KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 45. Bisakah Hamil?


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Valenesh berlari-lari menuju kamar mandi sambil memegang perutnya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Henritz khawatir sebab wajah Valenesh terlihat pucat. Pria itu berlari menyusul Valenesh ke dalam kamar mandi.


"Sayang aku mual, mau muntah tapi tidak keluar-keluar dan perutku sakit banget," sahut Valenesh dengan ekspresi yang meringis menahan sakit.


"Sini aku bantu," ucap Henritz lalu memijit tengkuk istrinya.


"Hoek, hoek!" Valenesh memaksa mengeluarkan isi dalam perutnya yang terasa mengganjal dan seperti ingin keluar kembali.


"Sayang jangan dipaksakan kalau tidak bisa nanti perutmu tambah sakit," ujar Henritz.


"Tapi Sayang ini sangat menyiksa, hoek, hoek." Akhirnya keluar juga isi perut yang dari tadi memberontak ingin dilepaskan.


"Pijit terus Sayang masih ada yang mau keluar!" perintah Valenesh saat merasa ada sesuatu yang tercekat di tenggorokan.


"Baik Sayang," ucap Henritz sambil terus memijit istrinya dari leher hingga kepala.


"Hoek, hoek." Akhirnya tuntas sudah muntahan yang ingin keluar dari dalam perut Valenesh.


"Sudah Sayang hentikan pijitanya!"


Henritz pun menurut lalu menghidupkan kran air.


"Kumur-kumur dulu Sayang!"


Valenesh mengangguk lalu berkumur-kumur beberapa kali.


"Sudah?"


"Sudah Sayang."


Mendengar jawaban dari Valenesh, Henritz langsung menggendong tubuh Valenesh menuju kamar mereka, tepatnya kamar Valenesh yang sekarang juga menjadi kamar Henritz. Pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Kita ke dokter yuk!" ajak Henritz khawatir dengan keadaan Valenesh.


"Tidak usah Sayang, aku tidak apa-apa kok hanya masuk angin saja," tolak Valenesh.


"Beneran?"


Valenesh mengangguk. "Sini aku pengen peluk kamu!" Suara Valenesh terdengar manja.


"Aih tumben," ucap Henritz melihat istrinya tidak seperti biasa. Biasanya Valenesh sering protes dengan mengatakan 'Peluk-peluk terus bikin aku sesak nafas tahu Sayang' karena saking seringnya Henritz memeluk Valenesh tanpa tahu tempat, bahkan sambil Valenesh masak pun Henritz tetap memeluk tubuh istrinya dari belakang seakan tubuh sang istri menjadi candu baginya.


"Boleh kan kali ini aku yang pengen peluk kamu bukan kamu yang peluk aku terus."


"Boleh, dengan senang hati bahkan dianjurkan." Henritz terkekeh kemudian ikut berbaring di samping sang istri.


"Hen aku semalam mimpi buruk tentangmu," ucap Valenesh sambil memeluk erat tubuh Henritz dan menciumi aroma maskulin dari tubuh pria itu.


"Mimpi apa sih Sayang? Itukah yang membuatmu ingin memelukku seperti ini sekarang?"


"Aku takut kau akan meninggalkanku Hen," ucap Valenesh dengan raut wajah penuh ketakutan.


"Sayang! Sudah berulang kali aku mengatakan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kenapa kau masih ragu?"


Valenesh menggeleng. "Aku bukannya ragu hanya takut saja."

__ADS_1


"Apakah di mimpimu itu aku meninggalkanmu?"


Valenesh mengangguk.


"Kata orang-orang mimpi adalah bunga tidur, jadi jangan dibawa ke alam nyata!" Henritz menggenggam kedua tangan Valenesh lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di kening kemudian di kedua pipi wanitanya.


"Hentikan! Aku mual lagi." Valenesh segera bangkit dari kasur lalu berlari kembali ke kamar mandi dan Henritz pun menyusul kembali.


"Pokoknya kamu harus ke rumah sakit sekarang!" tegas Henritz tak bisa dibantahkan karena pria itu langsung menggendong Valenesh dan berteleportasi ke sebuah rumah sakit.


Mereka berdua muncul di dalam sebuah lorong-lorong rumah sakit yang terlihat sepi.


"Sayang! Kita sudah berada di rumah sakit?" tanya Valenesh terbelalak tidak percaya.


"Iya Sayang," jawab Henritz santai.


"Sudah kubilang pakai cara yang elegan masih aja pakai kekuatan. apa gunanya kamu belajar menyetir mobil?" Valenesh terlihat cemberut. Henritz suka membuat dirinya kaget. Untung saja Valenesh tidak punya riwayat penyakit jantung.


"Iya sorry Sayang. Apa kita kembali lagi ke rumah kemudian bawa mobil ke sini?"


"Nggak usah ribet banget sih jadi orang, balik lagi kembali lagi."


"Lah." Henritz mengernyit. Dalam hati protes bukankah Valenesh yang menurutnya ribet? Diberikan pilihan yang cepat ingin naik mobil yang lebih lama.


"Sayang kau mau bawa aku kemana?" tanya Valenesh melihat Henritz membawa tubuhnya menuju ke salah satu ruangan yang terlihat sepi.


"Emang kenapa?"


"Tuh lihat itu kamar apa?"


"Emang kamar apa?" tanya Henritz dengan begitu bodohnya.


"Enak aja, kau pikir mereka akan jadi vampir? Vampir itu ras sendiri bukan berasal dari manusia yang sudah mati," kesal Henritz sebab Valenesh seakan menganggap dirinya berasal dari manusia yang dibangkitkan.


"Hehe sorry Sayang, jangan cemberut gitu dong!"


"Aku tidak terima kamu menghina kaumku," ucap Henritz dengan ekspresi murka.


"Maaf Hen aku hanya bercanda," ucap Valenesh lalu menunduk. Dia benar-benar merasa tidak enak pada Henritz.


"Kau harus dihukum!" tegas Henritz.


"Lakukanlah!" ujar Valenesh pasrah.


"Kau harus mencium pipiku tanpa melepas selama tiga puluh menit!"


Valenesh terbelalak.


"Itu hukuman atau apa?"


"Hukumanlah. Di dunia vampir kalau kamu menghina seseorang maka kau memang harus mencium orang tersebut sebagai tanda permintaan maaf. Makanya kalau tidak boleh menghina sembarang orang sehingga kau tidak harus mencium sembarang orang juga."


"Oke-oke," ucap Valenesh pasrah. Untung saja yang merasa terhina sekarang adalah suaminya sendiri. Valenesh tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu adalah orang lain.


Henritz memalingkan muka lalu terkekeh. Sepertinya dia puas mengerjai istrinya sendiri.


"Lakukanlah!" perintah Henritz.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Valenesh pun langsung menempelkan pipinya pada pipi Henritz.


"Sayang boleh nggak hukumannya nanti saja di rumah? Nanti saya janji deh lebih dari 30 menit?" Valenesh menawar.


"Tidak boleh," tegas Henritz.


"Tapi Hen malu dilihat orang."


"Nggak akan ada yang melihat, katamu sendiri tadi di depan sana kamar mayat, aku yakin jarang orang yang melintas."


"Hmm baiklah."


Beberapa saat kemudian.


"Sayang sudah setengah jam belum?"


"Belum masih sepuluh menit."


"Ya ampun kok lama amat sih," keluh Valenesh dan Hendritz hanya tertawa dalam hati.


"Sayang bagaimana kalau ada hantu-hantu di dalam sana yang melihat kita?"


"Memangnya kenapa? Biarkan saja mereka iri pada kita."


"Bagaimana kalau dia ingin merasakan seperti yang kamu rasakan saat ini kemudian merebut diriku dari tanganmu?" tanya Valenesh masih dengan posisi pipi yang menempel di pipi sang suami.


"Akan ku bunuh mereka!"


"Kau tahu hantu itu tidak bisa dibunuh?"


"Iyakah?"


"Iya."


"Kalau begitu kita pergi sekarang." Henritz langsung berjalan cepat meninggalkan kamar mayat sedangkan Valenesh malah tertawa melihat sang suami kelabakan.


"Kau menipuku ya?" protes Henritz sambil membawa tubuh Valenesh masuk ke sebuah ruangan.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita yang baru saja bangkit berdiri dari duduknya.


"Maaf Dok kedatangan kami sudah mengganggu. Saya ingin memeriksakan keadaan istri saya," sahut Henritz sedangkan Valenesh menganga melihat tulisan yang terpampang di ruangan tersebut yang menyatakan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan obgyn.


"Hen, kau membawaku ke ruangan spesial kandungan?"


"Ya, siapa tahu kamu mual-mual karena hamil," sahut Henritz padahal tadi dia langsung masuk tanpa perhitungan. Dia hanya tidak ingin terlihat bodoh di mata Valenesh sehingga mencari-cari alasan yang tepat.


"Mana mungkin aku bisa hamil Hen, kamu kan vam–"


Valenesh menghentikan bicaranya mengingat ada orang lain di hadapannya saat ini.


"Bisa, kalian suami istri, bukan? Lebih baik periksa dulu biar tahu hamil tidaknya."


Jawaban dokter membuat Hendritz bernapas lega.


"Iya Dok, tolong periksa istri saya!"


Valenesh hanya menganga mendengar permintaan Henritz. Dia yakin Henritz tidak mungkin bisa membuatnya hamil karena mereka berdua berasal dari alam yang berbeda.

__ADS_1


"Ayo Nyonya kita ke ruang periksa!"


Bersambung.


__ADS_2