
"Kalau begitu kau tinggal di sini dulu, aku akan mengecek ke dalam sebentar! Kalau melihat atau mendengar informasi penting lagi tolong sampaikan padaku!"
"Hen antar aku pulang dulu!" pinta Kekey.
Wussh.
Angin berhembus kencang dan setelah reda, Henritz sudah tidak ada di samping Kekey.
"Dasar vampir," geram Kekey karena Henritz menghilang begitu saja saat dirinya belum selesai berbicara.
"Ah, Henritz sama saja dengan vampir pria itu," kesal Kekey karena sebenarnya dia tidak sabar untuk keluar dari alam tersebut. Rasa-rasanya Kekey sesak berada di alam vampir dan matanya seperti mau rabun saja mengingat pencahayaan di sana tidak sama dengan di alam manusia.
"Kau mau kemana?"
"Astaga, vampir pria ini lagi, apa sebenarnya mau vampir ini?"
"Kau tidak akan bisa kabur dariku Kekey!"
"Hah! Kau tahu namaku?"
"Untuk mencari tahu namamu sangatlah mudah, tapi untuk kabur dari tempat ini, sangatlah susah." Zorro tersenyum devil.
"Katakan apa maumu?! Mau darahku? Silahkan ambil, tapi setelahnya kau harus mengantarku pulang!"
"Tidak, tidak, tidak. Stok darah di dalam istana masih banyak. Aku hanya perlu kau menemaniku di sini."
"Dasar vampir gila, keluarganya juga gila. Masa sesama saudara ingin membunuh? Hup." Kekey langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
"Apa maksudmu?" tanya Zorro tidak paham tentang siapa yang akan dibunuh dan siapa yang akan membunuh.
"Lupakan saja, aku asal bicara!"
Zorro langsung menarik Kekey ke samping belakang bangunan.
"Apa-apaan sih main serat-serat segala. Bunuh saja kalau kamu mau!" teriak Kekey.
"Sst! Jangan sampai suaramu kedengaran vampir lain, terlebih lagi ibu dan kedua saudaraku!" Zorro memperingatkan.
"Memangnya kenapa?"
"Sudahlah lain kali aku jelaskan, sekarang sebaiknya aku antar kamu ke kamar."
"Ckk." Kekey hanya bisa berdecak dan pasrah saja saat Zorro menarik tangannya. Rasanya tidak ada cara lain selain pura-pura menurut agar Zorro bisa mengasihani dirinya dan pada akhirnya akan mengantar Kekey pulang kecuali kalau Henritz mau membawa Kekey ikut pergi bersamanya.
__ADS_1
"Kau kenal dengan Henritz?" tanya Zorro saat mereka sampai di kamar, di kastil yang berada di belakang istana.
Sementara itu Henritz sudah berdiri di depan pintu kamar Rodex dan menguping pembicaraan antara Sharon dan putranya. Pria itu bersemangat saat mereka berdua membicarakan tentang dirinya.
Sayangnya Hendritz kecewa karena tidak ada informasi penting yang didapatkan kecuali hanya mengetahui bahwa Sharon dan Rodex bekerja sama dengan Ansel untuk membunuh dirinya dan informasi itu sudah didapatkan dari Kekey tadi.
Sampai saat ini Henritz masih tidak mengerti mengapa saudara dan ibu tirinya itu masih mengincarnya padahal dia sudah membiarkan tahta kerajaan berada dalam genggaman Rodex dan tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin merebut kembali.
Saat tengah serius-seriusnya tiba-tiba Andrew menelpon.
"Aih di sini tenyata juga ada jaringan, benar-benar aneh alamku ini," batin Henritz.
Takut dering ponsel di dengar oleh kedua orang di dalam kamar, Henritz langsung mengecilkan volumenya dan menjauh dari tempat itu untuk mengangkat panggilan telepon.
"Halo Drew ada apa?"
"Valenesh kolaps Henz, dia sekarang kejang-kejang lagi." Suara Andrew terdengar parau sepertinya pria itu sangat khawatir dan baru saja menangis.
"Baik aku segera kembali!" Henritz langsung mematikan sambungan telepon kemudian berpindah dari alam vampir ke alam manusia.
"Vale kamu kenapa?" tanya Henritz begitu khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.
Tubuh Valenesh masih terus bergetar dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Drew apa yang terjadi?" Kini Henritz beralih bertanya pada Andrew.
"Aku juga tidak tahu Hen. Tiba-tiba saja Valenesh begini tanpa sebab. Sekarang pak satpam masih menelpon dokter."
Henritz mengangguk lalu duduk di samping ranjang Valenesh.
"Semoga saja dia tidak apa-apa. Ah, kenapa aku merasa bodoh begini?!" Henritz meninju udara, melampiaskan kekesalannya pada diri sendiri.
Beberapa saat kemudian dokter memasuki ruangan dengan berlari.
"Kenapa lagi dengan Nona Valenesh?" tanya dokter itu sambil memeriksa.
"Entahlah Dok, kami juga tidak tahu."
Saat diperiksa oleh dokter ternyata tubuh Valenesh semakin kencang bergetar. Suhu tubuhnya kembali panas.
"Vale Sayang bangunlah! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Henritz dengan ekspresi wajah yang begitu sedih.
Tiba-tiba getaran di tubuh Valenesh mendadak hilang dan tubuh gadis itu langsung lunglai tak berdaya.
__ADS_1
"Maaf sepertinya Nona Valenesh sudah tiada," ujar dokter dengan sangat menyesal sebab dirinya sudah terlambat untuk memberikan pertolongan.
"Apa katamu Dok?" tanya Henritz tidak percaya.
"Nona Valenesh sudah meninggal dunia," jelas dokter lagi.
"Dokter kau jangan mengada-ada, saya bisa menuntut dokter jika begitu." Andrew tidak terima sahabatnya dikatakan sudah mati.
"Maaf Tuan Andrew, tapi itu sudah kenyataannya. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Andrew menggeleng. Dia masih tidak percaya Valenesh akan pergi secepat ini.
"Tidak dokter, dokter salah periksa," ucap Henritz dengan suara lirih, tetapi tatapannya begitu menusuk.
"Tolong sembuhkan kekasih saya!" perintahnya kemudian. Kali ini tatapannya berubah sayu, tatapan termelas dari Henritz.
"Maaf Tuan saya tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati," ucap dokter sambil menunduk.
"Dasar dokter payah! Terus apa gunanya dirimu Dok?!" bentak Henritz sambil menarik kerah baju dokter.
Namun, dokter itu memilih diam dan tidak menjawab. Dia paham bagaimana perasaan Henritz saat ini. Ditinggalkan pasangan untuk selama-lamanya adalah beban terberat setiap makhluk hidup.
"Apa gunanya dirimu Dokter jika tidak bisa membuat Valenesh membuka mata lagi," lirih Henritz kemudian dengan air yang mulai tergenang di pelupuk mata.
Pria itu mendekati Valenesh lalu mengguncang tubuhnya.
"Bangun Sayang jangan tinggalkan aku sendiri! Aku tidak mampu tanpamu Vale. Kumohon bangun dan temani aku!"
Tak ada respon dari Valenesh meskipun sekeras apapun Henritz mengguncang tubuhnya. Henritz langsung memeluk jasad Valenesh dengan begitu erat.
"Vale jangan tinggalkan aku! Hiks, hiks, hiks." Akhirnya tangis Henritz benar-benar pecah. Air matanya deras bercucuran.
"Bangun Vale! Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk memberikan darahmu setiap saat aku membutuhkannya! Vale ...." Henritz menyeka air matanya.
"Vale kenapa kamu ingkar janji? Bukankah kau juga berjanji padaku untuk menemani saat aku mengambil alih tahta kerajaan demi kebaikan rakyatku? Mengapa kau meninggalkan janji-janji itu begitu saja?" Air mata Henritz jatuh pada di pipi Valenesh sedangkan Andrew yang tidak bisa berkata apa-apa terduduk tak berdaya.
Kesedihan yang sangat mendalam membuat drinya menjadi lemah dan tidak mampu untuk berkata walau hanya sepatah katapun saat ini.
"Vale bangunlah, kami semua masih membutuhkanmu," ucap Andrew dalam hati.
"Aku, Kekey, Star fool, dan yang paling membutuhkanmu adalah Henritz," batinnya.
Bersambung.
__ADS_1