Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
BAB 17 : Sebuah Tawaran


__ADS_3

Mentari terdiam untuk beberapa saat, dia menatap lekat semua barang yang terkumpul dikamarnya yang hendak dia masukkan ke dalam box. Angga dan segala kenangannya masih tersimpan abadi, bahkan di benak dan hati Mentari. Namun, untuk sedikit melupakan masalalu, maka harus ada yang dia singkirkan untuk disimpan. Disimpan, bukan di buang.


Mentari mengambil kumpulan polaroid dalam wadah, hanya berniat melihat-lihat saja. Bukannya biasa saja, justru kenangan 7 tahun lamanya itu kembali berputar di benaknya. Polaroid yang begitu banyaknya, dimana setiap satu polaroid berisikan foto dirinya juga Angga, mereka selalu mengabadikan setiap bulannya selama 7 tahun lamanya dalam bingkai polaroid. Tujuannya satu, sebagai kenangan. Dan, memang benar, foto-foto itu jadi kenangan.


“Dasar Angga, padahal waktu itu lagi sakit. Sempat-sempatnya lagi di infus minta difoto berdua gini.”


Kotak yang lain Mentari ambil dan isinya adalah puzzle yang jika disusun akan membentuk dan menunjukkan potret Mentari juga Angga. Ada beberapa barang couple, mulai dari gelang, gantungan sampai bunny hat.


“Tari, cantik... Waktunya kita sleep call, sayang...”


Mentari menoleh, menatap jam digital yang diberikan Angga khusus untuknya. Jam custom yang Angga siapkan untuk menyambut setiap waktu berharga dengan suara pria itu yang jadi pengisinya. Mentari beranjak, mengambil jam tersebut dan mematikan daya nya. Dia menatap LED lamp yang berada disamping jam tersebut, kembali tersenyum miris melihat potret dirinya bersama Angga.


“Kenangan kita terlalu banyak, Ga.”


Sekarang Mentari merasa mellow sendiri, “Gak tahu deh, apa aku bisa lupain kamu atau enggak. Tapi, kalaupun bisa nantinya, pasti aku butuh waktu lama. Gak mudah ternyata hilangin kamu dari hidup aku, sedangkan kamu udah melekat abadi disini.” gumam Mentari, dia menyentuh dada, menunjuk hatinya.


***


“Ga, belum pulang?”


Angga mendongak saat Amita masuk ke ruangannya, dia hanya berdehem saja dan kembali melanjutkan pekerjaannya. “Lo sendiri juga kok belum pulang?” tanya Angga, dia tak melepas atensinya dari laptop.


Amita menghampiri Angga, duduk dikursi hadapan pria itu. “Ada beberapa berkas yang belum gue ngerti, makanya gue coba-coba pelajari lagi dan ya... lumayan lah, ya. Ngerti dikit lah.” ucap Amita, dia terkekeh.


“Jangan minta bayaran lebih, ya. Gak ada yang nyuruh lo lembur.”


Amita mencebik, mendengus pelan. “Ah, elah. Bayaran gue gak seberapa kali dimata lo mah. Cetek itu.”


“100 orang berpikir kayak lo, bangkrut gue.”


Amita tertawa mendengarnya. Berdua dengan Angga, ditambah Angga yang bersikap lumayan santai dimana mereka sebelumnya juga sudah kenal dekat membuat Amita sedikit merasa tak canggung, meskipun mereka baru bertemu kembali akhir-akhir ini. Pengecualian jika posisi nya mereka berada di tempat umum, mungkin sikap sebagai atasan dan karyawan akan ditunjukkan. Tapi, kalau berdua seperti ini, jangan harap.


“Ga, mau curhat boleh?”

__ADS_1


Angga tak suka mendengar curhatan orang lain, dia malas mendengar keluh kesah orang-orang. Masalahnya saja sudah banyak dan membuatnya pusing kelimpungan, ditambah dia harus menampung keluhan orang-orang. Tak bisa, dia tak suka. Kecuali, jika orang yang bercerita dan berkeluh kesah itu Mentari. Maka, dengan senang hati Angga akan mendengarkannya.


“Gue—”


“Masa pacar gue mau ngelamar gue sih?!”


Angga mengerutkan keningnya mendengar keluhan Amita, terkejut mendengarnya.


“Iya, Ga. Masa Steve mau lamar gue, dia bilang mau jadiin gue istrinya.”


Angga menggeleng heran, “Kok lo kayak gak senang dilamar gitu?”


Amita berdecak, dia menatap kesal Angga. “Yaelah, Ga. Lo kayak gak tahu gue aja. Lo kan tahu kalau gue tuh gak suka komitmen kayak gitu. Kalau ada cowok yang suka sama gue dan mau jadiin gue pacarnya, oke, gue terima kalau gue juga suka. Tapi, kalau ke yang serius?” Amita menghela napas kasar, memutar malas bola matanya. “No...”


Angga pikir, semua perempuan akan senang jika diberikan kepastian. Toh, Mentari juga memutuskan Angga karena pria itu tak kunjung memberikan kepastian. Tapi, ternyata ada Amita yang justru berbeda.


“Gimana, ya caranya gue buat tolak? Masalahnya, kalau gue gak ngasih jawaban apapun, dia mau putusin gue. Sedangkan, gue gak mau putus sama Steve, gue suka sama dia. Tapi, gue gak mau kita sampai harus married. Gue maunya kita kayak gini aja, pacaran aja. Lo punya solusi, Ga?”


“Kenapa lo gak mau married? Bukannya setiap cewek mau diseriusin sama pacar mereka? Kenapa lo enggak?”


“Ya, terus kenapa? Pasti ada alasannya lah.”


Amita berdecak, dia mencondongkan tubuhnya. “Lo pikir, gue percaya gitu sama pernikahan?” Amita mengerutkan keningnya, wajahnya menunjukkan kekesalan.


“Bokap gue ninggalin nyokap gue demi cewek simpanannya, kakak gue jadi gila karena pacarnya yang gak mau tanggung jawab sama anak yang dia kandung. Adik gue meninggal, bunuh diri karena cowok yang dia cinta hamilin cewek lain dan mereka married.” Amita tersenyum miris, dia menaikkan sebelah alisnya sambil menggeleng heran. “Dan, dari itu semua lo masih mikir gue percaya sama yang namanya cinta? Sama namanya pernikahan? Ga, are you kidding me?”


Angga tahu, rasa trauma yang jadi penyebabnya. Jadi, mereka sama? Tak percaya dengan yang namanya pernikahan.


“Jadi, Ga. Lo punya solusinya gak? Gimana supaya gue gak married sama Steve, tapi dia gak putusin gue juga?”


***


“Ga, boleh mampir dulu, gak? Pengen beli martabak gue.”

__ADS_1


Angga menatap malas Amita disampingnya, “Lo tuh ngelunjak banget, ya. Udah maksa buat pulang sama gue, sekarang minta mampir dulu. Lo pikir gue supir lo yang bisa diatur-atur sana-sini?” kesal Angga, dia berdecak.


Amita mencebik, “Yaelah, Ga. Gue nebeng juga kan karena ini udah malam, bahaya tahu cewek cantik kayak gue pulang sendirian. Nanti ada yang nyulik gimana? Gak kasihan apa lo. Lagian, lo ngelewatin rumah gue. Pelit banget sih.”


“Lo kan punya pacar, telpon dia lah. Malah ngerepotin gue.”


“Gila lo. Gue kan lagi nge diemin dia ceritanya, masa tiba-tiba minta jemput. Aneh deh lo, ah.”


“Yaudah, berarti kita langsung pulang, gak ada mampir-mampir.”


“Eh, eh, itu Tari tahu!”


“Mana?”


“Berhenti dulu coba.”


Angga langsung menepikan mobilnya, dia menoleh ke arah yang ditunjukkan Amita. Benar, ada Mentari disana. Senyuman langsung tercetak jelas dibibirnya melihat perempuan itu yang tengah duduk di pedagang kaki lima, tepatnya penjual pecel lele. Dengan pakaian santai, rambut yang tergerai dan kaca mata yang menghiasi wajah perempuan itu. Mentari nya cantik.


Amita mengulum senyumnya, menatap Angga yang masih tersenyum menatap ke arah Mentari. “Cinta banget, ya lo sama Tari?” Angga menoleh pada Amita, tersenyum dan kembali menatap kearah Mentari.


“Jelaslah. Mentari segalanya buat gue.”


“Terus, kenapa kalian putus?”


Angga terdiam, dia tak menjawab apapun.


Amita mengerutkan keningnya, “Kenapa diam?”


“Lo juga pasti tahu alasannya apa.”


“Apa?”


“Sama kayak lo, gue gak percaya pernikahan. Sedangkan, Tari maunya gue nikahin dia. Jadi, dia mutusin gue akhirnya karena mikirnya gue gak serius sama dia. Padahal gue benar-benar serius sama dia, cuma gue masih ragu kalau buat lanjutin hubungan kita ke pernikahan.”

__ADS_1


Amita mengangguk-angguk, dia tersenyum tipis mendengar ucapan Angga. “Berarti kasus kita sama, ya, Ga? Kita sama-sama gak mau kehilangan, sedangkan kita gak mau kalau diajak ke yang serius. Kayaknya kita cocok, Ga. Apa kita coba aja berhubungan lebih? Siapa tahu, kita cocok dan nantinya kita saling menguntungkan? Gimana?”


Angga terdiam seketika, dia menatap lekat Amita yang melontarkan tawaran demikian.


__ADS_2