KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 8. Diculik


__ADS_3

Sore menjelang petang, matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Namun, Valenesh belum kembali ke rumah membuat Henritz menjadi khawatir.


"Kemana sih Vale? Apa habis jalan-jalan langsung bekerja?" Henritz tampak merenung sambil menatap langit melalui kaca jendela ruang tamu.


"Nggak biasanya dia seperti ini, biasanya selalu izin jika mau kemana-mana. Apa aku harus ngecek ke rumah sakit ya? Ah, tidak-tidak, bisa-bisa dia berprasangka buruk terhadapku. Nanti aku disangka mau mencuri kantong darah, lagi."


Henritz berdiri dari duduknya lalu berjalan ke luar. Dia bermaksud menanyakan pada pak satpam barangkali pria itu tahu akan keberadaan Valenesh saat ini.


"Maaf Tuan Henritz saya juga tidak tahu. Nona Valenesh memang pergi tadi pagi, tapi tidak mengatakan akan kemana."


Jawaban pak satpam membuat Henritz menghembuskan nafas berat.


"Tapi mobilnya ada Pak?"


"Ya Nona Valenesh memang pergi dengan taksi."


"Aneh. Apa pak sopir tahu jadwal Valenesh di rumah sakit? Apakah malam ini dia ada jadwal masuk kerja?" tanya Henritz lebih lanjut, berharap pak sopir menjawab dengan kata 'iya'.


"Kalau setahu saya sih tidak Tuan, tapi terkadang Nona Valenesh bertukar shift dengan temannya yang bernama Smith."


"Oh begitu ya Pak?"


"Iya Tuan, maaf ikut campur. Memangnya kalian berdua ribut sehingga Non Valenesh tidak mau pulang?"


"Tidak Pak kami tidak memiliki masalah apapun, makanya bertanya pada pak satpam. Kali aja Valenesh nitip pesan pada Bapak."


"Tidak Tuan. Nona Valenesh tidak mengatakan apapun.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit ke dalam dulu, kalau sampai jam 9 tidak pulang saya baru akan menyusulnya ke rumah sakit."


"Baik Tuan."


Henritz kembali ke dalam rumah dan memilih menunggu di kamarnya sendiri sambil beristirahat. Dalam hati berharap jika dirinya ketiduran nanti aja dibangunkan oleh Valenesh seperti biasanya. Namun, jika tidak dimana pun Valenesh berada semoga saja baik-baik saja.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan Valenesh.


"Dimana sih kamu Vale?" Pria itu mulai khawatir lagi. Dia mondar-mandir di depan pintu rumah.


"Bodoh, kenapa aku tidak menyusul sekarang juga? Kenapa harus menunggu jam 9?" Tanpa pikir panjang lagi Henritz langsung melangkah keluar rumah.


"Kemana Tuan?"


"Ke rumah sakit untuk mengecek keberadaan Valenesh di sana. Kalau ternyata Valenesh pulang katakan saja saya mencarinya!"


"Siap Tuan."


Henritz pun menyetop taksi yang melintas di hadapannya.


"Harbour Hospital Pak!"


"Oke."


Sopir taksi pun melajukan mobilnya ke rumah sakit Harbour Hospital tanpa melihat seperti apa wajah penumpangnya.


Namun, saat tidak sengaja melihat wajah Henritz melalui kaca spion sopir taksi terlihat gemetar.


"Bapak kenapa? Kedinginan?" tanya Henritz melihat sopir taksi yang tidak seperti biasa. Yang tadinya begitu tenang malah menyetir mobilnya seperti ugal-ugalan.

__ADS_1


"Mas nya yang malam itu ya?" Sopir taksi memberanikan diri bertanya meskipun bibinya terlihat bergetar karena ketakutan.


Henritz mengernyit kemudian menatap wajah sopir taksi yang pernah dilihatnya itu.


"Mas nya boleh tidak membayar lagi asalkan jangan bunuh saya!" mohon sopir taksi dan hal itu membuat Henritz langsung mengingat bahwa taksi yang dinaikinya adalah taksi yang pernah ditumpanginya malam itu.


"Tiba-tiba Henritz teringat akan kertas yang diberikan oleh Valenesh.


"Berikan ini untuk membayar sesuatu."


Henritz merogoh saku jubahnya dan menyodorkan uang ke arah sopir.


"Apakah ini cukup untuk membayar dengan yang malam itu?"


Sopir taksi tidak berani menoleh hanya melirik saja pada uang kertas yang disodorkan.


"Kau punya uang? Jadi kau bukan hantu?"


"Bukan Pak saya vampir," sahut Henritz keceplosan.


Sopir taksi malah lebih kaget lagi.


"Ampun jangan hisap darah saya!" Tubuhnya tambah bergetar ketakutan membuat Henritz langsung tersadar dengan apa yang diucapkan.


"Ha-ha-ha, Bapak lucu sekali kalau berekspresi seperti ini."


Ketakutan sopir bertambah 3 kali lipat mendengar Henritz tertawa.


"Tidak Pak saya hanya bercanda," ucap Henritz kemudian.


"Kalau hantu atau vampir memang punya uang manusia?"


Sontak saja Pak sopir langsung mengambil uang dari tangan Henritz dan memeriksanya.


"Ini bukan uang palsu, kan?"


"Periksa sendiri!" perintah Henritz.


Sopir taksi pun langsung memeriksanya.


"Iya ya, ini uang asli semoga saja nanti tidak berubah menjadi daun," gumamnya dan Henritz hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan sopir taksi.


"Mana bisa berubah daun, toh itu uang Valenesh," batin Henritz.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan rumah sakit Harbour Hospital. Sebelum menghentikan mobil terlebih dahulu sopir melirik ke arah Henritz.


"Ternyata masih ada."


"Saya waktu itu terpaksa keluar duluan sebelum taksi berhenti karena kebelet ingin buang air," jelas Henritz yang seolah mengerti perasaan dan ketakutan sopir tersebut.


"Oh saya pikir ...."


"Hantu? Saya bukan hantu. Sudahlah saya turun saja."


Sampai Henritz melangkah ke arah rumah sakit pun sopir taksi belum juga melajukan mobilnya.


"Hah ternyata dia menapak tanah," ujarnya lalu menyetir mobilnya kembali.

__ADS_1


Henritz terus melangkah dan menanyakan keberadaan Valenesh pada pihak rumah sakit.


Namun, jawaban orang yang satu dengan orang yang lainnya ternyata sama. Mereka sama-sama mengatakan bahwa Valenesh saat itu sedang tidak berada di rumah sakit.


Meskipun demikian Henritz masih saja mengecek ke ruangan Bank Darah.


"Terus Valenesh ada dimana sekarang kalau tidak ada di sini?" Henritz keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai padahal dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Siapanya Valenesh sih Dia, kok ganteng amat?"


Yang ditanya hanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Namun, pandangan matanya tidak mau lepas dari wajah Henritz.


Lepas dari area rumah sakit Henritz dihadang oleh dua orang.


"Hei lihatlah dia! Semakin lama tinggal di dunia manusia dia semakin kelihatan bodoh seperti manusia, hahaha." Rodex tertawa renyah.


Henritz yang menunduk langsung mengangkat muka.


"Kalian?!"


"Kenapa? Kaget ya Henritz, kakakku tersayang? Kami bisa kemanapun yang kami inginkan. Bolak-balik dunia vampir dan manusia 10 kali dalam sehari pun tidak masalah. Tidak sepertimu yang tidak bisa kembali ke dunia vampir," sambung Terex lalu ikut menertawakan Henritz.


"Miris sekali nasibmu Henritz, bukannya mencari darah murni malah terjebak dengan manusia bodoh seperti ... siapa Terex?"


"Valenesh, hahaha. Manusia tidak berguna yang membuat dia lupa dengan asalnya padahal beberapa hari ini kau yang akan diangkat menjadi raja vampir menggantikan ayah. Kasihan dia Rodex, dia sudah tidak berdaya, hahaha."


"Aku tidak perduli dengan tahta, bagiku hidup di dunia manusia dengan orang yang aku cintai lebih berharga dari apapun."


"Oh ya?" tanya Rodex dengan ekspresi mengejek.


"Ya dan kau ambil alihlah kerajaan dan bantu rakyatmu yang sedang kelaparan itu. Saya tidak yakin kalian bisa mencukupi kebutuhan mereka akan darah mengingat semua intisari makanan mereka sudah dicuri semua oleh manusia Serigala," ucap Henritz dengan ekspresi datar. Bodoh amat dengan jabatan yang terpenting di hati Henritz saat ini adalah ingin selalu bersama Valenesh.


"Hahaha, kau pikir aku bodoh seperti dirimu. Kau bisa lihat sendiri nanti, bahkan saat ini pun rakyatku masih makmur dibawah kekuasaanku. Sayangnya kau tidak akan pernah melihatnya," ucap Rodex begitu sombongnya.


"Sudahlah jangan halangi aku untuk mencari Valeneshku!" Henritz menabrak tubuh Rodez dan Terex hingga keduanya hampir terpental.


"Rodex apa sih istimewanya wanita yang bernama Valenesh itu?" tanya Terex.


"Tidak ada hanya Henritz saja yang bodoh. Eh tapi bagaimana kalau kita kerjai dia?" Rodex tersenyum devil.


"Boleh-boleh, caranya?" Terex terlihat antusias. Dia sangat membenci Henritz karena semasa hidup ayahnya, kakaknya itu yang selalu dipuji dan dimanja oleh Fanhouzan. Terex merasa seperti dianak tirikan.


"Kita culik Valenesh dan kita bawa ke dunia kita. Bukankah dunia vampir sudah tak terjangkau oleh Henritz? Dia pasti akan menangis saat tahu kekasihnya tidak bisa kembali."


"Ide yang bagus. Kalau begitu kita cari wanita itu sebelum ditemukan oleh Henritz."


"Let's go!" Mereka berdua pun terbang sambil melihat-lihat ke bawah.


"Tunggu Rod, bukankah dia wanita yang dimaksud?"


"Waw penglihatanmu tajam sekali. Ayo kita turun!"


Keduanya pun turun di samping Valenesh membuat wanita itu kaget karena melihat sesuatu yang turun dari atas.


"Betul dialah wanita yang bersama Henritz, ayo tangkap dia!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2