
“Gak di Acc sama sekali.”
Ayumi tertawa mendengarnya, dia mencomot kentang goreng di atas meja dan memakannya setelah dia cocol ke saus. “Udah jelas lah, mana mungkin Angga biarin lo keluar dari perusahaan gitu aja. Gak akan.”
“Angga egois! Padahal apa yang gue minta ini juga demi kebaikan dia juga.”
“Lo juga sama egoisnya, kalian berdua tuh egois.”
Mentari menatap kesal Ayumi yang sejak tahu hubungannya dengan Angga selesai, selalu berada di pihak Angga. Ayumi yang ditatap demikian pun terkekeh, memukul pelan bibir Mentari yang mencebik.
“Gak usah lihatin gue kayak gitu, gak cocok muka lo tuh.”
“Lo nyebelin sih! Selalu aja ngebela Angga, padahal jelas-jelas disini yang sahabat lo tuh gue, bukan dia.”
“Tapi,... bukan berarti gue akan selalu di pihak lo kalau lo lagi salah.”
Mentari mengerutkan keningnya, “Salah apanya coba? Perasaan gue gak salah.”
Ayumi berdecak, dia menunjuk-nunjuk Mentari sambil mengangguk-angguk. “Ini, ini yang dinamakan egois. Maunya menang sendiri, padahal jelas banget kalau disini tuh lo juga ikut salah.” Ayumi memicingkan matanya, “Lo minta Angga buat cari pengganti lo. Tapi, pas lo lihat dia sama yang lain, lo kecewa juga, lo sakit hati dan ngerasa lo yang paling sakit disini. Padahal sebenarnya, kalian berdua itu sama-sama sakit.”
Benar, ucapan Ayumi memang benar dan Mentari akui itu dengan diamnya.
Ayumi tersenyum, dia menepuk-nepuk pelan punggung tangan Mentari. “Bukannya gue mau ngebully lo atau mojokin lo. Tapi, gue cuma mau lo juga ngerti, Tar. Gue sayang sama lo, gue udah anggap lo lebih dari sekedar teman. Dan, gue gak mau lo terjerumus sama sesuatu yang gak baik. Makanya, gue ingetin lo kalau lo salah.”
Mentari tersenyum mendengarnya, “Makasih, ya. Entah kebaikan apa yang gue lakuin sampai punya sahabat kayak lo.” Mentari tulus mengucapkan itu.
Ayumi mengerucutkan bibirnya, menolak tersipu karena ucapan Mentari. Dia mengibaskan rambutnya, “Lo tuh harusnya bersyukur punya sahabat model gue. Gak ada lagi di dunia ini sahabat model gue, mana udah cantik, baik, pinter, pengertian, terus—”
“Iya, iya, bersyukur banget gue. Alhamdulillah!” potong Mentari cepat, akan terbang tinggi jika Ayumi terus dipuji.
Ayumi dan Mentari terkekeh, sama-sama bersyukur bisa kenal dan dekat satu sama lain.
***
“Mentari... Mentari...”
Mentari buru-buru menuruni anak tangga, berpapasan dengan ibunya yang baru saja keluar dari kamarnya. Raut kebingungan tersirat jelas di wajah mereka mendengar teriakan yang menyerukan nama putri di rumah ini.
“Tar, itu siapa yang teriak malam-malam gini?” tanya Cantika yang mendapat gelengan dari Mentari. Ini tengah malam dan tiba-tiba ada orang yang berteriak didepan rumah, bagaimana tak bingung coba.
__ADS_1
“Tari gak tahu, bu. Tapi, suaranya kayak suara Angga. Tapi, emangnya Angga mau ngapain kesini malam-malam?”
“Yaudah, kita lihat aja ayo!”
Mentari dan ibunya bergegas pergi ke depan, membuka pintu rumah dan langsung menemukan Angga yang terlihat sempoyongan dengan Pak Amin yang coba membantu menegakkan tubuh pria itu.
Aroma alkohol bisa tercium dari Angga membuat Mentari melangkah mundur memberi jarak. “Pak ini Angga kenapa?” Mentari menatap cemas Angga yang tak henti-hentinya berceloteh tak jelas. Satu hal yang pasti terucap dari bibir Angga adalah nama Mentari yang diucap begitu jelasnya.
“Mentari... Aku cinta kamu.”
“Den Angga kayaknya mabuk, non. Tadi, ada mobil kesini dan ternyata nganterin den Angga. Tiba-tiba Den Angga udah kayak gini aja, mana dari tadi terus-terusan manggil Non Tari.”
Mentari menatap miris Angga, dia melirik ibunya yang langsung mengangguk. “Bawa aja kedalam. Pak, tolong dipapah, ya Angga nya.” ucap Cantika yang diangguki Pak Amin.
Pak Amin memapah Angga masuk kedalam rumah, membaringkan Angga di sofa depan dengan perlahan.
“Makasih, ya, Pak. Bapak boleh ke depan lagi.”
“Iya, non. Permisi, bu.” Pak Amin melenggang pergi untuk kembali ke tempatnya berjaga.
“Angga...” Mentari dengan cepat menahan tubuh Angga yang hampir tersungkur saat pria itu mencoba beranjak, dia menatap lekat mata Angga yang setengah terbuka itu. Angga teler.
“Tari... aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.” Mentari hanya mengangguk-angguk, dia coba untuk membaringkan Angga kembali namun sulit rasanya. “Aku gak mau kehilangan kamu, aku mau sama kamu terus. Kamu cuma milik aku, sayang... Tapi, kenapa kamu jahat. Kamu jahat, Tari.” Angga tertawa miris.
Cantika hanya diam saja, melihat dan mendengar apa yang mantan kekasih putrinya ini lakukan dan ucapkan.
“Angga,”
“Padahal aku benar-benar cinta sama kamu, aku sayang... banget sama kamu! Tapi, kamu jahat! Kamu mutusin aku!” Angga mengerutkan keningnya menunjukkan kekesalan, dia mendengus. “Kamu mutusin aku cuma gara-gara aku gak mau nikahin kamu! Padahal aku bukannya gak mau, aku belum siap aja, Tari... Dan, sekarang kamu niat ninggalin aku.”
Mentari menghela napas kasar, ternyata Angga benar-benar memikirkan permasalahan mereka.
“Aku takut, Tari... Aku takut.”
“Ga, udah, ya. Kamu mending istirahat aja, udah jangan ngomong lagi.”
“Aku takut kamu ninggalin aku.” Mentari menggeleng, dia tak mau meninggalkan Angga sejujurnya. “Aku belum jadi apa-apa, Tari. Aku belum sukses, aku belum jadi orang. Aku gak mau kamu ninggalin aku nantinya. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kayak Papa yang ditinggalin cewek itu!”
Mata Mentari berkaca-kaca mendengar pengakuan yang terucap dari mulut Mentari.
__ADS_1
“Angga... udah, ya. kamu tidur aja sekarang.” ucap Mentari lembut, dia mengusap lembut rambut Angga yang berantakan. Tangannya masih digenggam erat oleh pria itu.
“Aku gak rela kamu pergi, aku gak rela kehilangan, aku gak bisa tanpa kamu Tari.”
“Ga...” Mentari benar-benar terkejut saat melihat Angga yang menangis tersedu, air mata pria itu mengalir begitu deras.
“Jangan tinggalin aku, Tari... Aku cinta kamu.” lirih Angga, perlahan kesadarannya pun hilang.
Mentari tak kuasa menahan tangisnya, dia menangis juga. Tangannya menggenggam erat tangan Angga. Merasakan sakit karena pengakuan singkat yang Angga lontarkan, jujur dia pun merasakan hal yang sama seperti yang Angga rasakan.
“Tari,”
Mentari mendongak, semakin menangis saat bertatapan dengan ibunya. Cantika pun dengan cepat memeluk Mentari, memberikan ketenangan untuk putrinya yang sedang tidak baik-baik saja.
***
“Kenapa bisa Angga ada disini?” Satryo melipat tangan didepan dada, menatap Angga yang masih terlelap di ranjang kamar tamu rumahnya. Baru kali ini dia melihat Angga menginap tanpa ada dirinya di rumah, karena biasanya harus ada izin darinya dulu baru menyusul izin dari Cantika untuk laki-laki yang tidak punya hubungan darah menginap di rumah. Kebetulan subuh tadi dirinya sampai di rumah setelah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota beberapa hari dan dikejutkan dengan keberadaan Angga di kediamannya.
“Angga mabuk semalam, Yah.”
Satryo terkejut bukan main, pasalnya dia tak pernah tahu apalagi melihat Angga yang mabuk. Terlepas diluar sana apakah Angga pemabuk atau bukan, hanya saja selama kenal dengan Angga, dia tak pernah tahu jika pria itu suka mabuk.
“Tapi, kayaknya Angga mabuk ini bukan karena kebiasaan dia, Yah.” Satryo mengerutkan keningnya, Cantika mengangguk-angguk. “Iya, bukan kebiasaan. Tapi, kayaknya Angga lagi benar-benar frustasi.”
“Frustasi kenapa?”
“Kamu kan tahu, Yah kalau Angga sama Tari udah gak sama-sama lagi, mereka udah gak pacaran. Tapi, kayaknya disini Angga masih cinta banget sama Tari dan mungkin putusnya hubungan mereka ini yang jadi alasan Angga mabuk kayak semalam.”
“Tapi, pergi minum pas lagi ada masalah bukan solusi, bu.”
“Iya, aku tahu itu. Tapi, mungkin berat kali buat Angga.”
Satryo menghela napas kasar.
“Bahkan Angga sampai nangis-nangis semalam. Dia benar-benar cinta sama anak kita, dia tulus.” ucap Cantika, masih teringat jelas di benaknya kejadian semalam. “Yah, apa kamu gak ada cara gitu buat bikin hubungan mereka balik lagi kayak dulu? Aku kasihan sama Angga, kasihan juga sama Tari.”
Satryo terdiam beberapa saat, memikirkan ucapan istrinya. “Aku tahu Angga emang tulus sama Mentari. Aku juga sebenarnya gak mau hubungan yang udah lama mereka jalin putus gitu aja. Tapi, mau gimana lagi? Angga gak bisa kasih kepastian buat Tari dan aku sebagai ayah gak mungkin dong membiarkan anak aku punya hubungan sama laki-laki yang gak jelas mau dibawa kemana hubungan mereka itu.”
“Tapi, Yah. Kamu harus tahu alasan apa yang buat Angga gak juga kasih kepastian sama Mentari.”
__ADS_1
“Apa?”