KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 57. Malam Penobatan


__ADS_3

Ketika sampai di dunia vampir, di sana terlihat sangat ramai, lebih ramai dari biasanya.


"Pangeran, sebentar lagi acara akan dimulai!" lapor seorang pelayan kerajaan.


"Baik aku akan segera ke sana," ucap Henritz lalu masuk ke dalam kamar dengan membawa Valenesh.


"Sayang, kau ganti baju dulu!" perintah Henritz saat melihat Valenesh langsung duduk di tepi ranjang.


Valenesh tidak menunjukkan reaksi apapun, ia abai dengan perintah sang suami.


"Ayolah, aku mohon! Nanti setelah acara selesai kita akan bicara baik-baik tentang ayahmu," ucap Henritz dengan suara pelan.


Valenesh tetap duduk seperti patung, ia sama sekali tidak tertarik dengan perkataan Henritz.


"Sayang, nanti aku punya kejutan untukmu. Ada seorang yang akrab di masa lalumu dan ingin bertemu." Henritz mencoba tersenyum, meskipun hatinya gelisah, karena sang istri tidak kunjung mau bicara sedari tadi.


"Sayang!"


Akhirnya, Valenesh bangkit berdiri. Dengan malas dia beranjak ke arah lemari lalu mengambil pakaian dirinya.


"Nah, gitu dong, kalau begitu, kan kamu kelihatan lebih cantik," goda Henritz saat Valenesh sudah mengganti pakaian, namun Valenesh masih saja diam membisu. Tidak ada keinginan sedikitpun untuk membalas candaan suaminya.


Senyum di bibir Henritz pudar.


"Aku pergi," katanya sambil melangkah keluar kamar. Kali ini Henritz benar-benar kecewa dengan sikap istrinya.


Melihat Henritz pergi Valenesh mengikuti dari belakang. Sampai di luar istana rakyat dari negeri itu sudah banyak yang hadir untuk menyaksikan langsung penobatan raja.


Sebelum Henritz dinobatkan sebagai raja, terlebih dahulu ditampilkan acara penyambutan yang berupa tarian khas negeri mereka, juga beberapa jurus andalan kerajaan.


Hingga acara puncak Henritz dipanggil naik ke atas untuk diberikan mahkota dan jubah kerajaan.

__ADS_1


Semua orang bersorak-sorai melihat Henritz menerima mahkota tersebut karena bagi mereka, Henritz lah yang memang berhak mendapatkan ini semua karena merupakan putra mahkota dari mendiang raja Fanhouzan.


Semua vampir hari ini sangat berbahagia setelah sekian lama melihat posisi raja kosong dan tidak ada yang bertanggung jawab atas kerajaan vampir.


Mungkin Sharon dan Rodex sempat mengambil alih itu semua, namun rakyat benar-benar merasa tidak puas dengan kepemimpinan mereka yang sangat egois.


Alih-alih ingin menyejahterakan rakyat, tenyata stok darah yang mereka kumpulkan lebih banyak mereka berdua pakai untuk kepentingan mereka pribadi dibandingkan rakyat yang kehausan, yang hanya meminum seadanya.


Sorak-sorai terus berlanjut tatkala pembawa acara meminta Valenesh mendampingi Henritz ke atas panggung untuk memberikan sambutan terhadap para rakyatnya. Sebenarnya Valenesh malas, namun bagaimanapun dia tidak ingin mempermalukan suaminya itu meskipun masih dalam keadaan marah pada sang suami.


"Permaisuri Valenesh, pelan-pelan!" seru pembawa acara saat melihat Valenesh kesusahan dalam berjalan.


Valenesh mengangguk sambil tersenyum, dia harus terlihat bahagia di depan seluruh rakyat vampir yang otomatis akan menjadi rakyatnya juga.


"Iya, terima kasih atas perhatiannya," ujar Valenesh sambil mengembangkan senyuman termanisnya sehingga sorak-sorai semakin riuh.


"Sini Sayang, temani aku!" seru Henritz sambil melambaikan tangan ke arah Valenesh. Valenesh mengangguk dan berdiri di samping Henritz, membuat Henritz jadi bersemangat untuk berbicara pada rakyatnya.


"Apa boleh buat, daripada kerajaan dalam keadaan kosong, lebih baik aku yang minim pengetahuan ini, maju ke depan untuk menyelamatkan bangsa kita yang bisa saja terancam bahaya karena tidak ada pemimpinnya. Aku tidak sempat merangkai visi dan misi karena acara ini sangatlah mendadak. Namun, kalian harus tahu, bahwa aku, Henritz Fanhouzan, akan terus menjaga kerajaan ini dan melindungi rakyat-rakyatku dari serangan orang-orang yang membenci bangsa kita, dan juga dari apapun yang mengancam nyawa kita bersama termasuk di dalamnya adalah kelaparan."


Tepuk tangan semakin riuh, dan suasana semakin ramai menyambut malam yang semakin merayap gelap.


"Satu lagi, mungkin diantara kalian sudah ada yang tahu, tapi tidak menutup kemungkinan juga masih banyak yang belum tahu. Dalam kesempatan kali ini, aku, ingin memperkenalkan seseorang. Seseorang yang berharga di hatiku. Seseorang yang beda alam denganku, tapi bisa mengerti diriku melebihi siapapun. Dia, yang berdiri di sampingku saat ini adalah istriku, yang mulai sekarang menjadi permaisuri di kerajaan ini. Aku harap, kalian tidak hanya patuh dan menghormatiku , tetapi patuh dan menghormatinya juga."


Semua bangsa vampir yang hadir di tempat itu mengangguk mantap.


"Oh, ya, karena aku sebagai raja kalian, menikahi wanita dari bangsa manusia, maka mulai saat ini tidak ada aturan untuk tidak boleh menikah dengan bangsa lain terkecuali bangsa serigala, karena mereka adalah musuh bebuyutan nenek moyang kita. Namun, aku tidak membatasi jika kalian hanya ingin berteman saja, karena tidak menutup kemungkinan ada di antara insan bangsa serigala yang baik terhadap diri kita, sebab aku pun pernah bertemu dengan insan yang seperti itu. Yang terpenting, harus selalu siaga dan jangan sampai membocorkan rahasia kerajaan."


"Baik paduka!" teriak mereka hampir bersamaan.


"Baiklah, sekian saja yang mampu aku ucapkan malam ini, dan kami pamit undur." Henritz mengandeng tangan Valenesh dan membawanya turun.

__ADS_1


Beberapa petinggi kerajaan mengiringi langkah Henritz hingga sampai di kursi singgasana.


"Aku ingin ke kamar dan kalian lanjutkan berpesta!" perintah Henritz lalu mengajak Valenesh kembali ke kamar.


"Sayang, terima kasih ya, sudah mau menemaniku tadi," ucap Henritz setelah mereka berdua sampai di kamar.


Valenesh kembali diam dengan tatapan yang terlihat dingin.


"Kita temui Ansel sekarang, semoga saja dia bisa menjelaskan semuanya hingga kemarahanmu tidak berlanjut terus."


"Ansel?" Valenesh terlihat kaget.


"Ya, Ansel yang sebenarnya, bukan Ansel yang sering menganggu hidup kita."


"Apa yang kamu katakan, Hen?"


"Sudahlah, kau ikut saja, barangkali dia bisa bercerita dengan versi yang lain dari yang lainnya. Kau tahu Vale, semua kabar yang beredar dan menjadi cerita dari orang-orang belum tentu semuanya benar. Mereka hanya berasumsi tanpa bisa melihat dengan jeli, apalagi hanya mendengar dari satu, dua orang, yang sama sekali tidak berada di tempat kejadian itu."


"Hmm, ayahku tidak mungkin berbohong Hen, sudahlah, mengakui kesalahan lebih bijak daripada menutup dengan sejuta alasan."


"Kau boleh berasumsi Vale, tapi nanti setelah kau bertemu dengan Ansel yang ada dalam penjara."


"Apa? Ansel ada dalam penjara?"


"Ya, sudah sejak kita kembali ke alam ini waktu itu."


"Tapi, tadi pagi aku bertemu dengan ansel di luar istana."


"Hmm, sebaiknya kita temui Ansel sekarang, dan biarkan dia yang menjelaskan semuanya sebab jika aku yang menjelaskan kau tak akan pernah bisa percaya."


"Hen, sandiwara apalagi ini?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2