
“Kamu ngomong apa sama Bella?”
Mentari mendongak, tersenyum pada Angga yang baru menyelesaikan terapinya dan saat ini sedang giliran Bella sehingga mereka menunggu kini.
“Kasih tahu gak, ya?” Mentari mengetuk-ngetukan telunjuknya di dagu, nampak bergurau dengan Angga yang langsung mencebik dibuatnya.
Mentari terkekeh, menyerahkan potongan buah yang sudah dia siapkan untuk Angga. “Sambil dimakan, ya.” Angga mengangguk, mulai menikmati buah tersebut.
“Jadi, kamu ngomong apa?”
“Aku gak ngomong apa-apa. Aku cuma yakinin Bella kalau dia harus kuat dan bisa lewatin ini semua.”
“Bella ngeluh sama kamu?”
Mentari menggeleng, “Bukan ngeluh sebenarnya, tapi mungkin dia lagi ngerasa down aja dan aku rasa keputusan dia buat ngutarain unek-uneknya itu adalah keputusan yang tepat karena kalau dia cuma diam aja, mendem semuanya sendiri, kita gak tahu kan apa aja yang bisa dia lakuin. Dan, aku gak mau hal buruk sampai terjadi.”
Angga tersenyum senang mendengarnya, dia tak lepas menatap Mentari dengan kagumnya. “Makasih, ya, Tar kamu udah peduli sama Bella.” Angga meraih tangan Mentari, menggenggamnya.
“Aku kenal Bella udah lama dan dia udah kayak adik kandung buat aku. Aku gak mungkin dong biarin dia terpuruk sendirian, makanya sebisa mungkin aku selalu ada buat dia disaat seperti ini.”
Angga mengangguk-angguk, “Apa berlaku juga buat aku?”
“Ya, iyalah. Kalau enggak, mana mungkin aku ada disini sekarang.”
Angga tersenyum senang mendengarnya, “Makasih, ya. Makasih karena kamu selalu terima aku dengan segala kekurangan aku.” ucap Angga yang dibalas senyuman oleh Mentari.
“Aku bakalan selalu ada buat kamu, Ga. Apapun kondisi kamu.”
“Aku percaya itu.”
***
Hari-hari berlalu begitu cepatnya, segala macam terapi untuk kesembuhan Angga dan Bella pun sudah dilakukan, namun belum ada hasil signifikan yang terlihat, keadaan keduanya masih sama, lebih tepatnya, keadaan Angga. Entah karena apa, padahal terapi yang mereka lakukan sama namun efek yang terjadi pada Bella jauh lebih terasa. Sedikit demi sedikit, mulai ada sedikit pergerakan di kaki Bella, ada sedikit rasa yang mulai terasa kala kaki lumpuh itu disentuh.
“Kak Tari, lihat!”
Mentari menoleh, menghampiri Bella dan bersimpuh dihadapan perempuan itu, menatap dengan lekat sesuatu yang tengah ditunjukkan Bella padanya. Jemari kakinya mulai bisa digerakkan.
Bella tersenyum lebar, menatap Mentari juga jemari kakinya yang dia gerakan dengan antusias. “Bisa gerak dikit, kak.” ucap Bella senang.
“MasyaAllah... Tuh kan, Bell. Sedikit demi sedikit saraf-saraf nya mulai bekerja lagi dan aku yakin sebentar lagi kamu bakalan pulih.”
__ADS_1
Bella tak bisa menyembunyikan rasa harunya, dia segera memeluk Mentari yang sontak saja membuat perempuan itu terkejut dibuatnya, hampir oleng karena tak siap dengan pelukan Bella yang tiba-tiba.
“Bell?” Mentari mengusap pelan punggung Bella yang bergetar cukup hebat.
Bella terisak, “Makasih, kak. Makasih karena gak pernah berhenti ngeyakinin aku kalau aku bisa sembuh. Makasih karena kakak selalu ada buat Bella. Makasih kak...”
Mentari tersenyum simpul, dia mengerjapkan matanya yang ikut memanas. Dia tak menangis saat ini, cukup Bella saja dan dia yang akan menenangkan kembali perempuan itu.
Mentari mengangguk-angguk, dia mengurai pelukan itu perlahan, tersenyum menatap Bella. Tangannya terulur menghapus air mata perempuan itu dan kembali memeluk Bella. “Yakin terus, ya, Bell. Mukjizat dari Allah pasti ada. Kamu harus percaya itu.” ucap Mentari yang diangguki Bella.
Bella yakin akan hal itu.
Dan, disaat Mentari senang dengan kepercayaan Bella yang seiring waktu tumbuh, justru kini dirinya dibuat sedih oleh situasi yang tengah dihadapi Angga. Bella yang sudah menunjukkan ada kemajuan, namun tidak dengan Angga yang masih sama saja. Hal tersebut tentu saja membuat Angga sedih dan pesimis dibuatnya.
“Ga, lagi ngapain?”
Mentari menghampiri Angga yang tengah duduk di balkon seorang diri menatap hamparan langit yang begitu cerah hari ini.
Angga tersenyum tipis menyambut Mentari, dia menggeleng pelan. “Gak ngapa-ngapain.”
Mentari menunjukkan apa yang dia bawa, “Aku buat kue soes, kamu cobain, ya.” Mentari memberikan satu pada Angga.
“Enak, tapi ekspresi kamu kayak gitu. Bohong, ya.” tukas Mentari, dia mengerucutkan bibirnya sedih.
Angga tersenyum paksa, “Enggak, aku gak bohong. Kue nya emang enak kok.”
“Tapi, kok ekspresi nya gitu?”
“Ya, emang ekspresi aku harus gimana?”
“Senyum? Senang gitu karena makanannya enak.”
Angga menunjukkan senyumnya.
“Palsu.”
“Enggak, Tar... Kue nya emang enak kok, aku gak bohong.”
“Gak senyum tapi,”
“Senyum.”
__ADS_1
Mentari menghela napas kasar, dia menyimpan makanannya diatas meja dan menatap Angga kembali. Di genggamnya tangan Angga, ditatapnya lekat mata pria itu.
“Aku tahu kamu lagi sedih sekarang dan aku tahu penyebabnya apa.”
Angga hanya mampu menarik datar sudut bibirnya.
“Ga, tapi kamu harusnya percaya. Kalau Bella aja bisa sembuh, ada kemajuan, kamu juga pasti bisa.” ucap Mentari, dia coba yakinkan kembali kepercayaan pria itu.
“Tapi, kaki aku sama sekali gak bisa digerakin, Tar. Sedangkan, Bella?”
“Ga—”
“Kalau aku lumpuh selamanya, gimana?”
Mentari mengerutkan keningnya, dia tak suka dengan pertanyaan itu. “Kok kamu ngomongnya gitu sih?”
“Ya, aku cuma mikir kemungkinan buruknya aja. Dan, kalau sampai itu terjadi, mending kamu...” Angga menjeda ucapannya, dia tak siap sebenarnya melontarkan permintaan yang menyakitkan ini.
“Mending aku apa?”
Angga menatap bola mata Mentari, “Mending kamu cari laki-laki lain aja. Laki-laki yang masih normal. Aku yakin, pasti dia bakalan jauh ngebahagiain kamu. Daripada kamu tersiksa harus hidup sama pria lumpuh kayak aku.”
Angga pikir, Mentari akan marah atau bertindak sesuatu akibat ucapannya. Namun, justru perempuan itu malah melontarkan pertanyaan yang tak terduga.
“Jadi, kalau aku di posisi kamu. Kamu bakalan lakuin itu?”
Alis Angga menukik tajam, “Enggak lah.”
“Yaudah, kenapa kamu malah paksa aku lakuin itu?”
“Aku cuma gak mau kamu habisin waktu kamu gitu aja cuma buat nunggu aku yang kemungkinan untuk sembuhnya itu kecil. Aku gak mau hidup kamu tersiksa karena harus punya pasangan lumpuh kayak aku.”
Mentari beranjak berdiri yang membuat Angga berpikir jika perempuan itu kesal dan marah.
“Udah ngomongnya?” tanya Mentari, dia menaikkan sebelah alisnya sedangkan Angga mengerutkan kening bingung.Mentari berjalan ke belakang kursi roda Angga, memutarnya. “Mending kita jalan-jalan aja ke taman, supaya kamu bisa nge refresh otak kamu yang selalu over thinking itu.” ucap Mentari sambil mendorong kursi roda Angga.
“Tar...”
“Gak mau dengar apapun kalau yang kamu omongin cuma omong kosong.”
Dan, pada akhirnya mereka memilih taman sebagai tempat untuk menyegarkan kembali pikiran yang sempat berhamburan hanya karena satu prasangka buruk dipikiran yang terus melintas.
__ADS_1