KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 53. Informasi Tak Terduga


__ADS_3

Valenesh nampak syok dengan keberadaan Ansel di istana tersebut. Dengan cepat Valenesh berbalik dan hendak pergi meninggalkan Ansel.


"Mau kemana?" Ansel menahan tangan Valenesh.


"Mau pergi dari sini," ketus Valenesh.


"Jangan terburu-buru Nona, apakah kau tidak ingin menjamu tamumu ini?" tanya Ansel sambil melirik makanan yang ada di atas meja yang tidak jauh dari tempat Valenesh berdiri.


"Makanlah jika kau mau, yang penting lepaskan aku karena aku harus pergi." Valenesh tidak mau berdua saja dengan Ansel. Selain takut timbul fitnah apabila dilihat oleh salah satu pegawai di istana, dia juga takut Ansel mencelakai dirinya seperti yang Henritz takutkan.


"Hei apa yang membuat kau takut padaku?" Ansel menatap Valenesh sambil tersenyum sedangkan Valenesh tampak bingung dengan apa yang diinginkan oleh Ansel pada dirinya.


"Apa yang kau inginkan dariku? Apa yang kau mau sebenarnya? Mengapa kau selalu mengganggu hidupku dengan Henritz? Apa yang telah kami lakukan sehingga kau menjadi membenci kami seperti itu, Tuan Ansel?!" Valenesh menatap tajam mata Ansel.


"Hahaha ... kau salah paham Nona. Aku bukan menganggu kalian karena ingin sesuatu. Aku hanya ingin melindungimu dari kelicikannya."


"Apa maksudmu?!" bentak Valenesh. Dia tidak suka dipermainkan.


"Kau tahu siapa yang telah membunuh ayahmu?" Ansel balik menatap tajam mata Valenesh.


"Aku sudah melupakan soal itu, jangan mengungkit masa lalu lagi!"


"Oh ya? Seikhlas itu kau merelakan orang tuamu pergi dengan cara yang tidak wajar? Kau mengatakan tidak perduli dengan masa lalu, tapi apakah kamu yakin bahwa masa lalu sudah membayang-bayangi hidupmu?"


"Apa maksudmu jangan mengajakku bermain teka-teki!" teriak Valenesh.


"Tidak, kali ini aku tidak akan bermain teka-teki, tetapi justru akan memberikan jawaban dari teka-teki itu sendiri."


"Persetan dengan semuanya, kau pasti melantur, bukan? apakah Anne telah meninggalkanmu atau rumah sakitmu sekarang sudah bangkrut sehingga kau stress seperti ini?"

__ADS_1


"Valenesh, Valenesh! Kupikir kau adalah wanita yang cerdas. Ternyata kau nyatanya adalah wanita yang mudah dibodohi."


"Ya aku memang wanita yang mudah dibohongi, terutama dibodohi oleh pria sepertimu. Kau mengambil kantong darah di rumah sakitmu sendiri dan dengan mudahnya kau menuduhku melakukan itu semua. Sadarlah Ansel orang tuamu menangis di alam baka sana melihat kelakuanmu yang berubah seperti ini."


Mendengar perkataan Valenesh, Ansel tertawa terbahak-bahak.


"Bukan orang tuaku yang menangis melainkan orang tuamu sendiri. Bagaimana mungkin anak yang mereka besarkan dengan cinta kasih, yang mereka banggakan sedari kecil sekarang telah menikah dan berbahagia dengan pria yang telah membunuh ayahnya sendiri." Ansel tersenyum kecut.


"Omong kosong apa ini? Jangan pernah kau memfitnah Henritzku! Dia tidak akan pernah melakukan hal itu."


"Omong kosong katamu? Kau tidak tahu saja siapa Henritz kecil. Kau salah jika selama ini menganggapku mengejarmu untuk mencelakai dirimu karena nyatanya sebenarnya aku hanya ingin melindungimu seperti janjiku pada paman dan bibi sebelum mereka meninggal."


"Hentikan bicaramu dan sekarang pergilah!"


"Aku akan pergi, tapi setelah memberikan sesuatu padamu. Setelah itu kau tentukan sendiri pilihanmu. Apa kau akan terus hidup dengan pria yang sudah membunuh ayahmu dan mungkin saja sekarang mendekatimu dengan tujuan tertentu. sebab aku yakin lelaki seperti itu tidak akan mendekati wanita yang berlainan alam jika tidak ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya."


"Sudah hentikan cukup memfitnah suamiku!" Bayang-bayang saat sang ayah terkulai lemas di rumah sakit memenuhi kepala Valenesh.


"Cukup! Itu tidak mungkin."


"Henriz adalah pembunuh, pembunuh ayahmu!"


"Tidak mungkin!"


"Itu kenyataan, suamimu yang telah membunuh paman!"


Valenesh menutup telinga karena sakit mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Ansel hingga membuat telinganya berdengung.


"Tidak!" teriak Valenesh dengan suara yang sangat kencang hingga sampai ke ruang rapat istana.

__ADS_1


"Ada apa itu?"


"Siapa yang berteriak kencang?"


"Jangan-jangan istriku!" seru Henritz lalu bangkit berdiri dan bergegas keluar, meninggalkan ruang rapat.


"Kau boleh tidak percaya, tapi aku punya satu bukti. Ini foto kecil vampir yang telah membunuh ayahmu." Ansel langsung menarik tangan Valenesh lalu meletakkan satu foto di atas telapak tangan wanita itu.


Setelahnya Ansel langsung kabur karena takut para penghuni vampir di kerajaan itu mendengar teriakan Valenesh yang akan menarik mereka berlari ke arah dimana dia dan Valenesh berada dan itu akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.


Setelah Ansel pergi Valenesh langsung mengangkat foto di tangannya dan memandang wajah remaja kecil yang tampak tampan itu.


"Sepertinya aku pernah melihat foto ini, tapi dimana?" Valenesh sudah lupa karena sudah lama sekali. Jika dia tidak salah mengingat, waktu itu dirinya masih kecil dan belum bisa membaca.


"Ada apa sayang?" tanya Henritz melihat Valenesh berdiri membeku.


Tidak ada jawaban karena Valenesh masih fokus dengan foto yang dipegangnya.


"Kau dapat dari mana foto kecilku?"


Mendengar pertanyaan Hendritz kali ini Valenesh langsung menoleh dan menatap tajam mata pria itu.


Henritz mengernyit, menyadari raut wajah Valenesh yang berbeda dari biasanya. Namun, dia berpikir barangkali efek kehamilan yang membuat moodnya naik turun.


"Jadi benar ini foto kamu?" Pertanyaan Valenesh lebih mirip ke arah mengintrogasi orang daripada bertanya seperti biasanya.


Henritz hanya mengangguk sedangkan Valenesh menghembuskan nafas kasar.


"Ada apa dengan foto itu?" tanya Henritz penasaran karena wajah Valenesh menjadi sendu setelah melihat foto tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2