Kenapa Putus?

Kenapa Putus?
Ep.38 : Omong kosong


__ADS_3

“Gue gak ngerti, kenapa lo bisa lakuin hal bodoh ini. Lo lahir dari keluarga terpandang, berkecukupan, keluarga lo kaya dan gue rasa lo gak kurang apapun, apalagi harta. Tapi, bisa-bisanya lo lakuin hal bego kayak gini.” Elrumi menggeleng tak percaya, jujur dia kecewa dengan tindakan Angga meskipun dia sendiri belum tahu. “Dan, meskipun gue kecewa sama lo. Lo tetap sahabat gue dan gue gak mungkin ninggalin lo gitu aja. Gue bakalan ada sama lo, Ga. Gue bakalan sewa pengacara buat tanganin kasus lo ini.”


“Gak perlu.”


Elrumi dibuat terkejut mendengar ucapan Angga, dia bahkan sampai membulatkan matanya. Keningnya mengerut, “Kenapa? Gue mau bantuin lo supaya lo bebas dari sini.”


“Ya, gak perlu.”


“Anjir! Tetap songong banget sih lo, padahal lo lagi susah juga.”


“Siapa yang susah sih?” Angga menatap kesal Elrumi yang juga terlihat kesal padanya. “Lo kemana aja? Kenapa baru sekarang nyamperin gue? Padahal kasus gue udah mau seminggu.”


“Anjir.” cicit Elrumi, dia terkejut. “Jadi, ceritanya lo marah sama gue karena gue baru nyamperin lo? Idih, najis banget lo, Ga. Gue juga sibuk kali, banyak kerjaan dan gue baru tahu lo kena kasus ini tuh semalam. Makanya gue cepat-cepat kesini sekarang.”


“Bacot!”


“Gue serius!”


“Bodoamat.”


Elrumi mendengus kesal, “Dih, kok lo jadi ngambek gini sih? Cewek banget!” Elrumi berdecak, “Bodoamat lah gue juga. Mau lo ngambek kek, enggak kek, gue tetap bakalan hire pengacara buat tangani kasus lo ini.”


“Gak usah!”


“Terserah! Gue gak peduli lo terima atau enggak, gue tetap bakalan lakuin apa yang gue mau.”


“Ya, buat apa pengacara banyak-banyak? Gue udah ada!”


“Siapa?”


“Menurut lo?”


Keduanya hanya saling tatap dan langsung mengerti satu sama lain.


Elrumi berdecak, “Ya ampun, ternyata gue kurang gercep. Lo udah satset banget gila.”


“Iyalah. Emangnya lo? Diam doang bisanya. Mana gak peduli lagi sama sahabat lo sendiri.”


“Yaelah... Terus aja lo ngomong gitu sampai mulut lo berbusa. Tapi, kok lo hire om gue sih? Bukannya keluarga lo punya pengacara pribadi, ya?”


Angga terdiam beberapa saat, dia menghela napas kasar yang membuat Elrumi mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Bokap, nyokap gue gak ada yang mau bantuin kasus gue ini.”


“What!? Gila, tunggu-tunggu. Kenapa keluarga lo gak bantuin? Maksud gue, apa artinya mereka beneran percaya sama kasus lo ini?” tanya Elrumi, dia benar-benar tak menyangka.


“Lo aja percaya kan?”


“Enggak, maksudnya tuh—maksudnya... gini loh. Ya, kalaupun mereka percaya sama kasus ini, seharusnya mereka tetap hire pengacara buat lo lah. Gimana pun kan lo anaknya, mereka keluarga lo.”


Angga mengedikkan bahunya, “Gak ngerti gue juga.”


“Terus, lo hire om gue sendiri atau gimana?”


Angga menggeleng.


“Terus?”


Angga tak menjawab dan hanya menatap Elrumi.


Elrumi yang paham pun membulatkan matanya, menatap lekat Angga sambil mengangguk-angguk. “Seriusan?” tanya Elrumi memastikan yang diangguki Angga. “Dia masih peduli sama lo meskipun dia tahu lo kena kasus yang lumayan gede ini?” Lagi-lagi Angga mengangguk.


Elrumi menggeleng tak percaya, “Ya ampun, Ga... Lo kok bisa sih dapat cewek modelan kayak gitu?” tanya Elrumi heran, dia mengerutkan keningnya dalam. “Lo lakuin amalan apa sih sampai-sampai ada cewek yang tulus sama lo disaat lo lagi kayak gini?” tanya Elrumi yang justru menggeleng pelan.


“Ga, gue gak percaya sama cewek. Gue juga gak terlalu yakin sama yang namanya cinta. Tapi, lihat lo sekarang. Kayaknya emang masih ada deh cewek yang tulus, yang gak mandang apapun. Dan, gue harap lo gak nyia-nyiain cewek kayak dia. Atau...”


Angga mengerutkan keningnya, tatapan tajam dia layangkan karena paham betul dengan apa yang Elrumi katakan.


“Awas aja kalau lo ambil langkah lebih, gue gak akan tinggal diam. Lo tahu gue kan?”


“Eh, anjir santai dong... Gue cuma bercanda doang. Lagian, gue gak mungkin lah ngerebut cewek orang. Meskipun sebenarnya, lo udah bukan siapa-siapa dia juga. Lo cuma mantan doang.”


...***...


“Lo buru-buru banget sih.”


Mentari melirik sekilas Ayumi, tersenyum saja sambil kembali melanjutkan membereskan barang-barangnya. Tak lupa, beberapa barang penting yang dia butuhkan masuk ke shoulder bag hitamnya.


“Lo gak ambil lembur?” tanya Vanya yang datang menghampiri mejanya sambil membawa mug berisikan kopi di kedua tangannya. “Padahal gue bikinin ini buat kalian.” Vanya memberikan satu mug untuk Ayumi, satunya lagi dia tunjukkan untuk Mentari.


Mentari menepuk-nepuk pelan pipi Vanya, “Makasih... Tapi, gue gak ambil lembur. Jadi, kopinya buat lo aja.” ucap Mentari sambil mengarahkan bibir kopi itu ke mulut Vanya. “Lagian, kalau minum kopi gue gak bisa tidur sampai pagi.”

__ADS_1


“Eh?”


“Yaudah, gue cabut duluan, ya guys. Bye bye!”


Ayumi dan Vanya hanya mampu diam menatap kepergian Mentari yang begitu cepat, keduanya saling tatap, saling menggeleng karena tak tahu alasan Mentari yang bergegas begitu cepatnya.


Sedangkan, Mentari sendiri bergegas pergi. Ada beberapa hal yang perlu dia urus secepat mungkin untuk kebaikan Angga tujuannya. Namun, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Swari yang tak lepas menatapnya tajam. Mentari tak mau ambil pusing, dia memilih melenggang melewati perempuan itu begitu saja.


“Lo gak lembur, Tar?”


Mentari tadinya tak ingin berurusan dengan Swari, namun karena perempuan itu mengajukan pertanyaan padanya, mau tak mau dia berhenti melangkah untuk menjawabnya.


“Enggak,”


Swari tersenyum sinis, “Kenapa?”


“Ya, gakapapa. Kan kalau gak ambil lemburan juga gak masalah, gak wajib ini.”


“Iya sih. Tapi, ya, artinya lo sombong banget sih.”


Mulai. Swari mulai bicara melantur dan mengada-ngada nantinya.


“Maksudnya apa, ya?”


“Ya... Lo tolak rejeki lah! Lebih tepatnya sih, lo seharusnya mulai nabung dari sekarang.”


Mentari mengerutkan keningnya.


“Ya, secara cowok lo itu, maksud gue tuh, mantan bos kita udah di penjara sekarang. Jadi, lo udah gak punya akses apapun lagi di kantor ini. Lo juga udah gak punya ATM berjalan lagi, lo gak—”


“Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” sentak Mentari, dia tak suka dengan nada bicara Swari dan maksud ucapan perempuan itu.


“Ya... Oh my God, Tari. Kita semua tahu, anak kantor tahu kalau latar belakang Pak Angga lakuin korupsi itu karena lo. Mungkin buat nge biayain gaya hidup lo.”


Mentari menggeram kesal, “Jaga mulut lo!” decit Mentari kesal.


“Ngapain gue jaga mulut gue? Sedangkan, apa yang gue bicarain ini adalah kenyataan, faktanya!”


“Lo gak tahu apapun! Lo gak berhak ngomong sembarangan apalagi ngerendahin gue ataupun Angga.” kesal Mentari, bola matanya membulat sempurna, dia kesal dengan tuduhan yang dilayangkan Swari. “Jadi, jaga mulut dari ngomong gak jelas apalagi sampai nyebarin fitnah gak bermutu.”


Swari memutar bola matanya jengah, tak merasa bersalah sedikitpun atas ucapannya.

__ADS_1


“Satu hal lagi! Angga gak salah, dia gak korupsi apapun! Ingat itu!”


Swari tersenyum sinis, sedangkan Mentari bergegas melangkah pergi meninggalkan Swari dengan kemarahannya. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan perdebatan mereka, seulas senyum pun tercetak dibibir sana.


__ADS_2