KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 24. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

"Minggir! Aku tidak ada urusan denganmu." Ansel mendesak tubuh Kekey yang menghalangi jalannya hingga tubuh Kekey oleng ke samping.


"Aku ke sini hanya ingin menjenguk Valenesh," ujar Ansel lalu duduk di samping ranjang.


"Bagaimana keadaanmu Val?" tanya Ansel berbasa-basi. Maaf baru mendengar kalau kamu sedang sakit."


"Tidak apa-apa," jawab Valenesh dengan tatapan datar.


"Maaf juga telah memecatmu, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal itu, tetapi terpaksa karena sebagai pemilik rumah sakit aku harus profesional. Kalau tidak semua pekerja di sana akan mengatakan aku lalai."


"Tidak masalah Tuan, aku bahagia kok keluar dari rumah sakit itu. Dengan begitu aku lebih punya banyak waktu untuk diri sendiri. Apalagi dengan begitu aku bisa fokus pada club sepakbola milikku."


"Oh ya Val, selamat ya kamu sudah berhasil mewujudkan salah satu cita-citamu untuk memiliki club yang sukses. Saya dengar-dengar Club milikmu sudah menang di beberapa pertandingan liga domestik baik saat di kandang maupun tandang."


"Terima kasih An."


Anne terlihat mengangguk.


"Sayangnya aku dengar pertandingan terakhir kemarin kalah, semoga saja terus merosot dan kamu bangkrut, hahaha," batin Anne diiringi tawa dalam hati.


"Oh ya saya sengaja datang bersama dengan Tuan Ansel agar sekalian dia bisa memeriksa keadaanmu. Mau 'kan diperiksa oleh Tuan Ansel? Hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai permintaan maaf karena terlambat menjengukmu sebab beberapa bulan ini kami benar-benar sibuk."


"Alasan!" ketus Kekey dan Anne sama sekali tidak memperdulikan ucapan wanita itu.


"Bagaimana Val? Sebagai sahabatku saya sangat ingin kau sembuh dan sehat seperti dulu."


"Jangan mau Val, banyak dokter yang lebih ahli dari dokter Ansel tidak bisa menanganimu apalagi cuma dokter seperti dia," ucap Kekey masih dengan suara ketus dan seolah meremehkan dokter Ansel.


"Orang seperti dia nih yang bisa memperlambat kesembuhanmu. Sebenarnya dia ingin kamu sembuh atau tidak sih? Asal kamu tahu saja ya Val biasanya teman yang seperti itu ada niat jahat yang terselubung terhadapmu."


Sontak perkataan Anne membuat Kekey naik pitam.


"Hei wanita yang baru sadar dari amnesia! Sudah ingat sekarang bahwa kamu punya sahabat?" Kekey menatap sinis ke arah Anne.


"Kalau aku memang punya niat terselubung atau ingin mencelakai Valenesh sudah dari kemarin-kemarin aku membunuhnya. Bukankah sangat muda bagiku untuk mencelakai seseorang yang sedang sekarat? Sayangnya, aku masih percaya pada Tuhan akan yang namanya dosa dan yang pasti rasa sayangku terhadap sahabat tidak pernah berbalut dusta," lanjut Kekey.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Anne dengan tatapan tidak suka.


"Kau sedari dulu memang tidak pernah suka melihatku berteman dengan Valenesh. Apa karena aku lebih dekat dengannya? Kau iri, bukan?"


"Hhm, sayangnya tebakanmu salah. Aku tidak pernah iri dengan siapapun yang lebih akrab dengan Valenesh, hanya saja aku tidak suka jika Valenesh dekat dengan seorang teman yang sebenarnya adalah musuh dalam selimut!"


"Kau–" Anne yang murka langsung menarik kerah baju Kekey.


"Sudah hentikan!" teriak Valenesh, tetapi suaranya hanya terdengar di dalam ruangan karena Valenesh masih lemah.


"Apa?! Bukankah apa yang aku katakan benar? Kau pasti yang menjebak Valenesh sehingga dia harus dipecat dari rumah sakit dengan cara tukar shift. Kamu pasti merencanakan semuanya!" tuduh Kekey.


"Sok tahu!" teriak Anne.


"Sudah!" Suara Valenesh terdengar makin lirih. Wanita itu seperti kehilangan tenaga akibat kejadian aneh yang menimpa dirinya tadi.


"Sudah An tidak perlu meladeni dia. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Ansel dan Anne langsung menghembuskan nafas berat.


"Key aku haus, tolong ambilkan air minum!" pinta Valenesh pada Kekey. Sahabatnya itu meninggalkan Valenesh untuk mengambilkan air.


Namun, saat Kekey kembali Valenesh sudah terlihat pingsan.


"Bantu aku!" perintah Ansel pada Anne dan wanita itu langsung menjawab dengan anggukan.


Ansel dan Anne terlihat memeriksa tubuh Valenesh dan pada saat itu Ansel melihat kalung di leher Valenesh berkilau.


"Benar kata anak buahku, pemilik kalung ini adalah Valenesh dan kalung ini sepertinya memang memiliki kekuatan besar. Aku harus mengambilnya," batin Ansel, lalu saat hendak menyentuh kalung itu, tubuh Ansel seperti didorong dengan cepat hingga membentur lantai.


"Tuan, kau tidak apa-apa?" tanya Anne sambil membantu Ansel bangun.


"Tidak apa-apa," jawab Ansel sambil menepuk-nepuk tangannya yang sakit akibat dijadikan penyangga saat terjatuh.


"Kenapa Dokter bisa terjatuh? Bukankah tidak ada yang mendorong tubuh Anda?" tanya Kekey bingung.


"Sepertinya suhu tubuh Valenesh sangat panas sehingga memunculkan gaya dorong yang begitu tinggi. Ini mungkin karena penyakitnya yang aneh," jelas Ansel.

__ADS_1


"Yasudah kalau Dokter tidak sanggup menyembuhkan Valenesh dokter menyerah saja daripada tubuh Dokter sendiri yang akan menjadi korban. Biar kami mencari pengobatan yang lainnya saja," ujar Kekey.


"Izinkan aku mencoba untuk sekali lagi!" mohonnya.


"Terserah Dokter, tapi saya tidak yakin dokter bisa berhasil. Bukankah saya sudah mengatakan sudah banyak dokter yang menangani Valenesh dan tak ada satupun yang bisa membuatnya sembuh seperti semula. Tapi kalau Dokter memang penasaran dicoba saja!"


"Ini bukan masalah penasaran atau tidak Key, tapi demi keselamatan Valenesh. Haruskah dia ditinggal dalam keadaan pingsan seperti sekarang? Sekarang tolong ambilkan baskom berisi air, jangan lupa kain kompres untuk mengompres perutnya yang panas!"


"Baik." Terpaksa Kekey menurut demi keselamatan sang sahabat sebab di rumah itu sudah tidak ada Henritz maupun Andrew yang bisa dimintai tolong."


Setelah Kekey pergi, Anne dan Ansel saling tatap.


"Dimana laki-laki yang katanya selalu berada di dekat Valenesh?"


"Tidak tahu Tuan, sejak tadi tidak kelihatan batang hidungnya. Sebenarnya saya juga penasaran."


"An, bisa kamu ambilkan kalung itu untukku? Kalau kamu berhasil nanti aku belikan mobil seperti milik Valenesh," ucap Ansel sambil menunjuk ke arah leher Valenesh.


"Benar Tuan? Nanti Tuan bohong lagi." Anne terlihat cemberut.


"Kali ini saya janji," bisik Ansel.


"Oke, baiklah."


"Cepat sebelum Kekey datang!"


Anne pun langsung menyentuh kalung di leher Valenesh dan menarik. Sayangnya Kalung itu seperti terikat kuat di leher Valenesh.


"Kenapa tidak putus-putus sih," keluh Anne.


"Buka saja!" perintah Ansel.


"Hei kalian mau ngapain!" seru Kekey lalu berlari mendekat ke sisi ranjang Valenesh.


"Kalian apakan Valenesh tadi?" tanya Kekey, matanya menyipit seolah menyimpan kecurigaan yang begitu besar.

__ADS_1


"Sepertinya sebelum membunuh Valenesh saya harus menyingkirkan gadis menyebalkan ini," batin Ansel lalu tersenyum licik.


Bersambung.


__ADS_2