
“Hai, Tari. Boleh aku gabung disini?”
Mentari menghentikan suapannya, dia mendongak saat seseorang menghampiri mejanya. Dia mengedarkan pandangannya, melihat meja-meja disekitar yang ternyata sudah penuh oleh pengunjung yang lain.
Mentari tersenyum kikuk, dia mengangguk akhirnya. Tak mungkin juga dia menolak permintaan orang dihadapannya, meskipun sejujurnya dia lumayan terkejut saat bertemu di tempat ini dan tak nyaman berada dekat dengan orang itu.
“Boleh, mbak. Silahkan duduk aja.”
Amita, dialah orangnya. Dia menyimpan nampan berisikan makanannya, kemudian duduk berhadapan dengan Mentari yang kembali menikmati makanannya. “Gak nyangka aku ketemu kamu disini.” ucap Amita, dia menyesap minumannya.
Mentari terkekeh, “Ini kan tempat umum, mbak. Jadi, gak menutup kemungkinan kalau kita ketemu disini.” jawab Mentari, namun ada nada tak suka yang tiba-tiba tercipta dari caranya bicara.
Amita mengangguk-angguk, “Iya juga sih. Kamu lagi beli sesuatu disini atau cuma lagi lihat-lihat aja mungkin?” tanya Amita, dia masih berusaha bersikap ramah pada Mentari yang dia rasa kurang nyaman dengan kehadirannya.
“Iya, lagi beli sesuatu.”
Amita tersenyum miris, Mentari memang tak suka padanya sepertinya. “Kamu marah sama aku?” tanya Amita akhirnya yang membuat Mentari mendongak menatapnya.
“Marah?” Mentari mengerutkan keningnya, menggeleng bingung. “Marah untuk apa, mbak?” tanya Mentari bingung.
Amita menggeleng pelan, dia hanya berasumsi saja. “Mungkin karena aku dekat dengan Angga?” tukas Amita, dia mengendikkan bahunya.
Mentari tertawa hambar, “Kenapa mbak bisa berpikir kayak gitu?”
“Sikap kamu.”
“Sikap aku?”
“Ya, sikap kamu.” Amita meletakkan alat makannya, dia melipat tangan didepan dada. “Sikap kamu ke aku kayak nunjukin kalau kamu gak suka sama aku.”
“Enggak kok, aku biasa aja. Lagian, bukannya wajar kalau mbak sama Pak Angga dekat? Mbak kan sekertaris nya, jadi akan banyak waktu dimana mbak harus terus sama Pak Angga.”
“Iya sih. Tapi, kayaknya kamu emang gak suka sama aku.”
“Enggak, mbak aku biasa aja.”
“Oh, ya? Tapi, kenapa kamu jutek banget sama aku?”
Mentari terdiam, dia tak merasa demikian atau sebenarnya tak mau mengakuinya.
Amita menarik kedua bibirnya membentuk senyuman. “Tari... Aku mau jelasin sesuatu sama kamu, entah kamu mau percaya atau enggak, aku gak peduli. Yang jelas disini aku cuma mau meluruskan satu hal aja sama kamu.”
Mentari mengerutkan keningnya, tak menanggapi dan hanya menunggu apa yang akan dijelaskan Amita kepadanya.
__ADS_1
“Aku dan Angga, kami dulu tetangga. Aku kenal betul dengan dia, kami dekat banget.” Amita cepat-cepat menambahkan, takut Mentari semakin salah paham. “Tapi, sebagai teman.”
“Tapi, karena ada sedikit masalah di keluarga aku. Terpaksa aku dan keluargaku harus pindah dari rumah itu dan hubungan aku sama Angga pun jadinya agak renggang mungkin? Karena gak ada komunikasi antara kami setelahnya. Sampai akhirnya aku datang lagi ke Kota ini dan ketemu lagi sama Angga juga Bella. Dan, ternyata hubungan kami masih sama seperti dulu. Hanya sebatas teman, gak lebih.”
Harus kah Mentari percaya begitu saja dengan ucapan Amita ini?
Amita nampak terdiam, dia ragu mengatakannya namun berpikir ini untuk kebaikan semuanya. “Aku dan Angga, kami punya latar belakang keluarga yang sama. Kami sama-sama dari keluarga broken home. Jadi, mungkin itu alasannya kenapa kami bisa berteman, kami bisa dekat, ya... karena punya latar belakang yang sama.”
Iya, Mentari tahu jika Bunda bukanlah ibu kandung Angga, melainkan ibu sambungnya.
“Aku pernah dengar nama kamu sebagai pacar Angga, makanya pas kita ketemu hari itu aku kayak gak asing sama kamu. Dan, ternyata emang benar, kamu tuh Mentari pacarnya Angga. Tapi, aku dibuat kaget karena ternyata kalian udah putus.”
Belum ada respon dari Mentari, namun Amita akan tetap melanjutkan penjelasannya.
“Tari, jujur. Aku gak pernah punya perasaan lebih untuk Angga.” ucap Amita yang berhasil membuat Mentari menatapnya. Amita tersenyum, “Aku anggap Angga hanya sebatas teman, udah itu aja, gak lebih. Begitupun Angga.”
“Tapi, interaksi kalian kayak lebih dari sekedar teman.” Mentari ingat dengan hari dimana Angga yang mengambilkan cokelat fountain untuk Amita saat itu.
Amita mengerutkan keningnya, “Lebih kayak gimana? Aku rasa interaksi kami biasa aja, gak lebih dari sekedar bos sama sekertaris nya.”
Apa Mentari salah paham? Pertanyaan itu mulai muncul dibenak Mentari.
“Aku udah punya pacar, Tari. Dan, kami pacaran udah cukup lama. Angga juga tahu soal itu.”
“Gini, gini. Terserah kamu mau anggap aku omong kosong lah, apalah, terserah kamu. Intinya adalah Angga itu sayang sama kamu, dia cinta sama kamu dan kamu tuh segalanya buat dia. Dia tulus sama kamu, Tari.” Amita tersenyum kembali, “Aku ngomong gini bukan karena aku disuruh Angga atau maksa kamu buat balikan lagi sama dia. Enggak sama sekali. Aku ngomong gini karena aku gak mau aja kamu berpikir buruk tentang aku.”
***
“Eh, Mentari?”
Mentari yang baru saja selesai makan dan kembali memilih barang yang dia butuhkan, mendongak saat tanpa sengaja dirinya berpapasan saat hendak mengambil satu barang yang sama.
“Pak Kelvin? Ada disini juga?”
Kelvin mencebik, “Ah... Kamu langsung bikin saya drop nih.”
Mentari mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud Kelvin.
“Iya, kamu bikin saya drop.” Kelvin mengangguk-angguk, “Saya pakai outfit kece gini, anak muda banget, malah dipanggil Pak. Benar-benar tua deh kayaknya saya tuh.” Kelvin menghela napas gusar. Lihat lah penampilannya sekarang ini.
Masih saja, pembahasan jika mereka bertemu pasti kesitu.
Mentari terkekeh, “Maaf, ya, Pak—” Mentari jadi bingung sendiri, bagaimana dia harus memanggil Kelvin.
__ADS_1
“Udahlah, saya gak mau ambil pusing. Terserah kamu mau panggil saya Kelvin langsung atau pakai embel-embel Pak, terserah. Saya gak mau ribet.”
Mentari tersenyum kikuk. Padahal selama ini Kelvin yang menurutnya ribet, padahal perkara nama panggilan saja.
“Oh, iya. Kamu mau ambil vas bunga ini?” tanya Kelvin, satu vas bunga ditangannya dimana vas bunga tersebut tadi hendak diambil Mentari juga.
Mentari mengangguk, “Iya. Tapi, udah keduluan sama Pak Kelvin. Jadinya, gak jadi deh.”
Kelvin menatap rak dimana dia mengambil vas tersebut, melihat apakah masih ada vas bunga yang sama atau tidak. Tapi, ternyata vas bunga dengan model tersebut hanya satu dan itu ditangannya.
“Yaudah, nih buat kamu aja.” Kelvin mengulurkan vas bunga tersebut.
Mentari tertawa pelan, dia menggeleng sambil menggerakkan tangannya menolak niat Kelvin. “Gak usah, Pak. Itukan cuma ada satu dan bapak yang duluan ngambil. Jadi, itu buat bapak aja.”
“Gakpapa, buat kamu aja. Nih!”
Mentari masih keras kepala, dia tetap menolak.
Kelvin berdecak pelan, dia menyimpan vas bunga tersebut di troli yang dibawa Mentari.
“Ya ampun, Pak...”
Kelvin tersenyum, “Gakpapa.”
“Makasih kalau begitu, Pak.”
Kelvin mengangguk-angguk, “Kamu suka bunga, ya?”
Entah itu pertanyaan atau pernyataan, Mentari tak bisa membedakan. “Kenapa bapak bisa berpikir kayak gitu?” tanya Mentari, dia coba untuk ramah sedikit saja.
“Ya... Lihat apa yang kamu beli sekarang, kayaknya kamu emang suka bunga.”
Mentari terkekeh, “Kebetulan, ini semua titipan ibu saya, dia yang suka bunga. Kalau saya sih, biasa saja.” jawab Mentari, dia datang ke tempat ini tujuannya hanya untuk membeli satu papan yang dia butuhkan. Namun, ibunya justru nitip dibelikan barang yang bahkan lebih banyak dari apa yang mau Mentari beli sebelumnya.
Kelvin tersipu, ternyata tebakannya meleset.
“Kalau bapak sendiri, suka bunga atau titipan juga kayak saya?”
“Iya, sama kayak kamu. Itu titipan adik saya.”
Mentari berohria, dia mengangguk-angguk paham. Hingga seruan memanggil nama Kelvin membuat mereka menoleh seketika. Dan, apa yang dilihat Mentari sekarang cukup mengejutkan, berharap pikirannya salah kali ini.
“Itu adik saya.”
__ADS_1