
"Hei kalian enak-enakan ya di sini sayang-sayangan sementara aku dan Zorro harus hidup dalam ketidaktenangan di alam vampir sana," protes Kekey sedangkan Zorro di belakangnya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng. Entah bagaimana caranya untuk membuat Kekey betah di alam tempat tinggal Zorro.
"Kamu Key, kapan sampai?"
"Baru saja Val, sekarang gantian lah kamu dan Henritz yang tinggal di alam vampir sana. Lama-lama tinggal di sana aku bisa rabun nih mata."
"Memang kenapa sih Key? Perasaan di sana biasa saja," protes Valenesh.
"Biasa-biasa apaan Val, di sana kayak mendung terus dan mataku menjadi sakit."
"Hen sepertinya kita melupakan janji kita pada mereka," ucap Valenesh sambil memandang lekat wajah Henritz dan pria itu hanya mengangguk.
"Oke Key, sorry ya dan hari ini aku bersama Henritz akan langsung ke sana," ujar Valenesh dan Kekey terlihat antusias.
"Kalian kalau mau tinggal di rumahku juga nggak apa-apa. Aku malah senang," tambah Valenesh.
"Hemm, gimana sayang?" tanya Zorro meminta pendapat Kekey.
"Lusa aja deh, hari ini sama besok kita tinggal di rumahku saja. Kasihan tuh rumah sudah lama nggak berpenghuni."
"Oke." Zorro hanya menurut saja, bagaimana baiknya menurut Kekey.
"Sebentar ya aku mau ngepak baju dulu," ucap Valenesh sambil berlalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas.
"Kayak ada yang berbeda dengan tubuh Valenesh," ujar Kekey tanpa mau mengalihkan pandangannya pada Valenesh yang terus melangkah.
"Iya perutnya sudah isi," ujar Henritz.
"Maksudnya?" tanya Zorro tidak paham.
"Hamil dia."
"Apa! Dia hamil?!" Zorro dan Kekey bertanya serentak dan Henritz bisa mengangguk.
"Secepat ini?" tanya Zorro yang belum bisa sepenuhnya percaya dengan informasi dari Henritz.
__ADS_1
"Itu artinya kami berdua cocok dan aku benar-benar lelaki sejati," jawab Henritz sekenanya.
Zorro hanya mencebik mendengar perkataan Henritz.
"Berapa bulan Hen?" tanya Kekey menerka-nerka sebab perut Valenes sedikit terlihat buncit.
"Baru satu bulan Key. Kau pikir kami sudah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah apa?"
"Bukan begitu Hen, hanya saja kok perut Valenesh sudah sedikit membesar padahal untuk ukuran wanita yang hamil di umur satu bulan kehamilan tidak akan kentara seperti itu."
Henritz lalu menatap ke arah Valenesh yang masih berjalan Menaiki tangga. Entah mengapa wanita itu lebih suka berjalan daripada menggunakan lift yang ada di rumahnya itu.
"Itulah Key yang aku khawatirkan. Perkembangan bayinya tidak biasa. Ukurannya melebihi ukuran janin manusia normal. Tadi saja pas di rumah sakit tidak besar seperti itu," jelas Henritz dengan ekspresi dan nada suara yang begitu takut.
"Mungkin bayinya mewarisi genmu Pangeran Hen, dia akan menjadi bayi vampir. Tenanglah semua akan baik-baik saja," ujar Zorro mencoba membuat Henritz agar tidak terlalu kepikiran.
"Bagaimana aku bisa tenang Pangeran Zorro. Sekarang saja bayi itu sudah menyusahkan Valenesh, bagaimana kalau nanti bertambah besar?"
"Bukankah sudah biasa ya Hen, orang hamil kesulitan berjalan?"
"Bukan karena kau yang selalu meminta jatah darah dari Valenesh?" tanya Kekey curiga sebab sejak menikah Zorro sudah mengisap tiga kali darahnya padahal di dunia vampir sudah disediakan stok darah untuk para pangeran. Apalagi Henritz yang saat berada di alam manusia hanya mengandalkan darah dari Valenesh.
"Tidak Key saya hanya mengisap darah Valenesh satu kali sejak kami menikah. Darahnya istimewa, jadi kekuatan yang diberikan lebih tahan lama dibandingkan darah yang lainnya."
Zorro dan Kekey hanya mengangguk-angguk.
"Kalian bicara apa sih? Serius banget." Valenesh muncul dari belakang mereka, keluar dari lift dengan mendorong koper.
"Eh nggak ada Sayang. Sudah taruh saja kopernya biar aku yang menyeret ke dalam mobil!"
"Mau pakai mobil?" tanya Valenesh bingung.
Henritz mengernyit. "Bukankah kau tidak suka jika aku menggunakan kekuatan teleportasiku ya Vale?"
"Iya Sayang, tapi apakah mobil bisa menembus alammu?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, tapi sebelum kita pergi ke alam vampir lebih baik kita mengantarkan Zorro dan Kekey ke rumahnya dulu sambil pamit kepada pak satpam agar dia tidak curiga karena kita menghilang begitu saja. Sekalian menitipkan rumah ini pada beliau."
"Ide yang bagus Sayang, yuk!" Segera Valenesh bergelayut manja di lengan kanan Henritz sedangkan kiri pria itu meraih koper lalu menyeretnya.
"Kekey, Pangeran Zorro, kita pergi sekarang!" ajak Henritz dan keduanya mengangguk sebelum akhirnya mengekor di belakang keduanya.
Setelah pamit pada pak satpam akhirnya Hendritz melajukan mobilnya ke rumah Kekey. Sampai di dalamnya dia berpamitan kepada Zorro dan Kekey lalu mengajak Valenesh berteleportasi ke alam vampir.
"Pejamkan matamu Vale!"
"Baik Hen!"
Cling
Akhirnya mereka sampai di dunia vampir juga. Namun bukannya sampai di kamar Henritz atau istana mereka malah berada di ruang bawah tanah karena Henritz salah fokus.
"Hen ini tempat apa?" Valenesh mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Kok ngeri amat sih!" tambahnya.
"Hmm, sorry Sayang. Aku salah membayangkan istana tadi. Kita ke kamar kita sekarang. Pejamkan matamu lagi!"
Baru saja hendak memejamkan mata, Henritz melihat sekelebat bayangan melintas di samping mereka berdiri.
"Siapa itu?!" seru Henritz. Namun, tiba-tiba bayangan itu menghilang begitu saja.
"Ada apa Hen?" tanya Valenesh bingung melihat Henritz kembali membuka mata padahal mereka masih berada di tempat yang sama.
"Tidak ada apa-apa, lebih baik kita berjalan saja. Bagaimana menurutmu?"
"Boleh juga, sekalian aku mau lihat-lihat di ruangan ini."
"Nanti kalau tidak kuat ngomong biar aku gendong," ucap Henritz dengan mata yang awas. Barangkali makhluk yang hanya terlihat bayangannya tadi tiba-tiba muncul di sekitar mereka.
Bersambung.
__ADS_1