Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 13 : Tidak Terima


__ADS_3

Hari-hari dilewati dengan sangat berat kala status hubungan mereka bukan lagi sebagai sepasang kekasih. Angga yang memang benar-benar menunjukkan perasaan berat itu, berbeda dengan Mentari yang lebih pintar menyembunyikan perasaannya itu.


“Benar-benar parah sih, galaunya ini galau brutal tahu. Benar-benar gak ada wibawanya sama sekali jadi cowok. Lepek benar gara-gara diputusin doang.”


Angga memutar malas bola matanya, jengah dengan olokan Mahes setiap kali mereka bertemu. Elrumi sendiri terkekeh melihat bagaimana frustasi nya seorang Angga hanya karena putus cinta.


“Lo gak akan paham karena lo gak pernah ngerasain apa itu cinta. Jadi, diam aja deh, gak usah banyak bacot.”


Mahes menahan tawanya, “Naudzubillah gue ngerasain cinta, menyiksa gitu. Mending gini aja, happy happy ajalah gue jomblo syalala lala...” Mahes justru bernyanyi, menjadikan Angga lelucon kali ini.


Angga berdecak, malas sebenarnya. Kalau bukan karena paksaan, dia tak akan disini bersama mereka. Lebih baik di rumah, mengerjakan pekerjaan, itu sedikit lebih baik untuk Angga agar tak terus menerus memikirkan Mentari.


“Tapi, emang benar, Ga Mahes bilang. Lo lemas banget coy, benar-benar kayak gak ada tulangnya ini badan.” Elrumi menepuk-nepuk punggung Angga yang langsung ditepis oleh pria itu. “Eh, iya sih. Kurang vitamin D soalnya. Jadinya gak bisa berfungsi normal deh.”


“Sumpah, malas gue disini sama kalian. Cabut, ah!” Angga beranjak dengan kasar dari duduknya, sudah berniat pergi kalau saja ucapan Elrumi tak mengurungkan niatnya.


“Eh, itu bukannya Tari, ya?”


Angga langsung menatap ke arah yang ditunjukkan Elrumi. Mentari, perempuan itu ada disini. Sontak, senyuman langsung tercetak di bibirnya.


Elrumi terkekeh melihat perubahan raut wajah Angga, “Benar-benar hangat kayaknya, enak banget tuh senyum.”


“Idih, najis!” Mahes menggeleng dan berpura-pura jijik dengan sikap yang ditunjukkan Angga.


“Bacot lo semua.”


“Terus, sekarang lo mau ngapain? Seriusan mau pulang? Afah iyah?”


“Bego kalau gue pulang. Ya, gue disini lah. Gue mau pura-pura gak sengaja ketemu dia disini, biar tahu aja dia kalau kita tuh emang ditakdirkan bersama.”


“Anjir... Uwwek... mual banget.”


Elrumi tertawa melihat tingkah Mahes yang lebih jahil darinya. “Yaudah, samperin gih.”


“Pas—ti. Eh, anjir itu bukannya Abimanyu, ya?” tukas Angga, keningnya mengerut dalam, kesal sekaligus penasaran dengan kedatangan Abimanyu yang merupakan kakak dari Mahesa.


Mahes yang mendengar nama kakaknya disebut seketika menoleh, membulatkan mata tak percaya melihat kakaknya yang saat ini tengah duduk bersama sambil berbincang dengan Mentari.

__ADS_1


Angga menoleh pada Mahes, menatap tajam pria itu. “Ngapain Abang lo ketemu Tari?” tanya Angga kesal.


Mahes mengulum senyumnya, lalu terkekeh. “Yang sekarang ketemu Tari siapa? Abang gue kan? Ya, tanyain lah sama dia. Ngapain tanya gue. Emang rada-rada lo.”


“Ya kali lo gak tahu. Lo pasti tahu lah.”


“Eh, anjir. Gue aja jarang ngobrol sama dia, ketemu juga gak pernah. Sekalinya ketemu, gak sengaja itupun. Jadi, ya, gue mana tahu urusan dia.”


Angga berdecak kesal, wajahnya tak bisa berbohong. “Gue gak mau tahu, lo harus cari tahu kenapa Tari bisa kenal bahkan ngobrol sama abang lo.”


“Idih, lo apaan sih. Gue—”


“Lo teman gue kan? Sekali-kali bantuin gue apa!”


Elrumi menyenggol lengan Mahes, mengangguk pelan. Diantara mereka memang Angga yang paling waras dan tak banyak tingkah, namun sekalinya pria itu marah, maka akan melebihi kemarahan orang normal pada umumnya.


“Yaudah, iya.”


Angga diam, tak lagi berucap. Namun, matanya tak lepas dari sosok Mentari yang saat ini masih tengah berbincang dengan Abimanyu. “Sial Tari, bisa-bisanya dia ngobrol bahkan ketawa sama cowok lain.” batin Angga kesal dan marah melihat itu.


“Hai, Tar.”


Mentari terkejut bukan main saat bertemu Angga di parkiran cafe yang didatangi nya. Dia hanya menatap sekilas Angga, memilih melenggang melewati pria itu tanpa peduli dengan Angga yang berdecak kesal.


Angga mendengus kesal, dia menyusul Mentari dan mencekal lengan perempuan itu.


“Apaan sih!”


“Aku gak suka, ya lihat kamu dekat-dekat apalagi ketawa sama cowok lain.”


Mentari menatap lekat Angga, dia tersenyum mengejek. “Kamu pikir aku peduli? Gak! Lagipula mau aku dekat, ngobrol, ketawa-ketawa sama cowok lain, itu hak aku dan bukan urusan kamu. Jadi, stop urusin urusan aku.” ucap Mentari, dia mendengus kesal. “Kamu juga ngapain sih disini? Sengaja ngikutin aku atau gimana? Kalau iya, please deh, gak usah. Ganggu tahu.”


Angga tertawa mendengar ucapan Mentari, “Wow. Hebat, ya sekarang, selalu bantah omongan aku.”


“Kenapa enggak? Toh, omongan kamu juga gak berpengaruh apapun sama aku. Dan, apa yang aku omongin juga itu kenyataannya.”


“Aku, gak, suka, Mentari!”

__ADS_1


“Dan, aku, gak peduli, Angga!”


Keduanya saling melempar tatapan tajam, tak ada yang mau mengalah, ego keduanya begitu besar menguasai.


“Nyebelin tahu gak sih kamu!” tukas Angga kesal, dia berdecak. “Gak usah tatap aku sok tajam kayak gitu. Mata tipe kamu tuh, gak cocok melotot kayak gitu. Gak ada serem-serem nya sama sekali.”


Mentari mengerutkan keningnya mendengar ucapan Angga, pun begitu dengan kerutan di batang hidungnya. “Gak nanya!”


“Kamu tuh emang sengaja, ya, bantah aku biar aku marah dan hilang kendali kayak kemarin, ngomong gak jelas dan kamu nantinya marah. Iya, kan?”


“Enggak. Lagian ngapain aku buat kamu marah? Gak ada untungnya. Kamu dan aku, emang udah gak punya urusan apapun, urusan kita sebatas karyawan dan atasan, udah, gak lebih. Kita udah putus. Jadi, stop ikut campur urusan aku, Angga. Paham kan?” Mentari menaikkan sebelah alisnya, dia tersenyum paksa dan berbalik berniat masuk ke mobilnya. Namun, ucapan Angga kembali mengurungkan niatnya.


“Kata siapa kita putus?” Angga tersenyum menang melihat diamnya Mentari. “Emangnya aku mengiyakan omongan ngelantur kamu waktu itu? Enggak kan. Itu artinya kamu tetap pacar aku dan aku tetap pacar kamu. Kita tetap pacaran. Jadi, bukan masalah kalau aku gak suka lihat pacar ku dekat sama cowok lain.”


Mentari berbalik, semakin kesal pada Angga atas ucapan yang dilontarkan pria itu. “Apaan sih, Ga! Jelas-jelas kita udah putus, aku putusin kamu. Dan—”


“Dan, aku gak mengiyakan. Berarti kita gak putus dong.”


“Aku gak butuh kata iya dari kamu. Mau kamu bilang ataupun enggak, kita emang udah putus.”


“Gak bisa gitu lah. Aku ajak pacaran aja, harus ada kata iya dari kamu buat resmiin hubungan kita. Jadi, kalaupun kamu minta putus dari aku, berarti harus ada kata iya dari aku. Sedangkan, apakah aku mengiyakan?” Angga tertawa, puas rasanya melihat Mentari yang kalah. “Enggak.”


Mentari memutar jengah bola matanya, dia menarik sudut bibirnya. “Gak mengiyakan, tapi kamu posting sesuatu yang mengisyaratkan kalau hubungan kita udah selesai.” Angga langsung terdiam, dia merasa diserang. “I'm single, i'm free. Bukannya itu artinya kamu mengiyakan putusnya hubungan kita. Lupa?”


Mentari tersenyum lebar, Angga kalah kali ini.


“Gak bisa gitu lah. Lagian, postingan aku itu bukan—”


“Bisa-bisa ajalah. Apa perlu aku ingetin kalau waktu kita jadian aja, aku gak mengiyakan secara langsung pake mulut, ngomong 'iya'. Cuma anggukan doang. Dan, kamu menyimpulkan kalau aku terima cinta kamu. Sama dong kasusnya kayak sekarang. Postingan kamu, mengiyakan kalau hubungan kita udah selesai. Beres deh.”


Senang rasanya saat melihat Angga terdiam karena kalah.


“Yaudah lah, ngapain juga aku buang-buang tenaga buat debat gak jelas sama kamu. Sekali lagi, gak usah ikut campur urusan aku. Bye!”


Angga tak bisa mencegah kepergian Mentari lagi, dia mendengus kesal dan menatap kepergian perempuan itu kini.


“Dasar Mentari, pinter banget kalau ngebalikin omongan. Tapi, kita lihat aja Tari. Aku gak akan biarin kamu sama cowok lain, aku bakalan buat kamu kembali sama aku. Karena Mentari Sukmajati cuma milik Angga Wijaya Hiro.”

__ADS_1


__ADS_2