Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.45 : Bisakah kita kembali?


__ADS_3

Seorang perempuan muda dengan hijab pasmina yang menutup kepalanya tengah tersenyum senang saat ini ketika melihat kebahagiaan yang terpancar dari setiap orang yang berada di cafe nya.


Teras Kita.


Sebuah cafe yang berada di perbukitan suatu Kota. Cafe yang mengusung konsep ala-ala Jepang yang langsung menyuguhkan pemandangan Pegunungan yang begitu memanjakan mata. Tipe cafe yang sangat instagramable yang sudah pasti banyak dikunjungi mereka yang memang suka dengan keindahan alam, cantik dan indah untuk ditunjukkan di sosial media. Ditambah, menu yang disajikan juga bervariatif dengan tampilan yang sungguh memanjakan mata dan rasa yang memanjakan lidah. Jadi, bukan hanya sekedar indah namun juga nikmat makanannya.


“Permisi, teh.”


Mentari menoleh, tersenyum hangat pada perempuan remaja yang sudah ikut bekerja bersamanya sejak perempuan itu lulus kuliah nya. Arina namanya, cantik dan sungguh menawan dengan kulit kuning langsat yang dimilikinya, tengah berjalan pelan menghampiri Mentari.


“Kenapa, Rin?”


“Tadi Arin baru aja terima telpon, teh. Dan, ternyata cafe kita di booking sama grup kerja gitu. Dan yang bikin aku kaget itu teh, yang booking itu ternyata mereka kerja di media. Mereka juga bilang, mau izin buat bikin video-video gitu, teh. Biasanya teh, kalau udah masuk ke tempat mereka tuh, udah jelas cafe ini teh bakalan tambah terkenal, teh. Pastinya, bakal banyak pengunjung nantinya.”


Mentari tersenyum senang mendengarnya. “Semoga aja, ya, Rin. Yaudah, kamu kasih tahu yang lain biar disiapin sebaik mungkin. Kita gak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Kita harus buat yang terbaik, toh demi kebaikan kitu semua kan?”


Arunika mengangguk, “Siap, teh! Yaudah, aku kasih tahu yang lain, ya, teh.”


“Iya, Rin.”


Bersamaan dengan perginya Arina, dering ponsel milik Mentari berbunyi. Senyuman lebar semakin tercipta di bibirnya, dia segera mengangkat panggilan video tersebut.


“Hallo, Tar... Ya ampun... Kangen banget gue sama lo!”


Mentari terkekeh pelan saat sambutan yang begitu heboh luar biasa dari Ayumi saat dirinya mengangkat panggilan tersebut. “Gue juga kangen tahu sama lo, kangen pake banget.”


“Ya, makanya lo balik sini kek. Jangan di kampung terus deh, ah.”


“Pengennya sih gitu. Tapi, enggak deh. Nanti aja.” Mentari menggeleng pelan, dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. “Masih banyak hal yang harus gue urus disini.”


“Masih banyak urusan atau belum siap kalau ketemu masa lalu? Ah, elah, jujur aja kali.”


Mentari terkekeh, dia mengedikkan bahunya. “Ya, mungkin itu juga salah satunya. Tapi, emang beneran ada banyak hal yang gue urus disini. Lo sendiri juga tahu, semenjak gue resign gue lagi belajar banyak hal.”


“Iya, iya, tahu kok gue. Dasar, independent woman. Btw, cafe lo gimana sekarang? Eh, gila sih, aesthetic parah cafe lo. View yang dikasih nya tuh gak main-main, keren banget.”


Mentari tersenyum lebar mendengar pujian yang dilontarkan Ayumi, “Masya Allah... Alhamdulillah banget sih gue. Cafe dari awal opening sampai sekarang, MasyaAllah pengunjungnya makin nambah. Dan, lo tahu? Ada media yang booking tempat gue, mereka juga mau ambil beberapa video gitu.”

__ADS_1


“Oh, ya? Congrats! Emangnya, media apa? Gue jadi penasaran coy.”


“Gue juga belum tahu media mana. Tapi, Arin bilangnya media nya udah lumayan gede dan terkenal gitu.”


“Ya ampun... Fix banget ini mah, lo bakalan jadi rich woman! Semuanya lo embat. Desain Grafis, F&B, lo bahkan punya merek baju sendiri, mana udah punya butik lagi. Gila! Kok bisa gue punya teman macam lo ini! Aneh, aneh!”


Mentari terkekeh mendengarnya, tak henti-hentinya dia berucap MasyaAllah mendengar pujian yang dilontarkan Ayumi yang tiada henti. “Eh, btw, ngomongin butik. Minggu depan gue ada show gitu. Lo datang, ya, ajak Vanya juga. Pokoknya lo nanti tinggal berangkat aja, semuanya gue yang siapin.”


“Aish! Suka banget nih sama temen kayak lo ini. Gue sih, hayu-hayu aja, toh weekend juga. Gas lah! Tapi, gak tahu tuh Vanya. Sibuk terus dia.”


“Lo paksa dia, ya. Harus datang pokoknya. Ini show perdana gue soalnya, mana kerja sama bareng desainer favorit gue lagi. Pokoknya, harus datang!”


***


Benar-benar tak habis pikir Mentari. Ternyata video yang berdurasi hanya satu menit yang diunggah di media sosial dari satu media yang cukup terkenal dimana media tersebut kemarin datang berkunjung juga mem booking cafe nya untuk beberapa orang, langsung memberikan dampak yang begitu luar biasa. Berkat video satu menit itu, Teras Kita mengalami lonjakan yang begitu besar, bahkan sampai 300% dari biasanya. Banyak telpon dari sana sini untuk mem booking tempat di cafe ini, terutama di bagian tempat duduk lesehan yang langsung menampilkan pemandangan gunung itu.


Luar biasa, Mentari bersyukur akan hal itu.


Dering ponsel Mentari berbunyi yang mengalihkan atensi Mentari dari layar laptopnya itu. Dia mengambil ponselnya berniat mengangkat panggilan tersebut, namun keningnya langsung mengerut bingung melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya.


Mentari pikir, takutnya ada urusan penting sehingga dia memilih mengangkat panggilan tersebut.


“Hallo, Assalamu'alaikum?”


Tak ada suara membuat Mentari memastikan apakah panggilannya terhubung atau tidak. Namun, ternyata iya, panggilannya masih terhubung.


“Hallo?”


Masih tak ada sahutan dari sebrang sana membuat Mentari berpikir jika yang menelponnya saat ini adalah orang yang hanya iseng semata. “Kalau gak ada yang mau di bicarakan, saya tutup telepon nya, ya. Maaf, saya lagi sibuk. Assalamu'alaikum.”


“Hallo.”


Belum sempat Mentari memutus panggilan tersebut, suara di seberang sana menyahut membuat Mentari diam tertegun seketika saat mendengar suaranya karena dia hapal betul, siapa pemilik suara itu.


***


Mentari pernah memikirkan akan ada di situasi seperti ini, namun dia tak pernah menyangka jika situasi ini bisa terjadi setelah bertahun lamanya. Mentari pikir, satu tahun waktu yang cukup untuk dirinya tahu akan bagaimana kedepannya hubungannya dengan Angga. Namun, ternyata butuh waktu 3 tahun lamanya untuk Angga menemuinya.

__ADS_1


“Sorry, Tar.”


Mentari mendongakkan matanya, dia menatap Angga yang kini duduk di hadapannya. “Untuk?”


“Maaf karena aku baru bisa nemuin kamu sekarang. Itupun setelah tanpa sengaja kamu masuk frame di video media teman ku.”


Mentari membuang tatapannya, “Bukan masalah.”


“Aku pikir, keputusan kamu untuk resign itu cuma hal biasa. Cuma kayak kamu udah gak lagi kerja sama aku, udah gak di kantor lagi. Aku pikir kayak gitu. Makanya, aku mengiyakan permohonan kamu itu.” Angga tersenyum miris, “Tapi, ternyata aku salah. Kamu emang berniat pergi dari aku, kamu beneran ninggalin aku.”


“Aku lakuin ini demi kebaikan kita.” sahut Mentari.


Angga mengangguk, “Iya, aku tahu itu. Sejujurnya, berat banget saat tahu kalau kamu beneran ninggalin aku, apalagi keberadaan kamu susah banget buat di lacak saat itu. Entah apa yang ada dipikiran kamu sampai-sampai kamu lakuin itu.”


“Demi kebaikan kita, Angga.” Mentari mencoba menegaskan nya, dia sedikit mencondongkan tubuhnya.


Angga terkekeh, “Iya, demi kebaikan kita.” Angga mengangguk.


Cukup lama mereka terdiam, sedang menunggu siapa yang akan memulai kembali obrolan yang terasa begitu dingin dan kaku ini.


“Sejujurnya, aku marah sama kamu.”


Mentari mendongak menatap Angga, menunggu pria itu kembali bersuara.


“Sikap kamu ini benar-benar ngelukain harga diri aku, kamu bersikap seakan perempuan di dunia ini cuma ada satu, kamu. Seakan-akan aku cowok yang gak laku, yang gak akan ada satu perempuan pun yang jatuh hati sama aku. Padahal kenyataannya, di luaran sana, banyak perempuan yang ngantri mau sama aku, mereka nyerahin diri cuma-cuma buat aku. Kamu maunya aku ngemis terus-terusan sama kamu.”


Kerutan di kening Mentari muncul sedikit, tatapan sinis dia layangkan. Apakah Angga sedang membanggakan diri saat ini?


“Sayangnya, di antara mereka gak ada satupun yang berhasil meluluhkan hati aku. Gak ada satupun.” Angga tersenyum miris, hatinya terlalu batu untuk diketuk oleh orang baru. “Pisah cukup lama sama kamu dan segala keegoisan yang kamu lakuin, tetap aja sikap kamu ini bikin aku balik lagi ke kamu.”


Jantung Mentari bergemuruh begitu hebatnya.


“Tar,” Angga menatap sendu Mentari, penuh permohonan. “3 tahun lamanya kamu pergi ninggalin aku, menghilang tanpa ada kabar apapun dan buat aku gila kayaknya ngejalanin kehidupan tanpa kamu ini. Dan, perpisahan kita ini benar-benar nyadarin aku kalau aku bukan hanya terobsesi sama kamu. I know, Tar. I know i am in love with you.”


Mentari termenung seketika, tak menatap wajah Angga.


“Tar, bisa kita balik lagi? Bisa kita kayak dulu lagi, bareng-bareng? Aku dan kamu, kita yang saling mencintai. Bisa kita kembali, Tar?”

__ADS_1


__ADS_2