KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 46. Ketakutan Henritz (1)


__ADS_3

"Ayo Nyonya berbaring dulu!" Dokter mempersilahkan Valenesh untuk naik ke atas ranjang periksa.


Valenesh mengangguk dan menurut.


Dokter lalu memeriksa tekanan darah Valenesh.


"Anda kurang darah, makanya wajah Anda pucat."


"Iya Dokter."


"Maaf Nyonya," ucap dokter sebelum menyingkap bagian bawah dress Valenesh.


"Iya Dok silahkan," ucap Valenesh.


"Dokter mau ngapain istri saya?" protes Henritz sambil menarik dan membenahi kembali pakaian Valenesh ke posisi semula.


"Tuan! Ya ampun, saya hanya ingin memeriksa keadaan Nyonya. Memangnya Tuan kira saya bakal ngapain istri Tuan?" protes dokter karena sepertinya Hendritz tidak bisa diajak bekerjasama.


"Lagipula saya perempuan juga," keluh dokter itu lagi.


"Sekarang banyak perempuan suka sama perempuan," ucap Henritz membuat dokter tersebut terbelalak sebab Henritz seolah menganggap dirinya adalah lesbi.


"Sayang, ngomong apa sih? Sudah Dok lanjutkan saja, jangan dengarkan dia!" Valenesh tidak suka dengan ucapan Henritz.


"Tapi aku tidak suka Vale orang lain melihat tubuhmu!"


"Dokter hanya ingin memeriksa perutku Hendritzzzz!" kesal Valenesh.


"Kalau nggak diizinkan ya udah nggak usah diperiksa saja. Dari pada bicara terus, mending kita langsung pulang sekarang!" Valenesh langsung bangkit dari berbaring.


"Eh, eh, eh! Oke-oke deh aku izinkan dan aku diam sekarang!" seru Henritz lalu bersedekap dada, tetapi tidak berpindah dari tempat berdiri yang sekarang. Dia ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan dokter pada Valenesh.


Dokter menatap Henritz dengan canggung sebelum akhirnya melakukan tugasnya. Maklum sejak bekerja di rumah sakit itu tidak satupun menemui suami pasien yang seperti Henritz.


"Bagaimana dokter?" tanya Henritz melihat dokter fokus menatap layar USG dengan wajah yang nampak kebingungan.


"Itu janinnya Tuan!" seru dokter sambil menunjuk ke layar monitor.


"Sudah kelihatan di layar Dok?" tanya Valenesh heran. Bekerja di rumah sakit membuatnya sedikit banyak tahu tentang ilmu kedokteran termasuk kehamilan satu bulan yang tidak mungkin janinnya terlihat di layar saat dilakukan USG. Janin hanya akan terlihat setelah berumur 6 atau 8 mingguan dan itu hanya berupa titik saja.


"Justru itu Nyonya, saya bingung. Umur kehamilan anda baru satu bulan, tetapi janin yang terlihat seolah sudah berumur tiga bulan. Apa saya yang salah teknis ini?"


"Dokter tidak salah kok Dok, kami juga baru menikah satu bulan yang lalu," jelas Valenesh agar dokter yakin dengan hasil pemeriksaannya sendiri.


"Menikah satu bulan yang lalu tapi belum tentu–"


"Tidak Dok, saya baru berhubungan intim pertama kali di malam pertama setelah pernikahan kami." Valenesh tahu dokter akan menganggap dirinya sudah tidur terlebih dahulu dengan Henritz sebelum menikah mengingat negara yang ditempatinya adalah negara yang bebas.


Namun, kendati demikian Valenesh memiliki prinsip untuk memberikan keperawanan kepada suaminya saja. Untuk itu meskipun tinggal satu atap dengan Henritz dalam jangka waktu lama sebelum menikah, Valenesh tidak pernah tidur dengan Henritz. Pacaran mereka hanya sampai tahap berciuman dan berpelukan saja, tidak pernah lebih.


"Tapi ini aneh Nyonya, pantas saja anda anemia. Mungkin karena perkembangan janinnya yang terlalu cepat dan Anda tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari Anda dengan makanan yang mengandung zat besi."


Valenesh menatap intens mata Henritz membuat Henritz yang bingung langsung menggaruk kepala.

__ADS_1


"Perasaan dari tadi saya sudah diam. Kenapa Valenesh masih protes?" batin Henritz.


"Yasudah nggak apa-apa Dokter, yang terpenting itu benar-benar janin bukan penyakit. Janinnya sehat, kan?"


"Tentu saja janin Nyonya dan meskipun perkembangan janin lebih cepat dari biasanya, tapi keadaannya baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu."


"Baiklah saya ambilkan vitamin dan obat penambah darah dulu. Jangan lupa Nyonya harus makan banyak sebab jika perkembangan janin terus pesat seperti ini maka bayinya akan menyerap banyak nutrisi dari ibunya."


"Baik Dokter."


"Oh ya untuk Tuan saya harap Anda agar senantiasa menjaga mood istri anda sebab orang hamil itu sensitif Tuan. Dia akan mudah tersinggung bahkan juga gampang menangis. Satu hal yang paling penting orang hamil itu sering ngidam atau menginginkan ini itu. Jadi, Tuan harus bersabar menghadapi Nyonya Valenesh ya!" saran dokter sambil menyerahkan obat-obatan ke tangan Henritz.


"Baik Dokter, kalau masalah itu mau dia hamil atau tidak saya pasti akan mengabulkan apa yang istri saya inginkan."


"Bagus, itu bayanua suami yang baik."


Setelah menerima obat dari dokter keduanya pamit pergi.


"Gimana sekarang, mau langsung pulang?" tanya Henritz saat mereka berdua melangkah menyusuri koridor rumah sakit.


Valenesh menggeleng. "Aku mau kamu temani aku jalan-jalan dulu."


"Oke siap Tuan putri," ucap Henritz sambil tersenyum manis.


"Sayang di depan sana kayaknya ada stand makanan!" seru Valenesh begitu antusias.


"Mau ke sana?"


"Oke yuk!" Henritz menggenggam tangan Valenesh lalu menuntunnya ke seberang jalan.


"Pelan-pelan Sayang nanti bayi kita kenapa-kenapa." Henritz khawatir melihat Valenesh yang terlalu lincah melihat-lihat beberapa kuliner yang terpajang di sana.


"Nggak apa-apa Sayang. Janin ini adalah bayimu, jadi aku rasa akan kuat seperti ayahnya. Apalagi kau dengar sendiri kan apa kata dokter tadi, bahwa bayi kita di umur yang satu bulan ini sudah seperti bayi yang umur 3 bulan. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?"


Mendengar pernyataan Valenesh Henritz menyadari sesuatu.


"Sayang justru itu yang membuatku takut."


"Takut kenapa Sayang? Sudah ah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku beli ini 3 ya Bu, tolong dibungkus!"


"Baik Nyonya."


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Valenesh mendatangi stand lainnya.


"Crepes dua pak toping lengkap ya!"


"Baik Nyonya, sebentar ya saya buatkan dulu!"


"Baik Pak, saya tunggu."


"Ini untuk kamu Sayang dan yang satu untuk aku." Valenesh menyerahkan satu crepes ke tangan Henritz lalu menggigit bagian yang menjadi miliknya.

__ADS_1


"Buat kamu semua deh sayang aku–"


"Pokoknya harus makan, kalau nggak aku juga nggak mau makan," ujar Valenesh dengan bola mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Baiklah," ucap Henritz pasrah, mengingat saran dari dokter tadi Henritz tidak ingin membuat Valenesh bersedih.


"Sudah Sayang?" tanya Henritz setelah menghabiskan satu buah crepes di tangannya dan melihat Valenesh juga selesai memakan camilan itu.


"Belum Sayang. Aku masih mau beli itu, itu dan itu." Valenesh menunjuk beberapa makanan sambil menelan ludah.


"Mungkin ini yang namanya ngidam," batin Henritz.


"Ah baiklah bungkus semua!"


Setelah puas berbelanja makanan akhirnya Valenesh merengek pulang.


"Sayang aku capek, kakiku pegal-pegal. Rasanya ingin langsung berbaring di atas ranjang."


Henritz terkekeh melihat ekspresi wajah Valenesh yang tidak seperti biasa. Gadis yang selama ini mandiri terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan di mata Henritz.


"Yasudah pegang semua belanjaan dan pejamkan mata!"


Tanpa pikir panjang Valenesh memejamkan mata. Henritz memeluk istrinya dari belakang lalu membawa Valenesh berteleportasi ke rumahnya.


"Buka matamu! Dan kita sudah sam–"


"Arrgh kamu mengesalkan! Sudah kubilang aku tidak suka berteleportasi!" kesal Valenesh sambil memukul-mukul pundak Henritz menyadari dirinya sudah berada di dalam kamar.


"Sudah terlambat dan terpaksa karena kamu ingin segera tiduran," ucap Henritz lalu menggendong tubuh Valenesh menuju ranjang.


"Aku pijit kakinya." Henritz menarik lembut kaki Valenesh dan memijit.


"Wah enak sayang sepertinya kau berbakat."


"Berbakat apa dulu Sayang."


"Jadi tukang pijit, hahaha." Valenesh tertawa renyah.


"Issh, tapi nggak apa-apa sih jadi tukang pijat kamu."


Henritz mendekatkan wajahnya ke ke telinga Valenesh dan berbisik, "Tukang pijat plus-plus." Kali ini Henritz yang tertawa.


"Sayang rasanya seperti mimpi aku bisa hamil anak kamu."


"Vale aku takut."


"Sayang takut kenapa? Seharusnya kami senang kan aku bisa hamil anakmu?"


"Aku senang, tapi bagaimana kalau bayi yang kamu kandung itu adalah bayi vampir sepertiku?"


"Bagiku tidak masalah dan seharusnya kamu bahagia, kan punya penerus?"


"Aku bahagia sayang. Masalahnya apakah kamu kuat menampung bayi itu selama 9 bulan di dalam perutmu, sementara dia vampir yang bisa saja menghisap darahmu? Aku lebih baik tidak punya keturunan daripada harus kehilangan dirimu." Tubuh Henritz bergetar membayangkan Valenesh akan meninggalkan dirinya lagi.

__ADS_1


"Hen! Kau bicara apa sih Sayang? Kami berdua akan baik-baik saja dan akan selalu setia menemani hari-harimu. Jadi, kamu tidak akan pernah saya tinggalkan," ucap Valenesh dan langsung mendekap erat tubuh pria itu untuk memberikan ketenangan.


Bersambung.


__ADS_2