KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 60. Pertempuran


__ADS_3

"Zorro, beritahu para menteri dan suruh semua prajurit untuk bersiap-siap! Aku akan keluar duluan untuk menghadapinya."


"Baik," sahut Zorro, pria itu langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Kalian bertiga bersembunyi lah dan jangan menampakkan wajah kalian di depan Tuan Lord!" perintah Henritz.


"Hen!" Valenesh memegang lengan Henritz dan menahan pria itu untuk pergi.


"Vale, kau jangan khawatir, kita akan memenangkan pertempuran kita." Henritz menatap mata Valenesh lalu mengecup bibir sang istri.


"Aku harus pergi, kau jaga diri baik-baik, sebab bisa saja salah satu prajurit Tuan Lord menyusup ke dalam istana dan berbuat jahat padamu. Kekey, Ansel, aku titip Valenesh dan putraku pada kalian."


Keduanya mengangguk.


Valenesh hanya terdiam, rasanya tidak rela Henritz pergi, tapi untuk mencegah pun tidak berani sebab adalah tanggung jawab Henritz untuk mempertahankan keamanan kerajaan.


"Hen!"


"Ada apa lagi Vale? Tenanglah aku akan kembali dengan selamat, percayalah," ucap Henritz sambil mengusap pundak Valenesh yang bergetar karena takut dan khawatir.


"Ambil darahku Hen, hisaplah! Hanya itu yang bisa aku berikan padamu. Aku tidak bisa membantumu."


Henritz menggeleng.


"Tidak Vale, aku tidak ingin membuatmu tersiksa.


Kehamilanmu saja sudah cukup membuat dirimu selalu kekurangan darah, apalagi jika ditambah aku juga menghisap darahmu, bisa-bisa kamu pingsan dan sakit."


"Tidak apa-apa Hen, ambillah sekiranya itu diperlukan untukmu. Ini bukan lagi pertarungan kecil Hen. Ini adalah pertempuran besar-besaran, dan nyawamu yang menjadi taruhannya. Aku tidak ingin anak kita kehilangan ayahnya sebelum terlahir ke dunia ini."


"Aku hanya butuh doamu Vale, dan setelah itu yakinlah bahwa aku akan selamat."


Akhirnya Valenesh mengangguk dan melepas kepergian Henritz walaupun dalam hatinya belum begitu ikhlas.


"Hen jika kau butuh kembalilah!" seru Valenesh dan Henritz langsung mengangguk kemudian pergi.

__ADS_1


Beberapa prajurit sudah siaga di luar.


"Mereka berusaha membobol pintu masuk ke dalam istana," ucap seorang menteri.


"Kita hadapi saja," ucap Henritz yang kini sudah siap dengan baju besinya.


"Jangan lupa memakai pakaian pelindung karena mereka bisa saja membawa pistol yang dicuri dari alam manusia!" Henritz memperingatkan sebelum akhirnya mereka keluar dari pintu gerbang istana.


Di luar gerbang, di hadapan mereka semua, berdiri para prajurit berbulu dengan senjata di tangan. Senjata berbentuk tabung memanjang dan mengeluarkan cahaya merah seperti lightsaber dalam dunia game, tetapi yang membedakan adalah ujungnya yang terlihat runcing. Prajurit itu semakin berjalan mendekat.


"Ingat, senjata yang mereka pegang itu sangat berbahaya. Tidak hanya ujungnya yang bisa menebas leher dan tubuh kita tetapi, bagian yang mengeluarkan cahaya juga bisa memotong benda apa saja yang dikenainya karena memancarkan bilah energi murni dari gagang logamnya."


"Terus apa yang harus kita lakukan?"


"Menyerang dan menghindar, itulah yang perlu kita lakukan dalam pertempuran ini. Jangan sampai tubuh kita menyentuh pedang tersebut. Warna merah menyala itu akan berubah menjadi hijau jika sudah memakan korban."


"Baik!" seru para prajurit serentak.


"Panglima apakah sudah menyediakan alat tempur untuk menghadapi mereka?"


"Sudah Paduka Raja. Ini bowcaster yang bisa menembakkan laser dengan kekuatan besar," ucap panglima tersebut sambil menunjukkan benda yang nampak seperti senjata pemanah.


"Ada Paduka." Seorang menteri menunjukkan senjata Flechette Launcher, sebuah senjata berbentuk silinder yang ukuran panjangnya hanya sekitar 50 cm.


"Apa itu?"


"Ini adalah senjata yang bisa mengeluarkan ribuan panah sehingga langsung bisa membasmi satu pasukan dalam waktu cepat."


"Hmm, baiklah. Kita gunakan itu jika kondisi kita nanti terdesak, dan ingat jika salah satu dari pasukan kita ada yang menggunakan alat ini kalian semua langsung menghindar."


Mereka semua mengangguk, sangat-sangat paham dengan arahan Henritz.


"Bagaimana, sudah siap?" tanya Henritz.


"Siap!" jawab semua pasukan vampir yang ada di tempat itu.

__ADS_1


Pintu gerbang di buka dan para prajurit dipimpin panglima perang langsung bertarung ke medan pertempuran.


"Kalian harus berjaga-jaga, jangan sampai ada salah satu dari mereka yang berhasil menyusup masuk ke dalam istana. Riskan kalau sampai mereka masuk dan menculik permaisuri Valenesh, karena masa depan kerajaan ini berada di tangan putra kami."


"Baik Paduka, kami paham."


Satu jam berlangsung, belum ada korban yang berjatuhan, ternyata anak buah Henritz benar-benar mengindahkan peringatan darinya.


"Saya salut dengan prajurit kita, mereka menggunakan pedang biasa, tapi tidak kalah dengan prajurit Tuan Lord," ucap Henritz begitu bangga.


"Hei kamu harus mati sekarang! Tiba-tiba pria yang menyerupai Ansel itu melompat ke arah Hendritz dan langsung mengayunkan pedangnya ke leher Henritz.


Untung saja Henritz sempat menghindar karena pedang yang dipegang oleh Tuan Lord berbeda dengan pedang yang dipegang oleh para prajuritnya. Jika pedang yang dipegang para prajuritnya itu bisa menebas benda apa saja yang dikenainya, maka pedang yang yang dipegang oleh Tuan Lord ini juga mengandung racun pada ujungnya.


"Kau yang harus mati!" tegas Henritz dan ikut mengayunkan pedang di tangan.


Keduanya cukup lama bertarung dan Henritz selalu bisa menghindar dari tebasan pedang itu karena dirinya menggunakan jurus seribu bayangan untuk mengecoh Tuan Lord, sedangkan Tuan Lord sendiri, beberapa kali terkena sayatan dari pedang Henritz, namun karena bulu tubuhnya yang sangat tebal tidak meninggalkan efek apapun. Pria itu seperti pria yang kebal dengan senjata.


Tidak lama setelah itu prajurit banyak yang berjatuhan, baik dari pihak kerajaan vampir maupun dari pihak kerajaan manusia serigala.


Seorang menteri langsung mengunakan bowcaster saat melihat prajuritnya terdesak karena prajurit dari manusia serigala itu menyerang dengan membabi buta.


"Minggir!" teriaknya sambil mengarahkan laser ke udara. Prajurit yang mengerti dengan kode itu langsung berkumpul ke arah pinggir dan bersamaan itu laser dengan berkekuatan besar mengarah ke pihak musuh.


"Ah mataku sakit!" Banyak dari mereka yang mengerang kesakitan. Serangan laser dengan kekuatan luar biasa tidak hanya membuat mata mereka sakit, melainkan tubuh mereka juga panas, dan beberapa di antara mereka terlihat kulitnya melepuh.


"Permaisuri Valenesh diculik!" teriak seseorang sehingga membuyarkan fokus Hendritz saat bertarung.


"Vale?"


Sraak!


Dada Henritz terkena sabetan pedang dari Tuan Lord. Seketika panglima perang dari kerajaan vampir langsung mengangkat tubuh Henritz dan membawanya kabur agar tidak terkena sabetan pedang yang kedua kalinya.


"Menghindar!"

__ADS_1


Para prajurit langsung meninggalkan tempat dan berlari masuk ke dalam pintu gerbang, bersamaan dengan itu seorang menteri langsung mengunakan senjata Launcher nya sehingga banyak anak panah yang menyerang pihak musuh dan beberapa anak panah itu mengenai Tuan Lord yang saat ini sedang panik.


Bersambung.


__ADS_2