
"Kenapa Tuan menatapku seperti itu?" tanya Kekey. Melihat tatapan Ansel dirinya merasa tidak nyaman.
"Kenapa lama sekali, mari sini airnya!"
Kekey mengangguk lalu berjalan mendekat.
"Valenesh tadi seperti orang kejang makanya aku dan Anne tadi mencoba menanganinya," jelas Ansel agar Kekey tidak curiga lagi.
"Ini kain kompres nya." Kekey menyodorkan baskom berisi air dan kain kompres ke hadapan Ansel dan pria itu mulai mengompres perut Valenesh.
"Sepertinya racun itu sudah keluar dari tubuh Valenesh," ucap Ansel sambil terus memeriksa keadaan Valenesh.
"Oh ya Key sebenarnya Valenesh ini sudah berada dalam tahap pemulihan, tapi dia tidak akan bisa cepat sembuh jika tidak diberikan obat tertentu. Saya punya obatnya, tetapi tidak membawanya. Bagaimana kalau kau ikut denganku dan mengambilkan obat ini di rumah?"
Kekey terlihat ragu.
"Percayalah padaku bahwa aku benar-benar tulus ingin membantu Valenesh, biar Anne yang menjaga Valenesh di sini," saran Ansel.
"Kau ingin Valenesh sembuh apa tidak sih? Kalau tidak ya sudah nggak perlu ambil obatnya!" ketus Anne.
"Kenapa bukan kamu saja yang ikut dengan dokter Ansel dan mengambilnya?" balas Kekey.
"Bukannya aku tidak mau Key, tapi kau sudah menganggapku musuh dalam selimut dan aku tidak mau kau menyangka aku kembali dengan racun di tangan padahal adalah sebuah obat. Kalau kau sayang dengan Valenesh, maka tunjukkanlah sayangmu itu jangan setengah-setengah!"
Kekey menatap ragu antara Ansel dan Anne. Namun, hati nuraninya berkata dia harus ambil sikap. Dia tidak mau Valenesh akan terus-menerus berbaring di atas kasur seperti itu.
"Baiklah, tapi aku akan memanggil Pak satpam dulu agar menjaga Valenesh di sini. Sorry aku tidak percaya padamu," ucap Kekey memandang sinis ke arah Anne.
"Terserah apa katamu dan apa yang ingin kamu lakukan. Bagiku yang terpenting Valenesh segera sadar dan segera sembuh."
__ADS_1
"Baiklah Tuan Ansel kita pergi, tapi aku akan memanggil pak satpam sebelum kita pergi."
"Silahkan!"
Kekey mengangguk lalu melangkah keluar rumah dan berlari memanggil pak satpam.
"Katakan pada dokter Ansel saya menunggu di pos!" perintah Kekey dan pak satpam yang paham langsung mengangguk dan berlari ke dalam rumah.
Sebelum Ansel ada di sampingnya terlebih dahulu Kekey menelpon Henritz dan menceritakan bahwa dirinya akan ikut dokter Ansel untuk mengambil obat. Henritz tidak keberatan dan mengizinkan Kekey untuk pergi asalkan gadis itu berhati-hati.
Henritz hanya meminta agar pak satpam tidak lengah menjaga Valenesh dan tidak pergi kemana-mana dan itu sudah menjadi perintah dari Kekey tadi.
"Hubungi Henritz kalau ada apa-apa nanti!" perintah Kekey sebelum pak satpam berlari ke dalam rumah.
Henritz berjanji dalam hati akan terus memantau keadaan Valenesh setiap waktu meskipun dia sedang sibuk dengan para pemain di stadion. Bukankah dia mempunyai ilmu teleportasi yang bisa menghilang dalam sekejap mata dan kembali lagi ke tempat semula dalam sekali kedipan mata?
"Ayo Key!" ajak Ansel agar Kekey memasuki mobilnya. Kekey yang tidak curiga sama sekali langsung naik tanpa berpikiran yang aneh. Kalau masalah yang aneh-aneh itu menyangkut diri Valenesh yang memang memiliki keistimewaan. kalau menyangkut dirinya siapa yang akan berbuat aneh-aneh?
Mobil melaju kencang di jalanan hingga sampai pada rumah dengan cat serba hitam.
"Ini rumah siapa dokter?" Kekey mulai curiga. Dia pernah ikut Valenesh ke rumah Ansel, tapi rumahnya bukan yang ini.
"Kau tenang saja ini adalah tempat praktekku selain rumah sakit sekaligus tempat beristirahat jika malas pulang ke rumah."
"Oh, ya? Tapi kenapa warna cat rumahnya serba hitam?"
"Itu karena aku menyukai warna hitam dan di rumah, orang tuaku tidak pernah mengizinkanku memberikan warna hitam pada rumah tersebut. Jadi, aku memutuskan dengan membuat klinik ini dengan warna hitam."
"Sedikit aneh sih, tapi bagus juga ini lebih unik dari dari yang lainnya. Pasti orang-orang akan lebih mudah mengingat tempat ini."
__ADS_1
"Kau pintar sekali menebak Kekey, memang itu tujuannya. Mari masuk ke dalam! Valenesh membutuhkan penanganan yang lebih cepat.
Kekey mengangguk dan masuk.
Apa sih sebenarnya tujuan dokter membangun klinik ini? Bukankah rumah sakit tempat Anne bekerja itu adalah milik dokter?"
"Itu orang tuaku yang membangun dan ini aku sendiri, jadi aku memiliki kebanggaan tersendiri. Itu saja sih tidak lebih."
Kekey hanya manggut-manggut saja. Ternyata penilaiannya terhadap Ansel salah. Ternyata dokter ini asyik diajak bicara.
"Kenapa ruangannya gelap dokter? Dan dimana dokter menyimpan obatnya?"
Tiba-tiba Kekey kaget melihat sinar merah di dalam gelapnya ruangan.
"Dokter kau dimana?" Kekey mulai takut.
Lampu langsung menyala membuat Kekey sedikit bisa bernafas lega. Namun, dia tiba-tiba syok melihat tubuh Ansel ditumbuhi bulu-bulu dengan mata memerah dan gigi-giginya keluar taring.
"Kau–" Kekey mundur ke belakang dengan panik. Namun, Ansel mencengkram bahunya dengan kuat.
"Kau harus mati sekarang!" Ansel langsung menggigit bahu Kekey.
"Aaaaaah!" Kekey berteriak kesakitan lalu tubuhnya ambruk menyentuh lantai.
Ansel segera memeriksa Kekey, ternyata gadis itu meregang nyawa.
"Mampus! Suruh siapa kau ikut campur dengan urusan Ansel, hahaha." Suara tawa Ansel memenuhi seluruh ruangan.
Bersambung.
__ADS_1