KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 50. Ansel Tertangkap


__ADS_3

"Pengeran Terex apa yang kamu lakukan di situ!" teriak Henritz sambil menunjuk ke arah Terex yang menunduk dibalik peti yang membungkus tubuh Sharon.


Sontak saja Terex langsung kaget dan menatap Henrizt dengan gugup.


"Kau ingin membebaskan Sharon dan Rodex? Kau ingin menjadi pengkhianatan di kerajaan ini?!" bentak Henritz.


"Tunggu dulu Kak, aku tidak seperti yang kau pikirkan?"


"Tidak seperti yang kau pikirkan bagaimana? Apa yang kamu lakukan pada peti itu?"


"Peti ini? Aku tidak sedang mengurusi peti ini, tetapi mengurusi seorang penyusup!" seru Terex lalu menarik tangannya dengan kuat ke atas hingga seorang pemuda terlihat begitu jelas di mata Henritz.


"Dia?" Henritz terlihat syok. Dia menyesal menyebut nama Sharon, Rodex dan peti tadi karena ternyata pria yang tangannya dipegang oleh Terex sekarang adalah Ansel.


"Ya ampun dia pasti curiga kalau Sharon dan Rodex ada di dalam peti yang terpampang di depannya. Kenapa aku sampai membahas perkara Sharon dan peti sih?" Henritz termangu di tempat.


"Lepaskan aku!" Ansel menyentak tangannya yang dicekal oleh Terex. Terex yang lebih fokus pada Henritz akhirnya lengah dan pegangan tangannya terlepas begitu saja.


Ansel langsung kabur saat terlepas dari Terex.


"Kak!" seru Terex panik lalu mengejar Ansel.


Henritz pun langsung tersadar dan dengan sigap membantu Terex mengejar Ansel.


"Prajurit! Kejar dia!" perintah Henritz sambil menunjuk ke arah Ansel yang berlari semakin kencang.


"Kepung dari berbagai arah!" perintah pimpinan prajurit sehingga membuat semua prajurit langsung bersiap di tempat masing-masing.

__ADS_1


Mereka semua yang tadinya bersembunyi kini berdiri dan mengelilingi Ansel.


"Awas jangan sampai lepas! Pegang dia erat-erat untuk berjaga-jaga jika agan dia tidak menghilang!" seru Terex membuat Henritz langsung menoleh kepada Terex. Sepertinya Henritz memang harus mulai percaya dengan adik kandungnya itu.


"Aw lepaskan aku!" Ansel menyentak tangannya yang dicengkeram oleh salah satu prajurit istana.


"Tidak akan. Kami tidak akan melepaskan penyusup sepertimu!" geram Terex.


Terex dan Henritz langsung melangkah ke arah Ansel.


"Dimana kekuatanmu? Dulu kau dengan mudahnya membunuh ayah kami, tapi kenapa hanya dengan prajurit saja kau terlihat lemah?" cibir Henritz. Dia sangat membenci pembunuh dari Fanhouzan.


"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengenal Fanhouzan yang kalian maksud! Siapa dia dan mengapa kalian malah menuduhku macam-macam?" Ansel terlihat kebingungan.


"Waw aktingmu sangat bagus. Luar biasa! Pura-pura lupa ingatan dan lemah. Prajurit! Bawa dia ke dalam sel secepatnya! Jangan sampai mengulur waktu dan memanfaatkan keadaan lalu berhasil kabur dari tempat ini."


Henritz mengangguk dan semua prajurit langsung menyeret tubuh Ansel ke dalam sel.


"Lempar dia dan gembok kembali pintunya!" perintah Henrizt dan Terex yang berdiri di sampingnya hanya diam saja.


Brak!


Tubuh Ansel menubruk sesuatu di dalam sel. Entah benda apa karena keadaan sel dalam kondisi gelap dan kumuh.


"Tolong lepaskan aku! Aku tidak salah apa-apa!" seru Ansel dari dalam penjara. Namun, sayangnya Henritz sama sekali tidak ingin mendengar pembelaan dari pria yang telah membunuh ayahnya sekaligus mengincar nyawa Valenesh, istrinya.


"Perketat penjagaan dan jangan biarkan dia sampai lolos! Setelah satu bulan dia terkurung di sini kita akan memindahkan ke dalam peti mati layaknya Sharon dan Rodex. Maka siapkan peti yang bagus untuknya!"

__ADS_1


"Baik Pangeran! Titah Pangeran Henritz akan kami laksanakan."


Henritz mengangguk kemudian melenggang pergi.


"Pangeran Henritz!" panggil Terex, tetapi Henritz tidak menoleh sedikitpun.


"Kak! Kak Henritz!" panggilnya lagi, lalu dengan setengah berlari menyusul Henritz.


"Ada apa?" tanya Henritz dengan nada suara yang datar.


"Kenapa Tuan Ansel tidak langsung kita masukkan ke dalam peti saja?"


"Memang kenapa?" Ekspresi Henritz tetap tidak berubah.


"Agar kita tidak harus ketar-ketir memikirkan bisa kabur apa tidak."


"Penjara ataupun peti mati sama saja, jika ada satu saja pengkhianat diantara kita maka akan mudah baginya untuk lepas dari hukuman ini."


"Kau masih meragukanku? Kau masih mencurigaiku?"


"Bukan begitu, tapi aku hanya berjaga-jaga agar jangan sampai ada musuh dalam selimut di kerajaan ini."


Terex mengangguk meskipun dalam hati kecewa sebab kepercayaan Henritz padanya belum seutuhnya kembali.


"Satu alasan aku meletakkan Ansel dalam penjara agar dia menderita sebelum dibekukan. Sebelum akhirnya mengalami hibernasi di dalam peti yang sangat dingin seperti halnya Sharon dan Rodex."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2