
Valenesh menoleh pada Henritz dan bertanya, "Boleh Hen?"
Henritz mengangguk kemudian memerintahkan beberapa penjaga penjara itu untuk membuka pintu penjara.
Ansel tersenyum, dengan tertatih-tatih melangkah ke arah Valenesh. Saat pintu penjara terbuka kedua sahabat semasa kecil itu berpelukan.
"Ansel maafkan suamiku, tubuhmu begini karena hukuman yang sudah diberikan padamu di tempat ini, bukan?" Valenesh meneteskan air mata. Rasanya ia tidak tega melihat tubuh sahabat kecilnya dalam keadaan kurus kering dan berantakan, seperti manusia yang kekurangan gizi.
Ansel mengusap air mata Valenesh dan berkata, "Tidak badanku seperti ini memang sebelum datang ke tempat ini dan bertemu dengan suamimu. Val, dulu kita bermain bersama dan tidak pernah menyangka bahwa kita akan terjebak dalam dunia lain seperti ini.
"Maafkan aku, ini semua karena aku. Kalau tidak bersama dengan Henritz, semua ini tidak akan pernah terjadi. Kau tidak akan pernah dihukum oleh Tuan Lord." Valenesh menunduk. Sumber malapetaka yang terjadi pada Ansel karena garis takdirnya.
"Hei kenapa kau malah merasa bersalah seperti itu?" tanya Ansel sambil tersenyum.
"Maafkan aku, ini terjadi karena aku dan Henritz saling mencintai. Kami tidak bisa berpisah dan kami menghadirkan anak yang dipercayai akan membunuh Tuan Lord sehingga mengancam nyawamu yang sebenarnya tidak harus terjadi." Valenesh masih saja terus menunduk sedangkan Henritz hanya diam saja. Dia tidak tahu harus menimpali ucapan Valenesh seperti apa.
"Sudah, tidak usah murung karena ini bukanlah salahmu, bukan salah suamimu juga. Eh, kita lepaskan pelukan kita, tidak enak dengan suamimu." Ansel langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Valenesh.
"Ini sudah suratan takdir Val, kau dan Henritz memang harus bersatu karena dengan begitu kejahatan Tuan Lord bisa ditumpaskan. Mengenai hal-hal mengerikan yang terjadi padaku, itu adalah kecerobohanku sendiri. Andai saja waktu itu aku tidak merengek untuk ikut dengan Paman Tommy karena terlalu penasaran dengan dunia lain, tidak mungkin aku sampai dibawa ke dunia serigala oleh Tuan Lord dan di penjara di sana. Namun, kalau hal itu sampai terjadi, maka sampai saat ini kau pasti akan tetap salah paham pada suamimu, -raja Henritz- karena tidak ada saksi yang melihat bahwa busur panah dari Henritz, arahnya dimanipulasi."
"Kau benar Ansel, kalau tidak ada kamu, aku pasti akan tetap menganggap Henritz pembunuh ayahku. Jangankan aku, bahkan ayahku pun menganggap dia yang memanah dirinya."
"Benarkah Val?"
Valenesh mengangguk. "Ayah meninggalkan catatan di belakang foto Hendritz yang menyatakan bahwa anak di dalam foto itulah yang memanah dirinya hingga akhirnya ia terbunuh meskipun tidak langsung menghembuskan nafas terakhir di tempat."
"Iya Val, saat itu aku tidak ada sehingga tidak bisa memberikan keterangan seperti yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Itulah alasan kenapa Tuan Lord langsung membawa diriku kabur dan dia sendiri malah berubah menjadi diriku."
"Jadi, Tuan Lord sebenarnya sudah tua?" tanya Valenesh kaget.
Ansel mengangguk.
"Tapi mungkin perhitungan umur seseorang di dunia manusia dan di dunia vampir ataupun manusia serigala itu berbeda Val. Mungkin saja kita yang berasal dari ras manusia hitungannya terlalu cepat sehingga kita bisa menyamai usia mereka. Ya meskipun lebih tua mereka secara umur, tetapi secara fisik lebih muda mereka."
Mendengar penjelasan Ansel, Valenesh langsung menoleh ke arah Hendritz.
__ADS_1
"Umurmu berapa Hen?"
"Sudah ketebak kau akan menanyakan hal itu padaku."
"Hehe, tidak apa-apa Hen, jika kamu tua sekalipun, aku tetap cinta kok," ucap Valenesh cengengesan.
"Palingan masih 35-an Val."
"Oh, kalau begitu belum terlalu jauh denganku yang sekitar 26 tahunan."
"Ya bisa dikira-kira sih, umurmu waktu ayah terkena panah berapa dan kau tanya pada Ansel saat itu umur saya kira-kira berapa."
"Sepertinya Raja hendritz ini sudah mulai tumbuh dewasa waktu itu, dan aku masih kanak-kanak sekali sedangkan Tuan Lord sudah berusia sekitar 20 tahunan," timpal Ansel.
"Berarti memang tidak terlalu jauh Hen. Apakah makanan yang diberikan padaku tadi pagi masih ada?" tanya Valenesh kemudian saat menyadari keadaan tubuh Ansel.
"Seperti tidak akan ada yang menghabiskan kecuali diminta pangeran Zorro untuk istrinya," jawab Henritz.
"Sayang, bolehkah aku minta untuk Ansel?"
"Iya Tuan Raja, saya akan langsung meminta pelayan untuk menyiapkan."
"Bik, saya kok merasa lucu ya Bibi memanggil saya dengan sebutan tuan raja?"
"Mau bagaimana lagi Tuan Raja, saya tidak mungkin kan masih memanggilmu dengan sebutan pangeran?"
"Iya juga deh Bik. Terserahlah mau manggil apa. Ayo Sayang, Ansel, kita kembali ke istana!"
Mereka mengangguk, beberapa pengawal berjalan di belakang mereka.
"Ini permaisuri Valenesh, makanannya sudah siap, dan Permaisuri tenang saja karena ini adalah makanan baru, bukan sisa yang tadi pagi. Kami memang sudah menyiapkan untuk makan malam permaisuri Valenesh."
"Oh, iya, ya. Aku juga belum makan. Kalau begitu kita makan bersama ya Ansel!"
"Dengan senang hati," ucap Ansel sambil tersenyum.
__ADS_1
Lalu kedua mulai makan.
"Ekhem, makan nggak ngajak-ngajak. Mentang-mentang sudah bertemu teman masa kecilnya, lupa deh sama suaminya sendiri," sindir Henritz.
Valenesh langsung menoleh ke arah Henritz sambil tersenyum. "Sorry di sini makanan manusia langka, jadi harap yang bukan ras manusia mengalah saja."
Henritz tertawa mendengarnya.
"Vale, Vale. Apakah kamu lupa bawa suamimu ini bisa datang dan pergi ke alam manusia dengan satu kedipan mata saja?" Henritz berlagak sombong sambil mendekap kedua tangannya di depan dada.
"Ya, ya, ya. Kalau begitu apa tidak sebaiknya kita mengajak Kekey dan Zorro juga untuk makan bersama?"
"Ide yang bagus, melihat makanan lebih dari cukup untuk malam ini," ucap Henritz sambil mengangguk-angguk.
"Pelayan tolong panggil pangeran Zorro dan istrinya!"
"Baik Tuan Raja." Pelayan berkata sambil menunduk di depan Hendritz.
"Hmm, Pergilah!"
****
Kini Zorro dan Kekey pun ikut berkumpul di ruang makan istana. Sebelum makan, Kekey tampak bertanya-tanya pada Ansel mengenai perjalanan hidupnya selama ini dan Ansel pun menceritakan seperti halnya pada Valenesh tadi. Suasana terasa hangat malam itu.
"Sudah jangan banyak tanya lagi Key, kasihan Ansel sudah pasti lapar," ucap Valenesh.
Kekey mengangguk dan mereka pun fokus makan. Baru selesai makan, ada prajurit yang berlari-lari dan bersujud di depan kaki Henritz.
"Ada apa ini, kenapa kau menganggu makan malam kami?"
"Maaf Paduka Raja, pasukan manusia serigala menyerang kerajaan kita!" lapor prajurit itu dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa?!"
Tentu saja Henritz kaget mendapatkan penyerangan secara tiba-tiba seperti itu, sedangkan dia belum mempersiapkan para prajuritnya untuk bertempur.
__ADS_1
Bersambung.