
"Ada apa ini?" Valenesh langsung berlari menyambut kedatangan panglima perang bangsa vampir yang berjalan ke arahnya dengan menggendong tubuh seseorang. Perasaan Valenesh memang tidak enak sedari tadi.
"Kau ada di sini?" tanya Zorro saat melihat Valenesh masih berada di dalam istana.
"Iya, Zorro. Kami bertiga memang sedari tadi berada di sini," jawab Valenesh di ikuti anggukan dari Kekey maupun Ansel.
"Ternyata mereka mengecoh kita dengan mengatakan bahwa kau diculik."
"Dan gara-gara informasi itu, raja kita jadi tidak fokus sehingga pedang raja Lord mengenai dada Raja Henritz," ucapnya sambil menaruh Henritz di atas ranjang lalu menyuruh seseorang untuk memanggil tabib.
"Bagaimana mungkin, bukankah suamiku sudah memakai baju besi?" tanya Valenesh sambil duduk di tepi ranjang. Valenesh menatap lekat Henritz yang terbaring lemah, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Pedang yang Raja Lord pegang itu sangat dahsyat dan berbahaya. Pedang itu bisa menembus apapun, tidak terkecuali besi ataupun baja."
Mendengar perkataan panglima, air mata Valenesh jadi tidak tertahankan. Dia langsung menangis sesenggukan.
Tidak menunggu lama, tabib datang dengan ramuannya. Setelah dipersilahkan masuk tabib itu langsung masuk dan memeriksa luka Henritz.
"Lukanya mengandung racun, aku hanya bisa menghilangkan pengaruh racunnya, tapi lukanya sangat dalam sehingga tidak mudah untuk disembuhkan."
"Lakukan apapun yang bisa menyembuhkan suamiku, aku punya banyak harta di dunia manusia untuk membayarmu Tuan," ucap Valenesh dengan penuh harap.
"Ini sangat sulit permaisuri, perlu darah murni sebagai campuran ramuan ini, dan darah itu sangat langka di dunia ini. Kalau pun ada belum tentu ada yang mau menjual darahnya."
"Kalau begitu Tuan hanya perlu membuatkan ramuan, persolan darah biar aku yang urus Tuan."
"Baiklah permaisuri, kalau bisa bekerjasama seperti ini saya yakin raja Henritz pasti akan cepat sembuh."
Valenesh mengangguk dan memberikan kode pada Kekey untuk ikut dengannya. Kekey yang paham langsung ikut.
"Saya permisi sebentar Tuan."
"Silahkan Permaisuri."
"Ada apa Vale? Jangan kau bilang kau ingin mengambil darahmu? Ini sangat berbahaya untukmu dan janin dalam kandunganmu."
"Terus harus bagaimana lagi Key, membiarkan Henritz meninggal dan anak ini lahir tanpa seorang ayah?"
Kekey hanya bisa terdiam, tidak mungkin dia menghalangi keinginan Valenesh tanpa solusi.
"Tolong ambilkan jarum suntik di dunia kita. Aku ingin mengambil darah ini tanpa ada yang tahu bahwa akulah pemilik darah itu sebenarnya selain kamu, Zorro, dan Ansel.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku akan mengajak Zorro."
Valenesh mengangguk dan kembali lagi ke sisi Henritz sedangkan Kekey tampak berbisik di telinga Zorro.
"Baiklah ayo!" ajak Zorro ini Kekey lah yang mengangguk.
Zorro pamit pada semuanya, sebelum mengantar Kekey ke dunia manusia.
"Kemana mereka?" gumam Valenesh begitu gelisah menantikan kedatangan di Zorro dan Kekey yang begitu lama sekali.
"Bagaimana permaisuri? Saya harap darah murni itu sudah ada sebelum hari beranjak pagi, karena jika tidak luka raja hendris akan semakin parah dan itu malah mempersulit penyembuhannya."
"Sebentar Tuan, Pangeran Zorro dan istrinya sedang mengusahakan darah murni itu dan mereka saat ini sedang turun ke dunia manusia."
"Saya harap mereka tidak akan lama."
Valenesh mengangguk lalu memandang ke arah Ansel yang juga terlihat khawatir.
Beberapa jam berlalu akhirnya Valenesh tidak sabar menunggu kedatangan Zorro dan Kekey lagi, sebab tubuh Henritz semakin terasa dingin.
"Ansel bantu aku!" pinta Valenesh dan Ansel terlihat bingung.
"Ikut aku!" perintah Valenesh lalu menyuruh seorang pelayan untuk membawakan dirinya pisau dan sebuah wadah.
"Apa yang akan aku lakukan dengan kedua alat ini Val?"
"Kerat tanganku dan biarkan darah ini menetes ke dalam wadah!"
Ansel terbelalak mendapatkan perintah semacam itu dari Valenesh.
"Tidak Vale, aku tidak tega," tolak Ansel.
"Ansel, kamu itu adalah pemilik rumah sakit terbesar dan kedua orang tuamu juga dokter. Bagaimana mungkin kau mengatakan tidak tega hanya diberikan perintah seperti ini?"
"Tapi Val, kau dalam keadaan hamil dan pisau ini pasti akan melukaimu, kenapa tidak menunggu Kekey saja? Menggunakan jarum suntik lebih ramah daripada menggunakan pisau ini."
"Ah, mereka terlalu lelet. aku tidak mau kehilangan hati saya gara-gara keterlambatan mereka."
Ansel hanya terdiam.
"Lakukan Ansel! Ini adalah titahku sebagai permaisuri di kerajaan ini, dan kamu sekarang berpijak di negeri ini, bukan?!" tegas Valenesh.
__ADS_1
"Ba–ik," ucap Ansel lalu meraih tangan Valenesh. Valenesh memejamkan mata saat Ansel menggores pergelangan tangannya dengan hati-hati, bahkan tangan Ansel terlihat gemetar.
"Argh!" Valenesh mengerang.
"Semoga kamu tidak apa-apa," ucap Ansel dengan bibir dan suara yang bergetar menahan getir.
"Ini seperti aku membantu orang bunuh diri," lirih Ansel.
"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak apa-apa. Sekarang kau bawa darah ini pada tabib, aku ingin rebahan sebentar."
Ansel mengangguk, menyobek pakaiannya sendiri lalu dibebatkan pada tangan Valenesh.
"Aku pergi sebentar," pamitnya lalu membawa wadah berisi darah itu pada tabib yang sudah selesai meracik ramuannya.
Setelah itu Ansel kembali ke kamar Valenesh dan melihat wanita itu terbaring dengan lemas wajah yang memucat.
"Ini yang namanya definisi mengobati satu orang, tetapi mengorbankan orang yang lainnya." Ansel menatap Valenesh dengan iba. Dia tidak menyangka sahabat kecilnya masuk ke dalam dunia yang berbahaya ini dan malah terjebak di dalamnya. Dia bahkan tulus mencintai Henritz meskipun mereka berasal dari dunia yang berbeda.
"Ansel!" Tiba-tiba Zorro menepuk punggung Ansel. Di belakangnya berdiri Kekey yang memegang alat-alat kesehatan.
"Kemana saja kalian, kenapa lama sekali? gara-gara kalian Valenesh bisa menjadi seperti ini!"
"Ssst! Sudahlah Ansel, biar saya yang menangani Valenesh." Kekey masuk ke dalam kamar Valenesh dan memberikan wanita itu donor darah dari kantong darah yang dipegangnya. Setelah itu Kekey membantu membersihkan luka Valenesh dan mengganti kain yang dibebatkan Ansel tadi dengan perban.
"Wah ternyata kau pinter juga perawat dadakan," goda Zorro saat melihat Valenesh seperti dirawat di rumah sakit.
"Keadaan yang memaksaku seperti ini Sayang," ujar Kekey lalu meraup udara banyak-banyak sebelum akhirnya menghembuskan secara perlahan.
"Bagaimana keadaan Raja Henritz?"
"Kata panglima sudah mulai mendingan, suhu tubuhnya yang sempat membeku kini hangat kembali."
"Syukurlah, begitu banyak cobaan dalam hidup mereka. Semoga mereka berdua diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi semuanya, tapi sepertinya cobaan mereka sudah akan berakhir melihat Tuan Lord sudah sekarat," ucap Kekey.
"Dia sekarat?" tanya Ansel kaget.
"Ya, saya lama di alam manusia karena dihadang oleh pasukan manusia berbulu. Mereka marah karena raja mereka dibuat sekarat oleh pasukan vampir ini, dan mereka tahu Zorro adalah salah satu pangeran di kerajaan ini."
Ansel mengangguk.
"Tapi Tuan atau raja Lord tidak akan mati, takdirnya hanya akan mati di tangan putra Valenesh dan raja Henritz. Sebelum anak itu lahir, kita masih harus berhati-hati karena dia bisa menyerang kapan saja," ucap Ansel memperingatkan.
__ADS_1
Bersambung.