
"Hen jangan terburu-buru!" Kekey mencoba mencegah Henritz, tetapi sudah terlambat karena pria itu sudah menghilang dari tempatnya berdiri.
"Dasar vampir, aneh-aneh saja kelakuannya. Yang satu suka menghilang dan yang satu lelet," keluh Kekey.
"Kau menyindirku?" Zorro menatap Kekey dengan tatapan tajam.
"Aku tidak suka menyindir dan jika ada yang merasa tersindir berarti dirinya memang merasa begitu."
"Dasar manusia cerewet, ada-ada saja alasan yang diungkapkan. Ayo kita menyusul Henritz!" ajak Zorro.
"Tidak, aku tidak mau kembali ke sana, tidak betah," tolak Kekey.
"Tapi kita harus membantu Henritz."
"Kau saja yang bantu, kau pikir manusia lemah sepertiku bisa melawan para vampir? Yang ada darahku habis dihisap oleh mereka. Lagi pula kau sudah berjanji padaku apabila berhasil mengantarkan pada Henritz, kau akan melepaskanku, ya kecuali kalau bangsa vampir tidak bisa dipegang kata-katanya."
"Yasudah aku antar ke rumahmu saja dulu sebelum menyusul Henritz."
"Tidak perlu aku bisa jalan sendiri," tolak Kekey dengan suara ketus kemudian melangkah pergi.
"Baiklah kalau itu maumu," ucap Zorro pasrah dan hanya bisa mengawasi Kekey dari jarak jauh.
Saat Kekey lepas dari padang rumput dan sampai di jalan raya serta menyetop taksi barulah Zorro terbang kembali menuju kerajaan vampir.
Sampai di sana kamar Rodex sudah berantakan karena diamuk oleh Henritz.
"Dasar pengkhianat kubunuh kau!" Henritz mencekik leher Sharon hingga wanita itu hampir kehilangan nafas.
"Hen apa yang kamu lakukan? Ingat ibu adalah satu-satunya permaisuri ayah yang masih hidup. Ibu adalah penasehat untuk semua putra-putra ayah!" teriak Rodex. Pria itu hanya bisa bersuara sedangkan tubuhnya masih lemah untuk sekadar melindungi ibunya.
"Aku tidak butuh penasehat yang suka menjilat lidahnya sendiri!" geram Henritz tanpa melepaskan tangannya di leher Sharon.
"Hen, le–pas–kan!" ucap Sharon dengan suara terbata-bata.
"Aku tidak akan melepaskanmu!" Henritz semakin kuat mencengkram.
"Zorro, kenapa kau diam saja!" teriak Rodex yang melihat Zorro hanya diam di pintu dan tidak ada inisiatif sedikitpun untuk menolong Sharon.
"Ibu Sharon pantas mati setelah apa yang dilakukan pada ayahanda!" seru Zorro dan Henritz hanya menoleh padanya tanpa bicara sepatah katapun.
"Apa maksudmu?" tanya Rodex tidak mengerti. Yang dia tahu, Zorro tidak tahu-menahu tentang apa yang sudah dirinya dan Sharon perbuat.
"Kau dipengaruhi oleh Henritz," tambahnya.
"Tidak, tidak ada yang mempengaruhiku, tapi aku sudah tahu kelicikan kalian berdua. Aku sudah mendengar sendiri dari mulut kalian bahwa yang telah membocorkan rahasia kelemahan ayahanda adalah kalian berdua," ketus Zorro.
"Apa yang kau katakan? Kau salah paham, pasti kau salah dengar, aku dan ibu tidak pernah membicarakan tentang ayah. Hen kau pasti sudah dipengaruhi dia, kan?"
Henritz menatap ke arah Zorro tanpa melepaskan cengkeramannya di leher Sharon.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan dia yang sebenarnya membocorkan rahasia itu dan malah menuduhmu?" kilah Rodex dan mencoba memutar balikkan fakta agar Henritz marah pada Zorro sedangkan Sharon menatap ke arah Zorro dengan ekspresi murka.
Mendengar ucapan Rodex, Henritz menjadi ragu.
"Jadi kau yang menuduhku?" Henritz menatap tajam ke arah Zorro.
"Bu–kan, dia memutar balikkan fakta," sanggah Zorro. "Aku tidak pernah menuduhmu, tetapi mereka yang meyakinkan kami semua bahwa kaulah dalang dari pembunuhan ayahanda," jelas Zorro.
"Atas dasar apa kau aku dan ibu seperti itu?" tanya Rodex dengan tatapan tidak suka ke arah Zorro.
"Karena kamu adalah putra Ansel, seorang pengkhianat di kerajaan manusia serigala. Kalian bertiga sama-sama pengkhianat!" geram Zorro.
"Omong kosong apa yang kau jabarkan?" Zorro masih berusaha agar Henritz menganggap Zorro hanya mengada-ada.
"Jangan bicara tanpa bukti!"
"Kau boleh tidak percaya padaku Hen, tetapi apakah temanmu di alam manusia itu juga berbohong?"
Tiba-tiba Henritz langsung teringat pada Kekey. Sejauh ini Kekey adalah sahabat kepercayaan Valenesh dan tidak mungkin membohonginya.
Amarah Henritz memuncak kembali.
"Aaah!" Henritz mengangkat tubuh Sharon ke udara lalu menghembuskan ke lantai.
Bug.
"Dasar anak durhaka kamu ya Hen? Lupa kalau yang merawatmu itu aku sejak ibumu meninggal. Begini caramu membalas budi?" kesal Sharon.
"Dan seharusnya permaisuri yang harus merawat pangeran Henritz karena permaisuri yang telah meracuni permaisuri Revanna hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya."
Sontak suara bibi di pintu membuat Henritz langsung menoleh.
"Apa maksud Bibi?" tanya Henritz kepada pelayan pribadinya.
"Permaisuri Sharon yang merencanakan pembunuhan untuk permaisuri Revanna dengan cara memanipulasi keadaan sehingga semua orang menyimpulkan bahwa permaisuri Revanna mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri."
"Mengapa bibi baru berkata sekarang!" berang Henritz.
Pelayan pribadinya itu hanya menunduk.
"Kenapa diam saja? Kenapa Bibi tega merahasiakan ini semua kepadaku hingga aku setua ini hah?!"
"Maaf pangeran, bibi pun baru mengetahui tadi. Bibi baru saja mendengarkan pembicaraan antara pelayan pribadi permaisuri Sharon dan pelayanan pribadi pangeran Rodex. Tadinya bibi juga tidak percaya jika hal itu benar-benar terjadi. Namun, mendengar kalian mengatakan bahwa permaisuri Sharon dan pangeran Rodex lah yang melakukan pengkhianatan kepada raja Fanhouzan, bibi menjadi yakin bahwa mereka pun tega menghabisi nyawa permaisuri Revanna."
"Kau–"
Bug, buh, bug.
Henritz meninju Sharon beberapa kali kemudian menendang tubuh Rodex dengan kuat dan kasar.
__ADS_1
"Pengawal!" teriak Sharon dengan suara melengking dan histeris.
Para pengawal istana pun segera berhamburan masuk ke dalam kamar Rodex.
"Ada apa permaisuri?"
"Tangkap Zorro, Henritz dan juga pelayan tidak tahu diri ini!"
"Tapi permaisuri–"
"Tidak ada tapi-tapian lakukan apa yang aku perintahkan!"
"Baik."
"Kyaaaat!" Mereka langsung menyerang ketiga orang itu secara mendadak dan brutal.
"Bibi!" teriak Henritz melihat pelayan pribadinya terkena tebasan pedang di leher.
"Zorro amankan bibi, biar aku yang menghadapi semuanya!"
"Baik Hen."
Zorro yang memang memiliki kecepatan tinggi dalam bergerak langsung merebut tubuh pelayan pribadi Henritz dari tangan para pengawal yang hendak membunuhnya dan langsung membawa kabur sedangkan Henritz mengangkat tangannya ke atas lalu mengibaskan semua vampir di istana sehingga mereka beterbangan seperti debu di udara.
"Arrrrgh!" teriakan mereka menimbulkan suara bising.
"Turunkan pangeran!" pinta salah satu pengawal di istana itu. Sengaja Hendritz mempermainkan mereka dengan cara membuat tubuh mereka semua melayang-layang di udara tanpa diturunkan.
"Kalian semua akan mati di tanganku jika memberontak!" kecam Henritz.
"Kalian tahu? Ayahanda bisa terbunuh karena mereka berdua membocorkan rahasia kelemahannya. Jika kalian semua membela mereka berdua maka itu artinya kalian semua adalah pengkhianat kerajaan dan penghianat harus dimusnahkan!" tegasnya.
"Ampun pangeran, turunkan kami!"
"Berjanjilah dulu untuk mematuhi perintahku!"
"Baik." Mereka terpaksa menyerah karena tidak tahan tubuhnya diguncang-guncang di udara hingga banyak yang merasa mual.
Henritz pun langsung menurunkan semuanya.
"Ingat jika kalian memberontak kalian akan mati seperti cacing yang kena injak!" Henritz mengancam.
"Hoek, hoek." Dimainkan di udara beberapa menit saja mereka langsung muntah-muntah, bagaimana jika Henritz menghukum mereka seharian dengan cara seperti itu?"
"Melihat semua vampir yang berada di istana itu patuh kepada Hendritz, Sharon memapah tubuh Rodex dan mencari kesempatan untuk kabur.
"Tangkap mereka jangan sampai lolos! Dan setelah tertangkap masukkan mereka ke dalam sebuah peti dingin di mana siapa saja yang ditaruh di dalamnya akan membeku seperti es balok!"
Mendengar perintah Henritz pada para pengawal istana, tubuh Sharon terlihat gemetar ketakutan."
__ADS_1
"Bagaimana ini Ibu?" tanya Rodex gusar.
Bersambung.