KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 56. Maafkan Aku


__ADS_3

Valenesh bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah kamarnya sendiri. Ia duduk di tepian ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis sesenggukan. Hingga sore hari, ia baru berbaring sambil memejamkan mata setelah matanya sembab.


Di istana vampir, Henritz mondar-mandir melihat Valenesh yang katanya pergi dengan Zorro belum kembali juga. "Vale, apa kau lupa malam ini adalah malam pengangkatanku sebagai raja?" Henritz terlihat gelisah. Beberapa kali mencoba menghubungi Zorro dengan kemampuan bicara jarak jauh itu, sama sekali tidak ada respon. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu saat ini. Mungkin saja ia sedang bersenang-senang dengan Kekey sehingga lupa waktu dan juga melupakan Valenesh.


"Ah, kenapa aku bodoh? Kenapa tidak mendatangi Valenesh di rumahnya saja?" Henritz menepuk jidatnya sendiri. Mengapa ia jadi bodoh seperti itu? Bukankah hanya dengan mengedipkan mata, ia bisa langsung sampai ke samping Valenesh dengan kemampuannya?


"Tapi kalau Vale tidak ada di rumahnya? Ah, bodoh amat. Nanti aku cari kemanapun di sana," gumam Henritz lalu memejamkan mata.


Cling.


Sesaat kemudian, ia sudah berada di depan kamar Valenesh. Melihat istrinya tertidur pulas, Henritz mengulas senyuman. "Kau terlihat nyenyak sekali. Apa di duniaku tidak senyaman di alam ini?"


Dengan perlahan, Henritz melangkah ke dalam kamar yang pintunya terbuka itu. Ia duduk di samping Valenesh dengan hati-hati karena takut menganggu tidur sang istri.


"Vale," ucapnya sambil membelai rambut sang istri dan menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi mata ke telinga Valenesh.


Valenesh meringis, beberapa kali terdengar suara sesenggukan dengan mata yang masih terpejam. Sepertinya sisa tangisan tadi masih ada.


"Sayang, apa yang terjadi? Apakah bermimpi buruk?" gumam Henritz sambil terus memainkan rambut Valenesh dan sesekali mengusap kepala Valenesh, padahal niatnya tidak ingin mengganggu tidur wanita itu.

__ADS_1


Merasa tidurnya terganggu, Valenesh langsung membuka mata. Ia kaget saat mendapati Henritz yang berada di sisinya. Wanita itu langsung duduk.


"Kau–"


"Maaf mengganggu tidurmu, tapi kita harus kembali ke alam vampir karena sebentar lagi ada acara."


Valenesh hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi.


"Vale, ada apa denganmu? Jika ada masalah, kau bisa membicarakannya padaku," ujar Henritz melihat ekspresi yang tidak biasa dari wajah Valenesh.


Valenesh tidak menjawab, hanya menatap wajah Henritz dengan ekspresi masam.


"Sayang, ada apa?" Henritz meraih pundak Valenesh lalu memeluknya dengan lembut. Tubuh gadis itu tampak bergetar, antara ingin menolak dan ingin memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Sayang, apa yang membuatmu sedih?" tanya Henritz sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Valenesh lalu menarik wajah istrinya hingga wajah mereka berhadapan.


Valenesh tetap diam. Dia tidak tahu harus bicara apa.


"Sayang, jangan membuatku khawatir. Apa perutmu sakit?" Tangan yang menyentuh pipi istrinya kini terulur turun ke bawah dan mengusap perut Valenesh.

__ADS_1


Air mata Valenesh semakin luruh tak tertahankan. Namun, ia tetap enggan bicara.


"Vale, jangan membuatku lemah seperti ini! Kau tahu kaulah kekuatanku sekarang." Tatapan Henritz terlihat sendu. Dia berharap Valenesh bisa mengerti perasaannya. Henritz tidak suka diabaikan seperti itu.


Pria itu lalu melepaskan pelukannya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, sedangkan Valenesh sendiri langsung berdiri. Saat itulah, dua foto yang masih menempel di pakaian Valenesh terjatuh ke lantai hingga memecahkan fokus Henritz.


"Apa ini?" lirih Henritz sambil membungkuk dan meraih kertas yang terjatuh dengan keadaan terbalik. Pria itu kaget tatkala melihat namanya tertulis di sana. Segera Henritz mengambil dan membacanya.


Tangannya terlihat bergetar kala membaca catatan dari Tommy yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Henritzlah yang telah membunuhnya. Mungkin Tommy bisa memaafkannya, tapi belum tentu dengan Valenesh, bukan?


Henritz langsung menatap wajah Valenesh. "Jadi, kau sudah tahu semuanya?"


Valenesh mengangguk. Henritz menghembuskan nafas berat.


"Maafkan aku, Vale," lirihnya lalu menunduk.


Tidak ada jawaban dari Valenesh membuat keduanya mendadak bisu. Tidak ada yang terdengar di kamar tersebut, melainkan hanya detak jantung dan jarum jam yang seakan tidak pernah lelah bertugas siang dan malam.


"Semoga saja perkataan Ansel yang dipenjara itu benar dan Valenesh bisa memaafkanku," batin Henritz. Sepertinya ia memang harus mempertemukan keduanya.

__ADS_1


"Kita kembali ke dunia vampir." Tiba-tiba saja, Henritz memutuskan.


Tanpa meminta persetujuan Valenesh, Henritz langsung memeluk tubuh istrinya dan membawanya kembali ke dunia vampir.


__ADS_2