
"Tidak ada apa-apa," jawab Valenesh dengan suara datar.
"Yasudah kalau begitu kita ke dalam dulu. Rapat untuk persiapan pengangkatan menjadi raja masih berlangsung dan mereka semua menanyakanku ingin dibuat semeriah apa acaranya. Apakah tetap seperti dulu yang mana dilakukan secara turun-temurun ataukah harus ada pembenahan. Kau punya ide Vale?"
Valenesh tidak menjawab, melainkan langsung bergegas masuk ke dalam istana.
"Ada apa sih ini?" Henrizt menggaruk kepala sebelum akhirnya melangkah dengan cepat menyusul Valenesh.
"Sayang, ada apa denganmu? Apa kau berubah pikiran dan sekarang tidak suka jika aku diangkat menjadi raja?"
"Apakah hal itu harus ditanyakan berulang-ulang?" ketus Valenesh membuat Henritz langsung menghembuskan nafas kasar, tidak mengerti dengan sikap sang istri yang tiba-tiba saja berubah.
"Darimana dia mendapat fotoku semasa kecil? Apa gara-gara melihat hal itu dia menjadi berubah seperti ini?" tanya Henritz dalam hati.
Valenesh semakin melangkah jauh ke dalam. Saat tiba di depan pintu kamarnya dia langsung mengusir Hendritz.
"Sana pergi! Bukankah kau belum selesai rapat?"
"Aku tidak ingin kembali ke sana jika kamu masih marah padaku tanpa alasan yang jelas."
"Sudah pergi sana aku ingin sendiri!" Valenesh mendorong tubuh Hendritz keluar pintu.
"Hah, baiklah kalau itu permintaanmu, tapi setelah aku kembali dari rapat kau harus menjelaskan apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku! Sekarang istirahatlah dan kembalikan moodmu yang buruk ini agar tidak berpengaruh kepada bayi kita yang ada dalam kandunganmu."
Valenesh tidak menjawab, entah mengapa dia sangat marah melihat wajah Henritz, padahal dia sendiri belum membuktikan perkataan Ansel itu benar apa tidak.
Henritz melangkah pergi setelah menatap wajah Valenesh lalu memejamkan mata.
"Semoga ini hanya pengaruh kehamilannya saja," batinnya sebelum pergi
"Ah kenapa ini harus seperti ini Hen? Ayah kalau apa yang dikatakan Ansel itu benar maka maafkan Vale. Vale tidak tahu harus meneruskan rumah tangga dengan Hendritz mengingat anak ini butuh ayah, ataukah harus pergi darinya?"
Valenesh terduduk lemas di lantai. Duduk dengan pikiran yang sangat kacau.
Di luar kamar Henritz bukannya kembali ke ruang rapat, tapi malah mengintrogasi pelayan istana yang ditugaskan menjaga Valenesh.
"Maaf Pangeran, Tuan putri Valenesh tadi menyuruh kami pergi karena merasa risih jika diawasi terus-menerus. Maaf ya Pangeran!"
"Jadi, kalian tidak tahu apa yang membuat dia bersikap cuek seperti itu padaku?"
__ADS_1
Mereka semua menggeleng.
"Ya Tuhan, pelayan seperti apa kalian? Seharusnya kalian mengawasi istriku dari jarak jauh!" bentak Henritz.
Belum diangkat menjadi raja saja mereka sudah ketakutan mendengar suara Henritz yang begitu keras sebab selama ini Henritz selalu bersikap ramah terhadap seisi istana. Bagaimana kalau sampai Henritz menjadi raja? Mereka pikir Henritz akan sangat tegas seperti Fanhouzan.
"Maaf Pangeran, ampuni kami. kami siap menerima hukuman atas keteledoran kami!" Mereka berucap sambil menunduk tidak berani menatap wajah Hendritz yang terlihat murka.
"Sudah sana pergi! Jangan sampai aku berubah pikiran dan memberikan kalian hukuman cambuk!"
"Baik Pangeran." Mereka semua langsung pergi dari hadapan Hendritz.
"Pangeran!" seru seseorang saat Henritz berbalik dan ingin kembali ke dalam ruang rapat.
"Ada apa?" tanya Henritz dengan tatapan tajam. Kalau sampai informasi yang disampaikan oleh orang di hadapannya sekarang tidak penting maka dia sudah siap-siap untuk menampar pria itu.
Entahlah melihat Valenesh yang seperti itu sikapnya pada Henritz, ingin rasanya Henritz memakan semua orang.
"Maaf sepertinya Tuan Ansel kabur dari penjara bawah istana dan saya tidak sengaja tadi melihat dia menyamperi Tuan putri Valenesh lalu mengatakan sesuatu yang saya tidak bisa mendengarnya itu apa. Setelah saya mencoba untuk mendekat ternyata Tuan Ansel langsung pergi dari sini dan Tuan putri Valenesh tampak termenung."
"Kau serius dengan apa yang kau lihat tadi?"
"Oh, jadi gara-gara dia yang membuat Valenesh bersikap acuh tak acuh seperti tadi padaku? Mungkin dia sudah menebarkan fitnah di hati istriku."
"Mungkin saja Pangeran, kalau tentang itu saya tidak berani menyimpulkan."
"Hmm, ayo kita segera periksa ke penjara bawah istana!"
"Mari Pangeran."
Keduanya pun berjalan dengan cepat menuju ruangan bawah istana.
"Pengawal bagaimana mungkin kalian bisa membuat Ansel lolos dan keluar dari tempat ini!"
"Maaf Pangeran, apa yang Pangeran maksud?"
"Apa aku harus mengulang perkataanku? Mengapa kalian tidak becus menjaga Ansel sehingga dia kabur?"
"Tapi Pangeran–?"
__ADS_1
"Tapi apa? Mau mengelak?"
Mereka semua menggeleng, lalu menatap ke arah Ansel yang tampak tertidur di dalam jeruji besi.
Sontak Henritz pun melihat ke arah yang mereka pandang sebab pandangan mereka semua tertuju pada satu titik.
"Apa, jadi dia masih ada di dalam?" Henritz syok melihat Ansel yang dibicarakan tadi ternyata masih dalam keadaan tertidur dengan tubuh yang tampak mengenaskan.
Semua penjaga mengangguk dan kini Henritz menatap tajam ke arah pria yang datang bersamanya tadi.
"Sumpah Pangeran, saya tidak berbohong."
"Saya tadi juga melihat Pangeran makanya saya langsung mengecek ke sini," ujar seorang wanita.
"Bibi?"
"Iya saya melihat semuanya, saat pria yang Pangeran maksud menemui Tuan Putri Valenesh dan saya tidak bisa mencegahnya saat pria itu mengatakan bahwa pangeran yang telah membunuh ayahnya. Tanganku gemetar pangeran, jadi hanya terpaku di tempat saja."
"Jadi Vale sudah tahu bibi jika aku yang telah membunuh ayahnya?" Kini Henritz pun ikut gemetar. Dia tidak sanggup kehilangan Valenesh.
"Tapi Pangeran, mengapa dia juga berada dalam penjara itu apakah dia mempunyai ilmu seribu bayangan?"
Ansel yang merasa tempat itu berisi sekali, tak sengaja mendengar pembicaraan semua orang di luar karena sebenarnya dia tidak tidur.
"Lepaskan aku!" teriak Ansel dari dalam jeruji.
"Enak saja minta dilepaskan setelah apa yang kamu lakukan padaku dan istriku. Bukankah kau mempunyai jurus bayangan, mengapa tidak menggunakan kekuatanmu itu untuk lolos dari sini dan hanya meninggalkan bayanganmu saja di tempat ini?"
"Hahaha ... ternyata kalian semua lucu dan bodoh! Kalau memang saya mempunyai kekuatan seperti itu maka sudah dipastikan saya tidak ada di tempat ini sekarang. Kalian telah dibodohi Ansel palsu. Sebenarnya satu yang diinginkan oleh pria itu darimu dan Valenesh. Yaitu, jangan sampai ada bayi yang lahir dari rahim Valenesh yang merupakan keturunanmu. Dia khawatir karena takdirnya akan mati di tangan putramu itu."
Mendengar kalimat terakhir dari mulut Ansel Henritz dan semuanya terperangah.
"Jadi, itu bukan masalah tentang darah suci?"
"Tentu saja ada hubungannya Pangeran Henritz! Jika Valenesh tidak punya darah itu, tidak akan mungkin ada keturunan yang bisa ditakutkan oleh Ansel."
"Apa yang kau bicarakan ini bisa dipertanggung jawabkan?"
"Saya hanya menyampaikan kebenaran, terserah Pangeran percaya atau tidak. Tolong pertemukan aku dengan Valenesh. Aku sangat merindukannya."
__ADS_1
Bersambung.