
"Jangan hentikan aku! Mereka berdua harus dikasih pelajaran!" Zorro mendorong tubuh Kekey hingga terbentur lantai.
"Auw, Zorro, kau benar-benar otak kosong ya!" Kekey menarik tangan Zorro dengan kuat.
"Lepaskan tanganku!" geram Zorro karena kesal dengan Kekey yang ingin ikut campur atas masalah keluarganya.
"Ibu siapa itu di luar?" suara berisik mereka kedengaran di telinga Rodex.
"Biar ibu periksa." Sharon bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.
Bug.
Saat itu pula Kekey berhasil menarik Zorro ke dalam kamar pria itu dan mendorongnya ke atas ranjang.
"Kau! Kenapa kau membawaku ke sini?" kesal Kekey sambil menatap tajam mata Kekey.
"Tarik nafas hembuskan dan duduk dulu!"
"Kenapa kau jadi memerintah diriku?"
"Sttt!" Kekey memberikan kode agar Zorro diam saat suara langkah seseorang terdengar di luar.
Meskipun tidak suka dengan sikap Kekey terpaksa Zorro menurut karena merasa ada seseorang yang menuju ke kamarnya.
"Sembunyi!" Zorro mendorong tubuh Kekey dengan kuat hingga gadis itu terbelalak.
"Dasar vampir kasar, kau sangat jauh berbeda dari Henritz," batin Kekey tetapi tidak lupa matanya mencari persembunyian yang aman. Melihat ranjang Zorro yang tinggi dengan sprei menjuntai ke lantai segera Kekey masuk ke dalamnya.
"Pangeran Zorro!" Terdengar suara Sharon di pintu diiringi suara ketukan.
"Iya Ibu, sebentar!" Zorro memastikan keadaan persembunyian Kekey terlebih dahulu sebelum akhirnya membuka pintu.
"Aman," gumamnya sambil merapikan sprei kasurnya lalu melangkah ke arah pintu.
Kreeet.
Pintu terbuka menampakkan sosok Sharon yang berdiri siaga.
"Kenapa lama membuka pintunya?" Wanita itu menatap Zorro dengan curiga.
"Itu ... Ibu, saya tadi tertidur." Zorro terlihat menguap beberapa kali. "Ibu ada apa menganggu tidur Zorro? Tapi bagus juga sih sebab tadi Zorro bermimpi buruk hingga terjatuh dari atas ranjang."
"Oh jadi itu tadi suaramu jatuh, saya pikir ada apa-apa."
Zorro hanya mengangguk.
"Yasudah kalau begitu lanjutkan tidurmu jika masih merasa kurang."
"Terima kasih atas pengertiannya Ibu."
"Ya." Sharon melenggang pergi dan Zorro langsung mengunci pintu.
"Ah akhirnya." Zorro menyingkap sprei dan memberi kode dengan tangan agar Kekey keluar dari persembunyian.
"Sudah pergi wanita licik itu?" tanya Kekey sambil melangkah ke arah pintu dan memeriksa ke luar melalui celah jendela.
"Iya," jawab Zorro dan Kekey mengangguk.
"Lain kali kalau mau bertindak pikirkan dulu matang-matang," ucap Kekey lalu melompat ke atas kasur dan duduk dengan tenang.
Zorro hanya terdiam lalu duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
"Kalau sampai tadi kau menyerang mereka saya yakin vampir yang menghuni seluruh istana akan ikut menyerangmu."
"Kenapa kamu begitu yakin? Apa kamu tahu menahu tentang kerajaan ini?" Zorro menatap Kekey curiga.
"Tidak usah berprasangka buruk! Dari sikapmu yang tidak berani menunjukkan keberadaanku di sini sudah jelas terbaca kalau kau tidak ada kuasa di tempat ini." Perkataan Kekey sedikit menusuk ke dalam hati Zorro. Namun, pria itu tidak memungkiri bahwa perkataan Kekey adalah yang sebenarnya terjadi.
"Hah! Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apakah membiarkan kedua orang licik itu terus berkuasa di istana ini sementara aku sudah mengetahui bahwa mereka adalah dalang dari pembunuhan ayahanda?!"
"Oh tentu saja tidak, orang jahat harus dimusnahkan dari muka bumi begitupun dengan vampir jahat. Pengkhianatan adalah kejahatan yang paling besar. Hanya saja kau butuh waktu untuk menyusun strategi atau paling tidak mencari teman untuk melakukan penyerangan."
"Kau benar, tapi siapa yang akan aku ajak sedangkan Terex pasti memihak pada mereka karena akan menganggapku mengada-ada saja."
"Terex itu siapa?" tanya Kekey penasaran.
"Adik kandungku beda ibu dan sama dengan Henritz. Oh aku tahu siapa yang harus aku ajak kerjasama, Henritz."
"Tepat sekali, itulah yang aku maksud tadi. Sepertinya kau dan Henritz memiliki tujuan yang sama, yaitu memusnahkan cecunguk-cecunguk itu dari istana ini, kalau perlu dari muka bumi sekalian."
Zorro terlihat diam. Kedekatannya dengan Henritz selama ini sudah renggang. Hubungan persaudaraan mereka sudah tidak baik.
"Harus 100 kali ya kamu berpikir?" protes Kekey melihat Zorro lamban.
"Bukan begitu, tapi aku tidak tahu harus mencari Hendritz ke mana," kesal Zorro sebab sepertinya Kekey selalu ingin menyudutkan dirinya dan secara tidak langsung mengatakan Zorro itu bodoh.
"Aku tahu dimana Henritz berada saat ini, biar aku antar."
"Hah tidak salah kau ingin mengantarku?"
"Yah tentu saja, tapi setelah kau membawaku ke alam manusia."
"Kau ingin membantu atau ingin menipuku!" Kalimat Zorro terdengar meragukan Kekey.
"Astaga! Ini vampir mengesalkan banget! Aku itu menawarkan hubungan mutualisme. Aku bisa kembali ke alamku dan kau bisa menemui Henritz di sana. Masihkah ada perhitungan lagi? kau benar-benar vampir payah. Pikir terus sampai kiamat datang!" kesal Kekey.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi jika benar aku membawamu ke sisi Hendritz maka kau harus melepaskanku, dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi!"
"Baiklah."
"Oke deal ya?"
Zorro mengangguk dan berkata, "Mari kuantar ke alam manusia!"
"Mari kuantar pada Henritz!"
Zorro mengubah wujudnya menjadi burung elang.
"Waw kau ngeri juga bisa berubah seperti ini," ucap Kekey.
"Sudahlah jangan banyak berkomentar, segeralah naik ke punggungku agar kau aman dan nyaman saat aku membawamu terbang."
"Hah baiklah." Tidak ada cara lain bagi Kekey selain menurut perintah Zorro daripada harus menunggu Henritz yang tidak tentu kapan akan menjemput.
***
Di rumah Kekey para karyawan hotel dan beberapa perusahaan milik orang tua Kekey memenuhi rumah besar itu mendengar kabar kematian pemilik tempat kerja mereka.
"Tuan, apakah prosesi yang akan diambil. Pemakaman ataukah kremasi untuk Nona Valenesh?"
"Iya Tuan biar kami bantu uruskan," timpal yang lain.
"Apa yang kalian katakan? Siapa yang mengatakan Valenesh-ku mati, hah? Pak satpam sini!" Henritz berkata dengan suara keras dan dengan wajah yang terlihat murka.
__ADS_1
"Iya Tuan Henritz?" Meski tidak merasa melakukan kesalahan tetap saja pak satpam takut melihat wajah Henritz yang memerah dengan tatapan mata sangar dan menusuk.
"Hen, jangan!" Andrew memperingatkan sebab khawatir Henritz akan mengisap darah pak satpam di hadapan orang banyak. Selain mencurigai pak satpam yang telah menyebarkan berita kematian Valenesh, Henritz sudah lama tidak mengonsumsi darah manusia.
Henritz mengangkat tangannya dan menyalurkan tenaga dalam hingga benda-benda yang berada di ruangan itu bergerak ke udara dan saling bergesekan disertai angin yang berhembus kencang.
"Wah dia memiliki kemampuan telekinesis. Siapa Tuan Henritz sebenarnya?" Orang-orang panik dan berlarian keluar.
"Hen hentikan! Kau menakuti semua orang. Apakah kau ingin menunjukkan pada semuanya bahwa kau bukanlah–"
Brak.
Benda-benda di udara berjatuhan dengan keras sebelum Andrew menyebut kata manusia.
"Kau jaga Valenesh! Aku akan mencari obat!" Setelah mengatakan hal itu Henritz langsung menghilang tanpa mendengarkan persetujuan terlebih dahulu dari Andrew.
Pak satpam melongo melihat Henritz menghilang begitu saja sedangkan Andrew hanya bisa menggelengkan kepala sebab setelah kematian Valenesh, Henritz menjadi tidak fokus dan sering teledor menunjukkan kekuatannya sehingga akan membuat orang lain curiga tentang siapa dia sebenarnya.
Untung saja saat ini orang-orang sudah berada di luar terkecuali hanya pak satpam dan Andrew yang masih berdiam diri di dalam ruangan.
"Hen!" Sampai di suatu tempat Kekey melihat Henritz di padang rumput yang hijau.
"Zorro turun di sini, itu Henritz ada di bawah."
"Siap." Zorro langsung menurunkan Kekey di hadapan Henritz dan Zorro langsung berubah wujud kembali.
"Kalian?" Henritz terlihat kaget.
"Ngapain kamu ke sini?" Henritz menatap kedatangan Zorro dengan ekspresi tidak suka.
"Aku datang kemari untuk mengajak kerjasama," jelas Zorro.
"Oh setelah bekerja sama menyingkirkanku dari istana sekarang kau ingin mengajakku bekerja sama? Apa kau lebih berambisi daripada Rodex dan sekarang kau ingin mengatakan bahwa kau ingin merebut tahta darinya?!" Henritz tersenyum sinis.
"Menjadi seorang raja tidak pernah terlintas di dalam otakku. Aku pikir lebih baik menjadi seorang vampir biasa daripada harus menjadi pemimpin yang tanggung jawabnya sangatlah besar. Aku ke sini hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah tahu siapa dalang di balik terbunuhnya ayahanda kita."
"Jawabannya aku, kan? sudah dari dulu kalian mengatakan aku yang membunuh ayahanda walaupun diriku sudah lelah membela diri."
"Bukan, tapi Rodex dan Ibunda Sharon."
"Apa kau bilang? Kau tidak bisa bicara tanpa bukti Zorro! Jangan ulangi apa yang kamu lakukan padaku pada yang lainnya. Jangan suka menuduh sembarangan!"
"Aku memang tidak punya bukti Hen, tapi aku punya saksi," ucap Zorro sambil melirik ke arah Kekey dan Kekey hanya menggangguk.
"Apa yang kau ketahui Key?" Kini Hendritz menatap ke arah Kekey dengan ekspresi wajah serius.
"Apa yang dikatakan Zorro itu benar Hen, dan kamu tahu siapa itu Rodex?"
"Saudara seayah kami," jawab Henritz.
"Bukan," ucap Kekey dengan mantap.
"Maksudmu?"
"Dia adalah putra dari Ansel sehingga mereka berdua bekerjasama dengan Ansel untuk membunuh ayahmu," terang Kekey.
"Key, kau jangan main-main!"
"Tidak Hen, aku berkata benar. Aku mendengar pembicaraan mereka dengan telinga sendiri."
"Kalau begitu kita ke istana sekarang." Henritz berkata dengan ekspresi sangat marah. Kedua tangannya terlihat mengepal.
__ADS_1
"Kubunuh mereka berdua!"
Bersambung.