KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 36. Tiada Maaf


__ADS_3

"Cepat tangkap jangan sampai lepas!" teriak Henritz.


Para pengawal kerajaan pun langsung bergegas mengejar Rodex dan Sharon.


Melihat Sharon yang begitu gesit mengelak dari tangkapan para pengawal kerajaan, akhirnya Hendritz memutuskan untuk menghalangi jalan mereka dengan cara menggerakkan benda di depan mereka.


"Ah, ibu bagaimana ini?" tanya Rodex semakin panik.


"Diamlah jangan membuat ibu bertambah pusing!" perintah Sharon pada putra dalam gendongannya.


"Bibi tolong singkirkan benda ini!" perintah Sharon pada pelayan pribadinya. Namun, wanita itu hanya menatap kemudian pergi begitu saja.


"Brengsek mengapa semuanya beralih mendukung Hendrits!" umpat Sharon.


"Ansel tolonglah kami!" batinnya.


"Kena kau!" ucap para pengawal sambil mengelilingi tubuh Sharon.


"Kalian kurang ajar ya! Seharusnya kalian menangkap Henritz dan memusnahkan dia dari kerajaan ini. Bukankah kalian tahu sendiri dia suka menghilang dan tidak pernah mengurusi kerajaan. Jadi, jika tidak ada saya dan Rodex di sini sudah kupastikan kerajaan ini dalam keadaan kacau balau."


"Jangan dengarkan dia cepat tangkap dan masukkan ke dalam peti seperti yang saya perintahkan!" tegas Henritz.


"Baik." Mereka pun langsung menangkap tubuh Sharon.


"Lepas!" teriak Sharon sambil berusaha memberontak.


Namun, pegangan mereka bertambah kuat karena takut Sharon kabur dan mereka akan dihukum oleh Henritz.


"Apa yang kalian pikirkan? Cepat masukkan ke dalam peti di ruangan bawah!"


"Ampun Hen, kami mengaku salah. Kami meminta maaf dan kami berjanji akan memperbaiki semuanya," ucap Sharon mencoba merayu sedangkan Rodex terbelalak melihat ibunya menghinakan diri dengan cara meminta maaf kepada Hendritz.


"Ibu! Apa yang Ibu lakukan? Kenapa Ibu merendahkan diri dengan cara seperti ini?"


"Diam kamu Rodex kamu ingin mati membeku di dalam peti yang dingin itu? Tidak ada cara lain selain meminta maaf pada Henritz dan mengakui kesalahan kita."


"Tidak! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah meminta maaf kepada Hendritz." Rodex begitu keras kepala.


"Tidak usah capek-capek meminta maaf Ibu, karena tidak ada maaf untuk seseorang pengkhianat." Henritz tersenyum sinis.


"Cepatlah bawa mereka!"


Tubuh Sharon dan Rodex pun digotong dan dibawa ke ruangan bawah.


"Tolong jangan masukkan kami ke tempat ini!" mohon Sharon. Tubuhnya mengeluarkan keringat deras padahal yang dihadapinya adalah peti dingin yang bahkan mengepulkan asap salju seperti musim dingin karena saking dinginnya suhu udara di dalam peti tersebut.

__ADS_1


Para pengawal melihat ke arah Henritz untuk mendapatkan perintah selanjutnya. Apakah akan tetap melanjutkan hukuman ataukah akan memberi maaf kepada Sharon maupun Rodex.


"Apa kalian tidak bisa melakukannya? Mengapa lelet sekali? Kalau tidak, biar aku sendiri yang memasukkan mereka ke dalam peti. Kalian tidak perlu mendengarkan ucapan mereka karena saya yakin ucapan mereka hanyalah palsu belaka. Setelah mereka lepas mereka akan membunuhku atau bahkan seluruh warga di kerajaan ini." Henritz dapat membaca taktik apa yang ada di pikiran Sharon saat ini.


Mereka pun langsung meletakan tubuh Sharon dan Rodex dalam peti yang berbeda.


"Ibu!" teriak Rodex. Namun, suaranya menghilang seiring peti yang tertutup rapat.


"Awas kamu Hendritz, aku bersumpah jika aku bisa lolos dari peti ini aku akan memusnahkan seluruh keturunanmu!"


"Tutup!" perintah Henritz dengan berteriak.


Mereka pun langsung menutup peti di mana Sharon sudah berbaring di dalamnya.


"Simpan di sudut ruangan!"


"Bagaimana kalau mereka bisa keluar Pangeran? Apa perlu peti itu ditindih dengan benda lain?"


"Sebenarnya 5 menit berada di dalam peti itu mereka sudah akan membeku dan tidak bisa bergerak. Namun, mereka bisa saja terlepas jika ada pengkhianat di kerajaan ini. Oleh karena itu memang membutuhkan benda lain agar susah membuka petinya. Ambil pintu besi itu dan taruh di atas peti masing-masing!"


"Baik pangeran."


Mereka pun melakukan apa diperintahkan oleh Henritz dengan sigap.


"Sudah Pangeran, ada yang perlu kami lakukan lagi?"


"Baik pangeran."


Mereka semua pun meninggalkan tempat. Kini di ruangan bawah itu hanya tersisa Hendritz seorang diri. Pria itu memandangi peti dengan bercucuran air mata.


"Maafkan aku ayah. Aku tega pada ibu Sharon, tapi ini kulakukan karena mereka berdua juga tega pada ayah. Kalau saja mereka berdua tidak mengatakan kelemahan ayah pada lawan, maka mungkin saat ini ayah masih bisa menemani Henritz dan memimpin kerajaan ini yang masih membutuhkan ayah. Bukan itu saja, mereka pun sudah melakukan konspirasi untuk melenyapkan ibu." Henritz menghela nafas panjang.


"Jujur Hendritz masih belum bisa menjadi raja yang baik karena minim pengetahuan. Namun, ini lebih baik daripada kerajaan kita dipimpin oleh seorang pembunuh bangsa sendiri dan pengkhianat kerajaan." Hendritz mengusap air matanya.


Dia meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu ditangisi dan disesali. Bukankah dia sudah menjalankan hukuman seperti yang ayahnya jalankan dulu terhadap para pengkhianat bangsa?


Sebelum pergi, dengan seksama Henritz memastikan keduanya tidak bisa lepas dan melarikan diri dari dalam peti.


"Kalian tenanglah di dalam peti itu dan tunggu 50 tahun untuk bisa lepas dari dalamnya! Aku berharap setelah kalian kembali, pikiran kotor kalian sudah membeku dan tidak bisa dipulihkan lagi karena kalau tidak, maka kalian akan kembali ke dalam peti ini lagi." Setelah mengatakan itu Henritz berlalu pergi.


Sampai di pintu keluar, Henritz seperti dikelilingi cahaya.


"Cahaya apa ini? Kenapa berputar mengelilingi tubuhku?" Henritz kaget dengan semuanya.


Tiba-tiba dari dalam cahaya itu muncul wajah Fanhouzan.

__ADS_1


"Ayahanda!" Tentu saja Henritz kaget bercampur senang.


"Selamat anakku kau sudah menang dari satu kejahatan. Sebagai imbalannya maka kemampuan telepati yang sempat hilang di usiamu yang ke-9 tahun kini akan kembali."


"Benarkah Ayah?" Henritz seolah tidak bisa mempercayainya. Ini seperti mimpi saja.


"Iya, dan mulai saat ini kau akan bisa berbicara dengan siapapun yang kamu inginkan dari jarak jauh. Pejamkan matamu dan setelah cahaya itu menghilang maka kau hubungi saja adikmu Zorro untuk membuktikan kemampuanmu telah kembali!"


"Baik Ayah."


Henritz memandang wajah Fanhouzan sambil tersenyum dan tidak pernah puas.


"Mengapa kau malah memandangi wajah ayah? Bukankah aku menyuruhmu untuk memejamkan mata?"


"Sebentar Ayah biarkan begini dulu. Berikan izin Henritz mengobati kerinduan akan wajah dan sosok ayah. Sebentar saja, karena setelah ini Henritz tahu Ayah akan hilang lagi."


Fanhouzan hanya menatap Henritz dengan tatapan sedihnya sambil mengangguk.


"Ayah izinkan Henritz untuk menikahi wanita dari alam yang berbeda!"


"Siapa yang kau cintai Nak? Amber, kah? Kalau wanita yang kau cintai itu adalah keturunan manusia serigala ayah tidak akan pernah mengizinkan. Bukankah kau sendiri tahu bahwa manusia serigala adalah musuh bebuyutan bangsa vampir sedari dulu?"


"Henritz tahu Ayah, dan wanita itu bukan Amber. Saya dan dia hanya bersahabat saja. Wanita yang Henritz cintai adalah keturunan manusia biasa, tapi ayah tahu? Dia memiliki darah murni yang siap memberikan darahnya kepada Hendritz kapan saja. Namun, Henritz ingin menikahinya bukan karena itu, tapi karena benar-benar mencintai dia, Ayah."


Fanhouzan terdiam sejenak. Sepertinya dia tahu siapa pemilik darah murni itu. Gadis itu adalah putri dari mantan kekasihnya yang hubungannya sama sekali tidak direstui dulu.


"Menikahlah jika dia mau menikah denganmu dan keluarganya menyetujui hubungan kalian."


"Kalau itu Ayah tenang saja bahkan dia bersedia jika Henritz ajak untuk tinggal di kerajaan vampir ini dan untuk masalah keluarga dia hidup sebatang kara Ayah. Dia hanya punya para sahabat tanpa memiliki kedua orang tua."


"Baiklah kalau begitu ayah setuju hubungan kalian dan sekarang pejamkan matamu untuk mendapatkan kembali kekuatanmu yang hilang itu!"


"Baik Ayah."


Henritz memejamkan mata dan bersamaan dengan itu cahaya warna-warni seperti pelangi mengelilingi tubuhnya. Meskipun Henritz memejamkan mata, tetapi dia seolah melihat sinar itu. Tubuh pria itu bergetar hebat dan setelah cahaya itu menghilang getaran tubuhnya berhenti seketika.


Henritz membuka mata dan mendapati tubuhnya sekarang lebih bugar dari biasanya.


"Zorro!" Henritz mencoba memanggil adiknya.


"Siapa kamu?"


Zorro bingung mendengar suara tanpa ada orangnya.


"Aku Henritz, bagaimana kabar bibik?"

__ADS_1


"Hen? Kekuatanmu sudah kembali?" tanya Zorro seolah tidak bisa mempercayai itu semua.


Bersambung


__ADS_2