KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN

KEKASIHKU VAMPIR TAMPAN
Bab 14. Dipecat


__ADS_3

"Ibu Valenesh dipanggil Pak direktur ke ruangannya." Seorang petugas medis di rumah sakit Harbour hospital berkata pada Valenesh.


"Baik," ucap Valenesh kembali bangkit dari duduknya padahal pagi ini dia baru saja sampai dan belum ada lima menit pun mendudukkan bokongnya di atas kursi kerjanya.


Petugas itu mengangguk lalu pamit pergi.


"Ada apa lagi ini?" gumam Valenesh. Hatinya sudah merasa tidak enak walaupun dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.


"Pagi Tuan!"


"Pagi," jawab Ansel dengan suara datar dan ekspresi acuh tak acuh.


"Permisi, bolehkah saya duduk?"


"Hmm, duduklah!"


Valenesh mengangguk dan duduk di depan Ansel.


Suasana di ruangan direktur itu tampak sepi sebab setelah Valenesh duduk tidak ada yang bicara.


Satu menit, 5 menit, 10 menit Ansel belum juga berbicara membuat Valenesh tidak sabaran.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Valenesh memulai pembicaraan sebab Ansel hanya terlihat diam saja sedangkan Valenesh sudah terlihat tidak tahan berada dalam posisi diam-diaman seperti sepasang kekasih yang sedang marahan saja.


Ansel bangkit berdiri dan menuding ke arah Valenesh.


"Kau dipecat!" Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.


Perkataan Ansel yang tiba-tiba itu membuat tubuh Valenesh terasa membeku seketika. Wanita itu syok karena diberhentikan mendadak dari pekerjaan tanpa tahu akan kesalahannya.

__ADS_1


"Apa! Aku tidak salah dengarkah? Aku dipecat?"


"Ya," jawab Ansel singkat.


Apakah karena semalam aku tidak bekerja dan malah bertukar shift dengan Anne? Kenapa tiba-tiba rumah sakit ini ketat begini? Apakah ada yang melaporkan bahwa kami biasa bertukar shift?


Banyak pertanyaan yang berputar di otak Valenesh, tetapi tidak satupun kalimat itu terucap dari bibir manisnya. Dia tidak mau berkata sembarangan sebab mengutarakan salah kata juga bisa membuat yang lainnya ikut dipecat.


Yang menjadi pikirkan Valenesh saat ini adalah Smith yang sangat membutuhkan pekerjaan ini di sela-sela merawat adiknya yang autis.


"Kenapa kaget? Bukankah aku sudah pernah memberitahukan padamu bahwa jika sampai terjadi pencurian kantong darah lagi di rumah sakit ini saat dirimu bertugas maka kau akan dipecat!" tegas Ansel.


"Dan semalam kejadian menghilangnya kantong-kantong darah terjadi lagi," imbuhnya.


"Ta–tapi semalam kan Anne yang bertugas?" protes Valenesh.


"Tidak bisa begitu Tuan, bagaimanapun kantong darah hilang saat Anne bertugas. Jadi yang harus ditegur atau bahkan dipecat itu Anne bukan saya." Valenesh mencoba membela diri sebab dulu saat kantong darah menghilang ketika dia menggantikan tugas Anne, Valenesh lah yang terkena teguran.


"Suruh siapa kamu tidak masuk? Kalau tidak ada kehilangan seperti sekarang ini sih masih bisa ditolerir, tapi kalau sampai ini terjadi maka siapapun yang berada pada jadwal itu harus dipecat."


"Berarti Anne juga harus dipecat karena dulu juga berada dalam posisi yang sama seperti saya saat ini. Lagipula semalam saya tidak enak badan dan bukan sengaja untuk meninggalkan tugas," jelas Valenesh karena memang begitu kenyataannya. Semalam matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa seperti akan pecah saja.


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Semalam itu jadwal kamu dan kau yang harus dipecat! Silahkan tinggalkan ruangan ini!"


Valenesh langsung berdiri dan meninggalkan ruangan Ansel sambil menutup pintu sangat keras.


"****! Benar-benar atasan yang tidak adil," kesal Valenesh lalu berjalan keluar rumah sakit.


Sampai di dalam mobilnya wanita itu mengendarai mobil tidak fokus hingga hampir menabrak pembatas jalan. Namun, sebelum itu terjadi Valenesh langsung tersadar dan segera mengerem mobilnya secara mendadak.

__ADS_1


Sampai di kediamannya, Valenesh berjalan gontai masuk ke dalam rumah.


"Kau masih lemah Vale lebih baik jangan masuk kerja dulu," sapa Henritz yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah berapa kali aku mengatakan padamu Henritz, jangan pernah mencuri kantong darah lagi! Apakah darah yang kuberikan padamu belum cukup juga? Kalau belum cukup katakan! berterus terang lah padaku biar aku langsung mencari manusia yang mau aku beli darahnya. Bukan begini caranya, mencuri, mencuri, dan mencuri lagi!" teriak Valenesh dengan murka. Wajahmu terlihat memerah menahan amarah.


"Apa yang kamu katakan Vale? Tuduhanmu itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah mencuri kantong darah lagi, baik dari rumah sakit tempatmu bekerja atau rumah sakit lainnya. Darahmu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku, jadi apa alasanku jika harus mencuri darah lagi?" ujar Henritz panjang lebar. Tatapannya begitu sayu karena kekasih tercinta telah tega menuduhnya macam-macam.


"Satu lagi yang harus kamu tahu, aku tidak pernah mengkhianati janji termasuk janjiku padamu." Setelah mengatakan kalimat itu Henritz langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya dan menutup mata.


"Kalau bukan kamu yang mencuri, lalu siapa lagi?" tanya Valenesh dengan ekspresi tidak percaya. Wanita itu terlihat mendengus kesal.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak padaku, yang penting aku tidak melakukan kejahatan yang kamu tuduhkan. Sudah berapa lama kita hidup bersama dan kamu masih tidak bisa percaya padaku? Padahal aku selalu mempercayaimu dan aku selalu menuruti apa perkataanmu. Harus dengan apa lagi aku menjelaskan padamu Vale?" Henritz bangkit dari duduknya dan berdiri kembali.


"Kalau dalam kehidupan kita tidak ada rasa saling percaya lebih baik aku pergi saja. Terima kasih karena selama ini kamu selalu telah membantu saya memberikan makanan untukku dan memberikan tumpangan tempat tinggal. Semoga suatu saat aku bisa membalas kebaikanmu."


Setelah mengatakan kalimat panjang itu Hendritz langsung menghilang.


"Hen!"


"Hennn!" teriak Valenesh.


"Arrgh!"


Prang


Valenesh melempar vas bunga dan mengenai guci hingga pecah berkeping-keping.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2