KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 58. Tabir Yang Terkuak


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi Vale, biarlah kau harus tahu kenyataan yang sebenarnya, meskipun pada akhirnya, kau akan membenci diriku."


Valenesh hanya diam, tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Henritz.


"Ayolah kita temui Ansel saat ini juga. Entah kenapa aku yakin dia mengetahui kebenarannya."


Valenesh mengangguk dan akhirnya menerima genggaman tangan Henritz meskipun dengan tangan sedikit gemetar. Dia merasa bersalah jika masih mencintai Henritz, tetapi tidak dapat dipungkiri dia masih belum bisa melepaskan cinta terhadap pria yang menjadi suaminya itu.


"Semoga saja Ansel benar-benar tahu segalanya," batin Henritz. Entah kenapa dia tidak yakin bahwa panah yang dia lepaskan waktu itu berbelok arah begitu saja.


Mereka berdua, dengan diikuti beberapa pengawal turun ke penjara bawah tanah dan menemui Ansel yang sudah terlelap di lantai penjara.


"Tuan Ansel! Tuan Ansel!" Seorang menjaga penjara memanggil-manggil nama Ansel sambil mengetuk-ngetuk palang besi sehingga menimbulkan suara yang berisik sekali.


Ansel yang mendengar suara itu terlonjak kaget dan langsung bangun dan tidurnya.


"Ada apa Tuan Lord, apakah belum cukup hukuman yang kau berikan padaku? Ingat apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah menjadi seperti yang kau inginkan."


"Dia beneran Ansel?" Mendengar suaranya saja Valenesh langsung terbayang ke masa silam, masa-masa saat mereka sama-sama kecil, dimana keduanya masih sangat akrab sekali. Namun, kemudian berubah tatkala Tommy meninggal. Valenesh dan Ansel seperti dia manusia yang tidak saling mengenal.


"Pencahayaan!" seru Henritz Meninta penjaga menerangi penjara itu kembali. Sedetik kemudian di tempat itu terlihat terang benderang.


Valenesh kaget saat melihat di dalam penjara, duduklah seorang pria dengan wajah persis seperti Ansel, namun dengan tubuh yang kurus sekali dan rambut yang nampak acak-acakan. Seorang pria yang benar-benar tidak terurus.


"Kau benar-benar Ansel?" ulangnya sambil mendekat ke sisi penjara.


"Benarkah kau Valenesh putri paman Tommy?" tanya Ansel dengan mata yang berkaca.

__ADS_1


"Ya." Valenesh menjawab sambil menatap iba Ansel. Dari tatapan matanya terlihat sekali Ansel sangat menderita.


"Kau kemana saja?" Tidak ada lagi kecurigaan lagi bahwa Ansel yang kini berada di hadapannya adalah Ansel yang selama ini selalu ingin mencelakai dirinya dan Hendritz.


"Aku, berada jauh dari bangsaku. Seseorang membawaku ke tempat nan jauh dan menyekapku di sana. Entahlah, apakah negeri ini yang aku pijak selama hampir 20 tahun, ataukah ini adalah negeri yang berbeda?"


"Hen?" Valenesh meminta pendapat Henritz, rasa marah pada sang suami lenyap seketika.


"Kau disekap dimana?" tanya Henritz untuk memastikan apakah selama ini Ansel berada di negeri vampir, ataukah di negeri yang lainnya lagi.


"Di dalam penjara dimana banyak timah-timah panas dan mendidih. Mereka terkadang meneteskan setitik pada tubuhku. Walaupun setetes, rasanya sangat menyiksa. Orang-orang yang menemuiku dalam keadaan berbulu lebat. Mereka menertawakan dan meledekku dengan cara meneteskan timah panas itu ke tubuhnya sendiri, namun tidak berefek apapun."


"Kalau aku tebak itu adalah penjara istana manusia serigala," ujar Henritz.


"Hen, bagaimana kau bisa tahu itu semua?" Valenesh nampak ragu.


"Dulu ayahku pernah mengajakku menyusup ke istana manusia serigala saat raja di sana menculik ibunda Revanna. Saat itu tidak sengaja kami masuk di depan penjara. Untungnya kami waktu itu bisa menyelamatkan ibunda dan membawanya kembali ke istana vampir. Namun, sekarang sepertinya istana itu sudah disegel sehingga aku tidak bisa memasukinya lagi. Kalau benar, kenapa kau bisa lepas dari istana itu?"


Henritz mengangguk-anggukkan kepala. Di otaknya langsung terlintas wajah wanita dari bangsa manusia serigala yang pernah menjadi teman dan juga sering menolongnya tempo dulu.


"Val, kau tahu? Setiap hari aku dipaksa untuk meminum darah dan jika tidak mau, maka aku dipukul dengan tongkat besi. Badan ini sering remuk karena aku memilih membuang darah-darah itu ketimbang membiarkan masuk ke dalam mulutku."


"Kenapa kau tidak bertanya, mengapa mereka sampai melakukan ini padamu Ansel?" tanya Valenesh penasaran.


"Mereka hanya mengatakan bahwa menginginkanku mati, tapi sayangnya aku tidak mati-mati juga. Oleh karena itu mereka menyiksaku secara berlebihan, berharap setelah melakukan itu maka aku akan menjadi orang gila."


"Sungguh kejam mereka," ujar Valenesh sambil mengusap air matanya yang tak bisa terbendung lagi.

__ADS_1


"Pangeran, izinkan aku memeluk Valenesh!" pinta Ansel.


"Tidak boleh, apa jaminannya jika kau tidak akan berbuat jahat pada Valenesh?"


Bagaimana pun Henritz harus berjaga-jaga. Jangan sampai lengah dan Ansel mencelakai Valenesh dan calon bayinya. Henritz pikir bisa saja Ansel mengubah penampilan dan berakting seperti ini, sehingga melemahkan pertahanan mereka.


Ansel bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah pintu penjara.


"Ini," ucapnya sambil memegang kalung di lehernya.


Sontak saja Valenesh dan Henritz kaget melihat kalung dengan liontin yang sama dengan yang dipakai Valenesh. Saking tidak percayanya mereka berdua langsung mengecek kalung milik Valenesh yang ternyata masih menggantung di leher wanita itu.


"Kenapa kalian heran? Aku mendapatkan kalung ini dari paman Tommy ketika beliau mengajakku pergi ke istana vampir untuk menemui raja Fanhouzan waktu diriku masih kecil."


Tentu saja kekagetan keduanya bertambah, lebih-lebih Henritz yang melihat kenyataan bahwa Ansel ini pernah datang ke istana vampir sebelumnya. Apalagi kedatangannya bersama Tommy membuat Henritz merasa ada angin segar untuk bisa mengungkap keanehan yang mengganjal di kepalanya selama ini.


"Semoga saja Ansel tahu sesuatu," batin Henritz.


"Kalung ini paman titipkan padaku, dan beliau meminta agar aku memberikannya kelak pada putra Valenesh. Beliau tahu, akan ada orang yang memburu anak itu dikarenakan anak itu bisa membunuh musuh dari negeri ayahnya, dan aku tebak musuh itu adalah Ansel palsu. Ansel palsu adalah raja Lord yang menginginkan aku mati atau gila, agar tidak dapat bercerita bahwa sebenarnya yang membunuh paman Tomi adalah dia sendiri dengan cara memanah anak panah Henritz hingga berbelok arah."


Mendengar cerita Ansel, Valenesh menjadi tertegun, sedangkan Henritz tersenyum tipis.


"Akhirnya ada juga yang mengetahui kenyataanya meskipun kabar yang beredar adalah rekayasa seseorang. Jujur, meskipun Henritz tidak yakin panah itu berubah arah begitu saja, tetapi tidak ada bukti yang bisa membebaskan dirinya dari tuduhan itu, sehingga ia pun harus rela menerima hukuman berat dari ibundanya sendiri tanpa ingin mendengar penjelasan sedikitpun dari Henritz. Saat ini Henritz baru tahu, ternyata Revanna bukan hanya marah karena Henritz dianggap membunuh orang, tetapi juga telah membunuh pria yang dicintainya.


"Ah ibu, semoga kau tenang di alam sana."


"Valenesh boleh aku memelukmu? Aku merindukanmu Valenesh!"

__ADS_1


Perkataan Ansel membuyarkan lamunan Henritz dan Valenesh.


Bersambung.


__ADS_2