin saja adalah musuh yang sedang mengincar istrinya.
"Vale tidak boleh lepas dari pengawasanku," gumam Henritz lalu mempercepat langkah kakinya.
Sampai di depan kamar dia berhenti lalu membuka pintu dengan pelan. Mendapati sang istri sudah tertidur dengan dengkuran kecil yang terdengar Henritz bernafas lega. Dia berjalan ke arah ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping Valenesh.
"Aku ingin kehilanganmu Vale, juga anak kita," lirih Henritz lalu memeluk tubuh Valenesh dari belakang kemudian mengusap-usap perutnya yang sudah terasa lebih keras.
"Ada apa? Kenapa kalian terdengar berisik sekali?"
"Maaf Pangeran kami tidak melihat apapun di ruangan bawah istana tapi–" Seorang penjaga nampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tapi kenapa?" tanya Henritz dengan suara tegas.
"Kami malah melihat pangeran Terex di sana," lapornya kemudian lalu menunduk.
"Apa? Pangeran Terex ada di sana? Apa yang dia lakukan?"
"Kami juga tidak tahu Pangeran, tapi yang kami lihat pangeran Terex mendekati peti tempat Pangeran Rodex dan Permaisuri Sharon di letakkan."
"Apa?!" Tentu saja Henritz terbelalak mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia selama ini hanya pura-pura mempercayai penjelasan Zorro, tetapi dalam hati dia tetap berpihak pada Rodex." Henritz tentu saja berburuk sangka sebab Terex masuk ke ruangan bawah istana tanpa pamit dulu padanya.
"Pengawal! Kalian jaga Valenesh di sini! Pastikan keadaannya aman dan jangan sampai ada yang masuk ke dalam kamar kami tanpa seizinku!"
"Baik Pangeran."
"Oh ya jangan biarkan Valenesh keluar dari kamar. Katakan padanya harus menungguku kalau ingin keluar dari kamar!"
"Baik Pangeran."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Ingat pesanku tadi sebab kalau sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku kalian yang akan aku mintai pertanggung jawaban!" tegas Henritz.
"Siap Pangeran."
Henritz mengangguk lalu memejamkan mata sambil bersedekap dada.
Wuus.
Angin kencang terlihat di sekitar tempat Henritz berdiri lalu pria itu menghilang begitu saja.
"Waw keren pangeran Henritz dia punya ilmu menghilang," ucap beberapa pengawal kerajaan.
Beberapa dari mereka tampak kaget lalu saling berbisik. Namun, diantara mereka yang sudah mengetahui akan ilmu Henritz tampak biasa saja.
"Apapun yang kalian lihat tetaplah fokus pada Nona Valenesh. Jangan sampai lengah karena apapun bisa terjadi. Jika benar dugaan kita Pangeran Terex berkhianat bisa saja Nona Valenesh akan mudah diculik!" Seorang pengawal kerajaan memperingatkan.
"Baik!" seru yang lainnya lalu mereka semua fokus menatap ke arah pintu kamar Henritz dan Valenesh.
Bersambung.
__ADS_1