
Beberapa bulan kemudian, Valenesh mengeluhkan rasa sakit yang teramat di perutnya, bahkan wanita itu sering terlihat pingsan.
"Sayang, Sayang! Kamu kenapa?" tanya Henritz sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.
"Hen lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit," saran Kekey.
"Baiklah, tolong bantu aku ya Key, Ansel," ucap Henritz dengan ekspresi penuh harap.
"Oke Hen, aku ikut denganmu," ucap Kekey melupakan panggilan raja karena teramat panik.
"Pangeran Zorro, aku titip kerajaan ini padamu!"
"Baik raja Henritz, kau tenang saja, aku akan menangani segalanya dan kau hanya perlu berkonsentrasi pada kesehatan permaisuri Valenesh."
"Baik pangeran Zorro, terima kasih dan kalian sini mendekat!"
Ansel dan Kekey pun mendekat ke arah Henritz.
"Berpegangan padaku agar kalian tidak pusing!"
Tanpa banyak tanya, Ansel dan Kekey pun langsung memegang bahu Henritz lalu memejamkan mata.
"Buka mata kalian!"
Sekali lagi Ansel dan Kekey menuruti perkataan Henritz dan saat membuka mata mereka melihat para suster yang berjalan ke sana kemari.
"Ini adalah rumah sakit ayah?" tanya Ansel memastikan. Nuansa rumah sakit mengingatkan dirinya pada masa kecil di mana dia selalu ikut ayah dan ibunya ke rumah sakit.
"Ya Ansel, sejak dulu rumah sakit ini tidak pernah dirubah, hanya saja bangunannya ditambah sehingga menjadi rumah sakit besar."
Ansel hanya mengangguk lalu melihat-melihat sekitar. Dia sangat rindu dengan dunianya sendiri setelah beberapa tahun terkekang di dunia manusia serigala.
"Hen, sepertinya kita harus membawa Valenesh ke dokter kandungan karena saya sangat yakin, sakit masakan Valenish ada kaitan dengan kehamilannya."
"Baik." Henritz lalu bergegas membawa Valenesh ke ruangan yang ditunjuk oleh Kekey.
Dokter menerima kedatangan mereka dengan ramah. Apalagi saat melihat Ansel, pemilik rumah sakit yang beberapa bulan ini tidak pernah terlihat di rumah sakit itu.
"Bagaimana dokter?" tanya Henritz panik.
"Istri Anda mau melahirkan, tapi tubuhnya tidak kuat karena bayinya begitu besar. Semakin bayi itu turun ke perut bawah, semakin Nyonya Valenesh kesakitan. Akibat sakit inilah yang membuat Nyonya Valenesh pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya," jelas dokter membuat Henritz semakin khawatir.
"Terus, apa yang bisa kita lakukan dokter?"
"Tidak ada cara lain, istri Anda harus melahirkan dengan cara sesar kalau tidak ingin terus kesakitan seperti ini."
"Lakukan apa saja yang terbaik dokter, yang terpenting Saya menginginkan istri dan anak saya selamat."
__ADS_1
"Dok tolong selamatkan Valenesh!" Kali ini Ansel yang memohon.
Dia yakin putra dari Valenesh akan lahir dengan selamat mengingat takdir Tuan Lord berada di tangan anak itu, namun nasib Valenesh tidak bisa diprediksi.
"Pasti dokter, biar suster yang menyediakan perlengkapan dulu sambil menunggu Nyonya Valenesh sadar. Oh ya, beberapa bulan ini Tuan dokter kemana saja hingga tidak terlihat di rumah sakit?"
"Saya kuliah lagi di luar negeri," bohong Ansel. Dia tahu Ansel palsu itu tidak kembali ke rumah sakit ini setelah pertempuran dengan pasukan vampir. Kabar yang dia dengar dari prajurit vampir, Raja Lord dalam keadaan terluka parah, namun tiba-tiba dibawa terbang oleh seorang pria yang tadinya memberi kabar bahwa Valenesh telah diculik.
"Oh, begitu ya Tuan dokter."
Ansel hanya mengangguk.
Beberapa suster tampak mengangkat tubuh Valenesh dan menaruhnya di atas Brankar. Setelah itu suster-suster tersebut mendorong brankar tersebut menuju ruang operasi.
Di dunianya, Tuan Lord terhenyak dari semedinya melihat angin kencang merobohkan segala yang dilewatinya.
"Ada apa ini?"
"Ada badai! Ada badai!"
Dari luar, suara orang-orang bercampur deru angin, menelusup masuk melalui celah-celah ruangan yang digunakan untuk bersemedi, suara itu terdengar bising di telinga Raja Lord.
"Apa ini tandanya bayi itu sudah akan dilahirkan?" Raja Lord bangkit dari duduknya lalu melangkah ke luar ruangan.
"Cari tahu tentang Valenesh!" titahnya pada 2 anak buah kepercayaannya.
"Hei mai kemana kamu?" tanya Zorro saat melihat mereka melangkah ke arah kamar Henritz dan Valenesh.
"Mau mengantarkan makanan ini kepada permaisuri Valenesh," jawab satu orang.
"Dan saya ingin mengantarkan darah untuk Raja Henritz," tambah yang lainnya lalu melewati Zorro yang menatap mereka penuh curiga.
"Tunggu!" Zorro mencegah ketika keduanya sudah berada di depan pintu kamar.
"Ada apa pangeran?"
"Apa pangeran juga ingin dibawakan makanan?"
"Siapa yang memesan makanan itu?" tanya Zorro ketika menyadari semua pelayanan di dalam istana tersebut sudah mengetahui akan kepergian Valenesh dan Henritz.
"Tuan Henritz sendiri," jawab mereka serempak.
"Apakah kalian tidak tahu kalau mereka sudah tidak berada di alam ini?"
Keduanya kaget mendengar perkataan Zorro.
"Oh, begitu ya pangeran, tapi kemarin Raja Henritz sudah memesan pada kami supaya hari ini menyediakan makanan ini untuk mereka." Mereka beralasan.
__ADS_1
"Oh, begitu ya? Yasudah kalau begitu bawa pergi saja makanan itu. Sekarang di sini, istriku pun sudah tidak ada, jadi tidak ada yang mengkonsumsi makanan untuk manusia itu dan aku pun sedang tidak ingin minum darah."
"Baik pangeran, kalau begitu kami bawa kembali saja."
"Ya," jawab Zorro lalu melangkah pergi.
"Kalau mereka sudah tidak ada di sini, berarti mereka berada di alam manusia. Apa benar Valenesh sudah akan melahirkan sehingga dibawah ke dunia manusia?" bisik salah satu dari mereka sambil melangkah pergi.
"Berarti digunakan raja kita benar, sekarang kita harus melaporkan pada Raja Lord," bisik yang lainnya.
"Jangan bergerak! Kalian sudah dikepung!" teriak seorang prajurit dengan senjata di tangan.
"Apa-apaan ini!" Tentu saja keduanya kaget.
"Aku akan melapor kepada pangeran Zorro dan Terex jika kalian main serang begini!" ancam keduanya.
"Ini sudah titahku!" seru Zorro yang berdiri di belakang mereka, membuat keduanya langsung menoleh dan syok.
"Ada apa ini pangeran?" tanyanya mereka serempak.
"Jangan pikir kami tidak tahu siapa itu kalian berdua!" Terex berkacak pinggang di depan mereka.
"Kalian selama ini menyamar menjadi pelayan di sini dan melumpuhkan kedua pelayan kami agar bisa menyusup dan mencuri obat untuk Raja Lord sehingga dia bisa sembuh dari lukanya, dan sekarang kedatangan kalian ini untuk memastikan apakah permaisuri Valenish sudah waktunya melahirkan atau tidak. Iya, kan?"
"I–tu tidak benar Pangeran," sanggah mereka dengan bibir yang bergetar dan wajah yang pucat.
"Tangkap mereka dan siapkan hukuman gantung!" teriak Zorro hingga para prajurit vampir langsung melaksanakan apa yang diperintahkan.
Terjadi perkelahian di dalam istana hingga akhirnya,
"Ini Pangeran mereka sudah tertangkap." Para prajurit melangkah ke arah Zorro dan Terex sambil menyeret kedua anak buah Tuan Lord.
"Lakukan hukuman yang seharusnya diberikan pada musuh yang telah berani menyusup ke dalam istana!"
"Baik pangeran."
Keduanya pun diarak ke tiang gantung.
"Maafkan kami pangeran," ucap keduanya meminta belas kasih dari Zorro dan Terex. Berharap mereka semua lengah dan akhirnya bisa kabur.
"Permintaan kalian sudah terlambat. Hidup kalian terlalu merepotkan buat kakak dan kakak iparku. Aku tidak ingin mengambil resiko yang menyebabkan kekacauan di masa mendatang. Sudah saatnya kalian dimusnahkan!"
Prajurit kerajaan vampir lalu menutup wajah mereka dan menaikkan ke atas gantungan.
"Arrrggh!"
Mereka berteriak histeris hingga sesaat kemudian hanya bulu-bulu yang terlihat beterbangan di sekitar sedangkan tubuh mereka langsung binasa.
__ADS_1
Bersambung.