KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 41. Will You Marry Me?


__ADS_3

"Hen lepaskan aku!" teriak Valenesh sebab tubuhnya diputar-putar di udara oleh Henritz karena saking senangnya.


"Ah aku senang sekali bisa mempersembahkan semua ini untukmu Vale," ucap Henritz sambil terus memutar tubuh Valenesh.


"Sayang aku pusing!" keluh Valenesh sambil memijit keningnya.


Sontak Henritz langsung menghentikan putarannya kemudian terlihat gusar.


"Maaf Sayang aku lupa kalau kamu baru saja sembuh." Henritz langsung membawa tubuh Valenesh ke atas sebuah kursi di pinggir lapangan yang disediakan oleh Andrew yang sudah memprediksi semua ini akan terjadi.


"Aku pijitin ya," ucap Henritz langsung memijit kening, kelapa lalu tengkuk Valenesh.


"Bagaimana, masih sakit?"


"Udah mendingan Hen. Oh ya Hen terima kasih ya atas kadomu ini, tahu nggak ini hari ultahku yang ke 25."


"Oh ya?" tanya Henritz tidak percaya dan Valenesh hanya mengangguk.


"Selamat ulang tahun ya Sayang. Semoga seiring bertambahnya usia kebahagiaanmu juga semakin bertambah. Sehat-sehat selalu dan jangan sakit-sakitan lagi ya, Vale-ku!" ujar Henritz lalu mencium kening kekasihnya.


Valenesh mengangguk.


"Terima kasih juga sudah menemaniku hari-hariku selama ini. Hidupku terasa berwarna semenjak kehadiranmu Hen," ucap Valenesh sambil tersenyum manis ke arah Hendritz.


"Drew tolong belikan kue tart untuk Vale-ku!"


"Siap Hen," ucap Andrew lalu undur ke belakang dan berlari keluar dari area stadion.


"Oh ya Vale tidak terasa ya hubungan kita sudah setahun lebih terjalin maka saat ini aku memutuskan untuk–"


Henritz menggantung ucapannya membuat Valenesh menjadi penasaran.


"Jangan bilang kamu akan kembali ke kerajaanmu dan kembali meninggalkanku Hen!"


"Ya, aku memang harus kembali ke sana Vale sebab kerajaan membutuhkanku," ucap Henritz dengan ekspresi serius membuat keceriaan di wajah Valenesh pudar seketika.


Dia ingin Henritz memimpin dan bertanggung jawab sebagai pewaris tahta. Namun, tidak dipungkiri Valenesh juga sedih jika pria itu harus meninggalkan dirinya setelah kisah asmara diantara keduanya terjalin. Satu tahun kebersamaan terasa begitu cepat berlalu apalagi Valenesh banyak menghabiskan waktu di atas ranjang dengan keadaan koma.


"Kenapa kau sedih begitu?" tanya Henritz menggoda Valenesh.


"Aku tidak tahu akan seperti apa hatiku jika harus kau tinggalkan Hen," ucap Valenesh masih dengan wajah murung.


"Aku sudah terbiasa denganmu," lanjutnya.


"Siapa yang akan meninggalkanmu?" tanya Henritz sambil tersenyum.


"Maksudmu?"


"Kau akan ikut bersamaku," ucap Henritz sambil melambaikan tangan kepada seseorang di luar lapangan.


Valenesh hanya melongo, ini rasanya seperti mimpi. Sanggupkah jika ia benar-benar akan hidup di dunia vampir?


"Ini Tuan Henritz pesanan Anda." Seseorang yang dipanggil Henritz tadi dengan lambaian tangannya memberikan sesuatu kepada Henritz.


"Terima kasih, kau boleh pergi!"


"Baik Tuan."


Henritz mengeluarkan sesuatu dari paper bag. Terlihat rangkaian bunga yang keluar dari dalam sana. Pria itu mengambilnya lalu menyodorkan pada Valenesh.


"Kau membelikan bunga untukku?" Valenesh meraih bunga dari tangan Henritz.


"Kau suka, kan Vale?"


"Suka, suka sekali Hen," sahut Valenesh dengan senyuman yang mengembang.


"Oh ya Vale karena aku ingin kamu ikut bersamaku maka–"


"Hmm?"


Henritz mencoba mengeluarkan kotak beludru dari dalam paper bag dan membuka kotak berisi cincin itu di depan Valenesh.


"Cincin?" Valenesh terhenyak.


"Will you marry me, Vale-ku Sayang?"

__ADS_1


"Terima!"


"Terima!"


"Terima Nona!"


Kehebohan di sekitar membuat keduanya langsung menoleh.


"Hen!" Wajah Valenesh tersipu malu, rupanya mereka menjadi pusat perhatian semua orang di stadion itu. Apalagi keadaan mereka saat ini juga tersorot kamera. Rupanya para wartawan yang mengejar berita tentang pertandingan Liga Champions ini tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan berita romantis antara pemilik club pemenang dengan salah satu pemainnya.


"Bagaimana terima tidak? Jangan malu-maluin aku loh di depan orang banyak!" goda Henritz sambil mengedipkan sebelah matanya.


Valenesh lalu memukul manja pundak Henritz.


"Hen aku malu," ucap Valenesh sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Henritz meraih tangan Valenesh dan menggenggamnya dengan erat.


"Terima nggak? Kalau nggak terima ya nggak apa-apa, tapi sudah dipastikan kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi," ancam Henritz tersenyum jahil.


Valenesh mengangguk.


"Ayolah jangan hanya mengangguk saja Sayang, aku butuh jawaban dari bibir ini," ucap Henritz sambil menyentuh bibir Valenesh dengan jari telunjuknya.


"Terima!"


"Terima!"


Suara di belakang sana masih ramai terdengar.


"Baiklah," ucap Valenesh.


"Baiklah apa?" goda Henritz, sepertinya pria itu menyukai pipi Valenesh yang merah bak tomat karena begitu malu.


"Iya Hen aku akan menikah denganmu," ucap Valenesh malu-malu.


"Yeee!"


Terdengar sorak-sorai dari para pemain maupun penonton yang masih belum beranjak dari duduknya.


"Sontak saja Henritz langsung menyematkan cincin di jari manis Valenesh lalu mencium tangan Valenesh.


"Terima kasih sayang. Kita akan segera menikah lalu setelah itu kita bagi waktu–"


"Kapan kita akan tinggal di dunia manusia dan kapan pula di dunia vampir. Nanti aku akan mengajak Zorro untuk giliran."


Valenesh menatap wajah Henritz lalu mengangguk.


"Hen! Val!" teriak Andrew dari tempat yang cukup jauh dari tempat Valenesh duduk.


Henritz tersenyum dengan kedatangan Andrew sedangkan Valenesh terlihat syok melihat Andrew datang dengan banyak orang dan masing-masing mereka berjalan mendekat dengan kue tart di tangannya.


"Selamat ulang tahun Nona Valenesh, semoga panjang umur, sehat selalu dan semakin murahnya rezeki."


Valenesh tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu hanya terbelalak melihat ulang tahun kali ini di rayakan oleh orang banyak.


"Drew kau angkut dari mana orang-orang ini?" Heran Valenesh.


"Kau tanya saja pada Henritz sebab dia yang mengatur ini semua."


"Benarkah Drew?"


Andrew mengangguk dan Valenesh menoleh pada Henitz.


"Hen?"


"Kau suka kan Vale?"


"Jadi kau sebenarnya sudah tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku?"


"Iya Vale maaf jika kurang berkesan."


"Kau bilang apa Hen? Ini tidak bisa aku lupakan seumur hidupku."


"Karena aku tidak ingin kamu lupakan aku apapun yang terjadi nantinya."


"Hen jangan bilang begitu! Kau mengatakan hal seperti ini seolah-olah kau ingin meninggalkanku."

__ADS_1


"Bukan begitu Vale, tapi ah sudahlah." Henritz memejamkan mata kala mengingat foto di salah satu sudut ruangan di rumah Valenesh. Dia tahu dari Andrew bahwa orang itu adalah ayah Valenesh dan kebetulan pria itu terbunuh karena ulahnya yang tidak sengaja.


"Hen kumohon apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku!" Valenesh langsung mendekap erat tubuh Henritz seakan-akan takut kehilangan.


"Aku janji Vale-ku sayang, tapi bagaimana denganmu?"


"Aku bersumpah Hen apapun yang terjadi aku akan terus bersamaku kecuali jika Tuhan mengambil nyawaku ini," ucap Valenesh dengan mantap.


"Ssst! Jangan berkata seperti itu. Kita akan bersama selamanya," ucap Henritz lalu mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi pada Valenesh dan Valenesh sendiri semakin erat mendekap tubuh Henritz.


"Sayang tiup lilinnya lalu potong kue dan bagikan pada semua orang!" perintah Henritz.


Valenesh melepaskan pelukannya dari tubuh Henritz.


"Tapi bantu ya Sayang. Kalau aku yang motong sendiri sampai besok pun belum selesai ini bagi-bagi kuenya."


"Oke sayang, biar Andrew dan semuanya bantu nanti. Sekarang berdoa dan tiup lilin induk ini dan bagikan pada sahabat-sahabat terdekatmu! Barulah setelah itu kita persilahkan mereka semua untuk memotong kue yang ada di tangannya dan membagikan kepada semua orang."


Valenesh mengangguk dan Henritz mengambil kue dari tangan Andrew lalu menaruh di atas sebuah meja yang memang juga sudah disiapkan oleh Andrew sebelumnya.


Valenesh memejamkan mata lalu berdoa dalam hati setelahnya meniup lilin kemudian memotong kue. Potongan kue pertama diberikan kepada Henritz.


"Ini untuk calon suamiku," ujar Valenesh lalu menyuapkan ke mulut Henritz.


"Makasih Sayang," ucap Henritz.


"Sama-sama Sayang," balas Valenesh.


Potongan kue kedua diberikan kepada Andrew.


"Terima kasih ya Drew sudah jadi sahabat terbaik dan selalu mendukungku."


"Sama-sama Val."


Dan ketika pada potongan ke-tiga dia bingung sambil mencari-cari keberadaan seseorang.


"Kau mencari Val?" tanya Kekey sambil melangkah ke arah Valenesh.


"Wah akhirnya kau muncul juga, kupikir nggak bosan-bosan pacaran dengan Zorro," ujar Valenesh sambil menyodorkan potongan kue ke arah Kekey.


"Hehe sorry, aku lupa hari ultahmu."


"Dan aku tidak dapat kue?" tanya Zorro sambil berekspresi pura-pura sedih.


"Oh tentu saja ipar juga dapat, tapi untuk yang terakhir," ucap Valenesh sambil tersenyum jahil.


"Hmm." Zorro hanya bersedekap dada.


"Smith mana?" tanya Valenesh sambil mencari-cari keberadaan pria itu.


"Maaf Val, kayaknya Smith tidak bisa datang ke sini dia masih fokus pada penyembuhan adiknya di rumah sakit."


"Oh. Yasudah tidak apa-apa kalau begitu. Berarti kue ini untuk adik ipar," ucap Valenesh menyodorkan kue ke arah Zorro sambil terkekeh.


"Hmm, dikasih bekas orang," ujar Zorro memberengut.


"Mana ada bekas orang, belum digigit siapapun! Yasudah kalau tidak mau biar saya aja yang makan," ujar Kekey dan langsung merebut kue yang ada di tangan Zorro lalu melahapnya.


"Ya ampun Kekey," protes Zorro sambil menggelitik perut Kekey hingga gadis itu tertawa terpingkal-pingkal dengan mulut yang masih penuh dengan kue.


"Yasudah ini semua untukmu," ucap Valenesh sambil menyerahkan sisa kue yang ada di tangannya pada Zorro.


"Makasih," ucap Zorro dan mulai menikmati kuenya.


"Sekarang kue itu potong-potong dan bagikan pada semua orang!" perintah Henritz pada beberapa orang suruhannya yang sebenarnya merupakan karyawan di beberapa perusahaan juga hotel milik Valenesh.


"Siap Tuan."


"Hen, aku tidak tahu bagaimana kamu memperlakukan semua karyawanku sehingga dia patuh padamu," ucap Valenesh kaget.


"Gampang Vale kuasai dulu pemilik perusahaannya maka semua bawahan akan tunduk," ucap Henritz lalu cekikikan.


"Ah kamu pinter banget mengendalikan karyawan-karyawanku." Valenesh menatap kagum Henritz.


"Kenapa menatapku seperti itu? Minta dicium?"

__ADS_1


"Hen!"


Bersambung.


__ADS_2