
"Kalian siapa?" tanya Valenesh seakan tidak percaya bahwa satu pria yang berada di sampingnya kini mengajak temannya untuk menangkap dirinya. Minuman Cheese Tea yang ada di tangan Valenesh terlepas begitu saja. Malam ini Valenesh sedang menikmati malam di sebuah taman kota untuk menghilangkan rasa kesalnya kepada Henritz.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, yang jelas kamu harus ikut kami sekarang juga," tegas Rodex sambil meringkus kedua tangan Valenesh.
Valenesh memberontak, dia tidak bisa diam begitu saja dibawa oleh orang sembarangan. Wanita itu langsung menendang Rodex dengan kakinya.
"Terex pegang kedua kaki wanita ini!" perintah Rodex kemudian.
"Tolong!" teriak Valenesh membuat orang-orang yang ada di sekitar dirinya langsung berlari untuk membantu wanita itu.
Sayangnya, mereka semua tidak berdaya melihat hal ini sebab tubuh Valenesh langsung dibawa terbang oleh Rodex dan Terex.
"Makhluk apa mereka? Mengapa bisa terbang seperti itu?"
"Wah bagaimana ini? Kenapa dua pria itu seolah membawa tubuh wanita tadi menembus langit?"
"Iiih menyeramkan sekali, aku melihat taring-taring keluar dari mulutnya."
"Apa jangan-jangan mereka yang dinamakan vampir? Sebelum kita menjadi korban penculikan selanjutnya, lebih baik kita tinggalkan tempat ini sekarang juga!"
Orang-orang pun berlari dari taman itu menuju rumah masing-masing.
"Tolong! Tolong!" Valenesh masih berusaha untuk meminta pertolongan dengan cara berteriak sekuat tenaga.
"Kau minta tolong pada siapa? Apa pada angin malam? Ha-ha-ha." Rodex tertawa kencang di udara.
Di tempat lain Henritz sudah sampai di rumah Valenesh.
"Sudah ada kabar Pak?" tanyanya pada pak satpam sebelum masuk ke dalam rumah.
"Tidak ada Tuan, atau mungkin Non Valenesh menginap di rumah teman-temannya," tebak pak satpam.
"Apakah dia pernah begitu?" tanya Henritz.
"Sering sih begitu, tapi biasanya ngasih kabar pada saya. Namun, sekarang tidak atau mungkin lupa? Tapi nomor teleponnya tidak aktif."
"Ckk, kemana dia sih Pak?" Henritz menggaruk kepalanya hingga rambutnya terlihat berantakan.
"Sudahlah Tuan jangan terlalu khawatir dulu, Nona Valenesh punya banyak kenalan. Jadi dimana pun dia berada pasti banyak orang yang akan melindunginya."
"Semoga saja seperti itu Pak. Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu."
Pak satpam mengangguk dan Henritz langsung masuk ke dalam rumah. Saat melintasi ruang tamu dia menemukan ponsel Valenesh tergeletak di atas meja begitu saja.
Henritz mencoba memencet, tetapi tidak berhasil membuat ponsel itu menyala. Akhirnya dia membawanya keluar dan memberikan pada pak satpam.
"Ponsel Nona Valenesh lowbat Tuan biar saya charge dulu," ucap pak satpam sambil mencharge ponsel Valenesh.
"Oh begitu ya Pak?"
__ADS_1
Pak satpam menjawab dengan anggukan.
"Duduk dulu Tuan kalau tidak mau kembali ke dalam."
"Pak satpam bisa kan menghubungi teman-teman Valenesh?"
"Tunggu sampai ponselnya bisa dinyalakan."
Henritz mengangguk dan duduk sambil bersandar di kursi depan tidak sabaran.
Beberapa saat kemudian pak satpam langsung menghidupkan ponsel Valenesh lalu menelpon teman-teman dari majikannya itu.
"Bagaimana Pak?" tanya Henritz dengan penuh harap.
"Mereka tidak ada yang tahu, kalau besok pagi Nona Valenesh belum pulang juga saya akan langsung lapor polisi."
Henritz mengangguk.
"Sepertinya semalaman ini saya akan mencari Valenesh dan tidak akan kembali sebelum menemukannya," ujar Henritz lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jalan raya.
Hari sudah menjelang pagi dan Henritz belum menemukan Valenesh juga. Meskipun dia tidak ingin menghentikan pencariannya terpaksa dia harus pulang sebab dia tidak ingin terbakar oleh sinar matahari. Ya sinar matahari bisa membuat tubuhnya kepanasan dan melepuh. Namun, orang yang melihatnya seolah melihat Henritz malah seperti orang yang kedinginan.
"Tuan ada kabar beredar bahwa ada dua orang pria yang menculik wanita. Apa itu adalah Nona Valenesh Tuan?" laporan sekaligus pertanyaan dari pak satpam saat sore menjelang.
"Benarkah Pak dimana itu?"
"Baiklah nanti saya ke sana untuk mencari informasi sekaligus mencari Valenesh."
"Baik Tuan. Kalau begitu saya kembali ke pos satpam dulu. Para polisi pun sudah ikut melakukan pencarian."
"Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama Tuan. Nona Valenesh juga merupakan tanggung jawab saya. Kalau begitu saya kembali ke tempat saya."
"Ya pergilah!"
Matahari mulai merangkak naik, lalu hilang dalam peraduan dan bertukar tugas dengan bulan dan juga bintang-bintang. Saat itu Henritz mulai bergerak untuk mencari Valenesh lagi.
Di sepanjang perjalanan Henritz menanyakan keberadaan Valenesh pada setiap orang yang melintas dengan cara menunjukkan foto gadis itu.
"Maaf Tuan saya tidak melihatnya."
"Ini kan wanita yang selalu naik mobil mewah berwarna merah itu?"
"Kau melihatnya?" tanya Henritz berharap pria itu menjawab dengan kata 'iya'.
"Iya, seminggu yang lalu."
Jawaban 'iya' yang tidak sesuai dengan harapan dalam hati Henritz.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Vale harus kemana lagi aku mencarimu?" Henritz duduk pada sebuah batu besar di pinggir jalan sambil mengacak-acak rambutnya. Dia mulai putus asa. Pencariannya selama hampir dua malam tidak membuahkan hasil apapun padahal siang hari sudah ada yang membantunya mencari wanita itu.
"Tuan kenapa, sakit?" tanya seseorang yang tidak sengaja melihat Henritz dalam keadaan kacau.
"Nona melihat wanita ini?" Sekali lagi Henritz mencoba untuk bertanya. Dia turun dari tempat duduknya dan berjalan mendekati wanita cantik yang sedang menyapanya itu lalu menunjukkan foto Valenesh.
Wanita itu tampak mengambil foto dari tangan Henritz dan melihatnya secara seksama.
"Bukankah ini wanita yang kemarin malam diculik oleh vampir?"
"Vampir?" Henritz langsung kaget.
"Iya Tuan. Nona ini kemarin malam dibawa terbang oleh dua orang pria yang mengeluarkan taring."
"Nona yakin?"
"Yakin sekali Tuan, bahkan kasus penculikan semalam masih menjadi buah bibir masyarakat di kota ini. Hanya saja tidak ada yang sempat mengambil foto kejadian itu sehingga banyak orang yang menganggap berita itu hanyalah gosip semata."
"Baik terima kasih atas informasinya Nona."
"Sama-sama Tuan, boleh minta foto dulu nggak?"
"Boleh-boleh, tapi cepat ya Nona?" Henritz tidak mau berlama-lama di luar sebab sebentar lagi, pagi akan menjelang.
"Oke siap."
Wanita itu pun mengambil foto bersama Henritz.
Setelah menyelesaikan sesi foto bersama dengan fans mendadaknya itu Henritz langsung pulang ke rumah sebelum tubuhnya terkena sinar matahari.
Sampai di dalam rumah pria itu mondar-mandir tidak tenang.
"Nona ini kemarin malam dibawa terbang oleh dua orang pria yang mengeluarkan taring."
Kata-kata wanita yang ditemui di pinggir jalan itu terngiang-ngiang di telinga Henritz.
"Brengsek! Ini pasti ulah Rodex dan Terex." Henritz menggebrak meja.
"Aku harus menyelamatkan Valenesh, tapi bagaimana caranya? Arrgh!" Henritz melempar setiap barang yang ada di hadapannya.
"Kalau Valenesh masih ada di dunia manusia mungkin masih bisa aku jangkau, tapi dunia vampir? Arrghh, bagaimana aku ke sana jika keadaanku masih seperti ini?! Maafkan aku Vale." Henritz mengusap wajahnya dan bersamaan dengan itu ada air mata yang luruh.
"Maaf tidak sengaja aku telah melibatkanmu dengan masalahku," sesal Henritz dan membiarkan air mata jatuh begitu saja tanpa ada keinginan untuk mengusap.
"Brengsek kau Rodex!" teriak Henritz dengan begitu kencang hingga suaranya menggelegar, memenuhi seluruh ruangan rumah besar itu.
Bersambung.
__ADS_1