
"Menurut kalian bagaimana?" Henritz meminta pendapat semua orang.
"Pertemukan saja Pangeran, tapi biarkan mereka berbicara dari luar dan dalam jeruji untuk menghindari Tuan Putri Valenesh disakiti. Toh di sini banyak penjaga yang bisa mengawasi Tuan Ansel."
Henritz terdiam, pria itu memikirkan apa yang diucapkan oleh bibi yang mengasuhnya dari kecil itu.
"Kalau menurut kalian bagaimana? Apakah kalian siap mengawasi agar Ansel tidak mudah kabur dari tempat ini?"
"Pasti Pangeran, kami akan selalu siaga dan berjanji tidak akan lengah dalam kondisi apapun."
"Baik kalau begitu, ayo Bik kita jemput Vale. Biar dia yang menentukan sendiri apa yang dikatakan orang ini benar atau hanya ingin menipu kita saja."
"Ayo Pangeran!" Henritz dan si bibi pun keluar dari penjara bawah istana itu.
Sebelumnya, di depan kamar, Valenesh menghentikan Zorro yang kebetulan lewat.
"Zorro boleh aku meminta tolong?"
Zorro mengernyit lalu berjalan ke arah pintu kamar Henritz dan berdiam diri di sana.
"Ada apa kakak ipar Valenesh?" tanya Zorro sambil menampilkan senyuman manis.
"Zorro bisa antar aku ke alam manusia?"
"Kenapa tidak minta Pangeran Henritz saja yang mengantar?"
"Dia sedang sibuk, lagipula dia harus menyiapkan diri untuk acara nanti malam. Dia menyarankanku untuk minta diantar sama kamu," bohong Valenesh sambil menampilkan wajah melasnya.
"Dia bilang begitu?"
Valenesh mengangguk.
"Kenapa harus balik ke alam manusia sekarang sih! Bukankah nanti malam kamu harus menemani pangeran Henritz di acara pengangkatannya menjadi raja?" Zorro tidak mengerti dengan pemikiran Valenesh.
"Sebentar saja Zorro, adik iparku yang paling baik. Nanti sore kita balik lagi. Lagipula apakah kamu tega tidak membawa Kekey ke acara penting ini? Nanti dia berpikir kita semua tidak menganggap dirinya sebagai keluarga besar dari kerajaan ini."
__ADS_1
"Iya juga ya, kalau dia tahu aku melupakannya pasti dia akan marah."
"Makanya kita pergi ke alam manusia sekarang. Aku ingin melihat-lihat keadaan rumahku sebentar dan kau bisa menjemput Kekey di rumahnya."
"Baiklah ayo!"
Valenesh mengangguk sambil tersenyum tipis.
Mereka berdua pun pergi ke alam manusia.
"Nanti sore aku jemput," ucap Zorro sambil menurunkan Valenesh tidak jauh dari kediamannya, sedangkan dirinya langsung pamit untuk menemui sang istri.
"Nyonya, kenapa sendirian?" tanya pak satpam melihat Valenesh datang seorang diri. Sengaja dia merubah panggilan nona menjadi nyonya karena Valenesh sudah menjadi nyonya dari seorang Henritz.
"Iya Pak suamiku sedang sibuk di rumah mertua," sahut Valenesh lalu masuk ke dalam pagar rumah.
Pak satpam mengangguk.
"Ada yang perlu saya bantu Nyonya?" Pak satpam menawarkan saja barangkali dibutuhkan.
"Baik Nyonya. Nanti kalau butuh sesuatu panggil saya!" seru pak satpam dengan suara sedikit berteriak karena jarak mereka yang sudah jauh.
Valenesh menoleh dan memperlihatkan jari jempolnya, pak satpam langsung mengangguk.
Sampai di dalam rumah, buru-buru Valenesh mencari foto yang sama dengan yang dipegangnya sekarang.
"Dimana ya aku melihatnya dahulu? Aku penasaran dengan tulisan di belakangnya," gumam Valenesh sambil mengobrak-abrik barang-barang di kamar orang tuanya.
"Kenapa tidak aku temukan juga?" Peluh sudah bercucuran. Namun, pekerjaan mencari itu belum membuahkan hasil.
Valenesh duduk di tepian ranjang sambil menahan ringis sebab perutnya menit demi menit bertambah berat dan sesak. Valenesh menyeka keringatnya sendiri dengan tangan lalu menghembuskan nafas untuk beberapa kali.
"Kuat-kuat ya Sayang, kita buktikan bahwa apa yang dibilang oleh paman Ansel tidaklah benar." Valenesh mengusap-usap perutnya yang semakin berisi itu.
Lama beristirahat akhirnya Valenesh bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum terlebih dahulu karena merasa haus yang tidak tertahankan.
__ADS_1
Selesai minum dia melakukan pencarian lagi, tapi kali ini di ruang kerja sang ayah.
Valenesh memeriksa setiap benda yang ada di tempat itu.
"Apa di laci itu ya?" gumamnya sambil melangkah ke arah meja kerja sang ayah. Dia mengingat-ingat kunci laci itu ada dimana sebab sudah lama sekali tidak membuka laci tersebut.
"Oh sepertinya di dalam kotak itu." Valenesh beranjak ke sebuah lemari dan mengambil kunci yang tergantung di belakang lemari.
Setelah itu kembali ke laci meja kerja sang ayah.
Saat pertama kali membuka, terlihatlah beberapa buku dengan gambar-gambar yang menyeramkan dengan tulisan kuno sehingga membuat Valenesh sama sekali tidak paham dengan semua itu. Namun, Valenesh mengangkat buku tersebut dan mencerna gambar-gambarnya.
"Apakah ini dunia vampir? Tapi yang kulihat sendiri tidak seseram ini," gumam Valenesh. Saat buku tersebut diangkat lebih tinggi jatuhlah sebuah foto. Valenesh langsung mengalihkan perhatiannya dari buku pada foto yang terjatuh.
"Ini yang aku cari." Valenesh menunduk dan meraih foto tersebut dengan susah payah karena perutnya yang membatasi ruang gerak.
Setelah dapat Valenesh duduk kembali di meja sang ayah lalu mencocokan gambar tersebut dengan foto pemberian Ansel.
"Benar dia Henritz," lirih Valeness sambil membalik foto tersebut hingga terlihatlah tulisan yang sempat membuat dia penasaran.
[ Revanna, aku tahu dia tidak sengaja memanahku. Jangan hukum dia Revanna, kasihan dia. Andai aku boleh meminta, aku ingin dia berjodoh dengan putriku sebagai ganti kita yang tidak berjodoh. Aku ingin Henritzmu itu menjaga Valenesh setelah kepergian diriku. Namun, itu tidak mungkin terjadi karena alam mereka berbeda seperti halnya kita yang tidak pernah bisa disatukan]
Valenesh menitikkan air mata saat membaca kalimat yang telah ditulis oleh mendiang ayahnya.
Dia begitu kagum dengan sang ayah yang begitu lapang memaafkan Henritz padahal sengaja atau tidak Henritz telah merenggut satu nyawa. Memisahkan seorang anak dari ayahnya dan menjadikan dirinya sebatang kara.
Sepeninggal Tommy, Valenesh hanya dirawat oleh para pembantu yang akhirnya meninggalkan dia untuk selamanya juga.
"Ah, Hen aku sangat kecewa padamu. Andai kau tahu betapa mirisnya hidup tanpa kedua orang tua. Kenapa kau merahasiakan ini semua, Hen? Jadi, benar yang dikatakan Ansel?"
Valenesh menghembuskan nafas panjang. Rasa sesak di dada seakan menyeruak lebih dalam, semakin menyiksa dirinya.
Rasanya, setelah kejadian ini Valenesh sama sekali tidak mood untuk berbicara pada Henritz.
Bersambung.
__ADS_1