Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 10 : MANTAN!


__ADS_3

“Iya, kakak masuk, ya. Kursi kita nomor berapa emang? Sebelah kanan apa kiri? Oke, oke, otw, udah didepan kok.”


Mentari telat, hampir setengah jam. Masalahnya ada dijalanan juga diparkiran tadi, dimana dengan tiba-tiba dirinya diajak berkenalan oleh orang yang dia tabrak. Bukannya marah, orang itu justru bersikap sebaliknya. Aneh, pikir Mentari.


Mentari masuk ke studio bioskop yang saat ini tengah diisi tawa oleh semua penonton, dia segera berjalan menapaki anak tangga untuk sampai ke tempat duduknya, satu persatu dia lihat agar tak salah tempat dan tepat saat dirinya melihat tangan yang melambai membuatnya tahu jika di situ lah tempatnya.


“Maaf, ya Bell kakak telat.” Mentari duduk disamping Bella, melepaskan tasnya dan menaruh disamping tubuhnya.


“Gak papa kok, kak. Aku ngerti kok, pasti macet, ya.” Mentari mengangguk, membenarkan ucapan Bella. “Tapi, sayang banget kakak jadi ketinggalan setengah jam filmnya.”


“Gak papa lah, kan ada kamu. Nanti kalau aku gak ngerti, tanya kamu aja.”


Bella terkekeh, mengangguk. “Nih kak minum dulu, tapi udah meleleh pasti es nya.”


“Gak papa, makasih, ya.”


Mentari menyedot minuman susu cokelat yang diberikan Bella, dia mulai fokus pada film yang tengah diputar meskipun tak sepenuhnya mengerti dengan alur cerita. Tertinggal film hampir setengah jam sudah pasti membuat Mentari tak paham dengan alurnya.


Mengingat bioskop, Mentari jadi teringat Angga. Bagaimana dulu pria itu yang tak pernah mau jika diajak pergi ke bioskop. Sekalinya mau, maka benar-benar diluar dugaan.


Flashback On~


“Ga, ada film baru keluar loh, bagus katanya. Nonton, yuk!”


Mentari sebenarnya tahu jawaban apa yang pasti akan diberikan Angga, namun dia akan coba berusaha, siapa tahu hari ini adalah hari keberuntungannya dimana Angga akan memberikan jawaban yang berbeda dari biasanya.


“Gak, ah!”


Ternyata tidak, jawaban Angga masih sama.


“Ih, gak mau terus. Padahal kita belum pernah nonton loh. Orang lain mah punya pacar pada mau diajak nonton di bioskop, kamu doang yang gak mau.”


Angga mengalihkan atensinya dari layar laptopnya, dia tengah mengerjakan tugas kuliahnya. “Yaudah, nonton di rumah aja kayak biasa.”


Mentari menggeleng, “Gak mau, pengennya di bioskop. Sekali aja, Ga. Aku bayarin deh.”


“Kamu pikir ini tentang uang? Gitu?”


“Terus?”


“Gak mau aja. Lagian, aku bisa kok kamu kasih yang lebih dari sekedar nonton bioskop. Uang ku juga banyak kali, emangnya kamu doang, mentang-mentang udah kerja jadi guru privat.”


Mentari terkekeh mendengarnya, dia tak berniat menyombongkan diri. Dirinya memang sudah punya penghasilan sendiri saat ini, meskipun masih tengah berkuliah. Tapi, Angga juga tak jauh beda, pria itu sudah mulai bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan.


“Yaudah lah, aku nanti ajak Ojak aja buat nonton. Kamu mah gak asik, nonton di bioskop aja gak mau. Huu...” Mentari menyoraki Angga, sengaja memanasi pria itu agar nantinya mau mengiyakan ajakannya.

__ADS_1


“Yaudah ajak Ojak sana, tapi berarti dia nanti ada masalah sama aku.”


“Ih... Kok gitu sih. Nyebelin!”


Dan, Mentari pikir Angga akan tetap menjadi pria menyebalkan yang dia kenal. Namun, tidak selalu demikian. Betapa terkejutnya Mentari saat tiba-tiba Angga berada di rumahnya, sore hari dengan pakaian yang santai namun rapi.


“Ayo, nonton ke bioskop!”


Bagaimana Mentari tak terkejut coba? Angga bilang dia tak mau, tapi kemudian keesokan harinya pria itu datang dan mengajaknya pergi. Ditambah, saat sampai di bioskop bukannya pergi ke tempat seperti orang-orang, Angga justru membawa Mentari ke sebuah ruangan.


“Kok kesini sih?” Mentari menatap heran Angga.


“Aku gak suka nonton rame-rame, pengap juga banyak orang dan aku gak suka yang ribet. Jadinya, aku pesen ruangan private buat kita. Jadinya, kita nonton berdua aja disini. Enak kan?”


Mentari ternganga mendengar penjelasan Angga, dia menggeleng tak percaya. “Ga, tapi bukan ini yang aku mau. Maksud aku tuh kita nonton di bioskop kayak orang lain, rame-rame terus—”


“Ini kita juga di bioskop, beda ruangan doang. Mereka desek-desekan, kita enggak, santai. Ruangan ini milik kita berdua.”


Mentari mendesah pelan, dia menjatuhkan bokongnya di sofa. “Tapi, bukan gini maksudnya, Ga. Aku—”


“Mau nonton atau enggak?”


“Mau.”


Flashback Off~


Mentari terkekeh kala mengingat itu, bisa-bisanya Angga berpikir untuk memesan ruangan private khusus untuk mereka menonton film yang bahkan sebenarnya ditonton dibioskop biasa juga bisa.


“Aku yakin, kak Angga gak akan berani masuk sini.”


Mentari menoleh, “Iyalah, kamu kan tahu kakakmu tuh gak suka di tempat gelap kayak gini.”


“Iya sih, aneh tapi itu kenyatannya.” Bella terkekeh, “Eh, iya kak aku ada cerita tentang kak Angga sebelum aku pergi kesini, nanti deh aku cerita. Mau menikmati filmnya dulu. Mau ending nih.”


Mentari jadi penasaran, cerita apa.


***


“Tadi tuh sebelum berangkat ke sini, kak Angga tuh—”


Ucapan Bella terhenti seketika saat bola matanya melihat secara langsung keberadaan sang Kakak yang saat ini tengah berbincang sambil tertawa dengan seorang wanita yang dia tahu merupakan tetangganya dulu. Dia menatap cemas Mentari, segera menarik Mentari untuk berbalik kembali.


“Eh, kenapa Bell? Kok balik lagi sih? Katanya tadi mau beli yogurt dulu.”


Bella tersenyum kikuk, “Gak jadi deh kak, kita langsung pulang aja yuk!”

__ADS_1


“Loh, kok gitu sih? Aneh banget kamu. Ada apa sih?”


“Gak ada apa-apa.”


Mentari tahu, Bella berbohong. Dia segera berbalik kembali, mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu penyebab Bella bertingkah aneh seperti tadi. Dan, seketika dia terdiam saat dia tahu penyebabnya.


Bella meringis pelan, “Kak, itu bukan siapa-siapa kak Angga kok. Itu cuma—”


“Kalaupun siapa-siapa nya juga, gak papa kali.” Mentari tersenyum, namun tidak dengan hatinya. “Lagian, aku sama Angga juga udah bukan pasangan lagi.”


“Tapi, kak... Percaya deh, tadi aja kak Angga—”


“Ayo, katanya mau beli yogurt.”


Bella menggeleng, dia tak enak hati dengan Mentari. “Pulang aja.”


“Bell, aku gakpapa kok. Ayo!”


“Gak mau...”


“Bella!?”


Mereka menoleh saat ada yang memanggil. Tak bisa dipungkiri, debaran di hati Mentari terasa berbeda kini kala matanya bertemu dengan mata Angga, apalagi pria itu kini berjalan menghampiri mereka dengan seorang wanita yang sejak tadi bersama pria itu.


“Hai, Bell. Apa kabar? Udah lama banget kita gak ketemu.”


Bella tersenyum kikuk, “Kabar ku baik kok, kak Mita. Kakak sendiri apa kabar?” Bella sebenarnya tak enak hati dengan Mentari saat ini. Apalagi dia merasakan hawa yang berbeda antara Mentari dan Angga yang sama-sama diam.


“Aku juga baik. Baru aja aku tanyain kamu sama Angga, eh malah ketemu disini.”


Mentari tak peduli dengan apa yang tengah Bella bicarakan dengan perempuan yang dipanggil Mita itu. Dia mencoba bersikap biasa saja meskipun sulit dia rasa, apalagi dia tahu jika tatapan Angga tak lepas darinya.


“Eh, ini teman mu, Bell?”


Mentari tersenyum saat dirinya di notice.


“Ini Kak Tari, kak.”


“Hai, aku Amita, temannya Angga, temannya Bella juga.”


Mentari menatap uluran tangan itu lalu membalasnya, tak sopan bukan jika tak membalasnya. “Hai, Aku Mentari."


Amita mengangguk, melepas jabatan tangan mereka. “Nama kamu kayak gak asing deh, kayak pernah dengar dimana gitu.” Amita nampak berpikir, dia tersentak kala ingat. “Eh, kamu bukannya pacar Angga?”


“Mantan!”

__ADS_1


__ADS_2