
"Kau tidak apa-apa Drew?" tanya Valenesh tanpa menghiraukan pertanyaan dari Andrew.
"Tidak apa-apa Val," ucap Andrew sambil meringis tatkala Valenesh mengusap lengan bekas gigitan Henritz.
"Biar saya obati dulu," ucap Valenesh sambil melangkah ke arah penyimpanan kotak obat yang berada di ruangan itu meskipun masih dengan langkah yang lemah.
"Tidak usah Val," tolak Andrew.
"Sudahlah menurut saja agar tidak infeksi," protes Valenesh.
Dia pun membersihkan luka Andrew dan tidak lupa membubuhkan obat merah.
"Hen sekali lagi kau melakukan hal ini kepada sahabat-sahabatku maka hubungan kita putus," ancam Valenesh.
"Loh Val jangan begitu dong. Aku tidak berani melakukan hal tadi jika bukan Andrew yang menyuruhnya."
"Benar Val, hari ini kita akan melakukan pertandingan puncak dan Henritz sebagai pengganti penjaga gawang harus memiliki stamina yang tinggi agar kita bisa memenangkan pertandingan Liga Champions ini," jelas Andrew.
"Liga Champions? Club kita bertahan sampai akhir?" Valenesh kaget bercampur senang.
"Banyak yang sudah terjadi saat kamu dalam keadaan koma, tetapi beruntungnya club kita masih bertahan sampai saat ini."
"Aku senang mendengarnya Drew. Terima kasih untuk kalian berdua yang menjaga dan ikut berjuang membesarkan club milikku hingga masuk final. Ini adalah setengah dari mimpiku," ucap Valenesh dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Dan hari ini aku berjanji akan mewujudkan impianmu secara sempurna Vale. Hari ini kami akan pulang dengan membawa kemenangan," ucap Henritz dengan begitu yakin.
"Maksudmu Hen?"
"Hari ini pertandingan adalah pertandingan terakhir memperebutkan juara 1 dan 2 di Liga Champion tahun ini Val. Itu kenapa saya dengan sukarela memberikan darah saya kepada Henritz bukan paksaan ataupun tekanan dari dia. Ini semata-mata agar Henritz sehat dan kuat sehingga selalu bisa menangkap bola agar tidak masuk ke gawang kita."
"Oh begitu ya, jadi kamu sudah tahu kalau Henritz adalah vampir?"
"Iya Val bahkan bukan cuma saya saja melainkan Kekey dan juga Smith sudah tahu dengan identitas Henritz yang sebenarnya."
"Smith juga tahu?" Valenesh seolah tidak dapat mempercayai itu semua. Ternyata banyak yang berubah setelah dirinya bangun dari tidur panjangnya.
"Ya, karena dialah yang selama ini memenuhi kebutuhan Hendritz akan darah. Dia mengikhlaskan darahnya untuk kita beli karena dia sangat membutuhkan uang."
__ADS_1
"Smith butuh uang banyak, ada apa dengan dia?" tanya Valenesh ketar-ketir.
"Adiknya masuk rumah sakit, tapi nanti saja ceritanya ya Val, kita hampir terlambat ini. Jangan sampai kita didiskualifikasi."
"Apa yang dikatakan Andrew itu benar Vale, sekarang terpaksa aku harus meninggalkanmu lagi bersama Kekey dan saudaraku Zorro ini karena kami berdua akan pergi ke pertandingan. Baik-baik bersama mereka dan doakan kami semoga membuahkan hasil yang terbaik," sambung Hendritz.
"Aku ikut Hen," ucap Valenesh.
"Jangan Val! Udara di luar tidak bagus bagi kesehatanmu yang baru pulih ini. Saya tidak mau kamu drob kembali." Henritz keberatan jika Valenesh turut serta bersama mereka berdua.
"Ayolah, kumohon izinkan aku ikut Hen! Sudah lama aku tidak berjalan-jalan di luar dan ini pertandingan terakhir bukan? Aku ingin menyaksikannya langsung sekaligus ingin memberikan semangat kepada teman-teman pemain kita."
"Bagaimana ini Drew?" Henritz meminta pendapat Andrew.
"Sudah biarkan dia ikut bersama kita Hen, lagi pula barangkali dengan melihat pemilik club-nya sembuh para pemain kita akan bertambah semangat dan untuk Valenesh sendiri bisa mempercepat proses pemulihan. Bukankah ini adalah hobby Valenesh?"
"Kau benar Drew. Sepertinya Valenesh memang harus ikut."
"Terima kasih Hen, terima kasih Drew," ucap Valenesh.
"Yasudah kita langsung pergi sekarang. Kekey dan Zorro apakah kalian juga ingin ikut?"
"Yasudah kalau tidak mau balik ke alam vampir sana! Ngapain kamu di sini sedangkan sudah tidak ada Valenesh yang perlu dijaga?" protes Henritz.
"Mau jaga Kekey, tidak baik kan seorang wanita ditinggal sendirian di dalam rumah?"
"Hmm, modus palingan mereka mau pacaran di sini," protes Andrew.
"Tahu aja kamu Drew, sudah sana pergi karena sekarang alam manusia akan menjadi milik kita berdua. Iya nggak Key?" Zorro terkekeh sedangkan Kekey hanya mengangguk malu-malu.
"Tunggu-tunggu! Ada apa ini? Jangan bilang Kekey pacaran dengan saudaramu ini."
"Itu sudah kenyataannya Vale mau diapain lagi? Bahkan mereka terlihat sangat bucin dan nggak mau berpisah dalam waktu yang lama. Mereka mengalahkan kita," ucap Henritz lalu cekikikan.
"Ternyata memang banyak yang berubah ya, selama aku berada dalam ketidaksadaran? Ah, apa saja yang telah terlewat olehku? Kenapa juga aku harus koma dalam waktu yang lama?" Valenesh menyayangkan keadaan.
"Sudahlah tidak perlu menyesali semuanya, yang terpenting sekarang kamu sadar dan kembali sehat dan jangan lupakan kabar baik yang akan kamu dapatkan nantinya," ucap Henritz begitu percaya diri bahwa dirinya akan mendapatkan kemenangan kembali hari ini.
__ADS_1
"Sudah kita berangkat, teman-teman pasti menunggu kita." Andrew menyudahi pembicaraan yang tidak begitu penting itu.
"Baik ayo kita pergi!" Henritz merangkul pundak Andrew dengan tangan kanannya dan Valenesh dengan tangan kirinya.
"Pejamkan mata kalian!"
"Baik."
Wussh.
Cling.
Mereka kini muncul di stadion tempat acara pertandingan akan dilaksanakan.
Semua pemain dan pelatih dari club Starfool yang sudah berkumpul di lapangan itu menyambut hangat serta bahagia dengan kedatangan Andrew dan Henritz yang membawa Valenesh turut serta.
Mereka bahagia dengan kesembuhan Valenesh yang selama ini sudah berada di ambang kematian.
"Nona Valenesh selamat datang kembali dan semangat," ucap salah satu pemain sambil menunjukkan lengannya yang berotot.
"Terima kasih. kesembuhanku juga karena doa kalian semua. Kalian juga jangan lupa semangat dan berikan hadiah untuk penyambutan kesembuhanku dengan kemenangan kalian semua."
"Pastinya kami akan selalu bekerja keras. Namun, apapun hasilnya biarkan Tuhan yang menentukan."
"Ya, itu pasti. Sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari yang namanya takdir kehidupan. Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap bangga pada kalian semua. Tidak mudah untuk sampai ke tahap ini dan kalian mampu meraih di tengah-tengah pemilik club-nya yang terbaring lemah dan tidak berdaya."
Setelah itu pemain langsung bersiap-siap untuk bertanding.
Namun, sebelumnya kedua tim berbaris di atas lapangan, dan lagu tema Liga Champion sedang diperdengarkan, kamera pun menyoroti satu per satu wajah pemain dari kedua kesebelasan yang sama-sama sudah tampak siap.
Valenesh memandang ke arah Henritz dengan getir.
"Mampukah Henritz bekerja sama dengan para manusia ini? Semoga Henritz tidak begitu kentara menunjukkan
kecepatannya yang begitu tinggi sehingga mereka tidak curiga Henritz bukanlah seorang manusia melainkan vampir."
"Sudah tidak usah dipikirkan. Henritz tahu apa yang harus dia lakukan," tegur Andrew melihat penampakan wajah Valenesh yang begitu tegang.
__ADS_1
Bersambung.