
Tidak terasa sudah seminggu Henritz meninggalkan rumah Valenesh dan selama itu Valenesh merasakan kesepian, padahal sebelum kehadiran Henritz di rumahnya Valenesh sudah terbiasa tinggal sendiri.
"Huh rasanya bosen aku begini terus tiap hari, makan, tidur, ke rumah sakit begitu seterusnya." Valenesh mengeluhkan kehidupannya yang sangat membosankan itu.
Wanita itu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menyingkap gorden. Cahaya matahari langsung menembus ke dalam retina matanya.
"Sudah pagi rupanya."
Namun, wanita itu enggan kemana-mana. Valenesh kembali ke atas ranjang dan tidur telentang sambil melebarkan kedua lengannya ke samping tubuhnya.
Saat hendak memejamkan mata kembali, terasa sinar matahari langsung menyentrong matanya hingga membuat Valenesh silau.
"Henritz!" Mengingat cahaya matahari yang seolah menyakiti matanya, tiba-tiba wanita itu ingat pria yang pernah menemani hari-harinya di rumah. Ada saja kelucuan yang selalu membuat Valenesh tersenyum saat bersama Henritz.
"Kenapa aku jadi kangen dia ya? Hari-hariku terasa sepi tanpa dirinya." Valenesh memandang ke arah luar dimana jalanan sudah nampak mulai ramai. Valenesh menoleh ke arah jam weker dimana hampir menunjukkan jam setengah tujuh pagi.
"Henritz ada dimana kau sekarang?" Valenesh melihat ke bawah, ke halaman rumahnya. Biasanya pagi-pagi begini Henritz membantunya menyapu halaman rumah dan kalau sampai jam segini tidak masuk ke dalam Henrizt langsung kelabakan. Lari terbirit-birit seperti dikejar anjing dan saat itu terjadi Valenesh hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal.
"Aku sekarang tahu kenapa kau takut matahari, itu karena kau vampir, bukan?" tanya Valenesh seolah Henritz ada di depannya.
"Ah andai kau jujur sebelumnya dan tidak mencuri kantong darah di rumah sakit aku tidak akan pernah mengusirmu dan sekarang kita masih tinggal bersama." Tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Oh Tuhan aku merindukannya." Valenesh memejamkan mata.
Terlihat di depannya Henritz memandangnya dengan senyuman manis.
"Henritz!" seru Valenesh sambil membuka mata. Namun, Henritz tidak ada di sisinya.
"Ah aku hanya berhalusinasi."
Sudahlah Valenesh kau dan Henritz berbeda dunia. Dia tidak akan pernah kembali ke sisimu lagi dan walaupun kembali status kalian tidak lebih dari seorang teman.
Sisi hati Valenesh mengungkapkan kenyataan yang kadang Valenesh lupakan.
"Lebih baik aku jalan-jalan saja biar tidak kepikiran dia terus. Tapi ... mau ngajak siapa ya?" Valenesh tampak berpikir siapa yang bisa dia ajak pagi ini.
"Kekey, ya aku harus menghubungi Kekey." Segera Valenesh meraih ponselnya yang diletakkan sembarangan di bawah lampu tidur.
"Halo Key bisa temani aku jalan-jalan pagi ini?"
Tanpa basa-basi Valenesh langsung mengatakan tujuannya menghubungi wanita itu.
"Sorry Val, hari ini aku ada jadwal kuliah dan nanti sore ada acara keluarga. Kayaknya kalau hari ini kesibukanku full."
"Oke deh."
Valenesh langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Halo Val! Halo Val!"
"Ya sepertinya dia ngambek tuh, tapi mau bagaimana lagi?" Terlihat di sebuah kamar Kekey sedang mengangkat kedua bahunya.
"Valenesh pasti mengerti," ucapnya kemudian lalu meraih tas ranselnya untuk persiapan berangkat kuliah.
"Kalau Kekey nggak bisa diajak, aku ngajak siapa sih?" Valenesh tampak menggaruk-garuk kepalanya.
"Masa aku pergi sendiri?" Kini Valenesh mengetuk-ngetukkan jari di layar ponselnya.
"Oh ya kenapa nggak kepikiran sama Anne?" Segera Valenesh menghubungi rekan kerjanya dan menyampaikan ajakannya untuk jalan-jalan.
"Kapan?"
Terdengar suara Anne dari balik telepon.
"Sekarang kalau bisa, boring nih aku."
"Wah ternyata Valenesh merasakan juga ya rasanya jenuh."
Anne terdengar tertawa.
"Malah tertawa lagi," keluh Valenesh.
"Bisa nggak?"
"Sorry Val, aku mengantuk pagi ini. Kamu tahu kan semalam aku yang tugas jaga?"
__ADS_1
"Oh iya ya, aku lupa. Kupikir Smith."
"Mana mau dia tugas malam. Dia laki-laki tapi penakut, seperti bencong saja. Untung kita baik kalau tidak kita laporkan saja dia biar dipecat."
"Janganlah Anne, kasihan tahu, kalau berbuat baik itu jangan setengah-setengah. Namun, kalau kamu memang keberatan ketika Smith menukar jadwal shift kalian, kamu katakan saja langsung padanya bahwa kamu tidak mau, tidak perlu melapor-lapor segala."
"Hmm, baiklah. By the way bagaimana kalau kita jalan- jalannya nanti malam saja?"
"Boleh deh nggak apa-apa daripada nggak sama sekali."
"Oke kalau begitu saya tunggu jam 7 malam di rumah."
"Oke Anne, pokoknya sebelum jam 07.00 saya sudah ada di sana."
"Oke siap. Sekarang aku matikan teleponku ya, benar-benar sudah ngantuk nih. Uway."
"Ya ampun sampai menguap begitu, Ya sudah tidur sana!"
Mereka berdua memutuskan sambungan teleponnya.
***
Jam 7 malam Valenesh sudah berada di rumah Anne.
"Mau jalan-jalan kemana kita? Ke mall?" tanya Valenesh karena sebelumnya mereka berdua memang belum menentukan tempat yang akan mereka kunjungi.
"Pasar malam."
"What? Pasar malam?" Valenesh terbelalak.
"Nggak usah begitu ekspresinya! Kamu pikir pasar malam tidak lebih asik daripada berjalan-jalan di mall?"
"Oh ya?" tanya Valenesh tidak percaya.
"Iya dong yang namanya alam terbuka suasana lebih segar tagu nggak Val, makanya sekali-sekali jalan-jalan ke tempat seperti itu jangan ke mall terus."
"Oke deh terserah kamu saja. Yang penting saya bisa menghilangkan rasa sumpek yang mendera pikiran saya."
"Tumben kamu sumpek, ada yang kamu pikirkan?"
"Nggak juga sih," bohong Valenesh padahal dari pagi hari kepikiran Henritz terus-menerus.
"Ayo." Keduanya pun berjalan menuju mobil Valenesh yang terparkir. Belum sampai di mobilnya, Valenesh terlebih dahulu menekan remote hingga mobilnya terbuka.
"Sekalian atasnya Val!" pinta Anne.
"Malem Ann, nanti kamu masuk angin."
"Nggak mungkin Val, kita kan sudah terbiasa dengan angin malam."
"Iya sih cuma ...."
"Cuma apa? Saya pikir akan lebih asyik kalau kita berjalan-jalan sambil memandang cahaya bulan dan bintang yang berkelap-kelip di langit."
"Nah itu maunya kamu, kalau aku nyetir masak bisa menatap langit? Bisa-bisa kita langsung masuk neraka."
"Neraka apa tuh?"
"Neraka dunia," ketus Valenesh.
"Ayo dong Val please!"
"Oke-oke." Akhirnya Valenesh menekan remot mobil hingga bagian atas mobil terbuka sempurna kecuali bagian depannya yang masih agak tertutup.
"Wow keren, kapan ya aku bisa punya mobil seperti ini?" tanya Anne sambil berlari ke arah mobil.
"Nabung aja dulu, entar pasti kebeli."
"Kalau cuma mengandalkan dari gajiku saja sampai kiamat nggak akan kebeli juga."
"Pesimis sih jadi orang. Udah siap belum? Kalau siap aku setir nih mobil."
"Oke, let's go!" teriak Anne dan Valenesh langsung menyetir mobilnya.
__ADS_1
Valenesh tampak fokus menyetir sedangkan Anne bersenandung kecil sambil menatap keindahan langit.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai ke area pasar malam.
"Anne aku mau naik itu ya?"
Valenesh menuju ke arah Bianglala yang begitu tinggi.
"Kayak anak kecil sih Val?"
"Biarin saja, aku ingin melihat pemandangan dari atas sana."
"Hai!" sapa seorang pria sambil berjalan ke arah keduanya.
"Hai Tuan Ansel!" sapa balik Anne sedangkan Valenesh hanya diam saja. Dia masih kesal pada pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu.
"Boleh temani aku jalan-jalan di sekitaran sini?"
"Boleh Tuan."
"Kalau begitu ayo!"
"Val kamu aku tinggal nggak apa-apa, kan? nanti kalau sudah puas bermain-main dengan permainan yang ada di sini kamu boleh menelpon aku."
Valenesh hanya mengangguk.
Ansel menarik tangan Anne dari tempat tersebut.
"Dada Val, nikmati malam ini!" Anne melambaikan tangan ke arah Valenesh dan Valenesh pun membalas dengan lambaian pula. Setelahnya Valenesh langsung melangkah ke arah permainan Bianglala.
"Silahkan naik Nona."
"Thanks Sir!"
Valenesh pun menaiki Bianglala. Sampai dipuncak tertinggi Valenesh kesal melihat Anne yang begitu akrab dengan Ansel. Di bawah sana keduanya berjalan bergandengan tangan dan sesekali tertawa seperti sepasang kekasih.
"Ckk, apa gunanya aku nggak teman kalau akhirnya harus sendirian juga." Valenesh meninju udara. Namun, siapa tahu mengenai seorang pria.
"Aw sakit tahu Val, kesal dengan temanmu ya?"
Valenesh langsung mendongak. "Henritz!" Valenesh kaget bercampur senang.
"Kau mengikuti ya?"
"Ya, tidak sengaja aku lihat kamu masuk ke area ini. Jadi aku ikuti saja. Aku kangen Val, kamu tahu tidak hari-harku sepi tanpamu. Setiap saat aku selalu terbelenggu rindu padamu. Adakah kesempatan untukku agar bisa kembali ke sisimu? Maaf jika aku mengganggumu lagi."
Valenesh terlihat tersenyum. Jujur dia juga merasakan hal yang sama dengan Henritz. Rasa rindu menyergap hatinya tatkala berjauhan dengan Henritz.
"Kenapa hanya tersenyum sih?"
"Kau ingin hidup bersamaku lagi?"
"Iya Vale."
"Bisa saja asal kau ikuti persyaratanku."
"Apa itu?"
"Kau tidak perlu mencuri darah di rumah sakit dan menghisap darah manusia sembarangan. Jika kamu butuh darah katakan padaku. Kau bisa menghisap darahku saja."
"Tapi Vale?"
"Ssst, jika darahku tidak mencukupi kebutuhanmu maka biarkan aku saja yang mencari darah untukmu."
Perkataan Valenesh yang begitu tulus membuat Henritz terenyuh.
"Kamu serius Vale?"
"Aku serius Henritz."
"Kalau begitu aku pun bersedia menjadi budakmu."
"Tidak Henritz kau tidak akan menjadi budak, tetapi kau akan tetep menjadi sahabatku."
Sontak saja Henritz tersenyum mendengar perkataan Valenesh.
__ADS_1
"Terima kasih, kau benar-benar baik Vale."
Bersambung.