
Kedatangan Angga yang tiba-tiba juga berita korupsi yang dilakukan pria itu yang ternyata hanyalah sebuah jebakan, cukup membuat semua orang di kantor terkejut mendengarnya. Iya, jebakan. Berita yang beredar demikian. Harap-harap cemas mereka semua rasakan, terutama orang-orang yang pernah menyebarkan keburukan mengenai Angga yang tak jelas faktanya disaat pria itu terjerat kasus yang belum jelas kepastiannya. Sambutan pun mereka lakukan untuk sedikit melunakkan Angga yang ternyata kini jauh lebih dingin dan kejam dari sebelumnya.
“Jadi, siapa yang menyebarkan berita buruk mengenai saya?”
Datang-datang Angga langsung melontarkan pertanyaan demikian. Dia sama sekali tak tersanjung sedikitpun atas penyambutan yang dilakukan orang-orang munafik menurutnya. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana cemoohan juga kebencian yang terang-terang semua orang berikan saat pihak kepolisian membawanya paksa hari itu.
Angga menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Gak ada yang mau mengakui?” Angga menatap semuanya yang kini tertunduk.
“Yaudah kalau gitu. Saya tunggu surat pengunduran dirinya sesegera mungkin sebelum pemecatan tidak hormat saya lakukan.” ucap Angga sambil berlalu dengan wajah mendongak angkuh, seketika ucapannya itu membuat beberapa orang yang memang menjadi dalang dari berita buruk yang beredar itu kalang kabut.
Bukannya pergi ke ruangannya, Angga justru berbelok ke ruang kerja Mentari. Dia tak melihat keberadaan perempuan itu di kerumunan tadi. Namun, dia juga tak menemukan keberadaan Mentari di ruangan perempuan itu.
“Mentari gak masuk, Pak Angga.”
Angga menoleh, menatap Ayumi yang berucap demikian. Keningnya mengerut, “Kenapa?” tanya Angga.
“Dia sakit, Ga.”
“Sakit?”
Tentu, Angga cemas mendengarnya. Apa ini karena ulahnya juga sehingga perempuan itu sampai jatuh sakit? Batin Angga bertanya-tanya sekaligus menyalahkan dirinya sendiri.
“Ga, sorry banget kalau ini terkesan gak sopan ataupun lancang.” Ayumi harus mengatakan ini. “Entah lo tahu atau enggak. Tapi, selama lo kena kasus itu dan di penjara, orang-orang mulai ngomongin jelek tentang lo, tapi, Tari selalu yakini semuanya kalau lo tuh gak salah. Kadang-kadang Tari juga marah sama orang-orang yang dengan terang-terangan ngehujat lo.”
Tentu Angga tahu dan yakin betul apa yang diucapkan Ayumi ini benar adanya.
“Gue kenal lo sama Tari, gue tahu hubungan kalian tuh gimana dulu bahkan sampai kalian putus.” Ayumi menghela napas dalam-dalam, dia menipiskan bibirnya. “Dan, gue tak tahu masalahnya apa karena Tari sendiri gak pernah mau cerita masalah kalian apa. Yang jelas, dia kecewa sama lo dan entah karena apanya gue gak tahu. Tapi, lo harus tahu, Ga. Tari itu tulus sama lo, dia gak mengharapkan apapun dari lo.”
“Gue ngomong gini bukan karena gue sahabat dia, bukan, Ga. Gue ngomong kayak gini karena emang itu kenyatannya. Dan, gue rasa lo bakalan jadi orang paling bego kalau beneran nyia-nyiain seorang Mentari.”
Iya, Angga terlalu bodoh jika menyia-nyiakan perempuan seperti Mentari.
Ayumi tersenyum lebar, dia berdehem. “Gitu aja, Pak Angga. Saya permisi.” Ayumi bersikap formal dan sopan kembali, melewati Angga untuk menuju meja kerjanya. Meninggalkan Angga yang masih termenung memikirkan apa yang Ayumi ucapkan.
***
Hari ini, Mentari memutuskan untuk masuk kantor saat dirasa keadaannya sudah sedikit lebih membaik. Meskipun sakit ditubuhnya sudah menghilang, namun sakit dihatinya masih juga terasa.
__ADS_1
Memasuki area kantor, semua mata tertuju pada Mentari. Dan, seperti biasa dia mengacuhkan tatapan mereka semua. Tak peduli dan tak mau ambil pusing dengan itu semua. Hingga langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Angga, lebih tepatnya saat dia justru menemukan Angga yang berada didepan ruangannya.
Mentari memutar bola matanya malas, dia berniat pergi saja. Namun, Angga justru menahannya juga menarik lengan Mentari untuk ikut kembali bersama pria itu memasuki lift.
“Apaan sih, Ga!” kesal Mentari, dia kesal dan marah saat Angga membawanya tiba-tiba. Dia berdecak saat Angga menekan angka lantai paling tinggi. Dia membuang muka, tak mau menatap Angga.
“Aku minta maaf, Tar. Aku—”
“Aku gak perlu dengar penjelasan apapun dari mulut bohong kamu itu! Aku gak mau dengar apapun!”
“Terserah kamu mau anggap aku apa, pembohong lah, apalah, terserah. Tapi, kamu harus dengar dulu penjelasan aku. Kamu harus tahu yang sebenarnya.”
Mentari menatap tajam Angga, “Buat apa? Buat apa aku dengar semuanya?”
“Ya, kamu harus dengar supaya kamu gak salah paham, Tar.” Angga menatap lekat Mentari, menatapnya dengan lirih. “Aku gak mau kamu kecewa sama aku.”
Mentari membalas menatap Angga, “Penjelasan apapun yang bakal kamu kasih, itu gak akan merubah sudut pandang aku terhadap kamu. Dan, aku akan tetap kecewa sama kamu.”
Angga mencoba meraih tangan Mentari, namun ditepis perempuan itu.
“Aku gak butuh penjelasan apapun, Ga! Aku gak mau dengar apapun dari mulut kamu! Kamu itu pembohong, kamu penipu!”
“Kamu tahu, Ga? Aku mati-matian ngebela kamu didepan semua orang yang ngejatuhin kamu, didepan mereka yang terus-terusan ngehina kamu, fitnah kamu untuk tuduhan yang bahkan belum jelas faktanya.” Mentari menahan tangisnya sampai bibirnya bergetar hebat, ingat bagaimana penghinaan yang pernah ditunjukkan pula untuknya.
“Bahkan aku harus nahan diri aku disaat orang-orang juga menuduh kalau aku yang jadi penyebab kamu lakuin korupsi itu. Aku juga dituduh, Ga. Aku disalahin.” Mentari menunduk, terisak pelan. Kakinya perlahan melangkah mundur, dirinya kini bersandar lemas.
“Aku bisa apa, Ga? Ngebela udah, tapi tetap aja mereka kekeh sama kepercayaan mereka sendiri. Dan, ternyata, emang benar. Emang aku yang jadi penyebabnya.”
“Tar,” Angga melangkah maju, mendekat pada Mentari namun ditahan perempuan itu. Mentari lebih dulu mengangkat tangannya, meminta Angga untuk berhenti.
“Kamu tega lakuin kebohongan ini. Kamu bohongin semua orang, kamu buat sandiwara, kamu buat skenario gila ini!” marah Mentari, dia terisak kencang. “Cuma buat ngebuktiin ketulusan aku! Kamu ngeraguin cinta dan ketulusan aku selama ini, Angga! Kamu ngeraguin itu semua.”
Mentari menangis kencang. Perlahan tubuhnya melorot, dia menutup wajahnya yang basah dengan air mata menggunakan telapak tangannya masih setia dengan tangisnya.
“Kamu jahat, Ga. Kamu jahat.”
Angga menggeleng keras, dia ikut bersimpuh di hadapan Mentari, mencoba menarik Mentari ke pelukannya. Awalnya ada penolakan, namun karena Angga cukup kuat memeluk Mentari, akhirnya perempuan itu pun menyerah juga, membiarkan Angga tetap memeluknya. Pelukan yang sudah lama tak dirasakan.
__ADS_1
“Maafin aku, Tar. Maafin aku.”
Mentari dengan tangis kekecewaan nya, Angga dengan pelukan penuh penyesalan. Cukup lama mereka dalam posisi yang sama hingga akhirnya pergerakan lift yang terasa berbeda juga pencahayaan yang tiba-tiba menghilang menyadarkan mereka.
“Ga, ini liftnya kenapa?”
“Aku juga gak tahu.”
Mereka beranjak cepat, mencoba menekan-nekan tombol lift karena tak pergerakan lift yang tiba-tiba berhenti begitu saja, ditambah pencahayaan yang perlahan menghilang.
“Ga, ini lift nya mati!”
Mentari menghapus sisa air matanya, terus menerus mencari cara dan pertolongan atas situasi tak terduga yang mereka alami kini. Namun, segala usaha yang dia lakukan, tak juga membuahkan hasil, nihil.
Cepat-cepat dia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang diluar sana.
“Yu, ini lift nya tiba-tiba mati. Lo tolong bilangin maintenance nya, buruan urus lift yang mati ini. Mana gak ada pencahayaan lagi sekarang. Buruan... tolong lo panggil. Disini...”
Mentari berdecak kesal. Tak ada jalan keluar lagi selain menunggu maintenance untuk memperbaiki lift yang sering rusak ini. Dia berbalik, berniat kembali duduk namun justru menemukan Angga yang diam meringkuk di sudut lift. Ingat tentang trauma yang Angga miliki, membuat Mentari bergegas menghampiri pria itu.
“Ga, hei... tenang, tenang.” Mentari menggenggam erat tangan Angga.
Keringat dingin sudah membasahi tubuh Angga, dia menggeleng keras saat memori masa lalu yang selalu menghantuinya tiba-tiba terlintas kembali di benaknya. Kilatan masa lalu yang begitu mengerikan yang bahkan membuat napas Angga memburu hebat kini.
“Ga, tenang, ya. Lihat, ada cahaya kan?” Mentari menyalakan senter dari ponselnya.
Angga menggeleng kembali, semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Mentari. “Tar, please... Jangan tinggalin aku. Disini gelap banget, Tar, sesek.”
“Enggak, enggak. Disini gak gelap, gak sesak sama sekali. Ayo, Ga, tenang. Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Tenang.”
Angga tak pernah bisa tenang jika berada di dalam situasi seperti ini, napasnya selalu sesak dengan keringat dingin yang mulai menyelimuti nya.
“Tar,” Angga merengek, menarik Mentari untuk dirinya peluk. Hanya Mentari kini kekuatannya, hanya perempuan itu yang jadi alasannya untuk bertahan kini.
Mentari tak menolak pelukan Angga karena dia tahu, ini yang sekarang dibutuhkan pria itu. Dirinya membalas memeluk Angga, sebelah tangannya menggenggam erat tangan dingin Angga, sedangkan sebelah tangannya lagi mengusap lembut punggung pria itu. Seakan tak pernah terjadi apapun pada mereka, seakan Mentari tak akan pernah pergi meninggalkan Angga seorang diri.
“Please, jangan tinggalin aku. ”
__ADS_1