
"Ansel!" Valenesh terbangun dengan tangan yang gemetar dan tubuh yang berkeringat dengan deras.
"Hah, hah, hah. Tenyata aku hanya bermimpi." Valenesh mencoba menetralkan jantung yang memompa darah lebih cepat dari biasanya. Nafasnya terlihat ngos-ngosan seperti baru selesai lari maraton.
"Ada apa Vale, kenapa kau seperti ketakutan?" Henritz berlari ke sisi Valenesh lalu menyeka keringat sang istri.
Valenesh memejamkan mata.
"Hen aku mimpi buruk," ucapnya masih dalam keadaan mata yang tertutup.
"Bermimpi aku meninggalkanmu lagi?" tanya Henritz mencoba menebak-nebak.
Valenesh menggeleng lalu mendekap erat tubuh Henritz.
"Jadi kau bermimpi apa?" Henritz bertanya sambil mengelus rambut Valenesh yang panjang.
"Ansel," jawab Valenesh datar.
"Henritz mengernyit. "Apa kau bermimpi Ansel tertangkap?" Henritz berpikir mungkin saja apa yang terjadi di dalam istana masuk ke dalam mimpi Valenesh.
"Bukan," sahut Valenesh membuat Henritz menghembuskan nafas lega.
"Terus?" Henritz menatap wajah Valenesh dengan rasa penasaran yang tinggi. Apa sebenarnya yang dimimpikan oleh Valenesh sehingga istrinya itu seperti orang yang ketakutan?"
"Sebenarnya bibi Lalune dan Paman Luke mendatangiku dalam mimpi Hen. Mereka memintaku menyelematkan Ansel dari dalam bahaya."
"Maksudnya?" Henritz terbelalak mendengar cerita Valenesh akan mimpinya, sebab baru saja dirinya sendiri yang menangkap Ansel, dan sekarang sang istri baru didatangi kedua orang tua Ansel dan dimintai bantuan untuk menyelamatkan pria itu walaupun orang yang datang tersebut hanya dalam mimpi semata, bukan dalam kenyataan.
"Mereka mengatakan Ansel sudah lama menderita dan dia bisa gila jika terus mengalami siksaan batin terus-menerus."
"Kenapa aku tidak bisa paham ya Vale? Apakah maksudnya selama ini Ansel jahat karena paksaan seseorang?"
__ADS_1
"Entahlah Hen, tapi dalam mimpiku aku melihat Ansel sedang duduk dengan tali yang mengikat dirinya pada sebuah kursi dan pria itu dipaksa meminum darah padahal dia tidak suka. Ansel terlihat beberapa kali muntah setelah dipaksa meneguk segelas darah. Beberapa orang yang berotot kekar mencambuk diri Ansel sehingga tubuhnya menimbulkan banyak tanda merah dan memaksa untuk minum darah lagi." Valenesh meringis membayang hal itu padahal sudah sering menyaksikan Henritz meminum darah segar.
"Kenapa kau seperti jijik membayangkan seseorang yang minum darah?" tanya Henritz bingung.
"Masalahnya Hen darah yang diberikan pada Ansel itu berbau tajam dan busuk. Warnanya juga tidak merah seperti darah segar melainkan agak kehitam-hitaman."
"Bukankah dia adalah manusia serigala? Seharusnya dia tidak jijik dengan darah."
"Ansel sebenarnya adalah manusia asli Hen, tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi manusia serigala. Aku sama sekali tidak bisa memahami keadaan. Apakah dia dikutuk menjadi manusia serigala, digigit manusia serigala atau apa. Itu benar-benar di luar nalar bagiku yang hanya manusia biasa."
"Aku pun juga tidak paham Vale, sudahlah jangan terlalu banyak dipikirkan. Apa yang kamu alami tadi hanyalah bunga tidur yang tidak berarti apa-apa." Setelah mengatakan hal itu Henritz lalu menghembuskan nafas panjang.
"Tapi Hen, bibi Lalune sangat berharap padaku agar menyelamatkan Ansel dan mengembalikan dalam keadaan semula."
"Itu mustahil sebab jika sampai kau bertemu dengan Ansel, pria itu pasti akan langsung membunuh dirimu."
"Tapi Hen–"
"Sudahlah lupakan tentang Ansel dan pikirkan tentang masa depan kita. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita. Jangankan menyelamatkan dia, kau dekat-dekat dengannya aku tidak akan pernah mengizinkan karena dia bisa mencelakaimu terlebih juga bayi kita," tukas Henritz.
Valenesh merasa dilema, di satu sisi dia merasa tidak enak pada orang tua Ansel. Namun, di sisi yang lain dia membenarkan ucapan Henritz tentang keselamatan diri dan bayinya. Lagipula Valenesh juga tidak tahu caranya membebaskan Ansel dari pengaruh manusia serigala. Apalagi sekarang Ansel sendiri seolah menikmati perannya sebagai manusia serigala dan begitu jahat pada Henritz maupun Valenesh sendiri. Terlebih lagi Ansel adalah pembunuh dari mertuanya sendiri.
Kengerian yang diperlihatkan di dalam mimpi Valenesh tidak seperti yang dia lihat di kenyataan yang seolah Ansel begitu menggebu-gebu ingin menangkap dirinya dan menghancurkan Henritz.
"Kau benar Hen sepertinya mimpi itu tidak berarti apa-apa. Aku harus melupakannya."
Henritz mengangguk.
"Aku mau menghampiri bibi dulu agar membawakan makanan dan air minum untukmu. Pasti mimpimu yang buruk itu menguras tenaga sehingga kamu membutuhkan asupan energi."
Valenesh mengangguk sebab dirinya memang merasa lapar.
__ADS_1
"Apa di tempat ini ada sereal Hen? Sepertinya aku sangat ingin makan itu."
"Baiklah akan aku carikan."
Henritz bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dia tampak bercakap-cakap dengan para penjaga sebelum akhirnya meninggalkan Valenesh pergi.
***
Di tempat lain Ansel marah-marah karena mendengar tawanan dirinya yang kabur.
"Apa! Dia kabur ke alam vampir?"
"Benar Tuan, dan perlu Tuan ketahui si vampir Henritz sudah kembali ke istananya dan memboyong Valenesh ke sana."
"Sial, akan lebih susah kita mengincar Valenesh jika begitu!"
"Benar Tuan, penjagaan di sana sangatlah ketat."
Ansel dia sambil berpikir. Beberapa saat kemudian tersenyum licik karena ide yang berseliweran di otaknya.
"Valenesh belum tahu bukan, jika Henritz adalah pembunuh dari ayahnya?"
"Sepertinya belum Tuan."
"Berarti ada kesempatan untukku memberitahukan kenyataannya. Aku yakin setelah Valenesh tahu bahwa Henritz yang menyebabkan kematian ayahnya dia akan sangat membenci Henritz lalu akan meninggalkannya. Kekecewaan Valenesh akan membuat wanita itu syok dan kecewa sehingga ada kemungkinan besar dia akan keguguran. Kalau itu tidak terjadi maka kitalah yang akan membisu dia keguguran. Tidak boleh ada keturunan dari vampir dan manusia pemilik darah murni karena itu akan sangat berbahaya terhadap bangsa kita!" tegas Ansel.
"Anda benar Tuan, tapi perlu rencana matang untuk bisa menyusup ke dalam kerajaan vampir kalau kita tidak ingin bernasib seperti Rodex dan Sharon yang tidak tahu rimbanya sekarang."
"Sambil menyelam minum air. Saat kita menyusup ke tempat itu bukan hanya misi untuk membuat Valenesh syok dan kecewa atas Hendritz, tetapi juga untuk menangkap pria yang masih menjadi bayang-bayangku itu serta membebaskan permaisuri Sharon dan juga rodex dari tempat terkutuk itu," tukas Ansel lalu tersenyum licik. Seolah kemenangan sudah menunggu di depan dirinya.
"Apapun itu kami akan mendukung Tuan. Kalau perlu kita bawa semua pasukan kita."
__ADS_1
"Tidak perlu, itu hanya akan memancing kecurigaan kita. Kita harus main licik agar rencana kita cepat berhasil," pungkas Ansel.
Bersambung.